3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
TARGET PERTAMA MENYINGKIRKAN HAMA RUMAH TANGGA


__ADS_3

"Bwahahahaha..."


Semua mata para pengunjung restoran dalam mall memandang ke asal suara tawa yang membahana tanpa tahu malu itu dengan ekspresi penuh protes lantaran merasa terganggu. Akan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena itu area luar dimana setiap pengunjung dapat melihat orang-orang berlalu-lalang di dalam mall.


Para pengunjung juga tak tahu bagaimana lagi harus berkomentar kala melihat bagaimana penampilan pemilik tawa menggelegar itu. Rasa ilfil tak bisa di elak.


Rambut merah kribonya bak bara api yang berkobar dipadu dengan tawa menggelegar. Sempurna sudah.


Kombinasi yang luar biasa unik hingga orang normal tidak akan pernah mau menjadi seperti itu.


"Hentikan, Rey! Kau mengganggu orang lain!" tegur Rayan ikut tidak tahan melihat Reychu masih menertawakan kejadian di Toko HP tadi.


"Hahaha... Susah... Itu tadi lucu sekali... Haha... Hah... Huhu... Hihihi... Astaga... Huh... Kau lihat ekspresinya? Hahaha... Itu benar-benar tamparan yang bagus. Hahaha..." ujar Reychu disela-sela tawanya yang sulit dihentikan.


Rayan menggelengkan kepalanya tak berdaya. Meskipun dia juga turut bahagia telah menampar Jiang Wanxi secara tidak langsung, tapi dia masih waras untuk tidak bertindak berlebihan. Lagipula, ini bukan pertama kali mereka melakukannya. Tapi, ini juga bukan pertama kali Reychu memiliki respon seperti ini.


Gadis gila itu akan selalu tertawa bahagia tiap kali berhasil mengacaukan seseorang yang tidak sedap dipandang.


Sejail-jailnya Rayan, jauh lebih ekstrim Reychu dalam menjaili orang lain.


Gadis gila itu tidak pernah tanggung-tanggung dalam melakukannya dan kasus kali ini masih dianggap ringan.


"Iya, tahu. Tapi, itu sudah bukan masalah lagi. Saat ini kita harus memikirkan bagaimana caranya menyelesaikan masalah kita sebelum upacara pernikahan mu diadakan kurang dari 2 bulan lagi." terang Rayan mengingatkan tujuan ketiganya sebenarnya atau lebih tepatnya pengingat itu ditujukan pada Reychu yang sulit diatur.


Ryura tak perlu dipikirkan, lebih mudah mengatur Ryura daripada Reychu.


Akhirnya Reychu perlahan tenang.


Baru kemudian Rayan bicara lagi. "Jadi, kita mulai dari siapa? Target kita ada Melany Gong, Jiang Wanwan, dan Meng Ruona. Tiga wanita ini harus kita singkirkan agar tidak menjadi benalu dalam rumah tangga kita meskipun kita tahu keberadaan mereka tak akan mengubah perasaan pasangan kita. Tapi, meski tidak berdampak, tetap saja mengganggu. Ini tidak bisa dibiarkan."


"Lalu, apa rencananya? Aku tidak mau ikut berpikir. Kalian saja. Kasihan kepala ku bila terus ku buat berpikir." cetus Reychu dengan menjengkelkannya seperti tak berniat ikut campur padahal dia bisa menjadi paling ganas saat menghadapi lawannya.


Rayan mendengus mendengarnya, dia segera menoleh kearah Ryura yang sedari tadi diam seraya memainkan ponsel barunya.


"Ryu, kau punya ide?" yang ditanya masih dia selama beberapa saat sampai dia mengatakan sesuatu tanpa mengangkat pandangannya dari ponselnya.


"Lihat berita terkini." datarnya nada bicara Ryura kala dia memerintahkan dua sahabatnya untuk segera melihat berita yang kembali heboh saat ini.


"Ada apa?" Rayan masih sempat bertanya meski tangannya tetap bergerak untuk membuka pemberitahuan berita yang cukup heboh itu.

