3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
PENYELIDIKAN KASUS KEMATIAN 2


__ADS_3

Suasana kembali seperti semula setelah para pria pergi usai interogasi singkat yang sebenarnya sama sekali tidak terjadi apa-apa selain pemberitahuan atas kebenaran dari sisi para gadis.


Karena masalahnya belum terselesaikan, para pria tak bisa mengambil waktu bersama kekasih mereka guna mengurus kekacauan yang terjadi ini hingga tuntas terlebih dahulu. Alasannya, mudah saja...


Ketiganya tak ingin masalah ini menjadi batu sandungan bagi hubungan mereka dengan 3Ry kedepannya.


Sepeninggalan ketiga pria tampan itu, 3Ry kembali ke kegiatan mereka sebelum para pria datang.


"Kepercayaan mereka pada kita, cukup mengesankan." kata Reychu sambil menatap arah menghilangnya ketiga pria tadi sebelum kembali melanjutkan ngemilnya.


"Itu bagus. Setidaknya, mereka bisa dianggap lulus ujian kepercayaan. Akan sangat disayangkan kalau mereka semenyebalkan yang lain saat dengan mudahnya mereka mempercayai sesuatu tanpa menyelidikinya lebih dulu." sahut Rayan yang sedang merenggangkan punggungnya akibat terlalu lama duduk.


Reychu menoleh kearah Ryura yang tak bergeming bak patung dari awal sampai saat ini.


"Ryu, kau diam saja dari tadi. Bahkan saat pria ubanan itu datang kau tetap tidak bergerak. Dia masih kekasih mu 'kan? Kau tidak takut dia jenuh dan akhirnya memilih menyerah atas sikap acuh mu, kemudian meninggalkan mu? Lalu, dia akan mencari pengganti mu! Ckckck." celetuk Reychu dengan santainya tanpa menyadari kalau Ryura sudah melayangkan tatapan mengerikan khas dirinya bila mendapati sesuatu yang membuatnya tidak senang.


Glek!


Rayan bungkam dan tak berani angkat suara melihat semua itu. Tapi, dia masih berusaha memberikan Reychu kode melalui matanya agar gadis bermulut besar itu diam. Namun, sayang sekali Reychu belum menyadarinya juga dan malah asik mengunyah camilannya hingga nyaris tak tersisa.


"Dasar si bod*h ini...!!! Apa tidak bisa dia diam saja! Cari mati! Lihatlah, Ryura sudah seperti singa lapar yang menemukan mangsanya! Benar-benar mengerikan! Dasar bod*h!" umpat Rayan kesal dari dalam hatinya melihat tingkah sahabatnya yang gila itu.


Sudah tidak menyadarinya, Reychu malah masih memiliki stok kata untuk ia lontarkan kepada Ryura tanpa tahu kalau Ryura sudah benar-benar siap menelan hidupnya.


"... Begitulah pria. Dari survei yang ku dapatkan dulu. Umumnya, pria itu suka seenaknya sendiri dan cenderung mudah bosan, apalagi kalau kekasihnya acuh seperti mu. Tidak menutup kemungkinan lelaki itu akan memiliki simpanan dibelakang kekasihnya. Cih! Yang seperti itu adalah tipe pria yang minta dibunuh lebih cepat!" cerocosnya tanpa henti hingga saat ia akan kembali bersuara sesuatu yang dingin tiba-tiba saja menempel di lehernya dan itu terasa menusuk.


Dia pun diam...


Barulah, Reychu menggerakkan pandangan kebawah untuk melihat apa yang membuat ia merasakan kejanggalan di lehernya.


Ternyata...


Sebuah benda panjang berwarna putih dengan hawa dingin muncul di penglihatannya. Dia mengikuti bentuk panjang benda itu sampai ia mengkonfirmasi bahwa benda tersebut tak lain dan tak bukan adalah pedang pusaka milik keluarga Ye yang berada ditangan Ryura setelah mengklaim Ryura sebagai pemiliknya.


