
Langit sore mulai berganti dan itu bertepatan dengan langkah kuda yang berhenti tepat di gerbang besar, yakni gerbang istana.
Gerbang itu menjulang tinggi layaknya benteng, di sekeliling luarnya terdapat tumbuhan rumput api liar. Sepertinya tumbuhan khas negara api yang sekaligus menjadi perisai ampuh untuk digunakan sebagai pelindung.
Di pandangi gerbang besar yang tertutup itu dengan 4 penjaga di depannya. Bisa ia lihat kalau gerbang istana saja amat di jaga ketat. Tapi, dia bukanlah orang yang ingin ambil pusing juga tak ingin bertele-tele.
Tanpa ingin menuruni kudanya, ia segera berseru lantang.
"Aku ingin bertemu kaisar!"
Empat penjaga itu saling pandang hingga salah satunya membalas. "Siapa kau?! Kaisar bukanlah orang yang bisa sembarangan di temui terlebih dengan orang seperti mu. Pergilah!" usir penjaga itu tanpa mau peduli apakah kedatangan Ryura membawa hal penting atau tidak.
Furby tersinggung mendapati perlakuan tersebut namun tidak dengan Ryura yang biasa-biasa saja. Baginya bertemu atau tidak yang rugi bukanlah dirinya melainkan kaisar sendiri karena telah lalai melindungi wilayah kekuasaannya.
"Memuakkan!" desis Furby dalam telepatinya.
Tak lama setelah pengusiran itu yang mana tak membuat Ryura beranjak dari tempatnya, saat itulah malam datang dan cahaya bulan pun menyusul menerpa bumi. Tubuh gagah Furby mulai mengeluarkan kilaunya. Tentu hal itu mengejutkan para penjaga.
Sebagai bagian dari penghuni istana tentu mereka tahu hewan jenis apa kuda di depan mereka saat ini. Hasil dari mendengar dan bergosip membuat ilmu mereka bertambah begitu juga dengan kebodohan mereka, karena asal telan semua informasi yang di dengar.
"I..i..itu... Apa itu k..kuda b..bulan?!" salah satunya berucap tergagap.
"Bagaimana bisa ada di sini?!" tutur yang lain.
"Hei! Tunggu apa lagi! Cepat beritahu Kasim kaisar!" katanya denagn keras.
Tapi sepertinya mereka telah membuat Furby kesal bukan main. Tanpa mau peduli lagi akan keempat penjaga itu, langsung saja ia meringkik kemudian melaju menerobos gerbang yang baru saja di buka hingga penjaga yang hendak masuk terpental akibat dorongan kekuatan yang di miliki Furby.
*Klotak!
Klotak!
Klotak*!
Tanpa pemandu dan tanpa petunjuk arah, Furby mengikuti instingnya melaju ke sebuah kediaman yang dapat ia rasakan aura seorang pemimpin berada di dalamnya.
Zreett...
Rem mendadak pada kakinya cukup terlihat berkesan. Ryura yang menungganginya tak berkutik sedikit pun. Mereka bagaikan kesatria berkuda yang luar biasa serasi.
Kedatangan mereka menarik perhatian banyak orang di istana. Bahkan seseorang berpakaian Kasim tampak tergopoh-gopoh berlari ke arahnya.
"Ada apa ini? Anda siapa? Ada urusan apa anda dengan lancangnya masuk ke istana sampai ke kediaman kaisar? Tidakkah anda tahu tata krama?" pertanyaan beruntun di lontarkan dengan perasaan tak senang.
"Aku ingin bertemu kaisar!" ulangnya persis seperti sebelumnya.
__ADS_1
Belum sempat Kasim itu menjawab, suara seorang wanita menggema bersamaan dengan langkah kakinya.
"Ada apa ini? Kenapa membuat keributan di depan kediaman yang mulia? Apa kalian bosan hidup?" ucapnya marah, lalu tak sengaja matanya menangkap sesosok perempuan sebayanya yang masih saja duduk tenang di atas kuda hitam gagahnya. Ia sempat terkejut ketika tahu itu bukan sembarang kuda. "Maaf, nona. Anda siapa? Dan ada keperluan apa sampai berapa di depan kediaman yang mulia kaisar?" tanyanya sopan namun sinis.
Sejak wanita itu muncul, Ryura sudah memperhatikan nya bahkan saat wanita itu melontarkan pertanyaannya, Ryura sadar nadanya tak sedap di dengar. Maka dari itu, ia hanya acuh dan langsung mengalihkan pandangannya kembali ke pintu kayu kediaman kaisar.
"Perempuan ini..." batin wanita yang berkata sinis tadi menggeram marah ketika merasa di abaikan.
