
Tak terasa, kini 10 hari telah berlalu sejak keluarnya Reychu dari masa hukuman dan semuanya tampak baik-baik saja hingga saat ini. Sama seperti saat ketiga sahabat dan dua siluman saling duduk bersantai di gazebo dekat kolam di kediaman Permaisuri tanpa di temani oleh pelayan. Tentu, semua pergi atas perintah Ahn Reychu meski dengan berat hati. Sebab, itu akan mengurangi pengintaian mereka terhadap Permaisuri seperti sebelumnya.
Selama ini, mereka sering kekurangan informasi dikarenakan Permaisuri Ahn Reychu sibuk di dalam kamarnya bila bersama teman-temannya atau terkadang sibuk dengan membantu Kaisar Li di saat-saat tertentu. Itupun kalau Permaisuri sendiri sedang ingin.
Kembali ke sekumpulan orang di gazebo...
Di sana dapat dilihat kalau kelima orang itu benar-benar bersantai. Seperti halnya, Reychu yang bersantai dalam posisi terbalik dengan membiarkan kakinya keatas bermain di pinggir gazebo sedang punggungnya di rebahkan di tempat duduknya mengabaikan rambut panjangnya jatuh terurai sampai menyapu lantai hingga ujung rambutnya kotor karena debu pasir yang terdapat di bawah. Sementara Chi-chi malah asik memilah-milah buah anggur untuk di suapkan ke mulut Reychu atas inisiatifnya sendiri.
Dalam posisi yang menurutnya nyaman itu ia berceletuk sambil menggenggam sejumput rambutnya dan ditarik keatas, lalu memandanginya.
"Begitu urusan disini selesai, akan aku potong rambut ini."
Rayan yang saat itu berada di samping Reychu, terlihat sedang asik rebahan dengan berbantal paha Ruobin. Dimana siluman rubah perak itu dengan suka rela mengelus lembut penuh kasih rambut panjang Rayan dari puncak kepalanya selayaknya dayang-dayang disebuah kerajaan.
Mendengar celetukan Reychu, Rayan pun segera menendang pinggul Reychu karena spontan. Dengan kemarahan yang sebenarnya tidak perlu, ia berujar penuh peringatan.
"Kau suka sekali merusak! Rambut mu itu sudah bagus! Jangan macam-macam!"
Rayan melakukan itu karena ia suka rambut panjang Reychu atau lebih tepatnya ia suka keindahan dan tubuh yang Reychu tempati pada dasarnya sudah sempurna dengan penampilan anggun dan berwibawa. Itulah mengapa ia merasa kasihan dengan pemilik tubuh sahabatnya itu, karena harus di tinggali oleh gadis sejenis Reychu.
Mengaduh serta mengelus pinggulnya yang di tendang, walau tidak sakit. Reychu membalas dengan acuh. "Kau ini kenapa?! Ini rambutku! Suka-suka aku mau diapakan! Kenapa jadi kau yang sibuk memikirkannya?! Aku saja tidak repot-repot dengan itu! Jangan lupa, Rayan sayang. Aku tidak suka rambut panjang!"
Bola mata Rayan berputar spontan. "Kau benar-benar buta gaya! Sungguh kasihan! Aku jadi semakin penasaran... Siapa kira-kira, pria yang mau denganmu dan segala kejelekan mu itu! Pasti pria itu tak kalah jelek!" sarkas Rayan hanya di mulut.
Mereka sudah sering seperti itu. Kalau tidak adu mulut, bukan keduanya namanya.
Ruobin, Chi-chi, dan Ryura tak sedikitpun peduli. Bila Ryura sudah terbiasa dan diapun memang tak pernah peduli, maka Ruobin dan Chi-chi lain lagi. Kedua siluman itu sudah mulai terbiasa dengan keributan kedua gadis yang saling mengasihi dengan segala kebisingannya itu sejak mereka semakin sering menghabiskan waktu bersama.
"Siapa yang peduli! Asal dia bukan barang bekas, akan aku terima! Lagipula, aku ragu kalau jodoh ku jelek! Hahaha..." balasnya dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Seketika raut wajah Rayan menjadi datar. Kesal rasanya kalau selalu kalah dalam adu mulut, meski itu hanya sekedar adu mulut biasa bukan benar-benar berdebat hingga menimbulkan kebencian yang mendarah daging. Namun, tetap saja...
"Ruobin..." rengek manjanya pun akhirnya keluar kearah sahabat silumannya.