Itu semua terlihat dari bagaimana Ryura memegangnya dan mengarahkan kepadanya.


Mata Reychu masih bergerak hingga matanya bertubrukan dengan sepasang mata dalam yang tak berujung didepannya.


Glek!


Akhirnya dia tersadar dari apa yang sudah ia lakukan.


Cengiran segera terukir di bibirnya, iapun tertawa kikuk seperti maling yang ketangkap basah telah mencuri. "Hehehe... Hehe... Hai, Ryura~. Apa kabar? Baik pastinya kan? Hehe... Tolong jangan pedulikan apa yang kukatakan tadi, oke?! Itu hanya kesalahan teknis. Kupikir lidahku perlu di latih lagi agar tidak asal mengeluarkan kata-kata. Apalagi sampai menyinggung mu. Hehe... Hehe... Peace!" satu kata pada bagian akhir dilengkapi dengan diacungkannya dua jari sebagaimana orang modern suka melakukannya saat meminta perdamaian.


Ryura diam tanpa bergerak untuk beberapa saat sebelum akhirnya melepaskan Reychu yang langsung menghela nafas lega begitu terlepas dari maut yang tiba-tiba datang.


Dia merinding dibuatnya saat membayangkan akan mati ditangan sahabatnya sendiri. Dia sampai berbagi perasaannya kepada Rayan yang memandangnya ilfil setelahnya.


"Wow... Tadi itu sungguh mendebarkan. Aku nyaris mati! Ini mengingatkan ku pada cerita populer dalam novel-novel, tentang 'teman bunuh teman karena cinta'. Kira-kira, apakah kisahku ini termasuk kedalamnya? Hmm. Kupikir tidak jauh berbeda. Bedanya, aku tidak merebut kekasihnya melainkan menghasutnya secara halus agar hubungan keduanya rusak. Astaga, aku tidak tahu aku seburuk itu!!" entah apa yang Reychu katakan. Bagi Rayan, tidak ada yang jelas selain omong kosong belaka yang menyebalkan dan bikin emosi. Dia jengah mendengarnya.


"Dasar idi*t!" umpat Rayan untuk Reychu sebelum bangkit dari duduknya untuk menghindari si gila.


"Apa? Siapa yang idiot? Cih. Dasar Rayan idi*t!" tiru Reychu, lalu tersenyum konyol kearah Ryura yang masih menatapnya sepanjang waktu.

__ADS_1


"Jangan menatap ku begitu. Kalau kau jatuh cinta pada ku, aku tidak akan bisa membalasnya. Hihihi... Dan juga, bisa-bisa aku akan dibunuh oleh kekasih mu." ujar Reychu kembali dengan kegilaannya. Tapi, setelahnya ia tak lupa untuk langsung melarikan diri menyusul Rayan lantaran tak ingin lebih tertekan akan aura intimidasi yang Ryura keluarkan.


"Kalau begitu. Aku tinggal dulu... Rayan membutuhkan ku!"


Bila Rayan mengetahuinya, gadis itu pasti langsung mengomel.


Ryura hanya menatap sahabatnya yang melarikan diri sebelum kemudian menoleh kearah luar jendela.


Sulit untuk mengetahui apa yang tengah ia pikirkan.



Suasana konyol yang terjadi di tempat 3Ry tidak terjadi di sini...


Di Paviliun Bunga Malam.


Tiga pria penguasa yang tampan dan seorang wanita yang berstatus sebagai ibu sambung dari salah satu pria disana tengah duduk saling berhadapan.


Suasananya cukup menekan dan mencekam sejak ketiganya datang. Meski sebenarnya ketiga pria itu bersikap dengan sangat tenang. Walaupun demikian, Meng Pei Yun tidak bisa menahan kecemasan dan kegelisahan dari dalam dirinya akan apa yang mungkin terjadi bila sampai mereka tahu kalau dia adalah dalang dari masalah kali ini.


