
Berdiri terpaku didepan rumah megah bergaya tradisional modern, Reychu tak tahu harus berkata apa.
"Kau suka?" tanya Bai Gikwang dari belakang seraya melingkarkan lengannya disekitar pundak Reychu yang terbengong-bengong menatap rumah masa depan mereka.
"Ini... Rumah kita?" tanya Reychu seolah tak yakin.
"Tentu. Rumah siapa lagi kalau bukan rumah kita. Kau ini..." kekeh Bai Gikwang melihat ekspresi cengong kekasihnya.
Beberapa saat lalu, sepulang dari kantor perusahaan milik Bai Gikwang mereka memutuskan untuk mengunjungi rumah masa depan mereka lebih dulu sebelum keesokan harinya berkunjung ke rumah utama.
Reychu tak terlalu banyak berpikir pada awalnya. Bahkan dengan polosnya dia berpikir rumah masa depan mereka akan terlihat umum seperti rumah-rumah orang kaya kebanyakan. Bagaimanapun dia tidak lupa kalau kekasihnya ini kaya raya.
Tapi, dia tak pernah membayangkan akan seperti ini rupanya begitu dilihat.
Tidak jelek. Malah luar biasa indah baginya. Hanya saja, bukankah rumahnya terlalu besar.
Seolah tahu apa yang dipikirkan oleh kekasihnya, Bai Gikwang segera menerangkan. "Rumah kita, ku buat besar karena aku ingin memiliki banyak anak denganmu. Sudah ada beberapa ruang kosong didalam yang akan kita atur saat satu persatu anak kita hadir ke dunia ini. Jadi, tak perlu memusingkannya lagi. Rumah ini akan penuh dengan anak-anak kita nanti. Hahaha..." kentara sekali bahagianya Bai Gikwang saat membayangkan rumah didepannya saat ini akan dipenuhi dengan darah dagingnya. Senyum merekah tak jua surut dari bibirnya.
"Kau benar-benar penuh persiapan."
"Tentu saja. Jadi, apa kau suka?"
Reychu mengangguk membenarkan. "Sangat. Aku jadi tidak sabar untuk secepatnya hamil, lalu melahirkan, lalu jadi orang tua, lalu melihat tumbuh kembang anak kita, lalu tambah lagi, dan tambah lagi, dan terus menambahkannya lagi sampai semua kamar yang kau siapkan terisi semua. Itu hebat sekali!" ucap Reychu entah apa yang dipikirkannya, yang pasti caranya mengatakan semua itu terdengar begitu mudah disebut. Seolah-olah, memang sesederhana itu.
Kalau para orang tua mendengarnya, mereka pasti siap untuk menceramahi Reychu dan memintanya untuk tidak terlalu naif.
Sejak kapan menjadi orang tua itu semudah membuatnya?
Tapi, disini penulis ingin mengatakan kalau dimasa depan, Reychu benar-benar akan melakukan apa yang dikatakannya saat ini semudah itu. Kalian bisa menebak, kira-kira ada berapa anak yang akan dilahirkan Reychu kedepannya.
"Kalau begitu, ayo masuk kita akan melihat semuanya. Sekalian menghitung ada berapa banyak kamar untuk calon anak-anak kita kelak. Dengan begitu kau bisa menyiapkan diri. Karena aku tidak akan menundanya. Begitu kita menikah, kita akan langsung melakukan program kehamilan. Lebih cepat lebih baik." terang Bai Gikwang.
Jelas sekali kalau Bai Gikwang menganggap semua ini adalah tugas yang tertinggal. Alhasil, dia harus memburu ketertinggalannya agar segera terlaksana.
Reychu mengangguk paham. "Ikuti saja pengaturan mu. Lagipula, kau akan memperlakukan ku bak seorang ratu kan? Kalau tidak aku tidak mau." dia berujar memastikan walaupun sudah yakin. Juga kata-katanya penuh percaya diri sama sekali tidak terlihat malu karena terkesan terlalu banyak menuntut.
Namun, begitulah Reychu.
Beruntung yang mendengarnya hanya Bai Gikwang yang memang rela memanjakannya dalam segala hal.