Mendengar itu, siluman rubah perak yang wajahnya selalu ditutupi oleh topeng itu dengan penuh pengertian menenangkan sahabat manusianya.
"Kau juga akan mendapatkan pria paling tampan dari yang lain."
Senyum Rayan mereka seketika. "Hehe. Kau yang terbaik!" suara centil yang kekanak-kanakan di ucapkan, namun tidak menggelikan kala Rayan yang memperagakannya. Gadis berparas imut itu selalu menggemaskan.
Tapi, sepertinya Reychu selalu tahu kapan harus merusak suasana yang baik.
"Hoek!" dia bersikap seolah-olah ingin muntah, itu ditunjukkan begitu mendengar dan melihat bagaimana sahabatnya yang centil-centil manja itu bertindak. Terlebih ketika Ruobin si siluman rubah perak dengan postur tubuhnya yang proporsional meladeni kelakuan sahabatnya.
"Si*lan, kau Reychu!" umpat Rayan seraya menendang kembali sahabatnya, namun kali ini sedikit lebih kuat. Ia tak pernah bisa sabar bila dihadapkan pada sosok Reychu Velicia, sahabatnya yang gila itu.
Untungnya, Reychu bergerak cepat untuk menghindar dan kemudian terjadilah saling tendang diantara keduanya sampai Ryura yang duduk menyendiri di sisi lainnya Reychu, dimana sedari awal ia memejamkan matanya dengan bersandar di salah satu tiang penyangga gazebo seraya bersedekap dada tersebut pun akhirnya terbuka.
Tidak ada yang menyadari gerakannya itu. Bila, berkaitan dengan Ryura jangan pernah berpikir bisa merasakan auranya. Hal itu menyebabkan orang-orang kesulitan mendeteksi keberadaannya juga gerak-geriknya.
Tapi, lain ceritanya bila ia sudah angkat suara seperti yang dilakukannya setelah ini.
"Sudah keluar!"
Tidak besar, tidak juga kecil nada suaranya. Akan tetapi, keempat lainnya masih dapat mendengarnya.
"Apa?!" ada dua makna yang tersirat dari satu kata yang diucapkan bersamaan dari mulut Reychu dan Rayan.
Yang mana, Reychu mengucapkan itu untuk meminta pengulangan. Sementara, Rayan mengucapkan itu lantaran terkejut.
__ADS_1
"Apanya yang keluar?" tanya Rayan akhirnya. Otaknya mulai memproses, meski belum memiliki jawaban pasti. Setidaknya ia punya perasaan lain yang ia yakini sesuai dengan apa yang di ucapkan Ryura.
"Bayi!"
Di sebuah kamar yang berdekorasi mewah juga megah.
Di sana tampak sepasang insan berlainan jenis sedang saling membujuk satu sama lain. Yang mana satunya meminta pengertiannya atas kesibukannya, yang satunya meminta diluangkan waktunya untuk bersama dengannya beberapa saat.
"Dahye, mengertilah... Aku sedang sangat sibuk belakangan ini. Ada banyak yang harus aku selesaikan." tekannya dengan nada lembut, tapi masih bisa dirasakan kalau ia sedang menahan geraman yang ingin keluar lantaran kesal.
"Yang Mulia. Hamba minta maaf. Tapi, sungguh ini bukan hanya keinginan hamba. Ini juga keinginan bayi kita. Kami benar-benar ingin Yang Mulia tetap tinggal untuk beberapa saat." lirihnya seperti habis ditindas oleh sekelompok orang. Penuh rasa takut juga rasa bersalah.
Pria yang tak lain adalah Kaisar Li pun tak bisa berbuat apa-apa bila sudah menyangkut penerusnya. Dengan tingkat kesabaran yang di per-tebal, Kaisar Li pun mengalah. Tapi, bila di amati lebih dalam. Sepertinya, sikap Kaisar Li ini lebih kepada menunjukkan kalau ia hanya memiliki hati lebih untuk bayinya daripada wanita yang mengandungnya. Itu terasa sudah mulai berkurang.
Terkadang tanpa diketahui Selir Agung Gong Dahye. Kaisar Li sering mengunjungi Permaisurinya untuk berusaha mengambil hatinya, walaupun pada akhirnya yang didapatkannya hanyalah cemoohan gamblang Ahn Reychu yang terang-terangan.
Untungnya ia sudah cinta sekarang ini. Kalau tidak, bukankah hukuman akan kembali di berikan?!
