
Mereka bertiga tampak berjalan berdampingan dengan Rayan di tengah-tengah Reychu -kiri- dan Ryura -kanan- serta jangan lupakan si hitam besar nan gagah, tentu saja Furby si kuda bulan yang sejak awal bertemu telah memutuskan untuk mengikuti mereka dan kini ia mengekor di belakang.
"Tak terasa sudah sore saja. Kalian akan tidur dimana?" tanya Rayan.
"Oh. Aku mungkin akan menyewa penginapan seperti sebelumnya." jawab Reychu.
Menoleh kearah Ryura. "Lalu bagaimana dengan mu?" tanya Rayan lagi.
"Tidak tahu." jawab Ryura singkat tanpa menoleh.
"Kau sendiri tidur dimana? Apa kau akan kembali ke rumah itu lagi?" kini giliran Reychu yang bertanya.
"Huh... Aku tidak mau! Memikirkannya saja sudah membuatku kesal. Tidak mau sama sekali! Rumah itu lebih mengerikan daripada menyelinap masuk ke rumah musuh!" tolak Rayan mentah-mentah. Dia benar-benar tidak sudi menginjakkan kakinya lagi ke kediaman Yu.
"Eum... Begitu. Bagaimana kalau kalian ke penginapan ku saja. Kita berbagi kamar seperti dulu lagi. Sekalian kita pikirkan apa yang akan kita lakukan di kehidupan kedua kita di tempat baru ini. Bagaimana?" saran Reychu memberi ide.
"Waah... Tumben kau pintar!" Reychu mendelik datar mendengar Rayan berkata demikian. "Itu ide bagus. Aku tak perlu kembali ke gubuk jerami itu lagi dan aku bisa tidur sambil memeluk kalian. Itu benar-benar bagus!" tutur Rayan riang.
Beralih ke Ryura. "Bagaimana menurutmu, Ryu?" tanya Reychu.
"Hm." cukup deheman sudah membuat kedua sahabatnya paham bahwa Ryura menyetujui nya.
Memasuki sebuah penginapan yang di maksud oleh Reychu. Berjalan menghampiri pengurus penginapan untuk membahas perpanjangan sewa kamar. Setelah selesai ketiganya beranjak pergi dan bila bertanya soal Furby ia telah di antar oleh Ryura ke penitipan kuda, meski awalnya Furby menolak tapi setelah sedikit bujukan apa Ryura akhirnya kuda itupun mau di titipkan ke penitipan kuda. Lagipula tempat itu berada tepat di sebelah penginapan. Jadi, masih cukup dekat bila maksud Furby ingin terus disisi Ryura.
Sebelum benar-benar jauh, Reychu berbalik dan berseru. "Oh ya, tuan. Aku pesan makanan juga dan antarkan ke kamarku ya?! Untuk 3 orang. Yang paling enak."
"Baik, nona."
Usai percakapan singkat tersebut, Reychu kembali berjalan menuju kedua sahabatnya dan beriringan menuju kamar.
Tak butuh waktu lama, ketiganya pun telah sampai.
"Tadaaa...!!! Ini dia kamarnya!!!" ujar Reychu riang begitu pintu kamarnya ia buka, lalu tanpa menunggu lagi ia pun langsung membuka cadarnya. Sepertinya ia sudah gerah memakai benda itu.
Rayan ikut menerobos masuk baru setelahnya disusul oleh Ryura yang berjalan cukup tenang di akhir, sekalian ia juga yang menutup pintunya.
Begitu sudah di dalam kamar tanpa ba-bi-bu, Rayan langsung berjalan kearah peraduan lalu dihempaskan tubuhnya keatas peraduan tersebut. Sedang Ryura memilih berjalan kearah meja bundar dengan 2 kursi bersamanya, kemudian ia pun duduk di salah satu kursi tersebut. Sementara Reychu hanya manggut-manggut senang melihat kedua sahabatnya ada di satu ruang bersamanya.
Dirasa sudah duduk dengan nyaman, barulah bungkusan sedang yang sejak awal ia gendong di punggungnya akhirnya ia turunkan dan ia letakkan di bawah meja atau tepatnya di dekat kakinya. Bukan tanpa alasan, hanya saja Ryura berpikir bila meja itu sebentar lagi akan digunakan untuk menyantap makanan yang disajikan. Jadilah, ia tak ingin barang bawaannya mengganggu nantinya.
Tak lama setelah melihat Ryura duduk dengan tenang di kursinya, Reychu pun mengikuti Ryura untuk duduk di sisa kursi yang ada.
