
Sore itu, orang-orang tampak mengerumuni beberapa titik di ibukota. Dimana titik-titik itu adalah tempat papan pengumuman di pasang. Sesuatu telah di tempelkan di sana dan itu telah berhasil memancing banyak orang untuk melihatnya.
Dan dari sanalah, orang-orang kembali memiliki topik untuk dibicarakan.
Di papan pengumuman tersebut terpampang selebaran yang menyematkan tulisan dimana menyatakan adanya sayembara. Sayembara untuk siapa pun yang bisa membunuh Ryura, tentunya dengan imbalan yang fantastis di zaman itu.
Terkejut? Tentu. Apalagi melihat nominal uang yang di keluarkan oleh pihak yang mengadakan sayembara tersebut. Pihak yang belakangan ini sering di perbincangkan, terutama gadis yang berasal dari keluarga yang sama.
Banyak spekulasi yang berkembang pada akhirnya, setelah membaca selebaran itu. Diantaranya adalah, pendapat orang-orang mengenai permusuhan di antara keduanya -Ryura dan Keluarga Han-, ada juga yang beranggapan bahwa pihak keluarga terlalu kejam dengan membuat hal seperti sayembara itu berpikir kalau Ryura seharusnya mendapatkan bimbingan mental seandainya dia dinyatakan memiliki gangguan psikologis, tak sedikit pula yang mendukung mereka mengingat betapa tak berperasaannya Ryura kala membunuh saudaranya.
Kedua pihak memiliki pendukung mereka masing-masing tanpa diminta, namun ada juga yang bersikap netral. Semua itu sudah tentu akan mengiringi segala polemik yang terjadi.
"Kau sudah baca apa yang di tempel di papan pengumuman ibukota?" seorang pria bertanya pada temannya yang duduk dihadapannya. Mereka tengah menyantap hidangan di sebuah kedai makanan sore itu.
"Sudah. Melihat itu, aku sedikit tak percaya. Bagaimana bisa mereka mengadakan sayembara yang beresiko seperti itu?!" jawab teman sesama prianya sembari terus menyuapkan makanan denagn sumpit.
"Aku pun berpikir begitu. Aku ada disana saat gadis itu bertarung dengan saudaranya. Benar-benar mengerikan. Tak heran ia di sebut tidak punya hati. Aku masih ingat bagaimana raut wajahnya yang terlihat biasa saja saat melawan saudaranya sendiri. Hiii... Bikin merinding saja. Aku nyaris tak bernafas saat menyaksikan itu." tutur temannya seraya bergidik ngeri.
"Aku memang tidak menonton sejak awal. Tapi, aku sempat melihat adegan terakhirnya. Dimana dia membelah dua tubuh saudaranya dengan kain satin itu. Aku sangat syok melihat itu sampai-sampai aku harus mengalami muntah. Aku jadi penasaran, apa dia punya semacam tenaga dalam? Kekuatannya benar-benar tak bisa di anggap remeh!" timpal teman satunya lagi sambil memainkan sumpitnya guna menyempurnakan dialog.
Beralih ke 3 orang yang berjalan di jalanan ibukota melewati 2 pria yang bercakap-cakap tadi.
"Aku dengar-dengar, pihak Keluarga Han membuat sayembara dan baru di tempelkan pemberitahuan nya di papan pengumuman sore ini, ya?" tanya perempuan pertama.
"Eum. Aku melihat sendiri tadi saat utusan Keluarga Han menempelkan selebaran itu di papan pengumuman dekat tempat aku membeli manisan." jawab perempuan kedua seraya menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Keluarga Han?! Kalian sedang membicarakan Han Ryura?" sambar perempuan ketiga yang sejak tadi hanya menyimak percakapan dua temannya walau ia juga ikut nimbrung sesekali.
"Tentu saja. Siapa lagi... Keluarga Han sedang banyak di perbincangkan belakang ini, terutama keturunannya yang bernama Han Ryura itu. Kalian pasti sudah pernah dengar cerita tentang saudara membunuh saudaranya sendiri, kan?! Nah, itu dia yang jadi pelakunya. Han Ryura. Gadis itulah yang belakangan ini menjadi cukup terkenal, bahkan banyak yang takut padanya sejak melihat peristiwa itu langsung." terang perempuan pertama.
"'Aaahh... Aku ingat. Iya, aku mendengarnya dari ayahku. Ayahku sampai mengalami demam semalaman akibat menonton kejadian itu langsung dengan matanya. Melihat Ayah ku sampai seperti itu, aku jadi bisa membayangkan betapa mengerikannya gadis itu saat menghabisi saudaranya." timpal perempuan ketiga.
