
Cklek!
Pintu gubuk jerami itu dikunci rapat. Meski sudah rapat tetap saja masih harus di jaga oleh 2 orang penjaga yang sialnya tidak ada yang indah dipandang mata. Tapi, apa boleh buat. Setidaknya rencana berjalan sesuai keinginannya.
Wush...
Teman suka duka pun akhirnya datang juga.
"Ya ampun. Bisa jelaskan apa yang sedang kulihat sekarang ini?! Kau bahagia kembali ke gubuk jelek ini! Yang benar saja." gerutuan Ruobin malah membuat Rayan terkekeh geli. Cukup tahu kalau siluman rubah perak itu selalu memperhatikan apa yang ada di hidupnya.
Manis, kedengarannya. Rayan suka.
"Tidak ada cara lain. Dengan begini, urusan ku dengan keluarga ini akan benar-benar selesai. Tinggal kita tunggu beberapa waktu lagi." berujar santai sambil berbaring ditumpukkan jerami tanpa ada rasa risih seperti diawal dulu ia datang ke dunia kuno ini. Sebenarnya, bukan tidak risih. Hanya saja ini sudah ia perhitungkan dari awal.
"Ya... Itu kalau rencanamu bisa menghalangi hukuman yang sudah siap menantimu esok hari. Kau dengar sendiri bukan. Pria tua itu sendiri yang akan memenggal kepala mu, Rayan." kalimat itu diutarakan bukan karena ia ragu dengan apa yang sudah di lakukan oleh Rayan, melainkan ia mengkhawatirkan gadis imut itu. Terlanjur menyayangi sahabat manusianya yang satu ini membuat ia bahkan tak memikirkan dirinya sendiri.
"Jangan khawatir, tampan. Aku yakin dengan apa yang aku lakukan." tukasnya tanpa ragu.
"Lalu, bagaimana dengan wanita itu?"
"Wanita bermarga Lin itu?" Ruobin mengangguk mengiyakan.
Seringai terukir di bibirnya. "Kebingungan. Mungkin..." bukan ragu dengan apa yang ia katakan, melainkan tengah menertawai wanita yang pada awalnya tampak sangat siap dengan apa yang ingin ia lakukan. Kini, terlihat bodoh hanya karena ekspresi yang ia tunjukkan tadi.
Mengingat itu, benar-benar menyenangkan.
Gelengan kepala, Ruobin berikan. "Kau mengacaukan rencananya!" tukasnya yang malah membuat Rayan tertawa renyah.
"Berani bermain denganku, harus berani juga menerima permainan ku." tandasnya pasti.
Di kamar Yu Ran Yuan, ia masih terus terbatuk-batuk yang mana setiap batuknya ia selalu mengeluarkan darah. Sakit tubuhnya bukan main. Di kamar itu ia tak sendiri, Lin An Lie, Yu Ran Ran, Yu Zhao Yan dan tabib Keluarga Yu ada disana menemaninya.
"Uhuk... Uhuk... Ughk..." darahnya keluar lagi, pria yang keracunan itu ingin bertahan namun tidak kuasa. Yang dirasakannya benar-benar menyakitkan. Luar dalam tubuhnya seperti dicabik-cabik rasanya.
Kalau begini, mati adalah pilihan yang tepat.
"Tabib, bagaimana keadaannya? Ia bisa di selamatkan, bukan?" serbu Yu Zhao Yan dengan cemas tingkat akut. Melihat itu, siapa pun akan terkesan dengan perhatiannya yang begitu besar meskipun anaknya sudah menjadi ayah juga. Tanpa tahu, kalau ia bisa begitu mengerikan juga dengan hal yang sama.
Sang tabib menghela nafas sendu. "Maafkan saya, Tuanku. Ini sulit. Racun yang masuk terlalu banyak. Saya kesulitan mengatasinya. Reaksi pada awalnya memang tak terduga... Biasanya racun ini di berikan sedikit demi sedikit setiap usai makan seperti halnya meminum obat. Barulah, kerusakan yang terjadi juga akan bergerak lambat dan berangsur-angsur, kemudian setelahnya baru terlihat. Tapi, ini seperti meminum obat dengan takaran berlebihan sehingga tak perlu menunggu waktu lama racun itu langsung menggerogoti tubuhnya." terang Tabib itu panjang lebar dengan hati-hati.