__ADS_1
"Bagaimana apa ini cukup? Aku tidak punya banyak uang untuk memesan kamar yang lebih besar dari ini." jujur Reychu seraya menempelkan dagunya keatas meja dengan tangan dibiarkan jatuh menjuntai.
"Hmm... Jangan khawatir. Ini sudah lebih baik. Lagipula, kita pernah tidur di tempat yang lebih sempit dari ini. Kau ingat?" ucap Rayan paham dengan mata terus memandangi langit-langit peraduan.
"Hihihi... Kau bicara soal misi kita yang mengharuskan kita mengikuti kurir narkoba yang berkhianat pada tuannya itu? Cih... Kalau di ingat-ingat lagi itu misi pertama yang membuat ku merasa jengkel." jengah Reychu mengingat kenangan mereka dulu.
"Hahaha... Dasar payah! Itu pengalaman terkonyol yang pernah ada. Mengingatnya saja masih mampu membuat ku geli... Hiii!" sambung Rayan tanpa bangkit dari rebahan nya.
"Benar! Karena dia kita sampai harus tidur di dalam truk bersama barang bekas yang di angkutnya. Benar-benar sial!" gerutu Reychu mengingat nya. Rayan tertawa kecil menanggapi nya.
"Oh ya... Lalu, sekarang kita mau melakukan apa?" tanya Reychu kepada dua sahabatnya saat pikiran nya kembali ke kenyataan dimana mereka sudah bukan lagi berada di masa serba canggih sebelumnya.
"Lumayan membingungkan." Rayan bangkit ke posisi duduk. "Dulu kita tak memiliki sanak saudara. Sekarang malah hidup dengan status keluarga lengkap tapi menderita. Benar-benar tidak berguna." ketusnya.
"Hahaha. Itu hanya berlaku untuk mu. Sementara aku tidak. Hanya saja masalah ku ada di pernikahan."
"Ck... Sama sialnya?! Benar-benar!" gerutu Rayan. Reychu terkekeh lagi.
"Tapi, kalau di pikir-pikir kemungkinan besar kita tidak akan dengan mudah lepas dari ikatan keluarga. Karena bagaimanapun kita memakai tubuh anggota keluarganya. Hanya saja aku tidak tahu apakah akan sulit untuk di atasi atau justru mudah." terang Rayan seraya berpikir.
"Kau benar. Terlebih lagi, posisi pemilik tubuhku ini yang seorang permaisuri benar-benar merepotkan." menggelengkan kepalanya malas. "Aku yakin sekali dengan terlibatnya lagi marga Gong itu di hidupku. Pasti pertanda bahwa aku juga harus membereskan hama tersebut. Mengingat wajah selir ular itu benar-benar bisa membuat ku melihat garis wajah Martin Gong. Memang dasar keturunan sial*n! Tidak di masa depan, tidak di masa lalu. Selalu saja menyusahkan ku." umpat Reychu tanpa pikir panjang.
"Haha... Aku jadi penasaran untuk melihat seperti apa rupa selir yang kau sebut ular itu." Rayan mengucap rasa penasarannya sembari terkekeh.
"Benarkah! Wah aku semakin penasaran. Itu artinya sebelum kau bisa hidup bebas, dia yang mesti kau bereskan? Lalu, kaisar mau kau apakan." tanya Rayan dengan pasti tahu jawabannya.
"Hehe... Susah pasti! Dia membuatku eh... Maksudku membuat pemilik tubuh ini menjalani kesulitan dalam hidupnya. Bagaimana bisa aku mengabaikan dia?! Untuk kaisar?! Dia bisa ikut menyusul nantinya. Lagipula, bermain-main sebelum pergi bukan rencana yang buruk! Justru bagus menurut ku, mengingat itu adalah kawasan istana!" tutur Reychu bangga dengan niatnya.
"Eh?! Pergi?! Maksudmu, kau akan pergi setelah selesai membalas si ular dan kaisar itu?" tanya Rayan kembali untuk memastikan.
Sementara kedua sahabatnya asik dalam pembahasan, maka Ryura hanya diam sebagai pendengar. Karena nyatanya dia tidak tertarik. Mungkin saja, dia juga tidak tertarik untuk berurusan dengan keluarga Han.
"Yup! Tidak ada alasan bagiku untuk bertahan disana!" lugas Reychu sembari bertumpu dagu dengan tangannya, seolah bersikap malas.
