
Dua malam satu hari adalah lama waktu yang harus mereka tempuh agar bisa sampai ke Sekte Salju Perak. Bila bertanya, mengapa tidak menggunakan portal teleportasi saja? Jawabannya adalah, karena terlalu dekat dan itu cukup membuang-buang energi.
Lagipula, lebih baik pergi di jalan yang semestinya sembari menikmati keindahan alam di salah satu bagian kecil Kekaisaran Utara ini, yang mana hampir sepenuhnya ditutupi oleh salju. Bahkan saat tidak lagi musim dingin pun salju masih kerap kali turun walau tidak seintens kala musimnya tiba.
Perjalanan berlalu dengan aman dan nyaman. Apalagi mengingat didalam gerbong ada 3 pasang kekasih yang baru saja merasakan yang namanya kasmaran.
Saling bermanja-manja, saling melempar gurauan, saling mengirim sinyal cinta dari hati ke hati, saling suap-suapan saat waktu makan tiba, saling berbagi kehangatan, dan masih banyak macam kemesraan yang mereka tunjukkan tanpa maksud untuk memamerkannya. Semua itu, berlangsung apa adanya.
Murni dari hati ke hati.
Sementara, sisanya yang juga berada dalam gerbong tersebut hanya bisa menahan eneg akibat menyaksikan tayangan romantis tanpa akhir dalam gerbong di sepanjang perjalanan.
Tak ada kata yang bisa di ungkapkan oleh para siluman dan Duan Xi mengenai hal ini.
Mereka memilih pura-pura tidak tahu dengan menutup mata dan telinga secara harfiah.
Tak terasa malam diperjalanan terakhir mereka tiba. Hawa dingin yang kian menusuk setelah semakin lama semakin dalam rombongan mereka memasuki kawasan wilayah Lembah Beku.
Selain Dong Jia Zi dan Min Hwan yang merangkap sebagai kusir kereta, serta Furby dan beberapa ekor kuda biasa lainnya didepan sana dengan masih menarik kereta tersebut, sisanya yang berada di dalam gerbong kereta semuanya telah tenggelam ke alam mimpi.
Akan tetapi, ditengah-tengah larutnya malam tiba-tiba mata Ryura terbuka begitu saja bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa gerbong kereta hingga berbunyi.
Dia yang kala itu berada dalam posisi menyandarkan kepalanya di bahu Ye Zi Xian perlahan menegakkan tubuhnya ke posisi duduk tegap. Matanya menyorot kedepan, sekilas ia terlihat seperti tengah menatap pasangan Kaisar Agung Bai dan Reychu yang tidur saling berpelukan didepannya walau pada kenyataannya sorot mata itu kosong dan tidak mengarah kemanapun.
Tapi, tampaknya ada sesuatu yang mengganggunya.
Tak lama setelah itu, Ye Zi Xian yang sepertinya mulai memiliki ikatan batin pada sang pujaan hatinya akhirnya ikut terbangun.
Dia menggeliat sesaat dan menyadari kalau bahunya sudah tak merasakan kehangatan apapun lagi. Akhirnya diapun membuka matanya dan langsung melihat kearah Ryura yang tak bergeming diposisinya.
"Hemm... Sayang, kenapa kau terbangun? Ini masih malam. Tidurlah lagi." katanya dengan suara serak khas orang yang baru tersadar dari tidurnya, tak lupa sambil menarik lengan Ryura agar kembali kepelukannya.
"Khh...mhhk...Khu..." gumam Ryura yang tak ditangkap dengan jelas oleh pendengaran Ye Zi Xian membuat pria itu menyipitkan matanya kearah gadisnya dan bertanya.
"Kau mengatakan sesuatu, sayang?" lirih serak Ye Zi Xian kepada Ryura yang langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Ye Zi Xian usai mendengar pertanyaan prianya.
Sebelum menjawab pertanyaan itu, Ryura menikmati momen kedekatan mereka saat ini untuk mengamati wajah tampan Ye Zi Xian dengan rambut putih keperakannya yang tersebar dibahu pria itu.
Ye Zi Xian pun menggunakan kesempatan itu dengan baik juga. Dia balas memandangi wajah manis Ryura dengan tatapan penuh cinta tanpa cela.