__ADS_1
"Jadi maksud mu... Tidak ada harapan untuknya?" geram Yu Zhao Yan dengan nada tinggi. Tabib itu semakin menundukkan kepalanya, ia tampak ketakutan. Sebagai seorang berkasta rendah, bisa apa dia?! Padahal profesinya sangat jelas dibutuhkan, namun kalah dengan kedudukan lainnya.
"Ma..maafkan saya... Tuanku..." katanya dengan gemetar takut. Harap-harap cemas atas dirinya sendiri. Semoga bisa pulang dengan selamat.
"DASAR TIDAK BERGUNA!" pekik si Kepala Keluarga itu dengan garangnya. Ia tak terima kalau harus kehilangan anaknya dengan cara seperti ini. Ini benar-benar tidak adil dan tidak pantas menurutnya.
Dengan nafas menggebu-gebu ia menggeram penuh dendam. Matanya terpejam kuat. "Anak haram itu... Aku bersumpah akan mencincang seluruh tubuhnya hingga tak dapat dikenali."
Yu Ran Yuan hanya diam meratapi kondisinya yang tak berdaya. Ingin rasanya ia meluruskan kesalahpahaman ini, bagaimanapun ia tak ingin putrinya dituduh yang tidak-tidak. Tapi, apa boleh buat. Ia sendiri, sekarang untuk mengeja huruf 'A' saja tak bisa apalagi kalau harus mengutarakan yang sebenarnya.
Dengan segala ketidakberdayaan ia melirik wanita yang masih berstatus istrinya itu dengan menyiratkan kutukan. Ia seolah bersumpah kalau sampai ia tak bisa bertahan hidup dan tak bisa melindungi Yu Rayan, maka ia akan mengutuk habis hidup wanita bernama Lin An Lie itu. Dengan nyawanya ia tak akan rela kalau sampai wanita itu merasakan kemenangan dari apa yang sudah ia lakukan pada dirinya hingga menderita seperti sekarang ini.
Keningnya berkerut tajam, matanya terpejam erat, tangannya terkepal tak kalah kuat, semua itu perwujudan dari rasa sakit yang teramat sangat di tubuhnya. Tiba-tiba, bisikan putrinya terngiang di benaknya.
"Ayah, aku bisa menyembuhkan mu. Karena itu bertahanlah." kalimat itu yang pertama kali ia dengar dari putrinya. Sempat terkejut, mendengar Rayan bisa menyembuhkannya. Mengingat bagaimana gadis itu hidup selama ini. Tapi, ini bukanlah waktu yang tepat.
Ia tahu putrinya sedang membisikkan apa yang ingin ia katakan, mengingat mereka tidak memiliki banyak waktu untuk bisa berbicara panjang lebar.
"Ja..jangan... Ja...ngan laku..kan apa..pun ya..ng mem...baha..yakan..mu... Kalau, a..ku ha..ru..s ma..ti ma...ka a..ku aka..n ma..ti...! Be..baskan di..rimu da..ri kel..uar..ga i..ni! Be..baslah... Kau... Ber..hak baha..gia...! Ayah mencin..***..mu put..ri..ku...!" ia ingat dengan apa yang di ungkapnya dengan susah payah beberapa waktu lalu. Sesungguhnya, tak ingin melewatkan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang ingin ia ungkapkan dari sejak lama. Meski sebenarnya masih banyak lagi yang belum ia utarakan, tapi setidaknya sepenggal kalimat itu saja sudah mewakili seluruhnya. Ia tak ingin kesempatan kecil itu hilang. Lagipula, ini waktu yang mepet dan tidak tepat.
