
Tibalah dua mobil dengan warna berbeda didepan sebuah rumah megah yang masih mempertahankan gaya tradisionalnya. Menurut maps yang mereka ikuti, rumah ini adalah tujuannya.
Tanpa turun dari mobil kedua pemuda itu menurunkan kaca jendela mobil mereka dan segera bertukar kata dari sana.
Ketahuan sekali kalau malas turun dari mobil.
"Menurut mu bagaimana?" tanya Shin Mo Lan meminta pendapat kepada Bai Gikwang mengenai rumah yang mereka tuju saat ini.
Yang ditanya sejenak memandangi rumah megah nan tradisional itu sebelum menjawab. "Harusnya tidak salah. Kita temui saja penjaga gerbangnya dan tanyakan langsung."
Usai berkata demikian, Bai Gikwang lantas membuka pintu dan keluar dari mobil lalu melangkahkan kakinya menuju gerbang rumah yang berdiri di depan mereka saat ini.
Sejak tadi petugas keamanan rumah megah atau satpam dibalik gerbang itu juga sudah mengamati gerak-gerik dua mobil beserta pemiliknya yang tiba-tiba berhenti tepat didepan gerbang rumah majikannya. Ini membuat dia bertanya-tanya.
Sebenarnya, gerangan apa yang mau dua pemuda itu lakukan disini?
Petugas itu hanya menunggu mereka berinisiatif untuk bertanya padanya tanpa melepaskan pandangannya dari keduanya.
"Tunggu!" seru Shin Mo Lan menghentikan langkah Bai Gikwang dan membuat pria berambut merah itu menoleh kearah sahabatnya.
"Ada apa?" tanyanya.
Shin Mo Lan menyusul mendekat dan mulai membahas apa yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
melirik sekilas gerbang rumah mewah didepannya. "Kau tahu apa yang harus di tanyakan? Kita belum mengenal sosok yang ditempati oleh Zi Xian. Bagaimana kalau dia tidak ada disini?"
Mendengar itu Bai Gikwang baru tersadar. "Kau benar." setelahnya keduanya terdiam sesaat sambil berpikir.
Tiba-tiba, keduanya saling melempar pandangan seolah pikiran mereka sejalan.
"Apa tubuh yang kau pakai mengalami masalah sebelum kau menggunakannya?" tanya Bai Gikwang pertama kali. Meski ia tahu jawabannya pasti sama.
Shin Mo Lan hanya menarik salah satu ujung bibirnya dan mengiyakan. "Hm. Tidak salah lagi."
Akhirnya, mereka tahu apa yang harus dilakukan.
"Maka, harus seperti itu." lalu Bai Gikwang berbalik melanjutkan kembali langkahnya kearah penjaga gerbang didepan sana.
Melihat kedua pemuda dengan penampilan yang luar biasa mempesona padahal aura masing-masing orang berbeda, tapi itu justru menjadi pemandangan yang apik.
Penjaga itu sampai melongo sejenak dibuatnya sebelum dia tersadar kembali begitu dua pemuda yang diperhatikannya sejak tadi sudah berdiri dekat dengan posnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda sekalian?" tanya si penjaga sesuai ajaran yang berlaku.
"Ini kediaman keluarga Ye, benar?" tanya Bai Gikwang tanpa mengubah intonasinya yang mendominasi.
Si satpam sampai merinding mendengarnya.
"Benar. Ini kediaman keluarga Ye. Jadi, ada apa ya?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin tahu. Siapa anggota keluarga Ye yang sakit sejauh ini?" Penjaga itu mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan yang menurutnya aneh.
Apa maksudnya pemuda didepannya bertanya begitu? Pikirnya.
"Tapi, kalau boleh saya tau..." kalimatnya dipotong dengan tak sabar oleh Bai Gikwang karena rasanya terlalu bertele-tele.
"Jawab saja!"