Baru beberapa saat kemudian Ryura berkata yang seketika membuat Ye Zi Xian syok namun senang dan puas sekaligus di detik berikutnya.
"Kau milikku!" dengan suara rendah.
Senyum mengembang di bibir Ye Zi Xian sambil ikut menimpali pernyataan Ryura dengan nada mesranya. "Ya, aku milikmu... Sampai kapanpun tetap milikmu... Karena seorang Ye Zi Xian hanya tercipta untuk Ryura seorang." usai mengatakan itu keduanya pun berciuman tanpa tahu siapa yang lebih dulu memulai.
Kegiatan mereka cukup senyap hingga tak sedikitpun mengganggu yang lainnya atau dengan kata lain, mereka melakukannya dalam diam.
Seorang wanita yang sudah berusia 30-an tampak sedang berdiri di balik pagar pembatas di lantai atas sebuah paviliun tempatnya tinggal.
Sambil mencengkeram erat pagar pembatas tersebut, jelas terasa kalau saat ini dia tengah dalam suasana hati yang buruk.
Buruk lantaran mendengar kabar akan dilangsungkannya upacara pernikahan Tuan Ye.
Baginya itu adalah kabar buruk. Sangat, sangat buruk!
"Nyonya, ini sudah malam. Sebaiknya anda segera istirahat. Tidak baik bagi tubuh anda bila terkena angin malam terlalu lama." tukas seorang wanita paruh baya lain yang bertugas sebagai kepala pelayan kepercayaannya di Paviliun Bunga Malam sambil menundukkan kepalanya penuh hormat.
Dia bahkan sampai harus berbicara dengan penuh kehati-hatian agar tidak sampai menyinggung perasaan junjungannya yang belakangan ini menjadi amat sensitif.
__ADS_1
Seperti saat ini...
"Kau pikir aku bisa tidur setelah apa yang terjadi beberapa hari ini?" tanyanya dengan nada sinis dan galak tanpa melihat kearah kepala pelayan wanita itu. Cengkraman tangannya bahkan ikut menguat bersamaan dengan amarahnya yang melonjak.
Dia hanya mengedarkan kedua mata merahnya karena amarah yang tertahan untuk melihat kearah dekorasi merah meriah yang dibuat di salah satu paviliun yang tak jauh dari paviliun miliknya.
Paviliun Bangau Putih. Paviliunnya Tuan Ye Zi Xian.
Apa yang terjadi disana dapat dilihat dari lantai atas paviliun miliknya. Sebenarnya tak hanya dapat dilihat dari paviliun miliknya saja lantaran masih ada beberapa bangunan dengan dua lantai di Kediaman Ye. Belum lagi menara Sekte Salju Perak yang menjulang lebih tinggi di bagian luar Kediaman Ye tepatnya di kawasan Sekte itu sendiri.
Tapi, berhubung saat ini hanya wanita itu yang menyaksikan keindahan tersebut dari atas paviliunnya, maka yang lain tidak masuk hitungan.
Dan apa yang ia lihat justru hanya menimbulkan amarah yang semakin luar biasa besar di dalam dadanya.
"Jal*ng mana yang berani menggoda Zi Xian-ku!" desisnya ambigu sambil menggertakkan giginya.
"Mohon maafkan wanita rendahan ini, Nyonya." seru si kepala pelayan seraya membungkuk lebih dalam walau tak terlihat oleh majikannya.
Sayangnya sang junjungan tak menggubris perkataan pelayannya, ia malah kembali berseru seperti orang yang sedang meluapkan emosi.
"Bagaimana bisa mereka menyetujui pernikahan ini?! Mereka bahkan belum melihat maupun mengetahui siapa mempelai perempuannya. Mereka pasti sudah gila!" amuknya.
Semakin di bayangkan, semakin marah dia. Hatinya panas tak terkira, sampai tak henti-hentinya menduga-duga sosok perempuan seperti apa yang dipilih pedang pusaka tersebut.
Berbicara tentang pedang pusaka, dia tak bisa menahan kekesalannya terhadap benda tersebut. Dia merasa benda itu adalah masalah yang malangnya tak bisa ia singkirkan.