Ia sekarat, sedang Rayan tersudut oleh rencana yang sudah disusun wanita itu. Menyebutkan namanya saja ia sudah enggan. Istri kok kejam, itulah pikirnya.
Merasa tak percaya kalau ajalnya sudah di depan mata. Menghilangkan khayalan sederhana namun indah baginya, dimana ia bisa dengan lebih leluasa dan terbuka menunjukkan betapa ia amat mencintai putrinya dengan wanita yang dicintainya hingga mengalahkan rasa cintanya pada putrinya yang satu lagi.
Kalau di ingat-ingat, bila sampai Yu Ran Ran tahu. Gadis itu pasti akan sedih.
Tapi, apa mau dikata. Ia hanya bisa mengikhlaskan semua harapan semu yang takkan pernah bisa ia capai. Meski begitu, jawaban sang putri tercinta ternyata cukup membayar lunas segala rasa yang bercampur aduk hingga tak bisa di jelaskan.
"Huuhh... Aku benci mendengar Ayah jadi lemah begini. Tapi, harus Ayah tahu... Aku... Juga mencintaimu... Yu Rayan mencintaimu Ayah! Jika, ada kehidupan selanjutnya. Aku masih ingin Ayah menjadi Ayahku!" bisikan terakhir yang benar-benar tulus langsung mengena di hati Yu Ran Yuan tanpa halangan sampai-sampai sudut mata pria itu menitikkan air mata haru. Ia bahagia mendengarnya. Setidaknya ia tahu putrinya tidak memendam benci padanya dan di kalimat terakhir putrinya, ia mengaminkan itu.
Setelahnya, Rayan pun pergi usai menghadiahi kecupan sayang di keningnya.
Senyum tulus namun sulit bahkan tampak bergetar, melihat kondisinya saat ini terukir indah di bibirnya yang berlumuran darah akibat muntahan darahnya yang tak henti-hentinya. Apa yang melintas dibenaknya, sungguh membuat ia tak takut bila memang harus mati kali ini.
Mungkin, bila memang ada kesempatan untuk hidup kembali di kehidupan berikutnya. Seperti kata putrinya. Maka, ia akan mencoba menjadi lebih baik lagi terlebih ketika ia kembali memiliki Yu Rayan sebagai putrinya. Meski ingin, namun ia tak mau egois. Ia tak akan mengharapkan Yan Yue lagi untuk kehidupan berikutnya. Cukup Rayan saja, ia sudah bahagia.
Masih dikamar yang sama, masih denagn orang yang sama. Namun, tidak dengan apa yang ada dipikiran mereka masing-masing.
Yu Ran Ran, setia di sisi sang ayah dengan berurai air mata. Sedih dan miris melihat kondisi ayahnya. Tak pernah terbayangkan olehnya, sang ayah akan berada di kondisi seperti ini.
__ADS_1
Keadaan ini membuat otaknya menarik satu nama yang diklaim menjadi sasaran utama atas kejadian ini. Siapa lagi kalau bukan Yu Rayan. Ia begitu yakin dengan hal itu.
"Yu Rayan... Kau memang anak haram yang tidak tahu diuntung. Teganya kau menyakiti Ayah. Padahal dia begitu menyayangi mu... Dan kini akibat ulahmu aku jadi kehilangan kesempatan untuk bisa dekat dengannya. Kau benar-benar perusak. Lihat apa yang akan aku lakukan untuk membalasmu!" dendam batinnya tak tertolong. Ia sudah dibutakan oleh kesimpulan sekilas tanpa mau mengorek lebih dalam lagi.
Sedang di pinggir peraduan, disana masih ada Lin An Lie. Wanita itu mungkin sudah mulai tidak waras. Saat ini ia justru tak bergeming seperti orang yang kebanyakan beban hidup. Otaknya nyaris eror bila mengingat apa yang sudah dan sedang terjadi hari ini. Jujur, ini adalah rencananya. Rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya yang tak berbalas. Menjadikan Rayan kambing hitamnya. Ia bahkan sudah meminta pelayannya untuk meletakkan botol racun yang dibelinya di kamar anak haram itu, agar nanti bila diperiksa ia akan langsung menjadi tersangka.
