3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
MIMPI


__ADS_3


Setelah insiden bertukaran jiwa...


Chuurrr...


Suara air teh mengalir dari dalam teko melalui lubang yang tampak seperti belalai gajah tepat di atas cangkir, memberi izin untuknya mengisi kosongnya cangkir yang berada di bawahnya.


Seorang yang bukan pelayan tengah menuangkan teh ke dalam dua cangkir, dimana yang satunya untuk dirinya sendiri dan satunya tentu untuk seseorang yang duduk di hadapannya, menemaninya bersantai di gazebo kediaman Han.


Pagi itu terasa sejuk namun tak terasa cukup nikmat. Entah apa yang melanda hingga kata sejuk di pagi hari itu justru tak membuat nyaman dan nikmat dikala seseorang mencoba menikmati nya.


"Belum menemukannya?" tanya seorang pria paruh baya sambil mengangkat cangkir teh nya lalu meminumnya. Nada suaranya samar-samar terdengar gelisah, tapi ia cukup mampu menutupi.


Menghela nafas pelan. "Ha..h... Maaf ayah. Wu Shin belum menemukannya. Dia jatuh dari tebing ke dalam danau dan kemungkinan besar tenggelam didalamnya. Tapi, Wu Shin sudah berusaha mencarinya dan juga sudah memerintahkan beberapa orang kita untuk mencarinya. Namun, belum juga menemukan kabar beritanya." jelas pemuda yang menyebut dirinya dengan Wu Shin. Lengkapnya Han Wu Shin kakak tertua Han Ryura.


Sebelumnya ia telah menceritakan yang sebenarnya walau tak menyeluruh. Karena memang benar, kemarin saat insiden terjatuhnya Ryura yang lainnya memilih untuk kembali pulang ke kediaman dan bersikap seperti tak pernah terjadi apa-apa begitu pula dengan nya. Namun, begitu tiba di kediaman Han tanpa Ryura, sang ayah langsung mempertanyakannya.


Terasa aneh dan kaku saat mendapati reaksi demikian dari pria paruh baya yang paling merasa terhina lantaran Ryura adalah darah dagingnya.


Awalnya mereka berpikir itu bentuk kekhawatiran tapi ternyata tidak. Itu hanya bentuk kewaspadaan akan hal-hal yang tidak diinginkan berkaitan dengan keluarga Han itu sendiri. Oleh sebab itu, segeralah Han Wu Shin selaku yang paling tua dari keturunan Tuan Besar kedua Han mengerahkan orangnya untuk segera mencari gadis yang tak lain adalah adiknya. Namun hingga saat ini tak kunjung di temukan.


Tatapannya tajam lurus kedepan dimana hamparan tanaman bunga ditanam di sana. Tak ada yang bisa memahami apa arti tatapan tersebut. Ketenangan tuan besar kedua Han itu sepertinya sedikit terganggu.


"Terus cari dia sampai dapat. Tak peduli berapa lama itu. Aku ingin dia kembali ke rumah ini." tegasnya tajam dan tak terbantahkan dari pria paruh baya yang tak lain adalah ayah Han Ryura, Han Wen Luo.


Kening Wu Shin sedikit mengerut, sesuatu mengusik pikirkannya. "Maaf ayah. Tapi, kenapa ayah ingin Ryura kembali. Bukankah selama ini tidak ada yang mempedulikannya?" akhirnya apa yang mengganggu pikirannya ia keluarkan juga. Ketenangan tak lepas dari sosok pemuda yang satu ini. Walau ia juga tak peduli pada sang adik bungsu, namun ia tak pernah ikut menindasnya. Wu Shin cenderung mengabaikan daripada melibatkan.


Info. Bila, Han Fei Rong bertemperamen buruk maka lain halnya dengan Han Wu Shin yang cenderung tenang.