Momentum tersebut tak bisa membuat penjaga itu tidak patuh. Alhasil, dengan gemetar dia menjawab. Dalam hati berdoa semoga apa yang dilakukannya saat ini tidak menimbulkan masalah yang akan membuatnya merana.
"I..itu... A..ad..ada... I..itu Tuan Muda Ye Huan yang sakit selama ini. Ti..tidak ada yang lain selain dia." jawabannya benar, karena meski seorang penjaga dia juga tahu banyak mengenai majikannya.
Kedua pemuda itu mengangguk puas mendengarnya. "Dirumah atau dirumah sakit?" kali ini Shin Mo Lan yang bertanya.
"Di...di rumah sakit. Kabarnya beliau sudah bangun sejak beberapa hari yang lalu." jawab si penjaga takut-takut.
Mendengar jawaban tersebut, Bai Gikwang dan Shin Mo Lan saling pandang lalu mengangguk bersama sebelum beranjak pergi tanpa sepatah katapun lagi meninggalkan penjaga yang terbengong sendirian.
Karena keduanya menggunakan mobil terpisah. Alhasil, keduanya berbincang melalui headset bluetooth yang terpasang ditelinga mereka sambil terus melajukan kendaraannya.
"Apa kita sepemikiran?" tanya Bai Gikwang tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya yang dipenuhi kendaraan bermesin.
"Ya. Kau dengar tadi, penjaganya mengatakan kalau Tuan Muda Ye mereka baru saja bangun. Jika, beberapa hari itu dikaitkan dengan kedatangan kita. Tidak perlu diragukan lagi, itu memang dia." jelas Shin Mo Lan hasil dari berpikirnya.
Bai Gikwang menganggapnya sependapat. "Benar. Dan kita hanya bisa membuktikan kebenaran itu dengan datang langsung untuk menemuinya."
"Apa itu?" tanya Bai Gikwang mulai penasaran.
"Kita sama-sama tahu kalau kita bisa ke dunia ini karena masalah pada jiwa pemilik tubuh yang kita sendiri tidak tahu dimana dia sekarang. Mati atau berpindah. Tubuh yang kita tempati sama-sama sakit. Lalu, apakah kita juga dirawat ditempat yang sama. Karena, aku ada dirumah sakit saat sadar dari kecelakaan tersebut." terang Shin Mo Lan mengemukakan pemikirannya.
"Aku juga berada dirumah sakit!"Bai Gikwang tercerahkan pada kemungkinan yang terjadi.
"Rumah sakit yang mana? Aku ada di rumah sakit milik keluarga Shin. Kau tahu, keturunan mereka juga bergerak di bidang medis. Kupikir bukan kebetulan." jelas Shin Mo Lan sambil terus melajukan mobilnya mengikuti laju mobil sahabatnya.
Mendengar itu, kedua alis Bai Gikwang terangkat tanda tersentak agak kaget. "Ini takdir kurasa. Karena, aku juga dirawat disana waktu itu."
"Bagus. Kita langsung saja kesana!" final keduanya dalam mengambil keputusan tersebut tanpa ada keragu-raguan lagi.
Semuanya dilakukan dengan lugas.
Di sebuah kamar VIP rumah sakit, seorang pemuda tampak sedang melatih kekuatan kakinya yang sedikit lagi akan kembali berjalan normal.
Sejujurnya, dia agak kesal dengan kelambatan pemulihan tubuh di zaman modern ini. Jika dibandingkan dengan tubuhnya dulu. Ini termasuk lemah. Tapi, paling tidak kehidupan di dunia tempat istrinya berada jauh lebih damai.
Memikirkan itu, dia mungkin lebih dari siap untuk memiliki banyak anak. Membayangkan Ryura hamil benihnya saja sudah membuat dia merinding begitu bersemangat. Dia pasti akan menjadi orang paling bahagia bisa menghamili Ryura dan memiliki anak bersamanya.
__ADS_1
Huh. Bicara tentang Ryura.