"Lancang sekali kau ini!" seru marah seorang pelayan wanita yang berada di samping wanita tadi yang tak lain adalah Gong Dahye -selir agung-, kini pelayannya yang marah saat melihat bagaimana Ryura bersikap tak sopan pada seorang selir agung kaisar. "Apa kau tak tahu siapa yang kau abaikan?" lanjutnya teramat kesal. Yang diajak bicara malah baru saja meloncat turun dari kudanya tanpa mau repot-repot peduli pada suara-suara yang tak penting menurutnya.
"PENGAWAL... BERI DIA HUKUMAN, KARENA TELAH BERANI MELAWAN SELIR AGUNG GONG DAHYE!" perintah pelayan itu tanpa ragu dengan lantang dan keras. Dua orang pengawal milik selir agung bergerak maju menuju ke tempat Ryura dan kudanya.
Ryura pun pada akhirnya melirik kearah wanita yang tergolong cantik itu dengan datar. Wanita itu hanya diam dalam mode angkuhnya dan membiarkan pelayannya bertindak. Tapi, sebenarnya bukan orangnya yang menjadi alasan Ryura menoleh, melainkan nama yang di sebutkan oleh pelayan wanita itu.
Tepatnya pada marganya, yaitu Gong.
Mendengar marga itu membuatnya teringat akan sahabatnya yang bernama Reychu. Ia ingat dulu saat masih di dunia modern, Reychu selalu bermasalah dengan marga Gong itu. Jadi, ia berpikir apakah marga Gong di jaman ini pun turut bermasalah dengan seorang perempuan bernama Reychu.
Tanpa mau basa-basi dan sejenak mengabaikan tujuan awalnya, ia bertanya. "Dimana Reychu?"
Semua yang mendengarnya terkejut bukan main, bahkan dua pengawal yang hendak ke arahnya jadi berhenti. Tak percaya gadis biasa seperti dia dengan wajah tak berekspresi itu bertanya tanpa ragu langsung dengan namanya. Tak takutkah ia pada hukuman yang telah di tetapkan bagi yang lancang terhadap keluarga kerajaan. Bagaimana bisa dengan beraninya menyebut nama permaisuri mereka secara langsung.
"Siapa anda ini? Jangan lancang! Berani sekali anda menyebutkan nama yang mulia permaisuri dengan begitu akrab nya!" sergah Kasim kaisar marah hingga wajahnya memerah.
Ryura yang mendengarnya hanya bergumam. "Permaisuri?!"
Hanya kebisuan yang di dapat. Furby sudah mulai terbiasa akan hal itu. Dia sudah bisa mengendalikan kejengkelan hatinya saat di abaikan oleh teman barunya dari makhluk bernama manusia. Bahkan sebelum sampai ke istana kerajaan Huoli ini di sepanjang jalan kalau bukan Furby yang memulai percakapan, mereka hanya berdiam saja. Tapi, meski begitu Furby tak bisa membohongi perasaannya yang sudah terlanjur nyaman bersama Ryura si gadis tak ber-emosi itu.
Diamnya Ryura sungguh membuat gondok yang menjadi lawan bicaranya. Baru kali ini mereka bertemu dengan orang yang lebih cocok bila tak di anggap orang melainkan patung. Saat hendak kembali memarahinya suara tegas dan dingin seseorang mengalihkan eksistensi semua yang ada di sana termasuk Ryura namun sesaat kemudian mereka semua menunduk hormat, kecuali Ryura.
Furby bisa saja di hitung bila orang-orang tahu kalau ia bisa bersikap layaknya manusia.
"Ada apa ini?"
"Yang mulia!" sentak penghuni istana terkejut melihat kedatangan kaisar mereka yang pastinya datang karena terganggu atas keributan yang terjadi di depan kediamannya.
"SALAM HORMAT KAMI KEPADA YANG MULIA KAISAR LI HANZUE! SEMOGA SELALU DI BERKATI!" salam mereka serempak, hanya Ryura yang diam seraya menatap tanpa ragu pria tinggi tegap di depannya.
Bukan berarti keberanian Ryura dalam artian lancang, tetapi karena ia memang tak menganggap siapapun penting. Jangan kan kaisar, presiden di kehidupan dulu saja untuk sekadar memberi senyumnya, ia tak ada niatan.
Kaisar Li Hanzue menatap dingin satu-satunya orang yang berani memandangnya.
"Siapa kau dan apa tujuan mu kemari?" tanyanya dingin dengan aura yang mencekam menguar di sekitarnya hingga siapa saja dapat merasakannya kecuali Ryura, tentunya.
Melihat gadis di depannya tak bereaksi sedikitpun membuatnya heran sampai dahinya mengernyit samar.