"Wah... Kalian kurang beruntung. Aku ada di tempat kejadian waktu pertarungan itu terjadi." seru perempuan kedua dengan membanggakan diri.
"Benarkah. Apa kau melihat langsung bagaimana aksinya?" tanya perempuan ketiga penasaran.
"Hehehe... Sayangnya, tidak. Aku berada di posisi paling belakang. Terlebih aku ini kan masih pendek. Jadi, aku tidak bisa melihat seperti apa kejadian sebenarnya. Tapi, mendengar dan melihat ekspresi orang-orang di sekitar ku. Aku bisa memprediksi kalau kejadian itu benar-benar mengerikan. Apalagi di bagian terakhirnya. Aku sampai mendengar orang muntah, menjerit, ada juga yang sampai pingsan. Benar-benar mengerikan." jelas perempuan kedua itu seraya menerawang ke kejadian itu.
"Apa separah itu?" tanya perempuan ketiga takut-takut.
"Eum. Parah. Sangat parah!" jawab perempuan kedua membenarkan.
__ADS_1
"Apa karena itu, pihak Keluarga Han membuat sayembara untuk membunuh Han Ryura?" perempuan kedua itu bertanya lagi.
"Kalau gadis itu bahkan bisa membunuh anggota keluarganya. Tidak menutup kemungkinan kalau Keluarga Han sedang ketakutan saat ini. Bayangkan saja, dua orang mati dalam waktu berdekatan oleh orang yang sama. Bukankah itu ancaman besar?!" tukas perempuan pertama.
Kedua teman perempuannya mengangguk setuju. "Kau benar!"
Berlalunya ketiga gadis itu yang berjalan melewati sebuah rumah makan dimana terdapat Duan Xi di dalamnya tepat di dekat jendela, sehingga saat ketiga gadis itu lewat dapat di lihat adanya dia disana sedang mencak-mencak tak karuan dengan sebotol arak ditangannya.
Ingat bukan betapa ia amat mencintai minuman tersebut?!
Brak!
Menggebrak meja dengan selembar kertas ditangannya yang ikut di gebrakan ke meja itu.
"Apa-apaan selebaran ini?! Cih! Mereka pikir dengan begini mereka bisa membunuh murid ku?! Bermimpilah! Muridku itu istimewa! Pengumuman seperti ini tidak akan menghasilkan apapun. Selain, meningkatkan korban yang mati untuk kedepannya." emosinya menggebu, sampai-sampai dadanya naik-turun. "Heh! Pengecut! Ingin menggunakan orang lain untuk mengukur kemampuan muridku, hah?! Kalian tak akan mampu mengukurnya! Kalian sangat jauh tertinggal darinya!" pria tua yang pendek itu begitu membanggakan muridnya yang bagai patung itu.
Glek!
Glek!
Glek!
"Aaahh... Nikmatnya kau arak...!" memandang sekilas botol araknya, lalu kembali ke selebaran yang telah tergeletak di atas meja. Selebaran yang ia cabut dari papan pengumuman saat hendak mengunjungi rumah makan yang menyediakan banyak arak.
Arak adalah hidupnya.
"Kau!" menunjuk selebaran itu dengan sedikit menekannya, itu merujuk pada Keluarga Han. "Tak akan bisa mengalahkan muridku! Hanya dia yang bisa!" celetuknya.
Sesaat ia terdiam, seperti baru menyadari apa yang baru saja ia katakan. Mendongakkan kepalanya memandang keatas dengan ngambang. Pikirannya berkelana ke belahan bumi yang jauh dari negara api.
Kepalanya mengangguk membenarkan kemudian. "Ya! Setelah di pikir-pikir... Memang dia yang bisa mengalahkan Ryura... Hanya dia! Kekuatannya cukup mampu menyaingi kekuatan Ryura. Pasti! Heh! Aku jadi tidak sabar menantikan saat itu tiba! Meski begitu, aku tetap mendukung murid ku. Hahaha!" ucapnya agak teler, namun tidak sampai mabuk yang menghilangkan akal sehatnya.
Seorang pria dengan pakaian yang memperlihatkan otot lengannya yang liat itu. Dari belakang, dapat di lihat kalau ia membawa sebuah benda panjang mirip bambu yang di bungkus apik lalu di ikatkan di punggungnya menggunakan tali yang melingkar melewati bahu ke dada, lalu ke bawah ketiaknya sampai kembali ke benda yang di bungkus itu. Tak lupa pula dengan pedang yang selalu menemaninya kemanapun ia pergi.