__ADS_1


Sedang Reychu sudah bergerak lebih dulu tepat saat Ryura menyelesaikan kalimatnya.


"Puffttt... Apa-apaan ini?" Reychu nyaris menyemburkan kembali tawanya saat melihat berita yang sedang gempar-gemparnya di laman berita.


Rayan pun tak kalah kaget saat melihat tajuk yang saat ini tengah dibacanya.


"Tuan Muda Shin dan Tuan Muda Ye kedapatan kembali bekerja setelah hanya 4 hari yang lalu dikabarkan menikah mendadak! Ada apakah gerangan?"


"Astaga... Mereka benar-benar tidak bisa melepaskan kesempatan secuil apapun. Hahaha..." Reychu tertawa dan Rayan mendelik kearahnya. Tapi, memilih menatap Ryura dan bertanya.


"Ini bagaimana? Apa mereka tidak punya pekerjaan lain selain mengorek hal-hal sepele seperti ini? Mana dicurigai lagi! Aku tidak terima!" sungut Rayan tak senang karena dia merasa berita tersebut seperti menyiratkan kalau hubungannya dan Shin Mo Lan sedang tidak baik-baik saja sehingga dianggap semuanya diakibatkan dari pernikahan yang mendadak sampai disangka kesalahan.


Rayan tak terima!


Ryura tidak menanggapi protesan Rayan dan langsung menghubungi suaminya.


Tut...


Tut...


Klik!


Sudah pasti Ye Zi Xian cepat tanggap kalau mendapatkan telpon dari sang istri sekalipun dia sangat sibuk seperti saat ini. Jika bertanya bagaimana dia memiliki nomor telepon Ryura, tentu saja setelah tadi Ryura memiliki nomor telepon pribadi dia langsung memberitahu suaminya sehingga Ye Zi Xian pun dengan sigap menyimpan nomor sang istri.


Uh. manisnya...


"Sayang! Sudah mau pulang kah? Kalau iya, mampir kekantor saja biar kita pulang bersama! Okay!" itulah kalimat pertama yang Ye Zi Xian lontarkan saat sang istri menelpon.


Jejak senyum romantis melintas di mata Ryura tanpa disadari dua sahabatnya.


"Baik." apa 'sih yang tidak untuk sang suami.


"Aku cinta kamu, sayang. Aku akan gunakan waktu 2 bulan ini untuk menyelesaikan semua pekerjaan ku sehingga kira benar-benar bisa berbulan madu yang sesungguhnya. Aku sungguh tidak sabar. Apalagi menantikan kehamilan mu. Aku lebih tidak sabar." kalau sudah bersama istri tercinta, Ye Zi Xian berubah menjadi pria cerewet, tapi Ryura senang-senang saja mendengarnya.


Jika diperhatikan lebih seksama, posisi Ye Zi Xian dan Ryura seperti terbalik. Bila kebanyakan istri yang cerewet maka disini suami yang cerewet.


"Hmm... Kita lakukan yang kau inginkan nanti." Ryura sama sekali tidak menyebutkan perihal berita heboh itu, entah apa maksudnya.


Tapi, baik Rayan dan Reychu sama sekali tidak ragu sehingga mereka tidak ikut menghubungi pasangan mereka. Keduanya tahu kalau Ryura sudah memiliki ide dibenaknya.

__ADS_1


Setelah beberapa kata terakhir sebelum dimatikan, Ryura menatap kedua sahabatnya bersamaan lalu berkata. "Kita mulai dari Meng Ruona..."


Rayan dan Reychu saling melirik sebelum mengangguk tanpa banyak bertanya.



Di sebuah ruangan dengan pencahayaan yang remang-remang dengan cahaya paling terang berasal dari lampu kerja yang ada diatas meja tepat didepannya, sedang dibalik meja tersebut tampak seorang pria tengah duduk di kursi kerjanya sambil menatap lembar perlembar kertas yang ada di tangannya seperti sedang membacanya. Dia terlihat serius sekali dengan sesekali keningnya berkerut yang mungkin mengikuti emosi dari kalimat-kalimat yang dibacanya.