"Baiklah. Tapi, hanya untuk sebentar saja!" tegasnya dilembutkan. Entah mengapa ia merasa malas untuk berdebat, apalagi sampai berlama-lama menyaksikan selirnya merengek halus yang entah sejak kapan membuatnya bergidik tak nyaman bila melihatnya bersikap begitu.
Keduanya pun berjalan menuju perpaduan sang selir.
Dalam benak Gong Dahye, ia sudah bersiap dengan segala trik untuk membuat prianya bertahan lebih lama bersamanya seperti yang sering ia lakukan sejak dulu. Sebab, ia tahu belakangan ini Kaisar Li sering mengunjungi kediaman Permaisuri tanpa memberitahunya. Walaupun ia tahu, tanpa izinnya pun Kaisar Li tetap punya kuasa atas segalanya, apalagi itu hanya Harem miliknya.
Langkah pertama, Selir Agung Gong Dahye berniat untuk bercengkrama dengan Kaisar Li perihal bayi mereka. Mulai dari nama dan sebagainya.
"Yang Mulia, tidak lama lagi bayi kita akan lahir. Apakah Yang Mulia sudah menyiapkan nama untuknya?" Gong Dahye bertanya dengan kelembutan yang tidak berlebihan.
Sejenak Kaisar Li terdiam. Sebenarnya, Kaisar Li menyadari sesuatu. Ternyata ia melupakan yang satu itu. Keinginannya untuk kembali bermadu kasih dengan Permaisurinya membuatnya melupakan kepentingan untuk penerusnya.
Menatap mata penuh harap Selir Agung Gong Dahye membuatnya sedikit tidak tega untuk berkata kalau ia melupakan hal itu. Bagaimanapun ini adalah untuk bayi mereka. Jadi, dengan tenang ia melemparkan hal itu kepada Selir Agung Gong Dahye dengan bersikap seolah-olah membiarkan selirnya sebagai seorang calon ibu bayi mereka memberinya nama.
"Bagaimana denganmu? Apa kau menemukan nama yang menarik untuk dipasangkan pada bayi kita?" pengalihannya begitu tenang hingga tak terlihat.
Mendengar itu, Selir Agung Gong Dahye tersipu tanpa tahu kebenarannya. Wanita hamil itu tersenyum malu yang bahagia.
"Hamba menemukannya. Menurut hamba itu nama yang bagus, tapi tidak tahu apakah Yang Mulia akan sepemikiran." tuturnya.
"Benarkah? Kalau begitu beritahukan padaku. Aku yakin namanya akan bagus apapun itu selama kau yang memilihnya." sahut Kaisar Li diam-diam merasa lega dari belitan rasa bersalah sebelumnya. Beruntung, Gong Dahye tidak menyadarinya karena terlalu tersipu-sipu.
Sayangnya, baru saja Selir Agung Gong Dahye hendak membuka mulutnya untuk memberitahukan nama yang ia dapatkan. Suara seseorang muncul dari luar kamarnya.
Itu cukup membuatnya kesal.
"Maaf untuk gangguannya, Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Selir Agung. Hamba punya sesuatu yang harus di sampaikan kepada Yang Mulia Kaisar Li." seru seorang pria yang tak lain adalah Kasim Kaisar yang setia disamping Kaisar Li dan membantu pekerjaannya selama ini.
"'Ah, kau rupanya. Katakanlah ada apa!" kata sang penguasa negara api memberi izin untuk mengutarakan maksud kedatangannya.
"Begini, Yang Mulia. Para dewan telah berkumpul di ruang rapat Kerajaan. Mereka hanya tinggal menunggu anda, Yang Mulia." balas Kasim itu menyampaikan pesannya.
"Ternyata sudah waktunya." beralih ke wajah selirnya yang ternyata sudah muram akibat turut mendengar seruan itu. Tapi, ia juga tak bisa melepaskan begitu saja tanggungjawabnya.
"Nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan ini. Aku harus kembali bekerja." katanya tanpa mau menunggu Selir Agung Gong Dahye menjawab, karena tanpa sadar ia merasa bahwa akan di tahan lagi bila ia tidak langsung beranjak pergi.
Jengkel yang dirasa Selir Agung Gong Dahye hampir mencuat ke permukaan. Dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan Kaisar Li, menyiratkan keengganannya untuk berpisah namun juga tak memiliki kuasa untuk melarang. Bagaimanapun Kaisar Li adalah rajanya.
Saat Kaisar Li bangkit untuk pergi dan dengan perlahan melepaskan genggaman tangan selirnya. Gong Dahye pun ikut bergerak bangkit, merasa tangannya akan dilepas itu membuat hatinya menjadi asam pahit.
