3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
SEMANGKUK PENAWAR


__ADS_3

Pak-pak!


Menepuk tangannya sebagai isyarat bahwa ia telah selesai meracik obat penawarnya.


Semangkuk kecil penawar telah siap dan tengah di pegang oleh Rayan untuk dibawa segera ketempat Ryura agar bisa langsung diminumkan.


"Sudah selesai! Sekarang saatnya kita ketempat dimana Ryura berada. Harusnya dia ada di paviliun Mutiara, bukan?" cetus Rayan sekalian bertanya tepatnya dimana sahabatnya berada saat ini.


Sambil mengangguk membenarkan, Shin Mo Lan menjawab. "Benar! Di sana tempat Ye Zi Xian tinggal bila berada di kediaman keluarga kami."


"Baiklah. Kalau begitu, saya akan langsung kesana." menarik senyum manis nan imutnya kearah Shin Mo Lan yang langsung berdebar melihatnya. "Tuan Muda Shin, terimakasih banyak atas kemurahan hati anda karena telah mengizinkan saya menggunakan bahan herbal yang anda miliki. Saya tidak tahu harus bagaimana menolong sahabat saya kalau seandainya tidak dibantu oleh anda. Apalagi anda pasti juga penasaran dengan jenis racun apa yang menyebabkan saya harus meracik penawarnya. Mungkin, anda akan tahu sebentar lagi." katanya lembut.


Berusaha menyembunyikan rasa kikuknya karena mendengar suara Rayan yang serasa seperti mendengar alunan nada cinta di telinganya, Tuan Muda Shin pun menjawab. "Ehem. Tidak masalah. Saya sangat memahaminya. Tapi, justru bukan itu yang membuat saya ingin tahu. Melainkan kemampuan anda! Kemampuan Nona Rayan, termasuk luar biasa. Saya jadi ingin mengajak anda bertukar pikiran dilain waktu. Itupun kalau anda tidak keberatan." tawar Shin Mo Lan saking tidak tahan melihat kelihaian Rayan mengotak-atik bahan herbal yang jelas tidak bisa dilakukan dengan mudah, apalagi Rayan melakukannya seperti orang yang sedang memasak.


Sama sekali tidak terlihat fokus yang seharusnya dimiliki oleh setiap alkimia tiap kali mereka melakukan pekerjaannya.


Dari dalam hati Rayan sudah menyeringai penuh kebanggaan. "Aku tahu itu, sayang! Dan yang pasti aku tidak akan menolaknya! Bagaimana bisa ku tolak!" sedang dipermukaan Rayan masih bisa bertahan dengan senyum gadis baik-baik yang tak ternoda dosa.


"Tuan Muda terlalu memuji. Tapi, tentu saja saya sangat senang mendengar kesempatan ini diberikan kepada saya. Saya masih ingin lebih mendalami kemampuan saya. Jika, Tuan Muda Shin berkenan... Mari, kita bekerjasama dimasa depan!" ajak Rayan sembari mencentang dalam pikirannya salah satu poin pendekatan dengan pujaan hatinya berhasil dilakukan.


"Hahaha. Kalau begitu, mulai sekarang akan lebih baik bila anda mau memanggil saya dengan panggilan yang lebih nyaman. Karena kita akan lebih banyak berbincang nantinya." dalam hati Shin Mo Lan tersentak begitu menyadari apa yang baru saja dia katakan.


"Astaga! Apa yang aku katakan tadi?! Bagaimana bisa aku memintanya seperti itu?! Apa yang akan dia pikirkan tentang ku?!" jerit Shin Mo Lan dalam hatinya.


Rayan yang mendengarnya sempat terkejut sedikit sebelum bersorak dalam hati. "Hahaha... Tadi itu apa? Hebat. Ini kemajuan yang pesat. Benar-benar berjodoh. Hihihi... Jadi, makin cinta saja!"


Sama sekali tidak menduga kalau akan memiliki peluang besar untuk proses pengejarannya terhadap pria didepannya saat ini.


Bila Shin Mo Lan sudah memerah malu. Maka, Rayan masih nyaman dengan gaya polosnya.


Ruobin yang melihatnya dari samping, hanya bisa merotasi kan bola matanya sebagai tanggapan dirinya untuk kedua sejoli yang kelakuannya begitu menggelitik jiwa itu.


"Mereka ini, benar-benar!" batinnya.



Berjalan masuk ke sebuah ruang yang dari bentuk dan perabotannya menunjukkan kalau itu adalah ruang kamar tidur.


Cukup megah rupanya.


Seorang pelayan dengan tergesa-gesa memasukinya, lalu segera menunduk hormat sebelum siap melaporkan apa yang ia temukan beberapa saat lalu ketika penyelidikan.


"Nona, pelayan ini datang untuk melapor."