"Tentu saja. Aku menikahi mu bukan untuk aku sia-siakan. Kau akan jadi istri yang berarti pendamping hidup ku juga teman hidup ku yang akan berbagi suka-duka bersama ku. Kau akan jadi ratu di dalam keluarga kecil kita. Sebagaimana dengan fakta bahwa aku seorang Kaisar Agung sebelumnya, maka sekarang pun akan sama. Kemudian, kau akan jadi permaisurinya serta anak-anak kita kelak akan jadi pangeran dan putrinya. Sempurna!" cup! Diakhir Bai Gikwang mengecup pipi Reychu dengan sayang dan berdehem mengiyakan sebelum Reychu mengangguk puas mendengarnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, Yang Mulia. Kau harus menggendong ku sekarang dan membawa ku ke kamar. Aku sudah ingin istirahat." pinta Reychu menggunakan nada memerintah.
Mendengar itu, Bai Gikwang hanya tertawa renyah dan langsung menuruti keinginan permaisuri tercintanya. Itu permintaan yang mudah, jadi tidak perlu banyak berpikir.
Hap!
Dalam sekejap Reychu sudah dalam gendongannya yang ala bridal style.
Keduanya pun bergerak masuk kedalam rumah dengan langsung disambut oleh kepala pelayan yang agak terkejut dengan kepulangan majikannya yang tiba-tiba. Sebab, dia tak diberi kabar kalau Tuan Muda Bai akan pulang.
"Tuan Muda Bai! Tolong maafkan saya karena tidak tahu kalau anda akan pulang!" tuturnya seraya membungkuk dan segera merasa gagal dalam melakukan tugasnya.
Rasanya tidak enak. Matanya langsung merasa perih seperti ingin menangis.
"Bukan masalah. Aku memang sengaja tidak mengabari mu. Jadi, lanjutkan saja tugasmu yang lain. Oh, ya. Siapkan makan malam untuk kami berdua. Itu saja." balas Bai Gikwang setelah berhenti sejenak kala melihat bawahannya muncul guna menyambutnya. Tak lupa, dibawah tatapan penasaran kepala pelayannya atas kehadiran Reychu yang digendong oleh Bai Gikwang, jujur saja sangat mengejutkan kepala pelayan, Bai Gikwang memperkenalkan.
"Ini Reychu Velicia. Calon istri ku, yang berarti calon Nyonya mu. Perlakuan dia seperti kau memperlakukan ku selama ini. Dimengerti?!" lugas Bai Gikwang dengan jejak dingin dan tak ingin dibantahnya, kepala pelayan langsung berjanji dengan patuh ditengah-tengah rasa terkejutnya.
Tanpa banyak bicara, Bai Gikwang kembali melanjutkan langkahnya. Reychu dalam gendongan sempat melirik kepala pelayan yang tercengang dengan lucunya, kemudian kembali menatap wajah calon suaminya dan bertanya.
"Dia kepala pelayannya? Berapa umurnya. Dia terlihat berumur sekali." maksudnya adalah 'dewasa sekali'. mulut Reychu saja yang kelewat lemes.
"Haha. Namanya Tian Liyuan. Umurnya baru 26 tahun. Sedikit lebih muda darimu. Tapi, percayalah dia ahli dalam mengurus urusan rumah." jelas Bai Gikwang memberitahu, sebab bagaimanapun Reychu pada akhirnya harus tahu juga siapa bawahannya.
Akan tetapi, yang Bai Gikwang katakan selanjutnya lebih menjurus kepada mengejutkan.
Ini langka!
Bai Gikwang tertawa mendengar analisis kekasihnya sambil tanpa sadar menerawang ke masa lalu. "Hahaha. Awalnya aku juga berpikir begitu." jedanya. "Buka pintunya." kata Bai Gikwang saat keduanya sudah tiba ditempat tujuan.
Cklek!
Pintu dibuka oleh Reychu dan Bai Gikwang langsung membawanya masuk, lalu mendudukkan tubuh Reychu yang selalu berharga baginya ke sofa yang ada didalam kamar tersebut.
Setelah keduanya duduk, Bai Gikwang merasa perlu berbagi cerita yang menarik tentang topik sebelumnya.
"Apa kau tahu! 3 tahun yang lalu, aku bertemu dengan Tian Liyuan disebuah hotel tempat ku menginap saat sedang melakukan perjalanan bisnis. Saat itu dia baru saja di pecat karena dituduh merusak properti hotel. Situasinya cukup menarik perhatian juga. Padahal dia sudah membantah dengan keras kalau bukan dia yang melakukannya. Dia bahkan sampai bersumpah dengan berurai air mata..."
"Benarkah?!" Reychu lebih tertarik pada kata 'berurai air mata', dia langsung merasa ceritanya akan terdengar menarik.