__ADS_1
Akan tetapi, kala ingin kembali menahan prianya pergi tiba-tiba rasa sakit menyerang perutnya. Selir Agung Gong Dahye tersentak karenanya dan segera menyadari kalau itu adalah rasa sakit lain dari rasa sakit perut biasanya.
Tak ingin pria yang kini memunggunginya dan hendak pergi mengetahui sesuatu, segeralah skema dadakan dimainkan.
Dengan keberanian yang lebih kepada tindakan nekad yang ceroboh, Selir Agung Gong Dahye menjatuhkan dirinya kedepan bertindak seolah-olah ia tersandung sesuatu hingga terjatuh.
Hanya saja, ia tak berharap kalau itu akan benar-benar menjadi insiden kecelakaan meski kecil.
Suara pekikan nya pun menggema bersamaan dengan suara jatuhnya.
"AHK!"
Brugh!
Kaisar Li yang hanya satu meter setengah didepannya, refleks ia berbalik begitu mendengar suara tersebut. Saat itu juga matanya terbelalak saat melihat Selir Agung Gong Dahye sudah tersungkur dilantai sambil memegang perutnya yang terlihat seperti kesakitan.
Tanpa menunggu lagi, Kaisar Li bergegas menolongnya. "Dahye! Apa yang terjadi sampai kau jatuh seperti ini!" itu tidak menjadi pertanyaan panik, karena ia langsung terkejut kala melihat darah merembes ke bawah pinggul Selir Agung Gong Dahye.
Seketika kekhawatiran terhadap sang penerus dibangkitkan. Tanpa ba-bi-bu lagi, diangkatnya tubuh Selir Agung Gong Dahye ala bridal style keluar dari kamar.
Kasim Kaisar yang masih menunggu diluar pun dibuat terkejut oleh pemandangan yang terlihat di matanya. Belum selesai ia dari keterkejutannya, suara panik Kaisar Li yang menggema keras menyadarkannya.
"SEGERA PANGGIL TABIB. MINTA DIA SIAPKAN SEGALA KEPERLUANNYA. SELIR AGUNG HARUS SEGERA DITANGANI!!!"
"Ba..baik, Yang Mulia!" usai mengatakan itu, dalam sekejap mata si Kasim pun menghilang entah kemana dengan kecepatan berlarinya yang mengejutkan.
Sepertinya, keterkejutannya memicu kemampuan tersembunyi miliknya. Haha!
Bahkan ia melewati Kaisar Li yang juga tengah berlari sambil menggendong selirnya menuju arah yang sama, yaitu ketempat dimana kediaman para Tabib Kerajaan berada.
Tak hanya Kaisar Li dan Kasim yang kalang kabut paniknya, para pelayan juga pengawal yang selalu berada dibelakang junjungannya pun dibuat tak kalah semrawut.
Di kediaman para Tabib yang baru saja mendapatkan kabar itu dari Kasim yang dalam kesulitannya bernafas akibat berlari sebelumnya juga segera bergegas menyiapkan segala sesuatunya.
Beruntungnya, tepat saat sosok penguasa Negera Api memasuki kamar rawat di kediaman itu, mereka sudah selesai mengurus semuanya.
Segera tanpa menunda lagi, beberapa Tabib senior diturunkan untuk menangani masalah tersebut, sedang Kaisar Li hanya bisa menunggu diluar.
Tak terasa, waktu berlalu begitu saja hingga saat yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Bertepatan dengan suara nyaring yang terdengar dari dalam.
"'Oek... 'Oek... 'Oek..."
Senyum merekah tak bisa tidak terbit di bibir seksi Kaisar Li seraya hembusan nafas lega dikeluarkannya. Hal yang sama pun dilakukan oleh Kasim beserta pelayan yang sejak awal sudah siap sedia disana.
Karena itu jugalah yang membuat Ryura di sisi lain istana Huoli mengucapkan tiga kata tanpa lanjutan.
Diucapkan tepat setelah bayi itu lahir.
Mengapa Ryura bisa mengetahuinya? Karena pada kenyataannya apa yang sudah pernah masuk dalam penglihatan Ryura akan dapat dengan mudah Ryura akses segala sesuatu tentang objek tersebut.
Itulah sebabnya, Ryura segera mengetahui kalau Selir Agung Gong Dahye telah melahirkan.
maaf untuk gangguannya. jadi agak lama...π π€
(pinterest)
__ADS_1