
Keningnya berkerut tipis, matanya menyorot dengan penuh selidik dan rasa ingin tahu yang besar. Sekilas ini tidak seperti dirinya yang biasanya blak-blakan tentang apapun itu. Akan tetapi, kini dia dan bocah laki-laki bertelinga panjang disisinya tengah melakukan aksi menguntit.
Menguntit seorang gadis tepatnya.
Gadis berambut panjang sepanggul yang sebagian rambutnya di sanggul sederhana. Gadis itu berpakaian sederhana dengan hanfu yang terbuat dari kain berkualitas menengah. Sekilas pakaian itu tampak biasa-biasa saja lantaran tidak mencolok baik warna maupun hiasannya, membuatnya sederhana namun elegan. Hingga tak ada yang bisa menebak apakah dia berasal dari keluarga kaya atau tidak.
Hanya saja, bila dilihat secara keseluruhan. Gadis itu cantik dan memancarkan aura lembut penuh kasih.
Meskipun begitu, bukan itu yang menjadi perhatian gadis penguntit itu yang jelas-jelas adalah Reychu. Gadis gila itu dengan santainya berdiri tidak jauh di belakang gadis yang sedang ia ikuti. Bersikap seperti tidak mungkin ketahuan. Gadis itu adalah gadis yang tak perlu di ragukan lagi betapa familiar nya rupa fisik gadis itu.
"Tina...?!" seru Reychu dengan suara rendahnya. Ia saat ini sedang dalam mode syok.
Bagaimana tidak syok atau terkejut, nama perempuan yang baru saja disebutkan olehnya adalah nama gadis muda di kehidupan sebelumnya yang amat disayanginya.
Gadis malang kesayangannya yang dengan tragisnya malah mati akibat ulah Martin Gong. Tetapi kini...
Tina ada di depan matanya.
"Chu-chu, sebenarnya siapa yang sedang kau ikuti? Sejak tadi aku melihat mu seperti sedang mengikuti seseorang. Apakah itu orangnya?" Chi-chi bertanya tanpa menoleh kearah Reychu. Keduanya fokus memandang kedepan, bahkan Chi-chi sampai menunjukkan jari telunjuknya kepada sosok gadis yang menjadi alasan Reychu membuntutinya saat pertanyaan terakhir di ucapkan.
"Benar! Cantik bukan?" seloroh Reychu tak jelas. Bisa di pastikan kalau ia mengatakan itu tanpa sadar saking rasa senangnya mendominasi ruang hatinya untuk kenangan lamanya.
Melirik sekilas Reychu dengan raut wajah aneh yang ditampilkan. "Hmm... Bisa di bilang begitu... Tapi, kau lebih cantik darinya Chu-chu." kini giliran Chi-chi yang mulai melantur tidak jelas.
Tampaknya siluman kelinci laki-laki itu sudah mulai terpengaruh oleh kebiasaan gila Reychu.
"Kalau itu jangan di ragukan lagi. Kecantikan ku tak ada tandingannya." balas Reychu dengan gamblangnya, membuat kalimatnya tak terdengar sedang menyombongkan diri karena diucapkan tanpa penjiwaan.
"Ya, kau benar!" angguk Chi-chi mengiyakannya. Siluman kecil itu jelas akan mengutamakan Reychu di atas segala-galanya.
Keduanya terus menguntit tanpa takut ketahuan.
Karena gaya menguntit Reychu adalah secara terbuka. Hal itu membuat gadis yang di kuntit merasakan kehadirannya. Sebab itulah, dia menoleh untuk melihat siapa gerangan yang membuntutinya hingga ke lantai dasar kapal, letak dimana beberapa gerobak dan gerbong kereta di parkirkan. Jangan lupakan beberapa ekor kuda di ikut sertakan.
Kedua pasang mata dua gadis disana beradu. Saling mengunci dengan siratan mata yang berbeda. Reychu dengan kerinduannya dan gadis itu dengan tanda tanyanya.
"Maaf, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya gadis itu hati-hati, membuang pertanyaan sebelumnya yang ingin ia ajukan. Yaitu, mengenai kenapa Reychu membuntutinya.
Deg!
Spontan Reychu menyentuh dadanya dengan ekspresi terenyuh dan terukir senyum rindu yang perlahan melebar.
"Bahkan suaranya juga sangat mirip! Dia seperti reinkarnasinya Tina." batin Reychu berseru usai mendengar suara yang amat ia kenali hingga tak dapat ia lupakan sampai sekarang.
Ia rindu sosok dan suaranya.