Pria itu berdiri tegap di depan sebuah papan pengumuman ibukota dengan pandangan mata mengarah tepat di selebaran yang masih baru menghiasi papan pengumuman tersebut. Dibacanya isi yang tertera di permukaan kertas itu.
Senyum seringai pun terpatri di bibirnya, bagai berhasil menjerat buruannya. Hatinya mendadak seperti di taburi ribuan kelopak bunga dengan berbagai macam warna.
__ADS_1
"Tak di sangka perjalanan ku memasuki ibukota kerajaan Huoli tidaklah sia-sia. Rumor tentang gadis berwajah datar itu cukup untuk membuat ku mengenali siapa dia." kekehan kecil terdengar samar. "Siapa lagi kalau bukan gadis yang sama dengan gadis yang berhasil membawa pergi kuda bulan incaran ku." tangannya bergerak menyambar selebaran yang ditempel di papan pengumuman itu.
Dengan sedikit mencengkeram sisi kertas selebaran tersebut, ia kembali berujar. "Inilah yang di sebut pertolongan dari Dewa. Aku yakin dengan adanya sayembara ini, menandakan bahwa nasib baik sedang berpihak padaku..." ujung bibirnya ditarik ke atas.
"Cukup dengan membunuhnya aku tidak hanya akan mendapatkan uang sebanyak 100 tael emas... Tapi, juga dapat mengambil kembali kuda bulan ku! Hahahah..." tawa kecilnya bila di sadari oleh orang lain, maka siapapun akan tahu kalau ada niat jahat di balik tawanya itu. "Sungguh beruntungnya aku..." sambungnya dengan angkuh.
Dia adalah seorang pendatang atau tepatnya pengembara yang bertujuan untuk memburu kuda bulan. Ambisinya pada kuda bulan belum juga sirna. Padahal sudah sangat lama ia menggeluti aksi berburu ini. Tapi, selalu gagal. Selain karena kuda itu memang kuat dan hebat, kuda itu juga tak bisa sembarangan memilih penunggangnya.
Ia beranjak pergi dari sana sembari mengilas balik memori tentang betapa ia amat berusaha keras untuk bisa mendapatkan apa yang ia mau seperti sekarang ini.
Mengingat kembali, saat-saat ia mengejar mati-matian kuda bulan itu mulai dari memburunya secara halus sampai memburunya secara kasar. Ia tau kuta itu punya kekuatan yang hebat, terutama dalam hal insting. Tapi, namanya juga sudah berkeinginan yang membabi-buta. Tak peduli hebat atau tidak, kalau ingin yang harus didapatkan.
Kini, malah kuda itu telah mengambil seorang penunggang dan itu gadis denagn wajah tak berekspresi. Kadang ia bertanya-tanya, dari bagian mananya gadis itu dapat menarik kuda bulan untuk memilikinya sebagai penunggangnya.
Tapi, ia sudah tak mau memikirkan hal yang sudah terjadi. Sekarang ini, takdir sudah mendatangkan kesempatan untuknya merebut kembali apa yang sudah seharusnya menjadi miliknya.
Membunuh gadis itu bukanlah hal yang sulit untuknya, pikirnya.
Hanya perlu memastikan kalau ia mengambil waktu yang tepat. Membayangkan tubuh Ryura berlumuran darah dan tak berdaya karenanya, itu menjadikan khayalan terindah yang pernah ia lakukan.
Sungguh ia jadi tidak sabar.
Bergegas pergi untuk segera menyiapkan segala sesuatunya agar rencananya berjalan lancar.
Mata itu terbuka dari terpejam. Mengerjap beberapa kali dengan tatapan kosong, tak lama setelahnya iapun bangkit dan mengambil posisi duduk. Saat ini ia sedang berada di peraduan. Sengaja mengambil jam tidur lebih lama, karena ia ingin bermalas-malasan.
Saat matanya menoleh kearah jendela. Dapat ia lihat kalau langit sudah mulai gelap kemerah-merahan.
Dipandangi langit itu dalam diam.
Ia merasakan sesuatu akan datang padanya. Tapi, belum tahu apa itu.
Hanya saja, ia bisa mencium aroma darahnya sendiri yang seolah memberi tanda kalau ia sedang mendidih tak sabar akan sesuatu yang tak lama lagi mendatangi Ryura. Sesuatu yang akan memuaskan darahnya yang menggebu ingin di puaskan.
Ia diam dan terus menatap langit yang semakin lama berubah menjadi gelap dan gelap, sampai pada akhirnya malam pun berganti. Namun, dia masih betah pada posisi yang sama.
Seolah sedang menanti hal apa yang akan mendatanginya.
__ADS_1