Hanya saja, Meng Pei Yun masih mencoba peruntungan untuk lolos dari masalah ini dengan tetap bersikap biasa saja dan sebaik mungkin menutupi kebenarannya. Mengabaikan kemungkinan dia akan tamat bila ketahuan.


Dengan senyum bersahaja seseorang yang berwibawa ditampilkan, seolah dia adalah orang yang tidak mungkin berani berbuat jahat, apalagi membunuh orang seperti yang baru saja terjadi di Kediaman Ye hingga menjadi berita panas.


"Salam Yang Mulia Kaisar Agung Bai dan Tuan Muda Master Shin. Suatu kehormatan bagi wanita ini, karena dikunjungi oleh para penguasa yang begitu luar biasa di bidangnya. Dan untuk mu juga, putra ku." nada bicaranya cukup tenang nan lembut, bahkan juga terdapat senyum ringan di bibirnya, seperti masalah diluar tidak ada hubungannya dengan dia.


Tapi, meskipun begitu para pria tampan nan berkuasa itu tak bisa begitu saja mempercayai dan melepaskan segala kemungkinan yang ada. Apalagi, ini menyangkut 3Ry yang amat mereka cintai.


"Seperti yang Nyonya Selir katakan." kata Kaisar Agung Bai datar. Dia selalu seperti itu terhadap orang yang menurutnya tidak penting dan bahkan tidak relevan.


"Saya tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. Saya sendiri cukup terkejut saat mengetahui kalau pelayan saya memiliki keberanian itu. Padahal, siapapun tahu tidak ada masalah apapun diantara saya dan Nona Ryura." Meng Pei Yun menjelaskan dengan sedih, seperti dia merasa disalahkan atas apa yang tidak ia lakukan. Kalimat yang diucapkan juga mengandung makna bahwa seolah dia benar-benar tidak tahu apa-apa.


"Ya, itu memang cukup mengejutkan. Saya sendiri sulit mempercayainya." timpal Kaisar Agung Bai lagi dengan nada yang sama datarnya, tapi Meng Pei Yun tidak menemukan ada yang salah dengan cara pria itu berbicara.


"Ibunda Selir, karena itulah kami datang untuk menanyakan beberapa hal yang mungkin bisa di jadikan petunjuk untuk masalah ini. Kuharap, ibunda tidak keberatan." izin Ye Zi Xian dengan nada santun, tapi tidak menghilangkan kedatarannya yang bermakna dalam sikapnya.


Disisi lain, Shin Mo Lan lebih banyak diam namun menyimak dengan baik apa yang dilakukan kedua sahabatnya dengan Meng Pei Yun. Sembari mencoba memeriksa sekitarnya dengan kekuatan internal yang dia miliki, itu bermaksud untuk mencari tanda-tanda keberadaan racun mematikan tersebut.


Bohong kalau Meng Pei Yun tidak gugup. Bahkan saat ini jantungnya berdegup dengan sangat cepat hingga rasanya seperti akan lepas dari tempatnya. Tapi, saat ini bukan waktunya untuk menyerah. Bagaimanapun caranya, Meng Pei Yun ingin mendorong semua kesalahan kepada Ryura dan dua gadis lainnya.


Niatnya untuk memiliki Ye Zi Xian seorang diri tidak hilang, malah bertambah kuat niatnya itu sampai rasanya dia mau menjadi gila.


"Tentu saja tidak. Ibu tahu seberapa besar dampak dari masalah ini untuk keluarga kita. Hanya saja, ibu benar-benar tidak tahu menahu soal ini. Sulit untuk ibu percaya kalau pelayan ibu bisa menjadi begitu berani." dia berkata seolah itu semua adalah kejujurannya.


"Tapi, Zi Xian. Bukannya ibu tidak percaya pada pilihan mu. Hanya saja, ini tidak bisa dibenarkan."


"Apa maksud dari perkataan ibu?" kening Ye Zi Xian mengerut samar dengan perasaan tak senang melintas di matanya mendengar kalimat yang diucapkan oleh ibu sambungnya.


