3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
SERANGAN REYCHU


__ADS_3

Perang mata sedang berlangsung antara Rayan dan Jiang Yu Na, membuat suasana menjadi sangat canggung. Bila Min Hwan merasa tidak tenang dengan suasana tersebut maka lain halnya dengan Reychu, Ruobin dan Chi-chi. Ketiganya tampak biasa saja, malahan ikut menatap Jiang Yu Na dengan tak suka.


Tapi, sepertinya kebiasaan ditatap hormat dan dijunjung tinggi lantaran anak dari guru besar membuat Jiang Yu Na acuh dan meremehkan tatapan orang lain. Yang seperti ini mampu membangkitkan mulut pedas Reychu yang sempat ditahan sejak tadi.


Kali ini ia merasa ada bahan untuk di hajar dengan kata-katanya.


"Hati-hati dengan matamu, Nona! Atau aku akan dengan senang hati mencongkelnya!" cetus Reychu enteng. Ekspresinya boleh terlihat bercanda, tapi sorot matanya amat sangat serius.


Mendengar kalimat mengerikan itu sukses membuat Jiang Yu Na mengalihkan pandangannya yang sebelumnya kearah Rayan kini berganti kearah Reychu.


Tak hanya dia, pelayannya pun demikian. Raut tak senang karena seseorang berani bersikap tidak hormat pada junjungan mereka terlihat jelas di wajah-wajah itu.


Tapi, Reychu tetap tak peduli.


Dia -Jiang Yu Na- mendelik tajam seolah mencoba mengintimidasi Reychu dengan tatapan tajamnya yang malah membuat Reychu terkekeh dibuatnya.


Kekehan yang cukup membuat perasaan yang mendengarnya semakin tak nyaman.


Disisi Reychu, Chi-chi tampaknya sedang mengamati gadis Jiang ini. Dia berpikir bahwa sudah melihatnya tadi pagi saat sarapan pagi bersama keluarga besar Zhilli Shin. Chi-chi melihat bagaimana dia menatap buas kearah Rayan seperti ingin membunuhnya.


"Nona Rayan punya musuh kah?" tanyanya dalam hati.


Min Hwan yang masih disana pun dibuat terkejut dengan kalimat yang Reychu ucapkan. Sama sekali tak membayangkan kalau inilah wajah asli Reychu yang dipuja Kaisar Agung Bai, setahunya.


"Benarkah ini dia?" batinnya sampai ikut berseru.


Ruobin di sisi Rayan mengirim telepati kepada Rayan.


"Rayan sayang, sepertinya dia menyimpan dendam padamu."


Rayan membalasnya juga melalui telepatinya tanpa melepas pandangannya dari wajah Jiang Yu Na yang menurutnya sudah mengibarkan bendera perang padanya. "Aku tahu. Makanya, ini aku sedang mencari tahu. Aku tak merasa pernah menyinggungnya, tapi sejak di perjamuan makan pagi tadi dia sudah memusuhi ku."


"Sejak jamuan sarapan pagi?" ulang Ruobin mulai mencernanya. Dia mulai menghubungkan kemungkinan satu demi satu untuk mencari tahu apa yang menyebabkan ketidaksukaan itu diarahkan pada sahabat manusianya.


Setelah lama berpikir, dia tak menemukan apapun. Kalau begitu, hanya ada satu kemungkinan...


"Apakah dia cemburu?" telepatinya.


"Cemburu?" Rayan mengulangnya dengan bingung.


"Ya, cemburu. Aku sudah mencoba mencari tahu apa yang bisa menjadi kemungkinan dia memusuhi mu, tapi aku tidak menemukan apapun. Jadi, karena dia perempuan aku pikir dia sedang cemburu. Dugaan ini diperkuat dengan waktu pertemuan kalian yang baru terjadi saat jamuan sarapan pagi tadi." terang Ruobin mencoba menguraikan isi pikirannya.


"Tapi, dugaan itu masih belum cukup kuat. Alasan ia mencemburuiku itu apa?!" tanya Rayan melalui telepatinya lagi. Masih mencoba ikut mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku bingung mengatakannya. Tapi, coba pikirkan ini... Kita sedang berada di akademi Zhilli, bahkan dapat juga masuk ke Kediaman Zhilli Shin. Dia ada disana! Kalau saudara, nama keluarganya Jiang. Itu jelas tidak mungkin. Kau ingat apa yang di ceritakan oleh Min Hwan tentang Akademi Zhilli ini. Ada tempat yang disebut dengan area bawah. Disana terdapat semacam perumahan yang dihuni para guru-guru hebat yang menjadi bagian dari Akademi Zhilli. Bisa jadi dia salah satu dari mereka, maksudku keturunannya. Min Hwan tadi sempat mengatakan bahwa ada beberapa guru yang sudah berkeluarga. Ini baru dugaan awal. Tapi, kurasa cukup masuk akal." panjang lebar Ruobin menjelaskan hingga Rayan pun menemukan jawabannya meski belum tahu benar tidaknya.