"Kau benar. Namun, mau bagaimana pun. Dia tetap putri keluarga Han." tatapan matanya berubah kosong menerawang. "Sesuatu telah mengusikku sejak sebulan yang lalu." menoleh kearah putra pertamanya yang masih memandanginya penuh tanya, kemudian kembali menatap kedepan. Ia berpikir, bahwa tak ada salahnya bercerita tentang sesuatu yang berhasil mengusiknya kepada putra pertamanya mengingat dia sudah cukup dewasa.


"Kalau Wu Shin boleh tahu, apa itu ayah..." tanyanya mulai penasaran namun tetap bersikap sopan karena seperti itulah tata Krama yang dia pelajari.


Menenggak lagi sedikit tehnya. "Aku bermimpi, Ryura tidak akan lagi menjadi Ryura. Dia berubah. Dalam mimpiku dia juga mengatakan sesuatu namun aku masih tak mengerti apa maksud dari perkataannya itu." terang Han Wen Luo dengan tak nyaman. Wu Shin menangkap gelagat tersebut.


"Apa yang dia katakan ayah?"


"Dia bilang, 'Batas waktu telah ditetapkan, saat itu tiba semua tak akan lagi sama dan jangan pernah memohon untuk sebuah kesempatan'. Kira-kira seperti itulah perkataannya. Lebih kurangnya aku tidak ingat." jelas Wen Luo mengungkap apa yang pernah ia mimpikan tentang putri bungsunya.


Jujur saja, sejak ia memimpikan hal itu. Ia jadi sering mengawasi Ryura dari jauh. Terus mengamati gerak-gerik nya dan selalu membandingkannya dengan yang ada di mimpi. Namun tak ada sedikitpun kesamaan di antara mereka. Hal tersebut membuatnya lega sekaligus bingung sendiri.

__ADS_1


"Mungkin itu hanya sekedar bunga tidur, ayah. Jangan membebani pikiran ayah dengan sesuatu yang tidak penting. Lagipula itu ayah mimpi sebulan yang lalu 'kan? Bila benar. Mungkin saja saat itu ayah hanya merasa kurang sehat, jadi mengakibatkan ayah bermimpi yang tidak-tidak." tutur Wu Shin mencoba menenangkan Wen Lho agar tak terlalu memikirkan mimpinya yang hanya sekali itu. Walau sebenarnya ia mulai sedikit dilanda kecemasan, entah mengapa...


"Kau benar. Mimpi itu hanya sekali aku alami dan itu tak akan menjadi sesuatu yang besar." lega Wen Luo mendengar penuturan sang putra. Namun jauh di lubuk hatinya tak dapat di pungkiri bila keresahan itu masih ada walau sedikit.


Mereka tak menyadari sesuatu telah menunggu di depan mata. Hanya berpikir dan membenarkan apa yang mereka pikirkan seolah pemikiran itu akan sesuai dengan garis takdir dari sang pencipta.



*Terpampanglah kediaman Han yang terlihat megah dan indah. Mulai dari pintu gerbang sampai keseluruh seluk-beluk kediaman tersebut benar-benar terlihat begitu indah dan berkilau. Tampak seseorang berdiri di tengah-tengah kediaman dengan senyum menawan yang bertahan lama sambil menjelajahi keindahan bangunan dan halaman kediaman tersebut dengan matanya. Kekaguman tampak jelas disana.


Namun, anehnya. Tak ada siapapun disana selain dia seorang.


Sampai tak berselang lama, segalanya yang ada di sekitarnya mulai berubah menjadi redup seolah kehilangan warnanya. Tidak lagi berkilau dan indah. Detik berikutnya, sesuatu yang berwarna merah darah seperti keluar dari setiap titik secara acak. Mulai dari tanah, lantai rumah, dinding kayu, atap, bahkan langit pun turut mengeluarkan warna tersebut layaknya cairan yang merembes ke permukaan kain kering.


Seseorang itu mulai bingung dan gelisah begitu melihat hal tersebut. Ingin bertanya apa yang terjadi namun suaranya seolah tercekat di tenggorokan. Ia mendadak bisu sehingga hanya bisa kelimpungan di tempatnya berada.


