
Suasana disana mendadak menjadi menegangkan, bahkan sebelum pengadilan benar-benar dimulai. Siapapun tidak ada yang bisa memahami bagaimana suasana di lapangan menjadi begitu menegangkan sekaligus mencekam.
Diatas panggung eksekusi tersebut, terdapat Ye Zi Xian dan Meng Pei Yun yang berdiri saling berhadapan dalam jarak 5 meter. Bila Ye Zi Xian berdiri dengan tenang nan dingin seraya menatap datar nan dalam bak jurang yang curam kearah ibu sambungnya, maka lain dengan Meng Pei Yun yang meski dipermukaan dia terlihat tangguh dan berani dengan ekspresi yakin 'bahwa dia tidak bersalah'. Nyatanya, punggungnya sudah basah oleh keringat dingin dan hatinya pun tidak bisa tidak memiliki rasa takut juga resah.
Berhadapan dengan putra sambungnya sekaligus pria yang dicintainya dalam kondisi seperti ini, baginya bencana. Karena, dia sendiri tidak tahu di posisi mana dia berada dalam penyelesaian masalah ini. Meskipun dia menekankan pada dirinya sendiri untuk yakin bahwa dia akan lolos menjadi orang yang tidak bersalah.
Tapi, jauh di lubuk hatinya... Tidak ada ketenangan.
"Nyonya Selir Meng... Jawaban jujur mu yang akan menentukan nasib mu!" lugas Ye Zi Xian dalam tenangnya.
Dengan masih mempertahankan sedikit perasaan hutang budi dan kasih sayang sebagai seorang anak kepada ibunya, Ye Zi Xian hanya bisa berharap ibu sambungnya tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Dia berharap wanita didepannya, yang memberikan dirinya banyak kasih sayang orang tua menggantikan orang tua kandungnya yang pergi, dapat memilih untuk terbuka.
Dia tahu dampaknya dari jujur mungkin akan buruk, seperti reputasinya bisa jadi hancur. Tapi, paling tidak. Dia tidak harus menjadi anak yang tidak tahu terimakasih dengan menghukum ibunya sendiri meski hanya ibu sambung dengan ekstrim di muka umum. Hanya saja, dia tidak dalam posisi bisa berbelas kasih dalam garis hukum keluarga Ye. Meskipun dia adalah seorang pemimpin.
Dia mungkin seorang pemimpin. Tapi, pemimpin pun harus tunduk pada hukum dari para leluhur.
Mendengar itu, Meng Pei Yun nyaris kehilangan kendali diri lantaran dihantam oleh ketakutan sendiri. Sejenak dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan di saat seperti ini. Sambil tetap berusaha bertahan pada pijakannya, Meng Pei Yun mulai mencari cara agar dapat melepaskan diri dari masalah ini.
Dia sadar, dia adalah orang yang sebenarnya bersalah. Tapi, kegilaannya atas cintanya kepada putranya sendiri membuat ia menjadi lebih gila. Dipikirannya, dia berpikir bila dia lolos dan Ryura yang menjadi tersangka. Maka, dia akan bisa menyingkirkan Ryura tanpa perlu repot-repot menunjukkan fakta.
Dia berpikir dengan yakin bahwa tidak ada bukti baik dari pihak Ryura maupun Ye Zi Xian. Sebab dia sendiri tidak merasa memiliki secuil pun bukti yang dapat menjeratnya dari tuduhan. Lantaran, semua bukti di anggap telah dia bersihkan.
Memasang wajah penuh keyakinan diri, Meng Pei Yun berkata. "Tuan Ye. Apa yang perlu saya katakan. Saya sungguh tidak tahu menahu soal masalah ini. Memang, pelayan yang mati itu adalah bawahan saya. Tapi, saya berani bersumpah kalau saya tidak pernah menyuruhnya melakukan hal yang sekeji itu. Lagipula, untuk apa?! Saya jelas tak memiliki masalah apapun dengan calon Nyonya Ye masa depan. Kami juga belum bertemu secara resmi untuk saling mengenal. Alasan apa yang saya butuhkan untuk melawannya. Terlebih, dia adalah calon menantu perempuan saya kelak. Daripada mengacaukan hubungan antara mertua dan menantu, lebih baik kami bisa akur satu sama lain."
Penjelasan itu terdengar cukup bagus ditelinga sebagian besar orang. Tapi, tidak untuk Ye Zi Xian, Ye Xiao Nan, Bai Gikwang, dan Shin Mo Lan.