"Tapi, kau punya posisi yang bagus, Rey! Permaisuri!" ucap Rayan dengan mata berbinar. "Posisi tinggi, barang mewah, uang banyak, di hormati, banyak pelayan, dan semuanya akan menjadi mudah!" jelas Rayan antusias. Reychu yang mendengarnya langsung memeletkan lidahnya layaknya ingin muntah. Dia tak habis pikir dengan pemikiran sahabatnya itu, bisa-bisanya ia berpikir gadis gila yang bebas sepertinya mau di ikat oleh sebuah kata pernikahan. Belum lagi posisi nya yang pasti mengharuskan dia untuk turut andil didalamnya.
"Yang benar saja!" batin Reychu mendelik ogah.
"Ya ya ya... Terserah apa katamu! Yang jelas, aku sama sekali tidak tertarik dengan semua itu! Diluar sana ada lebih banyak hal yang sangat disayangkan kalau aku lewati. Bukankah begitu Ryura?" kata Reychu yang beralih ke sahabatnya yang hanya diam sejak tadi. Walaupun ia sudah tahu dan terbiasa dengan hal tersebut.
"Hm..." sudah, begitu saja. Memang seorang Ryura mau lebih dari itu?!
"Lalu, bagaimana dengan mu?" tanya Reychu pada Rayan.
"Aku?! Menurutmu..." jawab Rayan dengan genitnya sambil mengerlingkan matanya manja, namun bukan sebuah jawaban yang ia ucap.
__ADS_1
"Tidak tahu. Tapi, aku punya saran." kata Reychu sambil menunjukkan smirknya. "Kau racuni saja mereka. Buat tubuh mereka membusuk dan bernanah. Jangan lupa efek gatal-gatal nya. Hahaha... Pasti seru." Reychu menyengir bak psikopat. "Eh... Atau buat saja racun yang bisa mengelupasi kulit mereka, juga merontokkan rambut mereka biar botak sekalian. Lalu, beri mereka racun yang bisa membuat mereka bodoh. Kemudian, yang perempuan kau lemparkan saja ke kumpulan gelandangan sebagai santapan pria-pria menyedihkan disana. Dan untuk yang laki-lakinya jual saja untuk di jadikan budak. Untung-untung budak nafsu juga. Bagaimana?! Ideku cemerlang kan?! Hahahaha... Aku tahu... Aku tahu..." bangganya sampai tertawa terbahak-bahak.
Rayan sampai tak tahu harus berekspresi seperti apa menanggapi ide gila sahabatnya, sedang Ryura hanya menoleh dengan raut datarnya begitu mendengar Reychu tertawa. Ia tak tahu apa yang membuat sahabatnya itu tertawa sampai seperti itu.
Sampai sesuatu menghentikan obrolan mereka.
Tok...
Tok...
Tok...
Ketukan pintu terdengar Reychu langsung beranjak mendekati pintu lalu membukanya dan tampaklah tiga pelayan penginapan dengan nampan di masing-masing tangan mereka. Ternyata mereka hendak mengantarkan pesanan Reychu yang sebelumnya di pesan.
"Oh kalian rupanya. Taruh saja di sana." menunjuk ke arah meja yang terdapat Ryura disana. 3 pelayan itu pun segera menyelesaikan tugas mereka.
Setelah selesai, saat hendak keluar Reychu memanggil mereka sembari merogoh kantung uangnya taelnya. Satu tael emas ia berikan begitu saja kepada ketiganya.
"Ini tip untuk kalian. Di bagi rata, mengerti?!" usai berucap demikian Reychu langsung menutup pintu kamarnya tanpa menghiraukan tiga pelayan di depan kamarnya yang sedang mematung bingung sekaligus senang.
Mereka bingung dengan kata 'tip' yang di maksud penyewa kamar di depan mereka. Tapi, mereka mulai paham saat penghuni kamar itu mengatakan kalau satu tael emas itu untuk mereka dan harus dibagi rata.
"Ini sungguh tael emas kan?" tanya pelayan pertama dengan gemetar sambil memandangi benda berwarna emas di tangannya.
"Kurasa itu sungguhan." jawab pelayan kedua sama cengongnya.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang dengan tael emas itu?" tanya pelayan ketiga spontan membuat dua pelayan lainnya memandanginya.
Sesuatu masuk ke benak mereka.
"Ssttt... Jangan berisik! Ingat ini milik kita. Jangan sampai pemilik penginapan tahu hal ini. Ini biar aku simpan. Setelah pekerjaan hari ini selesai, kita berkumpul lagi untuk membahas jalan keluarnya." pelayan pertama berbisik bijak. "Seperti kata nona tadi. Ini harus di bagi dengan adil. Setuju?" tanyanya yang langsung di angguki oleh dua pelayan lainnya.
"Setuju!"
Setelahnya mereka pun beranjak pergi.
3Ry Tempo Doeloe...
3Ry Kids Jaman Now...
5 tahun...
__ADS_1