"Surat dari desa Danpyo!" jawabnya singkat dengan nada biasa tanpa terpengaruh oleh nada dingin pria tamapn di depannya, bahkan ia dengan santai menatap langsung wajah tampan yang menggiurkan kaum hawa itu. Tapi, sekali lagi...
__ADS_1
Tidak untuk Ryura!
"Desa Danpyo?!" ulang kaisar mulai bingung saat nama salah satu desa di bawah kekuasaannya di sebut. "Berikan padaku suratnya!" pintanya tegas yang lebih terdengar perintah yang tak terbantahkan.
Ryura mengeluarkan surat yang ia simpan di kantung pada lengannya. Namun tak langsung memberinya pada sang kaisar.
"Jawab aku! Dimana Reychu?" tanyanya langsung ke intinya membuat yang mendengarnya tahu kalau saat ini ia tengah melakukan barter informasi. Yang lainnya terkejut bukan main bahkan kaisar sendiri pun terkejut mendengarnya.
Ini pertama baginya di perlakukan demikian. Marah? Tentu saja.
"Apa maksudmu? Kau datang ingin pertukar informasi denganku? Kau tahu siapa aku?" desis kaisar dingin mencoba menahan amarahnya yang semakin memuncak.
"Hanya membawa pesan tanpa ada niat bertukar informasi dan yang ku dengar kau adalah seorang kaisar." jawabnya santai, pada bawahan menelan salivanya susah payah seraya berdoa agar kaisar tidak marah hingga terjadi pertumpahan darah di depan kediamannya.
"Dari yang kau dengar?!" ulang sang kaisar dengan nada tersinggungnya.
"Yang mulia..." panggilan selirnya terpotong saat kaisar memberi isyarat untuk diam.
"Lalu, dari mana kau punya nyali mempertanyakan keberadaan permaisuri ku untuk kau tukarkan dengan kabar dari desa Danpyo?" tanya kaisar lagi dengan nafasnya yang mulai tak stabil lantaran berusaha untuk tidak mengeluarkan amarahnya di saat seperti ini.
"Jawab pertanyaan ku. Kau dapatkan suratnya!" final Ryura tak ingin repot tanpa mau peduli kalau orang-orang di sekitarnya tersedak ludah sendiri akibat sikapnya yang terlampau berani.
"KAU...!" menatap tajam sepasang bola mata Ryura yang sama sekali tak terpengaruh. Akal sehatnya menyadarkannya untuk tidak membuang-buang waktu, karena kabar dari desa kecil di negerinya lebih penting dari pada menanggapi secuil rakyat tak tahu diri seperti gadis di depannya.
Menghela nafas agar tenang. "Ku ampuni kau hanya untuk kali ini! Ahn Reychu adalah permaisuri kerajaan Huoli. Dia sedang aku hukum di istana dingin. Tak ada yang boleh menemui nya. Dan kau yang aku tidak tahu darimana kau mengenalnya, ku rasa informasi yang ku berikan cukup untuk mu!" tegasnya masih terdengar nada tak sukanya.
Di rasa yang di inginkan telah ia dapatkan, segera saja ia menyodorkan surat yang ada di tangannya ke arah kaisar.
Tanpa salam hormat dan tanpa basa basi Ryura berbalik, berjalan kearah Furby dan langsung menaikinya. Kaisar yang melihat kuda itu baru menyadari keberadaannya hingga ia terkejut bukan main. Tentu saja, terkejut. Yang dilihatnya saat ini adalah kuda bulan. Kuda langka yang terkenal ajaib dan istimewa luar dalamnya. Terlebih sekarang ini ia juga dapat melihat langsung kilauan yang keluar dari tubuhnya akibat di terpa sinar bulan purnama malam ini.
Otaknya pun mulai di penuhi tanda tanya akan, siapakah gadis itu?! Darimana asalnya?! Dan bagaimana bisa ia menjinakkan seekor kuda liar apalagi itu adalah kuda yang banyak di incar para bangsawan di seluruh belahan dunia?! Serta apa hubungannya dengan permaisuri nya?! Sepertinya akan ia urus itu nanti.
*Klotak!
Klotak!
Klotak*!
Suara kaki kuda itu kembali menyadarkannya ke alam nyata. Dengan selir agung di sampingnya yang mulai mengelus lembut lengan atasnya seolah mencoba menenangkannya.
Padahal, pada kenyataannya Gong Dahye tengah berpikir keras mengenai siapa gadis tadi dan apa hubungannya dengan Permaisuri Ahn Reychu? Tapi, jawaban kosong itu hanya bisa ia telan mentah-mentah saat ini. Mungkin nanti ia akan meminta suruhannya untuk menyelidiki lebih lanjut.
Kediaman kaisar Li Hanzue.
__ADS_1