Kaisar Agung Bai dan Tuan Muda Shin hanya menggelengkan kepalanya kecil, sedangkan Ye Xiao Nan mendengus jijik dengan kening berkerut. Sementara Ye Zi Xian sendiri yang berdiri paling dekat dengan orang yang baru saja berbicara panjang, memiliki sedikit perubahan ekspresi dan suhu. Itupun harus ditahan agar tidak sepenuhnya terlepas.
Dia seperti ingin mengunyah wanita didepannya hidup-hidup!
"Anda berani bersumpah untuk itu dengan begitu yakin?" tanya Tuan Ye menggunakan suara rendahnya yang dalam dan menakutkan. Bahkan Meng Pei Yun sendiri hampir tak bisa menahan ketakutannya. Pertahanan wajahnya nyaris terbongkar.
"Ya! Karena saya benar-benar tidak tahu-menahu tentang hal ini. Saya juga sudah menyelidikinya sendiri alasan pelayan itu nekad melakukan hal demikian diluar perintah saya. Tapi, saya masih tidak mengerti apa motifnya." wanita itu kembali berbicara dengan yakin. Masih tak ingin menyerah begitu saja.
Mendengar kata-kata pembelaan diri sekali lagi, sungguh membuat Ye Zi Xian tidak tahan. Menurutnya, dia sudah cukup berbelas kasih dengan memberinya kesempatan sebelumnya. Sekarang apakah masih diperlukan kesempatan kedua disaat orang yang diberi kesempatan menyia-nyiakannya?
Jawabannya, tidak perlu lagi.
"Kalau begitu, Tuan ini tidak perlu lagi menundanya." menembakkan langsung tatapannya kedalam mata Meng Pei Yun dengan kedinginan yang menusuk kalbu. "Maafkan saya, Nyonya Selir Meng. Saya memiliki bukti yang mana mengarahkan semua kesalahan kepada anda!" tandasnya datar tak bernada sama sekali.
Mendengar ini, tak hanya Meng Pei Yun yang terbelalak tak percaya bahkan para penonton dan keluarganya juga tak percaya.
"Tidak mungkin!" jerit Meng Pei Yun dalam hatinya.
Tanpa peduli se-pias apa wajah ibu sambungnya, Ye Zi Xian segera menoleh kearah Shin Mo Lan yang duduk tak jauh dari panggung eksekusi.
"Master alkimia Shin, izinkan saya meminta kejelasan dari anda." kata Ye Zi Xian dengan bahasa formal.
Meski sudah bukan jadi rahasia umum lagi mengenai persahabatan 3 penguasa di daratan Utara. Mereka tetap tahu kapan waktunya serius dan kapan tidak. Itulah sebabnya, saat ini adalah kesempatan mereka menyimpan sementara label persahabatan ketiganya.
__ADS_1
Itu selalu mereka lakukan tiap kali ada acara formal.
Mendengar namanya disebut, Shin Mo Lan dengan tenang menerimanya. Dia bangkit dari duduknya dan menjawab. "Diizinkan Tuan Ye. Dengan senang hati saya membantu." sedikit menganggukkan kepala kepada Ye Zi Xian sebelum beralih ke wanita didepan sahabatnya.
"Nyonya Selir Meng, sebelumnya saya minta maaf bila yang akan saya katakan mungkin membuat hati anda tidak tenang." meski berkata begitu, tak ada rasa bersalah sedikitpun yang terasa dalam nada suaranya.
Kemudian, Shin Mo Lan melanjutkan tanpa mempedulikan kebingungan dan kecemasan yang mulai muncul dipermukaan wajah Meng Pei Yun.
"Anda pasti ingat hari dimana saya datang bersama Tuan Ye untuk bertukar kata dengan anda... Dan hari itu, adalah hari saya turut andil dalam penyelidikan atas kasus ini."
Sampai disini jantung Meng Pei Yun sudah berdetak dengan amat kencang hingga mungkin jika bukan buatan Tuhan, sudah pasti akan lepas saat ini juga. Peluh sebesar biji jagung pun mulai muncul di pelipisnya.
Tangannya yang tersembunyi dalam lengan bajunya terkepal seraya bergetar bersamaan dengan rasa takut yang merambat naik.