Mendengar itu, ia segera menoleh untuk melihat kearah si pelayan. "Katakan padaku!" desaknya tak sabar.


"Ternyata racun itu mengenai teman mereka yang satunya. Gadis yang dikabarkan akan melangsungkan pernikahan dengan Tuan Ye, Nona!" katanya memberitahu dengan takut-takut.


"APA?! BAGAIMANA BISA?!" pekiknya kaget. Kegelisahan langsung menyergap hatinya.


Bukan tak tahu orang seperti apa Ye Zi Xian itu. Dia yang paling mengerikan bila dihadapkan dengan musuh.


Dan sekarang, kekasihnya menjadi korban dalam masalah kali ini. Yang ia takutkan, kalau pria itu menyelidikinya lalu menemukannya. Dia bisa-bisa tidak memiliki kesempatan untuk hidup lagi.


Semua orang tahu wewenang tiga pria paling tampan di dunia ini.


Satu titah keluar dari mulut mereka, tak ada satupun yang berani membantah. Meskipun pada akhirnya, posisi Kaisar Agung tetap yang tertinggi. Namun, disamping itu mereka adalah penguasa di tempat mereka masing-masing.


Kaisar Agung Bai Gikwang berkuasa atas seluruh wilayah di Benua Utara.


Ye Zi Xian berkuasa atas dunia para ahli beladiri.


Dan, Shin Mo Lan berkuasa atas dunia alkimia.


Bahkan kekuasaan Kaisar Agung dari Kekaisaran Utara melebihi Kaisar Agung di dua benua lainnya. Apalagi Kaisar-kaisar kecil di setiap negeri yang tersebar di dunia. Jelas, tidak ada apa-apanya.


Dua lainnya juga tak bisa dibandingkan dengan yang lain. Sekali menyebutkan nama paling terkenal itu, semua orang tanpa terkecuali tahu bahwa mereka tidak bisa main-main dengan mereka -dua nama itu-.

__ADS_1


Dua nama tersebut adalah Sekte Salju Perak dan Akademi Zhilli.


Kini, dia melakukan kesalahan dengan melibatkan orang terkasih dari penguasa Sekte!


Benar-benar bencana!


Ia sendiri tidak tahu bagaimana bisa racun itu berpindah sasaran. Memikirkan hal itu, Jiang Yu Na segera menunjuk pelayannya dengan kemarahan bercampur ketakutan.


"Kau! Panggil pelayan yang ku perintahkan untuk memberikan racun tersebut kepada kedua j*lang itu! Aku ingin menanyakannya langsung! Berani sekali dia melakukan kesalahan!"


Si pelayan yang ditunjuk hanya bisa segera melakukan perintah tuannya, tak peduli apakah mereka takut atau tidak. Sebagai pelayan, apa yang bisa dilakukan selain patuh?!


"Baik, Nona."


Pelayan itupun pergi meninggalkan kamar Jiang Yu Na..


Beralih ke pelayan yang membawa laporan sebelumnya.


"Kau! Pergi lagi dan awasi mereka! Aku butuh laporan sedetail mungkin untuk menghindari masalah." tuntutnya.


"Baik, Nona."


Pelayan itupun pergi.


Jiang Yu Na tidak bisa tenang malam ini. Niat hati ingin menyingkirkan Rayan dan memberikan pelajaran pada Reychu, malah menyasar kearah lain yang cukup meresahkan bila sampai ketahuan.


Tak tahu saja dia.


Diluar sana, ada yang mengetahui kebenaran itu tanpa perlu mencarinya.



Rayan, Ruobin, dan Shin Mo Lan keluar dari paviliun tempat tinggal Shin Mo Lan yang sebenarnya.


Diluar, ternyata sudah ada Reychu, Chi-chi, dan Kaisar Agung Bai yang tengah terlibat percakapan serius.


Reychu sangat jarang serius, jadi Rayan sering merindukan sifat normalnya Reychu.


Mendengar langkah kaki mendekat, Reychu dan dua lainnya pun segera menoleh kearah asal suara tersebut.


Melihat Rayan dengan mangkuk ditangannya, tak perlu dijelaskan Reychu tahu kalau itu adalah penawarnya.


"Sudah selesai?"


"Eum. Tinggal memberikannya kepada Ryura. Mari kita langsung kesana." yang lainnya hanya menyetujui tanpa banyak bicara dan segera melangkah ke paviliun Mutiara.


Tak butuh waktu lama, mereka tiba juga disana.


Hal pertama yang mereka rasakan adalah hawa dingin yang mencekam penuh tekanan seolah menyebar keseluruhan paviliun.


Dong Jia Zi adalah objek yang pertama kali ditangkap oleh indera mata mereka.


Melihat Kaisar Agung Bai dan yang lainnya datang, pria bercadar nan pendiam itu segera menunduk hormat sebagai salamnya.