"Hmm. Jadi, ada kemungkinan dia sedang cemburu padaku karena Shin Mo Lan? Tapi, ku pikir dia tak pernah menemukan kami sedang bersama. Lalu, bagaimana bisa dia cemburu padaku? Tidak mungkin ia cemburu padaku karena dua pria lainnya. Jelas aku tidak tertarik pada mereka. Apalagi setelah mereka secara terang-terangan menempel pada kedua sahabat ku." itulah yang masih menjadi tanda tanya Rayan.


Di sela-sela pemikiran penuh tanya itu, celetukan Reychu yang blak-blakan menguak segalanya dengan begitu mudahnya setelah telepati Chi-chi memberinya petunjuk.


"Chu-chu, perempuan ini sepertinya tidak suka dengan Nona Rayan karena pria dari keluarga Zhilli Shin itu. Siapa namanya? Aku lupa. Aku sempat melihatnya memandang tak suka pada nona Rayan pagi tadi di jamuan sarapan pagi. Saat itu aku juga sempat melihat kalau pria itu memberikan tatapan aneh kearah sahabatmu. Tatapannya seperti... Kagum?! Entahlah!" seru Chi-chi melalui telepatinya kepada Reychu.

__ADS_1


Mendengar suara dari pikirannya, alis Reychu terangkat seketika. "Begitu kah?!" balasnya. Sejurus kemudian, seringai muncul di sudut bibirnya seraya menatap geli kearah Jiang Yu Na.


Jiang Yu Na sendiri yang melihatnya tiba-tiba merasa tidak nyaman. Dia entah bagaimana merasa seperti akan terjadi sesuatu yang buruk padanya seandainya dia tak bisa melindungi dirinya sendiri. Firasatnya mengatakan, gadis yang sedikit lebih tinggi dari gadis yang ia cemburui -Rayan- tampaknya lebih patut untuk diwaspadai.


Nyatanya ia tidak tahu, kalau sebenarnya ketiganya haruslah diwaspadai. Rayan boleh tidak terlalu menonjol dalam hal bertarung. Tapi, kelicikannya dalam mempermainkan orang tak boleh diremehkan. Sementara Reychu, dia terlalu terbuka akan keganasannya, liar dan sulit diatur. Itu yang terkadang membuat orang berpikir dia lebih mengerikan. Hanya saja, jangan lupakan tentang Ryura. Gadis itu bisa jadi jauh lebih mengerikan. Diamnya patut diwaspadai.


Seperti kata pepatah. Diam-diam menghanyutkan.


Tak ingin tampak lemah dibawah sorot mata yang tak ada takutnya itu, iapun memilih angkat bicara lebih dulu.


"Maaf Nona dan Tuan. Izinkan saya berbicara berdua dengan Nona Rayan Mo. Ada yang ingin saya bicarakan dengannya." tutur katanya memang terdengar sopan, tapi jika di dengar lebih teliti ada kesombongan didalamnya.


Dengan dagu terangkat dan mata yang menatap dalam wajah imut Rayan. Yang mana semakin ia pandang maka semakin ia merasakan panas didalam hatinya. Apalagi kalau ia mengingat kejadian pagi tadi.


"Kenapa kami harus memberikan mu izin. Lagipula, yang akan kau bicarakan juga pasti tidaklah penting. Buat apa aku meninggalkan sahabatku hanya karena permintaan mu itu?! Memangnya kau siapa?! Langsung saja! Jangan buang waktu kami dengan sia-sia!" ucap Reychu begitu menusuk. Bahkan Min Hwan kembali terkejut untuk kedua kalinya.


Rayan disisinya hanya bisa menepuk jidatnya karena kelakuan Reychu yang tak tertahankan itu.


"Nona Ahn! Mohon jaga bicara anda. Beliau adalah putri guru besar Akademi Zhilli yang sangat terkenal dan sangat dihormati. Sangat tidak pantas bila anda berkata selancang itu." tegur Min Hwan mengingatkan. Ia hanya ingin meminimalisir masalah yang bisa saja terjadi bila dibiarkan begitu saja.