Sejenak di pindainya penampilan gadis yang mirip dengan Tina kesayangannya Reychu itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dari sana, dapat ia simpulkan kalau gadis didepannya ini pasti memiliki takdir hidup yang lebih beruntung daripada Tina-nya.
Semua itu dapat dilihat dari betapa ia sangat terurus. Kulitnya putih bersih nan indah tampak sehat dan berisi, pakaian dan perhiasan ditubuhnya pun cukup mumpuni untuk memperindah diri. Jadi, meskipun fisik gadis didepannya ini luar biasa mirip layaknya tercipta dari satu orang, tapi takdir hidup mereka jelas sangat berbeda. Persis seperti hitam dan putih.
__ADS_1
Sayangnya, itu bukan lagi masalahnya sekarang.
Senyum tulus terpatri dibibir Reychu tanpa sadar saat benaknya tengah memutarkan ingatan mengenai Tina di kehidupan sebelumnya.
Seorang gadis yang langsung membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama sebagai seorang adik.
Reychu masih ingat bagaimana dia menjaganya, menyayanginya, mengajarinya sesuatu yang baik -bukan seperti dirinya yang lebih banyak buruknya-, melindunginya. Hampir semua Reychu lakukan untuk gadis bernama Tina.
Namun, sayang...
Seseorang merusaknya, menghancurkannya, bahkan berakhir dengan menghilangkan kehidupannya.
Itulah mengapa ia cukup bernafsu untuk melenyapkan pria bernama Martin Gong.
Setelah pria itu lenyap, dia dan kedua sahabatnya menyusul. Agaknya tak enak di dengar bila dikatakan dia pun memiliki takdir hidup yang singkat. Tapi, setelah tiba di dunia kuno ini. Meskipun sulit karena lingkungan dan budaya serta peradaban yang jauh berbeda, sehingga membuat 3Ry harus belajar kembali untuk beradaptasi pada kehidupan baru mereka.
Sampai disini, Reychu sedikit banyaknya mulai menyadari sesuatu.
Dia tidak mati begitu saja, lalu melakukan perjalanan melintasi waktu. Melainkan, untuk menemukan sesuatu yang sepertinya berkaitan dengan kehidupan dia dan sahabatnya di dunia modern.
Seperti halnya sekarang ini...
Sosok lain yang menyerupai Tina ada disini dengan takdir hidup yang jauh lebih baik dari Tina yang dulu. Itu membuatnya berpikir, mungkin benar kalau gadis didepannya ini adalah reinkarnasi Tina. Dimana hidupnya disini akan menjadi kebalikannya dari kehidupan lampau.
Mengetahui kesimpulan dari analisisnya, Reychu tak bisa menahan senyum. Hatinya turut bersyukur, gadisnya hidup dengan lebih baik disini.
"Nona? Nona... Anda mendengar saya!" panggil gadis itu terus lantaran tak ada respon dari Reychu yang asik dengan nostalgia-nya.
"Nona..." panggilnya lagi.
"Eh... Kau dekat sekali, sayang!" celetuk Reychu ambigu pada gadis yang mirip dengan Tina itu, begitu ia melihat gadis itu berjarak sangat dekat dengannya.
Dalam keadaan seperti ini pun Reychu masih bisa menunjukkan sisi konyolnya.
"Hah?" kaget gadis itu sampai spontan tangannya ditarik kembali seraya mundur beberapa langkah. Kikuk dan canggung dibuatnya. "Ma...maaf... Maaf..." tukasnya cepat saking gugupnya.
Ia baru pertama kali di panggil seperti itu oleh seseorang. Meski terdengar manis dan penuh kasih, haruskah itu keluar dari mulut seorang gadis yang tampak seusianya?...
Bulu kuduknya dibuat merinding oleh Reychu.
"Hahaha... Tidak perlu sampai seperti itu. Aku sama sekali tidak bermaksud mengejutkan mu. Tapi, kau malah terkejut. Kau harus lebih fokus pada keadaan lain kali." katanya seraya menepuk-nepuk pundak gadis itu yang malah semakin terkejut melihat kelakuan serampangan gadis yang bahkan belum memperkenalkan namanya. Bisa-bisanya dia tidak sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan hingga membuat gadis itu terkejut.
ini agak aneh kedengarannya. Pasalnya, siapapun tahu yang mana yang tidak fokus dan mana yang fokus.. bagaimana gadis itu bisa sampai berada dalam keadaan seperti itu...
"'Aa... Iya, iya..." tak tahu mau menjawab apa.