"Maaf menyela, Nyonya. Tapi, bukankah keturunan Ye yang ditakdirkan menjadi pemilik Pedang Suci Ikatan Sejati sudah seharusnya menikahi pasangan yang dipilih oleh pedang pusaka itu juga... Meskipun yang terpilih itu tidak diketahui asal-usulnya?" ujar kepala pelayan tersebut dengan hati-hati. Ia tentu tahu kalau pembahasan ini cukup sensitif. Tapi, dia tetap harus mengatakannya.
Bagaimanapun, menurutnya ini salah...
"Kau berani bicara begitu kepadaku?" dia menoleh kebelakang, menghujam mata marahnya langsung kepada kepala pelayan tersebut dengan sorot mata tajamnya yang ganas seolah mampu untuk menelan siapapun yang dilihatnya.
Bruk!
"Ampun, Nyonya. Saya tidak bermaksud begitu. Ampuni saya, Nyonya!" pekiknya ketakutan. Tubuhnya sudah basah oleh keringat dingin.
Dada sang majikan naik turun karena ketidaksenangannya pada apa yang telah terjadi ditambah dengan kenyataan yang semakin menamparnya. Dia marah, namun posisinya sebagai menantu di keluarga Ye membuatnya tak bisa apa-apa.
Matanya yang mengobarkan api amarah itu kembali menyorot tajam kearah paviliun yang didekorasi dengan sangat apik tak jauh dari tempatnya.
"Tidak bisa! Aku tidak akan membiarkan pernikahan ini terjadi! Aku ibunya, aku lebih berhak atas anak yang ku asuh sedari kecil! Perempuan jal*ng siapapun itu, tak akan kubiarkan berhasil memasuki rumah keluarga Ye yang agung ini!" sumpahnya. Walau kalimat yang diucapkannya terdengar aneh.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh milikku!" sambungnya tajam dan lugas penuh janji yang lebih kepada dirinya sendiri.
Dengan kesabaran yang minim wanita paruh baya yang masih cantik itu mencoba bertahan. Bagaimanapun dia juga tahu kalau amarah tidak akan menyelesaikan apapun.
"Beritahu aku. Apa kau sudah mendapatkan kabar tentang kapan Zi Xian pulang?" tanyanya setelah dirasa sudah dapat mengendalikan diri.
"Menjawab, Nyonya. Pelayan ini belum menerima kabar apapun selain kabar yang dibawa bawahan kepercayaan Tuan Ye terakhir kali, Nyonya." jelas si kepala pelayan dengan posisi yang masih berlutut.
"Kenapa begitu? Seharusnya kau mencari tahunya lebih teliti lagi!" lagi, wanita itu marah lagi.
"Mohon maaf, Nyonya." hanya itu yang bisa sang kepala pelayan ucapkan.
Bagaimana pun tak ada dari keluarga Ye dan penghuni Sekte Salju Perak yang tidak mengenal sosok Ye Zi Xian yang dingin dan kejam.
Sosok yang tak tersentuh, apalagi saat ia marah. Sudah tak tersentuh, ketika marah masih harus menjaga jarak kalau masih ingin hidup lebih lama lagi.
Jadi wajar saja, kalau tak ada yang berani mengawasinya ataupun memata-matai pria itu.
Diam sejenak dengan pemikiran yang tiada henti bekerja.
__ADS_1
"Huh. Dia yang meminta upacara pernikahan ini dilangsungkan secepatnya. Itu berarti, ketika ia kembali nanti perempuan itu pasti dibawa pulang juga olehnya. Benarkan?" tebaknya.
"Se.. seharusnya be.. begitu, Nyonya!" takut-takut sang kepala pelayan menjawab.
Jeda sesaat...
"A Shi... Siapkan satu peti berisi seribu tael emas dan sebotol racun yang sangat mematikan... Dan juga hubungi pembunuh bayaran. Katakan padanya kalau aku ingin mereka menghabisi seseorang dan katakan juga kalau aku akan membayar mahal untuk pekerjaan itu kalau mereka melakukannya dengan baik!" jedanya dengan otak penuh siasat jahat.