Sedang Reychu yang mendengar teguran itu seolah tuli. Ia sama sekali tidak mendengarkannya. Melirik pun tidak. Tapi, masih mengeluarkan ranjau mulutnya.


"Ouh. Dia anak guru besar di Akademi ini. Kalau begitu, kehormatan itu hanya berlaku bagi kalian. Kami hanya orang luar. Kedudukannya tidak berlaku di mata kami." gamblangnya Reychu menyerang.


"Nona Ahn!" pekik Min Hwan rendah, ia tak menduga kalau gadis ini akan menjadi sesulit ini.


Baru kemudian Reychu menjatuhkan lirikan matanya kearah Min Hwan begitu mendengar dia sepertinya masih ingin membuatnya tunduk.


Jelas tidak!


"Apa?! Kau ingin bilang kalau aku sudah salah mengatakan hal itu?! Hehehe... Ku beritahu kau, ya... Bahkan pria berambut merah itu tak lebih dari seorang pria di mataku. Apalagi kalian..." pernyataan itu singkat tapi makna dalam kalimatnya sudah sangat jelas.


Tanpa perlu berpanjang lebar, kata terakhir yang Reychu ucapkan sudah mewakili seluruhnya. Cukup menjual nama Kaisar Agung Bai yang luar biasa diagungkan, siapapun akan langsung diam. Seperti saat ini.


Min Hwan yang awalnya ingin terus mengingatkan, jadi tak bisa berkata-kata setelah tahu kalau gadis bermulut tajam serta tak ada takutnya itu berkata demikian. Hal itu sudah menjelaskan bahwa gadis ini tidak takut mati. Dia bahkan bisa memandang Kaisar Agung Bai dengan setara orang biasa. Sebenarnya, ini tak bisa dibiarkan. Tapi, mengingat mereka dibawa langsung oleh Kaisar Agung Bai. Seharusnya, Kaisar sendiri tahu mengenai hal ini.


Min Hwan tak bisa membuka mulutnya lagi. Ia hanya bisa menatap pasrah kearah Reychu yang kini asik menatap rendah Jiang Yu Na yang wajahnya sudah merah padam.


Bisa dikatakan kalau gadis Jiang itu sedang menahan amarahnya.


"Sudah! Bicara saja disini. Tidak perlu ada yang pergi." jedanya. "Juga, ku ingatkan padamu Nona... Jiang kah? Kau bahkan belum memperkenalkan diri. Tapi, sudah begitu sombong. Heh!" sindirnya.


Bersedekap dada dengan wajah menjengkelkan khar Reychu biasanya. "Jangan terlalu memandang tinggi dirimu wahai Nona! Kau hanya akan mendatangkan rasa malu kalau kau salah mencari lawan. Ingat nasihat ku ya... Hahaha!" tutur Reychu selanjutnya dengan sedikit bumbu ledekan.


Sudah menjadi kebiasaan Reychu kalau soalnya demikian.


Keterkejutan meledak di hati orang-orang baru disana yang belum pernah terkena serangan mulut tajam Reychu.


Jiang Yu Na nyaris tak bisa menahan diri lagi. Tangannya mengepal begitu kuat di kedua sisi tubuhnya. Tak percaya dia sudah dipermalukan oleh teman perempuan yang menjadi targetnya. Belum pernah ia merasakan yang seperti ini. Ini benar-benar telah menjatuhkan harga dirinya. Sama sekali tidak terbayangkan olehnya sebelumnya, kalau gadis yang hampir diam disepanjang perjamuan makan pagi tadi ternyata punya kendali mulut yang mengerikan.


Mencoba tetap menampilkan senyum bersahaja dan tabah. Walau sebenarnya dibalik itu, ia sudah seperti monster yang siap melahap Reychu kapan saja.

__ADS_1


"Si*lan, gadis ini. Beraninya dia merendahkan ku!" batinnya meraung marah.


"Maaf atas keteledoran saya. Perkenalkan nama saya Jiang Yu Na..." belum usai ia berkata dengan kesabaran yang minim, Reychu lagi-lagi menyulut api kemarahannya.


"Ck! Jangan bertele-tele, Nona. Langsung saja keintinya. Bilang terus terang pada sahabat ku ini kalau kau tidak suka dia menarik perhatian pria mu itu. Siapa namanya?! Astaga, aku juga lupa." dengan santainya Reychu membongkar fakta yang sebenarnya masih ingin disembunyikan oleh Jiang Yu Na.