"Masalah ini sudah bukan rumor belaka, pelayan perempuan anda yang mati di kamar calon Nyonya Ye masa depan diketahui mati karena racun yang dibawanya sendiri. Tahukan anda, Nyonya Selir Meng... Racun yang saya dapati ditubuh mayat tersebut juga saya dapati di ruangan anda..." belum Shin Mo Lan benar-benar berhenti, Meng Pei Yun sudah lebih dulu membantah dengan menjerit yang sukses mengagetkan seluruh umat manusia yang hadir.
"TIDAK MUNGKIN!" kemudian dia sadar apa yang baru saja dia lakukan hingga terkesiap dengan gugup luar biasa.
Bisik-bisik mulai terdengar walau samar, namun itu cukup padat hingga dipastikan semua yang menyaksikan -kecuali keluarganya dan beberapa orang tertentu- mulai membicarakannya.
"Apa yang kulakukan!" jeritnya dalam hati dengan tak percaya.
"Nyonya Selir Meng, anda meragukan saya?" alis Shin Mo Lan berkerut tak senang. Yang ditanya diam membisu, dia membeku ditempatnya. "Tidak ada untungnya bagi saya untuk berbohong. Racun yang saya dapati itu, saya temukan berasal dari aromanya. Saya jelas tahu dan yakin penciuman saya tidak mungkin salah. Aroma racun yang saya temukan di tubuh mayat juga ada di ruangan anda..." terangnya dingin.
Sambil menyipitkan matanya yang menyembunyikan kilatan tajam, sepenggal kalimat terakhir diucapkan. "Anda harus lebih memahami ini daripada saya!" setelah itu, Shin Mo Lan kembali duduk dan enggan untuk berbicara lagi.
Sementara Meng Pei Yun gelisah dibawah tatapan tak percaya dari orang-orang. Dia mulai menggelengkan kepalanya seperti akan gila.
Pihak keluarganya yang melihatnya jelas tak tahan. Hingga sang ayah angkat bicara.
"Tuan Ye! Putriku tidak mungkin melakukan itu! Anda kenal dia, bukan? Bagaimana anda bisa menuduhnya seperti ini?! Dia sudah menjadi ibu anda selama ini!!" suaranya tinggi dengan diselimuti kemarahan lantaran tak terima melihat putri semata wayangnya diperlakukan demikian.
"Benar, Tuan Ye! Pei Yun tidak mungkin melakukan hal itu! Dia tahu dengan jelas hukum dalam keluarga Ye! Dia tak mungkin bertindak melampaui batas!" susul saudaranya sama marahnya.
Sayang sekali, Ye Zi Xian bukanlah pria yang lembut hingga dia mudah merasa tidak enak. Baginya, salah tetap salah.
"Benar. Nyonya selir Meng tidak akan melakukan itu, karena dia tahu bagaimana hukum keluarga Ye diterapkan..." jedanya. Kalimat itu memberikan kelegaan sementara bagi yang mendengarnya terutama Meng Pei Yun sendiri dan keluarga. Tapi, kalimat berikutnya menjatuhkan segalanya ke dasar.
Dengan mata tajam yang seperti mampu membunuh, Ye Zi Xian menambahkan. "Tapi, itu akan terjadi bila dia masih menyadari posisinya. Sayangnya, dia berani bertindak gila dengan jatuh cinta kepada putra sambungnya sendiri! Dengan begini, bagaimana dia masih tidak bisa melanggar hukum keluarga Ye?!" nada suaranya dalam dengan hawa mencekam.
Seolah mampu membawa kegelapan dan ketakutan yang tidak dapat dijelaskan kedalam jiwa seseorang.
Dan kalimat itu, mengejutkan khalayak ramai sampai rasanya seperti mimpi.
"Apa? Bagaimana mungkin?"
"Serius. Nyonya Selir Meng jatuh cinta kepada Tuan Ye? Kegilaan macam apa ini?"
"Benarkah? Apa kau tidak salah dengar?"
__ADS_1
"Ada apa ini? Hal menjijikkan apa ini?"
Begitulah kira-kira histeria dari ketidakpercayaan masyarakat yang menyaksikan pengadilan itu. Tapi, bagaimana mereka bisa tidak percaya bila ini di beritahukan langsung oleh Tuan Ye mereka. Tuan Ye jelas tak mungkin bercanda dengan apa yang dia ucapkan.
Apalagi mengenai masalah sebesar ini!
Tuan Ye bukan orang seperti itu!
Maka, ini harus menjadi kebenarannya!