Namun, sayang beribu sayang. Yang terjadi malah diluar rencana. Berharap Rayan mengelak saat dituduhkan tadi untuk melengkapi konflik yang ia inginkan untuk terjadi. Tapi, gadis itu malah mengiyakan tuduhan itu.
Bingung? Tentu. Terlebih ketika ia mendapatkan seringai di bibir ranum anak haram itu. Ia jadi semakin dilanda kebingungan. Rencananya sudah rusak dari awal. Kini, ia tak tahu harus apa. Menjadikan ia hanya bisa menunggu dan menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Si*lan! Anak haram itu merusak rencana ku! Apa yang sebenarnya sedang dia lakukan?! Apa maunya?! Ini tidak seharusnya terjadi! Benar-benar sial! Aku jadi tidak bisa berpikir... Dia mengakuinya diawal, tapi aku yakin ia tidak menginginkan hukuman mati itu. Lantas, apa yang sebenarnya anak haram itu lakukan?!! Aku yang punya rencana! Tapi, mengapa dia yang memegang kendali! Brengs*k!" amuknya dalam hati. Marah bukan main pada gadis yang amat dibencinya. Semakin benci bila melihat wajah Rayan yang seperti menjiplak wajah wanita yang selalu dianggap murahan dan rendahan itu.
Beralih ke sang Kepala Keluarga. Yu Zhao Yan. Pria tua yang sudah tak muda lagi, namun masih terlihat bugar itu. Kini, ia sedang memikirkan hukuman apa yang pantas untuk membabat habis anak haram itu.
Marah, benci, kesal. Sudah menjadi satu. Terkadang ia tidak habis pikir. Gadis itu dulunya hanya seperti sapi yang ditusuk hidungnya hingga ia hanya bersikap tunduk tanpa protes. Akan tetapi, kini gadis itu justru berani menunjukkan bendera permusuhan diantara mereka. Gadis haram itu seolah tengah unjuk gigi untuk melakukan aksi balas dendamnya kepada seluruh anggota keluarga Yu. Mengingat tak ada yang bersikap baik padanya sejak dulu. Anak haram itu dulunya diperbudak dan kini anak yang diperbudak itu sedang beranjak bangkit untuk menjatuhkan yang lainnya.
Sungguh ironi.
"Aku harus menghabisinya! Cepat atau lambat. Aku akan melenyapkannya! Anak haram itu tidak boleh dibiarkan hidup lebih lama lagi! Atau keluarga Yu akan mendapatkan kesialan lebih dari ini! Tunggu saja kau, Yu Rayan! Cih! Aku bahkan tidak pernah mengizinkan margaku disandingkan di depan namanya. Rayan. Hanya itu! Tidak ada 'Yu' didalamnya! Anak haram itu tidak pantas!" batinnya berseru lantang penuh kebencian yang membuncah. Kalau bukan karena kondisi putranya yang sedang ingin ia pastikan. Sudah jelas, nyawa Rayan kini telah meninggalkan jasadnya.
Tanpa ada yang tahu kalau semua itu telah di perhitungkan oleh Rayan. Diperhitungkan dengan sangat baik.
Bahkan kini, gadis yang telah menjadi manusia yang paling dibenci oleh keluarganya sendiri tampak sedang makan enak dengan Ruobin di gubuk jeraminya. Pria bertopeng rubah itu membawakan dirinya buah-buahan sebagai camilan sembari bercengkrama untuk aksi berikutnya.
yuhuuu...
gimana-gimana? author sangat berusaha yang terbaik. tapi tetap saja tidak bisa langsung memenuhi keinginan kalian. kehidupan pribadi author masih perlu perbaikan.
hehe... jangan di pikirkan.π
dengan eps kali ini semoga kalian suka...
ya. jangan lupa dengan like, vote, and komentar nya. yooooo...
di tunggu...
sampai jumpa di eps berikutnya...
bai-bai...ππππ΄
__ADS_1