"Jadi, benar ya, hmm?!" batin Rayan kala mendengar hal itu. Meski ia tak tahu darimana Reychu bisa mengatakan hal itu. Rayan tetap tak meragukan ucapan sahabatnya itu.


Gadis itu -Jiang Yu Na- langsung pias begitu mendengarnya. Sedang yang lain menatap tak percaya pada Jiang Yu Na dan Reychu, terutama Min Hwan. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya siapa pria yang dimaksudkan. Sampai satu nama terlintas dibenaknya...


"Tidak mungkin Tuanku 'kan?" batinnya.


"Ba.. bagaimana bisa..." Jiang Yu Na juga tak kalah kaget dalam hatinya sampai tak bisa berkata-kata. Bisa-bisanya dia ketahuan secepat itu.


"Haha... Ha... Nona Ahn, anda pasti salah paham..." setelah terbongkar begini, Jiang Yu Na tentu tidak bisa langsung membenarkannya atau dia bisa kehilangan wajahnya. Terlebih masih ada Min Hwan diantara mereka.


"Cih! Jangan munafik jadi orang, Nona. Kau bisa-bisa tidak laku nanti kalau jadi perempuan bermuka dua." Reychu menusuk lagi terang-terangan. "Kalau kau cemburu pada sahabatku, katakan saja. Agar sahabatku tahu apa yang harus dia lakukan untuk menyingkirkan mu supaya tidak jadi orang ketiga diantara dia dan pria yang sepertinya juga kau sukai itu." lantang Reychu menghantam tepat pada sasarannya.


Wajah Jiang Yu Na tak tahu harus di bagaimanakan. Dia seperti sudah kehilangan mukanya karena ulah Reychu bahkan sebelum dia bisa menyerang lebih dulu. Dalam hati tak henti-hentinya ia mengutuk Reychu saking bencinya dia.


Niat awal ingin menyingkirkan Rayan, malah ditendang duluan oleh kata-kata Reychu yang tanpa disaring itu.


Pelayan pribadi Jiang Yu Na yang sadar dari keterkejutannya juga langsung bergegas menyelamatkan wajah junjungannya.


"Mohon maaf Nona-nona dan tuan-tuan! Nona saya masih memiliki hal yang harus beliau lakukan. Jadi, kami pamit undur diri lebih dahulu. Permisi!" usai mengatakannya pelayan Jiang Yu Na pun segera membawa pergi junjungan mereka agar terlepas dari kondisi yang tidak menguntungkan itu.


Reychu yang melihatnya kembali menyindir. "Cih! Apa-apaan itu! Tidak sopan. Main pergi saja!" jedanya sebelum wajah itu kembali menampilkan senyum yang mencurigakan. "Hohoho... Biar ku tebak. Dia pasti sudah sangat malu. Dia sudah kehilangan mukanya karena habis aku telanjangi. Hahaha..." celetuknya tanpa merasa bersalah.


Rayan, Ruobin, Chi-chi hanya menggelengkan kepala mereka. Sementara Min Hwan membeku, karena tak tahu harus berkata apa.


Gadis dengan marga yang sama seperti bawahan pribadi Kaisar Agung Bai ini benar-benar sesuatu yang mengerikan bila dibiarkan.


Tapi, apalah daya kalau dia sendiri juga tak bisa berbuat apa-apa saat mengingat kalau gadis ini pun orangnya Kaisar Agung Bai sendiri.


Haih!


Rayan disana hanya memandang punggung Jiang Yu Na yang semakin menjauh itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


Tak lama kemudian, senyum miring terpatri disudut bibirnya.


"Jadi, kau menyukai Shin Mo Lan juga. Biar ku lihat! Seberapa mampu kau untuk merebut dia dariku! Aku sangat menantikan kala Shin Mo Lan kesayangan ku mendepak mu jauh dari hidupnya hanya demi diriku! Hahaha..." kata Rayan dalam hati sebagai sumpahnya untuk menggenggam Shin Mo Lan dalam pelukannya.


Padahal tanpa dia bersumpah pun, Shin Mo Lan akan tetap memilihnya dan menjadi miliknya.



huaaaahhh...


Alhamdulillah, akhirnya Thor bisa up lagi. hihi...


Monggo dibaca yoooo...

__ADS_1


😘😘😘


__ADS_2