Bai Gikwang mengangguk membenarkan. "Aku yang merasa lucu karena tingkahnya tidak sesuai dengan penampilannya yang tinggi besar pun meminta Chang Bin mencari tahu ada apa gerangan..." seraya tangannya menarik Reychu kedalam pelukannya.
__ADS_1
Lanjutnya. "Akhirnya aku tahu kalau ada yang melakukan skema untuknya karena terkenal sebagai karyawan teladan dan selalu memberikan hasil kerja yang memuaskan..."
"Lantas, kau membantunya?" tanya Reychu sambil menikmati dimanjakan, Bai Gikwang yang mendengarnya menggeleng.
"Tidak."
Reychu mendongak mendengar jawabannya. "Tidak?"
"Ya. Aku tertarik untuk memperkerjakan dia setelah mengetahui fakta itu. Jadi, kenapa aku masih mau menolongnya. Akan lebih baik kalau aku mengambilnya untuk diriku sendiri." ungkap Bai Gikwang akan kelicikannya yang malah disambut kekaguman oleh Reychu.
"Wah. Hebatnya calon suami ku. Kau membiarkan seseorang dipecat sebelum merekrutnya ke sisimu. Bukankah itu juga semacam skema." kata Reychu tanpa ragu.
"Hahaha... Anggap saja begitu."
"Lalu, lalu..." Reychu semakin ingin mendengar kelanjutannya.
"Lalu, singkat cerita... Setelah dia akhirnya dipecat dan keluar dari lingkungan hotel saat itu juga. Aku langsung meminta Chang Bin mengambilnya untuk dibawa menemui ku. Bagaimanapun aku masih harus memastikan kalau dia layak menjadi bawahan ku... Dan lagi, ternyata dia tahu siapa aku. Hal itu menjadi lebih mudah. Kau tahu apa yang terjadi padanya setelah mendengar penawaran ku..."
Hahahaha!
Tangan Bai Gikwang langsung bergerak guna menutupi wajahnya dan tertawa. Dia selalu tertawa bila mengingat kejadian itu.
Lucu sekali menurutnya.
"Apa yang terjadi? Beritahu aku!" tuntut Reychu penasaran.
Setelah meredakan tawanya, baru menjawab. "Dia berlutut dan berterimakasih padaku karena telah memberinya pekerjaan sampai mengeluarkan air mata. Dia menangis, sayang. Dia bahkan bersumpah akan setia dan tidak mengecewakan aku. Kau bisa bayangkan, penampilannya yang tinggi besar, berkulit gelap, wajahnya yang laki-laki sekali namun bersahabat, sampai orang-orang yang melihatnya akan merasa kalau pria seperti dia mampu membuat orang merasa aman karena aura kegagahannya yang jujur. Tapi, faktanya justru berbeda. Hahaha... Aku masih belum terbiasa dengan itu..." Bai Gikwang kembali tertawa dengan Reychu yang membelalakkan matanya membayangkan semua itu.
"Dia pasti selalu menipu orang lain dengan penampilannya." tebak Reychu.
"Ya. Selalu. Saat pertama kali aku memperkenalkan dia kepada para pelayan yang lain saja, dia sudah mendapatkan pandangan cinta dari beberapa pelayan perempuan. Tapi, segera sirna setelah dia angkat bicara dengan nadanya yang lembut dan terkesan malu-malu. Itu lucu sekali!" cerita Bai Gikwang dengan khidmatnya.
"Ternyata, dia kemayu!" ujar Reychu merangkum sosok Tian Liyuan dalam satu kata.
Kemudian, pasangan itu tertawa bersama.
Keduanya dengan santai membicarakan seseorang tanpa tahu sudah berapa kali orang yang dibicarakan mengalami bersin-bersin yang tidak jelas.
Sambil mengusap hidungnya, Tian Liyuan bergumam bingung. "Ada apa denganku. Bersin-bersin tidak jelas. Pasti ada yang membicarakan ku dibelakang. Sudahlah lebih baik menyiapkan makan malam untuk majikan."
Hatinya sangat polos dan bersih sampai tidak memiliki pemikiran apapun tentang kemungkinan Bai Gikwang akan menceritakan tentang dirinya pada Reychu.
__ADS_1
Atau tepatnya, dia yakin hal itu tak akan terjadi mengingat perangai majikannya yang dingin. Ternyata, dia masih belum mengenal Bai Gikwang dalam sosok Bai Liam.