Dia bisa merasakan adanya tuduhan tertutup didalamnya.


Meng Pei Yun tidak menyadari apa yang dirasakan putra sambungnya, dia masih bertindak seperti dia sudah cukup pintar memutar balikkan kebenaran. Dia tampaknya lupa, disana tidak hanya ada Ye Zi Xian.


"Sebagai seseorang yang dipilih oleh pedang pusaka Keluarga Ye, sudah pasti Nona Ryura tidak akan menjadi gadis sembarangan. Dia harus memiliki sesuatu yang istimewa hingga pedang pusaka memilihnya. Jadi, tidak menutup kemungkinan bila dia mengetahui apa yang pernah ibu diskusikan dengan mu sebelumnya." disini Meng Pei Yun ingin mengatakan kalau Ryura berkemungkinan besar memiliki kelebihan mengorek informasi terlebih bila itu menyangkut Ye Zi Xian yang akan menjadi pendampingnya.

__ADS_1


Di berkata begitu juga karena yakin kalau Ye Zi Xian tidak akan mengumbar percakapannya dengan dia waktu itu kepada Ryura sehingga dengan alasan ini ia bisa menyingkirkan Ryura.


Dia juga tidak salah ketika mengatakan kalau siapapun yang dipilih oleh pedang pusaka sudah tentu adalah orang-orang yang istimewa. Meskipun dia enggan mengatakan betapa istimewanya Ryura, dalam masalah kali ini dia terpaksa melakukannya. Meskipun dengan sedikit bumbu kebohongan.


Setidaknya sampai semua kesalahan mengarah pada saingan cintanya.


Sayangnya, ada yang tidak dia ketahui dan sadari. Melalui percakapan ini saja dia sudah membuka celah bagi ketiga pria itu untuk tak perlu repot-repot mengajukan pertanyaan kepada Meng Pei Yun sebab wanita itu sendiri yang membongkarnya meski tidak secara langsung.


Dari kata-kata yang dia sebutkan saja, sudah menunjukkan kalau Meng Pei Yun bersikap seolah dia cukup mengenal Ryura.


Dan bagi mereka yang mengetahui orang seperti apa Ryura itu jelas tak perlu berpikir dua kali untuk menemukan jawaban dari masalah kali ini.


"Dasar picik!" batin Kaisar Agung Bai tak tahan. Hal ini juga membuatnya membayangkan bila Reychu berada dalam posisi seperti saat ini. Kira-kira apa yang akan dilakukan gadisnya?


Disela-sela kecemasan akan masalah yang mungkin akan terjadi diantara dia dan Reychu dimasa depan, tak dapat dipungkiri kalau Kaisar Agung Bai juga sangat menantikan. Ia penasaran seperti apa performa kekasihnya dalam menghadapi masalah?


Sayangnya, dalam hal itu tidak berlaku di pihak Shin Mo Lan. Dia sudah mendapatkan kode restu dari kakeknya. Hanya tinggal menunggu kapan waktu tepatnya hal itu dibicarakan maka dia bisa langsung membawa Rayan ke pelaminan bersamanya.


Shin Mo Lan cukup yakin bahwa tidak ada yang keberatan dengan hal itu, apalagi Rayan juga memiliki apa yang dimiliki oleh Keluarga Zhilli Shin. Sudah pasti, pihak keluarga tidak akan ragu memberinya restu. Karena, dengan begitu Akademi Zhilli akan berjalan dengan lebih baik sebab pemimpin mereka memiliki pasangan yang cukup mengerti posisinya.


Memikirkan hal itu, membuat Shin Mo Lan tak sabar bekerja bersama Rayan yang saatnya nanti sudah resmi menjadi istrinya.


Kembali ke dunia nyata...