"Aku butuh rencana untuk menyingkirkan jal*ng itu! Bagaimanapun caranya!" tukasnya kemudian dengan dagu terangkat disertai seringai kejam terpatri di bibirnya yang berwarna merah cerah itu.
Pancaran angkuh dan kejinya tak tertutupi sedikitpun. Mungkin karena saat ini dia sedang berada di lingkungan pribadinya, jadi tidak takut akan ada yang melihatnya.
Sang kepala pelayan bernama A Shi yang mendengarnya sempat tertegun kaget. Tak menyangka junjungannya akan menggunakan cara keji seperti itu hanya untuk memisahkan Tuan Ye dengan takdirnya. Kepala pelayan itu jadi bingung dan bimbang karenanya.
Dia tahu dengan jelas, kalau rencana ini adalah hal yang salah. Tapi, di sisi lain diapun sadar kalau dirinya bukanlah siapa-siapa dan tidak memiliki kedudukan untuk sekedar membantah perintah majikannya tersebut.
Dia benar-benar bingung harus berbuat apa.
Wanita didepannya ini adalah ibu sambung atau ibu tirinya Tuan Ye Zi Xian.
Dia adalah istri kedua sang ayahanda Ye Zi Xian. Jangan tanya soal mengapa ayahnya bisa memiliki dua atau lebih istri sementara ada peraturan yang sudah ditetapkan bagi mereka yang terpilih.
Hal itu dikarenakan sang ayah bukanlah pria terpilih sehingga dia tak memiliki halangan apapun untuk masalah yang satu itu.
Menikah sekali seumur hidup hanya diperuntukkan bagi mereka yang terpilih oleh pedang pusaka. Jadi, mereka yang tidak terpilih punya kebebasan menikah dengan banyak perempuan.
Dan lagi pedang pusaka tak pernah memilih tuannya berdasarkan satu garis keturunan.
Didalam keluarga Ye sudah pasti akan ada masa dimana dalam satu generasi memiliki banyak anak laki-laki. Dari sana akan terpilih satu untuk menjadi penanggung jawab atas keseluruhan keluarga Ye dan Sekte. Laki-laki yang terpilih itu akan menjadi pemimpin dalam keluarga dan organisasinya.
Dan ketika tuan sebelumnya telah gugur barulah pedang pusaka tersebut memilih kembali tuannya di generasi berikutnya. Itupun tidak pasti kalau anak laki-laki dari tuan sebelumnya yang akan terpilih.
Dalam kata lain, pedang pusaka akan memilih secara random atau acak.
Seperti saat ini, Ye Zi Xian lah yang terpilih dengan Ryura sebagai takdirnya.
Tapi, sepertinya garis takdir itu ingin ditentang oleh wanita yang berperan sebagai ibu tiri Ye Zi Xian.
Dia bernama, Meng Pei Yun.
Wanita yang sebenarnya memiliki jasa besar dalam merawat Ye Zi Xian dan adiknya. Wanita yang mengambil alih dalam merawat anak dari istri sah atau istri pertama lantaran sang istri pertama harus banyak melakukan tugas bersama sang suami demi melindungi keluarga dan negaranya.
Ming Pei Yun dinikahkan saat usianya 15 tahun dan kala itu Ye Zi Xian 10 tahun.
Dinikahkan karena perjodohan sama sekali tak membuatnya bahagia tapi dia bertahan disana karena Ye Zi Xian. Dia abai pada suaminya yang lebih lengket dengan istri sahnya karena ada Ye Zi Xian.
Hampir seluruh alasan ia bertahan di keluarga Ye adalah karena Ye Zi Xian.
Jadi, apa alasan dia enggan putra sambungnya bahagia dengan pilihannya?
huhuhuhu... Thor blum bisa up bnyak2. Thor punya orderan baju buat lebaran jadi harus gerak cepat nyiapin semuanya sebelum lebaran. huaaa...
jadi mohon dimaklumi ya...
ok. part kali ini... bagaimana?
buat penggemar Ryura udah pasti gencar buat duga2 kira2 apa yang akan terjadi selanjutnya kan yaaaaaa...
hahaha... mari kita berimajinasi. yg penting jangan lupa like vote dan komentarnya ya... Thor tunggu...
__ADS_1
ππππ