Menyodorkan tangan kanannya kepada gadis didepannya saat ini. Respon yang ditunjukkan adalah kebingungan. Tentu saja, jaman kuno mana ada yang tahu kalau berjabatan tangan adalah bentuk isyarat sapa yang selalu dilakukan oleh orang-orang di dunia modern.
Gadis yang mirip dengan Tina itu bingung dibuatnya.
__ADS_1
Reychu pun akhirnya mengerti mengapa tak kunjung di balas. Ternyata, gadis itu tidak mengerti sama sekali.
Dengan lancang Reychu menarik tangan kanan gadis itu lalu dijabatnya dan digoyangkan, seraya berkata.
"Kenalkan namaku Reychu... Ahn Reychu! Siapa namamu?" tanya Reychu pada gadis itu.
"Ehem. Ini..." beberapa kali ia berusaha melepaskan jabatan tangan mereka dengan cara halus, tapi sepertinya Reychu sama sekali tak berniat melepaskan. Ia bahkan berpura-pura tidak menyadari betapa tidak nyaman dan kakunya tubuh gadis itu lantaran tak merasa baik dalam interaksi yang seperti ini.
Merasa gagal melepaskan diri, akhirnya ia pun menyerah. Setidaknya, gadis itu bisa merasakan kalau dia sedang tidak dalam bahaya karena kehadiran Reychu beserta kekonyolannya.
"Emm. Nama saya Ji Tian."
"Ji Tian?" ulang Reychu memastikan. Tak lama senyum manis yang jarang di tunjukkan muncul.
Benaknya segera bergumam. "Tian! Tina! Tidak ada bedanya. Hihihi!"
"Oh, salam kenal Ji Tian. Jangan terlalu sungkan. Kau bisa berbicara dengan santai bersamaku. Senang bisa bertemu dengan mu!" tutur Reychu yang diakhir kalimatnya, tepatnya sebenarnya hendak berkata 'senang bisa kembali bertemu dengan mu'.
Tapi, itu tentu akan terasa tidak jelas dan ambigu. Apa jadinya kalau sampai ditanya kapan mereka pernah bertemu sebelumnya? Untungnya, itu tidak terjadi.
Setelahnya, keduanya pun mulai menghabiskan waktu seharian dengan mengobrol dan bertemu serta berkenalan dengan rombongan yang pergi bersama Ji Tian. Ia baru mengetahui kalau ternyata Tian atau Tina adalah anak seorang pedagang kelas atas dari Negara Petir yang biasanya mengirimkan beberapa dagangannya ke negara lain bahkan sampai ke Kekaisaran lain.
Dia dan Chi-chi cukup asik dengan apa yang mereka lakukan saat ini. Seolah melupakan rombongannya sendiri.
"Astaga... Dimana Reychu?!" kesal Rayan mempertanyakan keberadaan sahabatnya yang gila itu. "Tidak tahukah dia ini sudah jam makan malam!" Rayan masih terus menggerutu kesal karena kelakuan sahabatnya itu.
"Sudah biarkan saja." kata Ruobin seraya mengelus lembut pundak belakang Rayan bermaksud untuk menenangkan sahabat manusianya ini.
Plak!
Dipukulinya paha Ruobin spontan. "Bagaimana bisa!!"
"Abaikan saja dia... Lagipula, selama dia tidak menimbulkan masalah semuanya beres. Perempuan itu memang suka sekali membuat orang kesal." sembur Duan Xi tanpa melihat Rayan yang saat ini terhenyak mendengar suaranya yang tiba-tiba muncul. Duan Xi masih asik memakan bekalnya.
"Tapi, Guru..." kalimatnya terpotong oleh Furby.
"Kau merepotkan dirimu sendiri. Kenapa tidak kau tanyakan pada Ryura saja, dimana Reychu." celetuk Furby memberi saran.
"'Aaa... Benar juga. Kenapa bisa aku melupakan yang satu ini." menoleh kearah Ryura lalu memeluknya. "Oh... Ryura sayang... Maafkan aku telah melupakan mu. Cup!" kecupan di pipi menjadi caranya membujuk Ryura, tapi apakah Ryura mempedulikannya? Jawabannya adalah tidak.
Tapi, meskipun tidak terbujuk ataupun terpengaruh oleh kecupan itu, Ryura tetap memberitahunya.
"Dia bertemu kenalan lama." tutur Ryura tanpa menggangu kesibukannya yang sedang makan.
"Hah! Benarkah?! Wah, aku harus menanyainya nanti."
Usai mengatakan itu, semuanya pun kembali melanjutkan makannya. Dengan ditemani malam gelap yang berbintang.
__ADS_1
πππ