"Kau ada dimana sayang? Aku sangat merindukanmu. Tunggu aku, ya!" gumamnya.
Lama-lama di ruang yang dominan cat putih membuat dia muak juga. Itulah alasan paling cepat untuk mendorong keinginannya agar segera berjalan sambil dalam hati menggerutu pada nasib malang pemilik tubuh.
Setelah beberapa lama belajar berjalan yang tinggal sedikit lagi dia dinyatakan sembuh total, akhirnya Ye Zi Xian mendudukkan dirinya untuk beristirahat.
Entah mengapa, tiba-tiba saja dua wajah sahabatnya melintas dibenaknya. Matanya menyipit tersadar, kalau dia sempat melupakan dua orang terdekatnya itu. Tapi, Ye Zi Xian tidak merasa bersalah meski sejenak melupakan mereka.
Maklum, Ye Zi Xian terlalu senang bisa datang ke dunia dimana istrinya dilahirkan. Dia terlalu antusias dengan hidup Ryura, sehingga yang lainnya terlupakan.
Tapi, tampaknya ikatan batin mereka masih cukup kuat untuk saling mengingatkan tentang kehadiran masing-masing dari mereka.
"Gikwang... Mo Lan... Apa mereka juga berpindah kemari?" pikir Ye Zi Xian berbicara pada dirinya sendiri. "Harusnya iya. Sebab aku ada disini. Mereka juga harus ada bukan?" ujarnya.
Ye Zi Xian merasa terlalu lama di rumah sakit hingga tak punya waktu untuk melihat dunia luar serta sekalian mencari tahu apakah dia sahabatnya juga ikut melintasi waktu?
Saat sedang asyik-asyiknya melamun kan keberadaan sahabat-sahabatnya, pintu didorong terbuka dan pelaku yang membukanya masuk tanpa permisi.
Ceklek!
Bersamaan dengan pintu dibuka, Ye Zi Xian yang peka segera menoleh untuk melihat siapa yang punya nyali untuk menerobos masuk ketempat yang dihuni oleh dirinya.
Kecuali Ryura, tidak ada yang diizinkan lancang.
Alhasil, aura gelap Ye Zi Xian menggelegak.
"Tidakkah kau tahu apa itu sopan santun?!"
Tajam dan dingin sekali nada suaranya hingga diandaikan bila suara mampu membelah seseorang, sudah pasti orang tersebut baru saja mati begitu Ye Zi Xian selesai mengucapkan kalimatnya.
Namun, orang yang menerobos masuk justru menaikkan sudut bibirnya tipis tapi jelas sampai Ye Zi Xian sendiri dapat melihatnya. Seketika, tatapan Ye Zi Xian terpaku pada senyum yang terlihat familiar itu.
Meski wajah tak dia kenali, cara orang asing itu menarik sudut bibirnya tidak mungkin dia tidak mengenalinya dengan baik.
Sejurus kemudian, gelas air mineral dimeja samping ranjang terbang karena dilempar tanpa aba-aba. Beruntungnya, sang target sigap menangkapnya.
Seraya tersenyum miring yang akrab, dia berkata. "Tidak salah lagi. Tidak ada yang seperti dia didunia ini."
Kekehan tak berdaya bercampur geli datang dari arah belakang orang yang pertama masuk. Seketika, Ye Zi Xian mendapati kamar inapnya didatangi oleh dua orang pemuda dengan aura akrab yang mengelilinginya.
Alis Ye Zi Xian segera terangkat.
"Kau harus belajar menghargai pintu, anak muda. Bagaimana kalau kau harus melihat apa yang tidak seharusnya kau lihat begitu kau membuka pintu tanpa izin." nasihat Ye Zi Xian penuh sindiran.
"Hahaha... Maka, akan aku anggap itu seberuntungan." asal orang tersebut menjawab.
"Sudah sangat jelas." jedanya...
__ADS_1
"Gikwang!"