Masih bisa bersikap tenang, Ye Zi Xian berujar. "Benar. Itu memang tidak menutup kemungkinan. Tapi, ini masih belum bisa dikatakan cukup untuk menjadikannya tersangka. Ibunda, aku tak berniat menuduh mu. Tetapi, pelayan itu adalah orang mu. Kalaupun Ryura memang yang melakukan hal itu. Apa alasannya? Kalau hanya merasa tersinggung dengan perkataan ibunda. Rasanya terlalu berlebihan. Dia tak harus sampai membunuh orang mu. Apalagi aku sendiri juga belum sempat membawanya secara pribadi untuk menemui mu lantaran masalah yang datang tiba-tiba ini." tak ada perubahan apapun darinya, tapi bukan berarti didalamnya juga setenang di permukaan.


Kedua sahabatnya hanya bisa melirik kearahnya. Keduanya cukup mengenal dengan baik pria berambut putih keperakan itu.


Tapi, dalam hal ini mereka tak memiliki hak untuk ikut campur. Jadi, mereka lebih banyak diam.


Mendengar itu, ketenangan Meng Pei Yun nyaris pecah. Beruntung dia masih memiliki kesadaran untuk bertahan lebih lama.


Karena itu...


Dengan membuat wajah sedih dan bersalah, wanita itu berkata lirih seolah dia adalah wanita yang rapuh dan disalahkan. "Ye Zi Xian, maafkan ibu. Ibu hanya asal bicara. Ibu sungguh tak bermaksud menyalahkannya. Ibu hanya memiliki firasat kalau dia bukanlah yang terbaik untuk mu. Karenanya, memiliki pemikiran demikian. Tapi, kau juga tidak bisa menuduh ibu seperti itu. Ibu merasa sedih. Mendapati putranya tidak memahami ibunya, padahal sudah lama menghabiskan waktu bersama. Ibu cukup sensitif mengenai hal ini. Kau sendiri tahu kalau aku tidak memiliki anak dari rahim ku sendiri. Tapi, aku sudah menganggap mu sebagai putra ku sendiri. Ini membuat ku merasa berkecil hati." kesedihan yang dia tuangkan dalam kalimat tersebut begitu menyayat dan menyedihkan.


Tapi, lagi-lagi dia lupa... Ketiga pria menawan itu bukanlah pria melankolis yang dengan mudahnya melelehkan air mata hanya mendengar keluh kesah sepele seperti itu. Meskipun mereka memiliki rasa sayang untuk orang tertentu, bukan berarti itu cukup untuk membuatnya ikut merasakan hal yang sama.


"Baiklah, aku mengerti. Aku juga tidak bermaksud mengatakan hal yang akan membuatmu bersedih. Ini murni karena aku ingin kedamaian di keluarga kita." jelas Ye Zi Xian dengan lembut tapi terasa hambar. Sayangnya, Meng Pei Yun tidak merasakannya, dia terlalu senang melihat Ye Zi Xian tidak lagi mencurigainya.


"Kalau begitu. Aku akan pergi dulu. Aku akan segera menyelesaikan masalah ini hingga aku bisa segera mempertemukan ibunda Selir dengan kekasih ku." entah sadar atau tidak bagi mereka yang mendengarnya, tetapi Ye Zi Xian memang sempat menekan sedikit kata kekasihku di akhir kalimatnya.


Seolah dia ingin menekankan kalau hatinya sudah ada yang memiliki.


Meng Pei Yun hanya bisa menutupi ketidaksenangannya kala mendengar kata kekasih keluar dari mulut pria yang dicintainya itu. Tapi, saat ini jelas dia tak boleh mengekspos diri atau dia akan berakhir saat ini juga.


Dia tentu sadar. Bila masalah ini sampai ke telinga orang lain, dia akan berakhir saat itu juga.


Sebuah masalah besar bila sampai ketahuan kalau dia mencintai putra sambungnya sendiri.


Setelahnya, Ye Zi Xian dan dua sahabatnya pergi meninggalkan Meng Pei Yun sendiri di ruangan itu dengan kecemburuan yang membara.


__ADS_1


__ADS_2