Tak berapa lama, lembaran-lembaran kertas itu di hempasan dengan acuh keatas meja kerjanya.


"Tidak ada yang istimewa selain sosoknya yang kaku dan datar tanpa emosi. Ruona ingin aku menghabisinya?!" tanyanya pada kekosongan sebelum seringai muncul disalah satu sudut bibirnya yang sulit diartikan.


"Hehe. Meski tidak istimewa, karena seorang Tuan Muda dari keluarga Ye menikahinya, perempuan itu harus cukup menarik daripada yang lain. Tapi, apa, ya...?" dia sedang memikirkannya. Tapi, disisi lain juga merasa tidak senang karena harus berurusan dengan yang seharusnya tidak dia libatkan.


Pria itu Bo Kang, bukannya tidak tahu seberapa luar biasanya RYUXIAN KINGDOM yang sudah berdiri selama beberapa tahun ini. Dia sendiri bahkan tidak menampik bahwa dia mengidolakan Ye Zi Xian yang menjadi pendiri perusahaan tersebut. Apalagi, saat ini dia juga tengah berusaha untuk dapat menjadi bagian dari RYUXIAN KINGDOM itu.


Jadi, kenapa dia tertarik dengan tawaran Meng Ruona?


Bo Kang tersenyum miring seraya mengelus dagunya dengan sorot mata licik.


"Ruona, Ruona... Aku tidak bohong soal aku yang menyukaimu dulu. Tapi, bukankah itu dulu... Hhheh..." kekehnya dengan bibir tertutup dan menjeda sejenak sambil menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya.


"Kau licik. Kau datang padaku dengan begitu berani hanya untuk seorang pria yang bahkan tidak melirik mu? Kupikir dulu hanya aku yang bodoh, ternyata... Hahaha." gumamnya berbicara sendiri dalam kesendirian di ruangan tersebut.


Menilik dari nada bicaranya, Bo Kang terlihat tersinggung, benarkah? Benar. Bo Kang memang tersinggung. Dia merasa seperti barang yang sudah lama dibuang, namun ternyata masih berguna baru kemudian diambil kembali. Dia pun tidak mengerti apa yang ada di kepala Meng Ruona hingga dia bertindak sampai sejauh ini hanya untuk menyingkirkan istri Ye Zi Xian.


Bo Kang menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


Tidak bisakah Meng Ruona berpikir lebih jauh bahwa dia bahkan tidak akan memiliki kesempatan meskipun istri Ye Zi Xian telah disingkirkan. Karena, inti dari semua ini kembali kepada hati Ye Zi Xian.


Pria itu tidak mencintai Meng Ruona. Jadi, tidak akan ada kemungkinan tersebut.


Seperti dirinya, Bo Kang dulu menyukai Meng Ruona hingga menanggalkan rasa malu demi bisa menggapai cinta sepihaknya. Tapi, Meng Ruona dengan mahirnya menghindarinya seolah-olah dia sudah menolak dengan halus, namun sebenarnya dia menikmati di puja-puja.


Bersyukur Bo Kang bukan tipe pria yang buta setelah jatuh cinta. Hingga disinilah dia sekarang.


Sedang ingin mempermainkan kembali perasaannya dulu kepada Meng Ruona yang akan membuat wanita itu tak bisa berkutik pada akhirnya dan...


Melirik sekilas beberapa lembaran kertas yang dibiarkan berserakan di atas meja dengan tatapan penuh arti. Kertas yang diatasnya terdapat informasi tentang Ryura beserta sebuah foto guna mengenali seperti apa sosoknya. Meskipun sudah banyak gambar wajah Ryura bertebaran di internet sejak hari pernikahan dadakan yang Ye Zi Xian ciptakan.

__ADS_1


Kembali bibirnya mengukir senyum miring, kemudian berkata. "Nyonya Ye, sampai bertemu nanti..."



__ADS_2