"Selamat malam, Yang Mulia. Selamat malam, Tuan Muda Shin. Dan selamat malam semuanya!" menegakkan tubuhnya, baru ia bertanya. "Ada gerangan apa yang membuat anda sekalian datang kemari?"


"Dimana Zi Xian?" tanya Kaisar Agung Bai langsung.


"Yang ini menjawab. Beliau sedang berada didalam bersama Nona Ryura." menjawab dengan datar namun tetap hormat.


Menengok kearah Reychu, Rayan berkata. "Sepertinya dia sedang membantu Ryura."


"Tunggu apa lagi! Cepat! Sebelum Ryura dinodai!" desak Reychu.


Sudut bibir orang lain yang mendengarnya berkedut tanpa kendali, saking sama sekali tidak memprediksi kalimat ampuh Reychu yang selalu mencengangkan.


Sementara Rayan hanya bisa mendengus karenanya.

__ADS_1


Melangkahkan maju, lalu menyodorkan mangkuk ditangannya. "Tuan, ini adalah penawar yang saya siapkan untuk Ryura. Tolong segera diberikan."


"Baik, Nona." diambilnya mangkuk tersebut hingga kini berpindah ke tangannya.


Kemudian ia berbalik dan mulai mengumumkan maksudnya.


"Tuanku! Saya datang membawa penawar yang disiapkan oleh teman Nona!"


Dari dalam ruangan. Ye Zi Xian masih mencoba terus menahan amarahnya agar tidak meledak dengan Ryura yang masih dalam aktivitasnya bermain dibawah pengaruh racun tersebut.


Mendengar suara Dong Jia Zi, kening Ye Zi Xian berkerut. Lalu, menoleh untuk melihat kekasihnya.


Dengan lembut dan sabar Ye Zi Xian berucap, tak lupa ia menggunakan ibu jarinya untuk mengelus pipi sang gadis.


"Sayang, aku akan mengambil penawar untuk mu. Jadi tunggu aku, hm!" usia mengatakannya, Ye Zi Xian segera melepaskan diri sambil membaringkan tubuh Ryura keatas ranjangnya.


Melihat sekilas Ryura yang menggeliat sensual, Ye Zi Xian semakin marah. Dia segera berbalik pergi tanpa merapikan pakaiannya.


Brak!


"Berikan padaku!"


Suara pintu dibuka kasar dan disusul dengan nada dinginnya yang tak kalah kasar saat meminta mangkuk penawar tersebut. Bahkan ia tak melirik siapapun selain mengarahkan matanya ke mangkuk yang kini sudah dipegangnya.


Tanpa basa-basi lagi...


Brak!


Pintu kembali ditutup.


Semua itu hanya berlangsung sekitar 10 detik dan tidak lebih.


Membuat yang belum mengenal baik Ye Zi Xian mengerjakan matanya membatu ditempat.


"Abaikan itu! Dia memang selalu seperti itu bila sudah marah. Lebih baik kita menunggu saja." kata Kaisar Agung Bai sembari berbalik untuk pergi menuju ruang tamu di paviliun Mutiara tersebut.


Masih dalam diam, yang lainnya berbalik mengikuti.


Kini Dong Jia Zi kembali sendiri.


Dia dengan setia berdiri berjaga.



Melangkah mendekati Ryura yang masih menggeliat dengan begitu sensual. Keadaannya, membuat Ye Zi Xian bertanya-tanya, 'sampai kapan ini akan berlangsung?'.


Didudukkan bokongnya ke pinggir ranjang, lalu ia mulai menyerahkan mangkuk berisi cairan penawar itu pada Ryura yang tak bisa diam.


Khawatir obatnya akan tumpah, Ye Zi Xian pun memilih meminumnya untuk di tampung di rongga mulutnya. Kemudian menarik tengkuk leher Ryura mendekat kepadanya.


Grep!


Tanpa ragu Ye Zi Xian menempelkan kedua bibir itu dalam keadaan sedikit terbuka. Segera didorong masuk cairan penawar yang ditampung di mulutnya agar berpindah kedalam mulut Ryura dan memaksanya menelan cairan tersebut.


Amarah dan kebencian yang mengalir deras sebelumnya karena melihat kondisi Ryura yang amat tidak ia sukai, mereda seketika kala ia memilih mengambil kesempatan untuk mencium Ryura lebih dalam dan lama.


Dia tak bisa menahan amarahnya, ia bahkan sangat ingin membunuh si pelaku sekarang juga. Tapi, Ryura jauh lebih penting.


Ketidaknyamanan dihatinya ia tumpahkan dalam ciuman tersebut.


Dalam hati Ye Zi Xian berujar.


"Jangan seperti ini lagi! Aku tidak suka! Kau harus baik-baik saja dimasa depan! Karena, aku sangat tidak mengizinkan sesuatu yang buruk terjadi padamu!"



selamat membaca gaess... 😘😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2