Astaga!
"Tidak mungkin!" pekik ayah Meng Pei Yun dengan suara rendah. Dia tak percaya sama sekali atau tepatnya dia tak bisa mempercayainya sama sekali.
Bahkan tak hanya sang ayah dari keluarga Meng. Seluruh anggota keluarga itu juga turut di buat terkejut bukan main.
"TIDAK! OMONG KOSONG APA YANG KAU BICARAKAN, ZI XIAN!" amuk Meng Pei Yun tanpa embel-embel formal lagi. Dia pun sepertinya sudah kehilangan kendali diri saking takutnya.
"Omong kosong?" kini giliran Ye Xiao Nan yang angkat bicara. Dia berbicara dengan jijik dan dingin sambil menatap wajah tak karuan Meng Pei Yun. "Ibunda Selir, apa kau berpikir kami buta? Mungkin kakak ku baru mengetahuinya. Tapi, tidak dengan ku. Aku sudah lama tahu kau memendam rasa pada kakakku. Sayangnya, waktu itu aku tidak punya bukti untuk menuntut mu! Tapi, tidak dengan sekarang! Wajah aslimu sudah terbuka. Akui saja!" katanya dengan menekan kata 'ibunda selir'.
"Xiao Nan... Ak...aku tidak be.. begitu! Itu tidak benar! Aku mencintai kalian karena kalian sudah ku anggap seperti putra-putri ku sendiri! Bagaimana bisa kalian memfitnah ku begini?" wanita itu masih mencoba mengelak meski wajahnya sudah terlihat sangat jelek karena ketakutan, ketidakberdayaan, keresahan, ketidakpercayaan, dan masih banyak lagi.
Yang pasti, saat ini dia mulai tidak waras.
"Heh! Sekarang, kau menganggap kami tidak peka?! Biar ku ingatkan padamu! Siapa disini yang tidak tahu kalau kau lebih memperhatikan kakakku daripada aku sejak kami masih kecil. Padahal, siapapun jelas kalau aku yang terlahir belakangan. Sebagai gadis kecil Keluarga Ye. Bukankah seharusnya kau lebih menyayangi ku daripada kakakku?" wajah Meng Pei Yun kian pias dan memucat hingga tak bisa berkata-kata membuat Ye Xiao Nan tersenyum sinis. "Ini sudah bisa menjadi bukti." tandasnya.
"Bagaimana itu bisa menjadi bukti? Itu hal yang wajar bagi seorang ibu untuk lebih menyayangi salah satu dari anaknya. Ini jelas tidak bisa dijadikan bukti!" bantah ayah Meng Pei Yun karena masih tidak percaya.
"Huh! Wajar? Kalau begitu, coba jelaskan padaku. Bagaimana kau lebih menyayangi anakmu yang bungsu saat kau memiliki anak sulung?!" maksudnya, bukankah seharusnya dia juga lebih menyayangi anak sulungnya karena dia yang pertama daripada anak bungsunya?
Sebenarnya, dia sedikit banyaknya dikaitkan dengan Ye Xiao Nan sendiri yang seorang anak bungsu.
"Tentu saja itu karena dia adalah putriku satu-satunya!" jawab ayah Meng yang masih memiliki amarah dihatinya melihat putrinya yang malang menjadi tontonan.
"Kalau begitu, apa bedanya denganku? Aku juga putri satu-satunya di klan Ye dari pihak ayahku. Dia sebagai ibu sambung harusnya lebih memperhatikan ku yang masih teramat kecil saat itu dibandingkan dengan kakakku!" dia mengatakan ini bukan karena cemburu dengan perhatian dan kasih sayang yang sang kakak terima. Ini sepenuhnya hanya penjelasan.
"TIDAK! Itu masih tidak masuk akal! Jangan coba-coba menjerumuskan putriku!" amuk ayah Meng.
Sedang Meng Pei Yun sendiri sudah gemetaran di atas panggung eksekusi dengan wajah yang sudah seputih kapas. Tampaknya dia masih tidak bisa kembali ke kesadarannya, dia masih berpikir dia berhalusinasi saat dirinya sudah terekspos.
Adu mulut masih berlangsung hingga tiba-tiba salah seorang yang tidak diharapkan angkat bicara.
"Saya bisa bersaksi!"
apakah sudah puas cayang2ku?
kalo belum. tunggu eps berikutnya ya....
__ADS_1
salam cinta dari author lele πππ