Tidak sampai disitu, sesuatu kembali membuatnya meningkatkan kegelisahan menjadi ketakutan.


Dimana asap berwarna abu-abu gelap muncul dan berperan menjadi kabut hingga menghalangi pandangan siapa saja yang mengalami nya.


Bahkan sesuatu yang basah dari bawah kakinya pun mampu mengejutkannya di sela-sela kebingungan nya mendapati asap sebelumnya. Sesuatu yang basah itu rupanya adalah darah yang entah darimana datangnya, padahal di sana hanya ada dia dan dia dalam keadaan baik-baik saja.


Beribu-ribu tanda tanya mulai memenuhi pikirannya, namun tak ada satupun yang bisa ia keluarkan dalam bentuk kata-kata. Sampai pada akhirnya, kedua bola matanya menangkap siluet seseorang dari dalam kabut asap tersebut tampak sedang berjalan kearahnya secara perlahan.


Mata seseorang yang tidak di ketahui laki-laki ataupun perempuan itu terbelalak kaget memandangi sosok Ryura yang terlihat berbeda. Rambut terurai bebas membiarkan angin menghembusnya hingga menari-nari di sekitarnya, Ryura memakai hanfu sederhana tanpa ikat pinggang, ia pun tak memakai alas kaki dan membiarkan kaki serta ujung hanfunya ikut menyapu genangan darah yang entah bagaimana seperti terlihat semakin banyak layaknya memiliki mata air. Tatapan matanya datar dengan ekspresi kosong di wajahnya membuatnya tampak mati namun hidup, tak ada yang tahu apa yang kini tengah ia pikirkan bahkan seseorang itupun tak bisa menebaknya.


Tiba-tiba tubuhnya tersentak dan menegang begitu merasakan sesuatu seolah menumpuk di kakinya secara mendadak hingga membuatnya tak bisa menggerakkannya. Saat ia menunduk untuk melihat, lagi-lagi matanya terbelalak besar. Ia kaget bukan main. Sesak mulai menyerang dadanya, air mata tak dapat lagi di bendung, dengan perasaan yang campur aduk Membuatnya bingung dan frustasi.


Ia mulai menangis meraung-raung namun tak bersuara, berteriak pun sama saja. Ingin menggapai tumpukan yang tak lain adalah tumpukan mayat keturunan keluarga Han yang mengenaskan namun tidak bisa, seperti gerakan nya di batasi. Akhirnya ia pun menyerah dan mulai kembali mendongak dan menatap gadis yang tak lain adalah salah satu anggota keluarga nya juga tengah berdiri beberapa meter didepannya bagai patung, ia tak bergerak sedikitpun. Seperti tak ada rasa iba padanya.


Lama mata mereka saling tatap. Satunya berlinang air mata dengan sorot yang tak bisa di jabarkan betapa kacaunya dia dan seorang lagi yang justru biasa dan terlihat santai juga tenang tanpa terganggu.


Seseorang itu ingin mengucapkan sebuah kalimat namun suaranya sungguh tak mau keluar sampai akhirnya di sekitar mereka benar-benar menjadi se-merah darah. Tak lagi terlihat bangunan rumah disana juga tanah sebagai pijakan mereka. Bahkan tumpukan mayat yang sebelumnya tampak pun turut menghilang. Yang ada hanya warna merah beserta hawa panas yang perlahan mulai terasa membuat seseorang itu bercucuran keringat namun tidak dengan Ryura.


Dia benar-benar bagai patung di tempatnya berdiri.


Selain hawa panas yang tiba-tiba menyerang, api pun mulai terlihat memakan genangan darah tersebut sampai mengakibatkan darah itu mendidih. Sekilas menjadi serupa dengan lava.


Tak sanggup menahan rasa panas, seseorang itu mulai melemparkan tatapan memohon dan memelas, mengharap rasa iba dari sosok Ryura yang tak bergeming dari tempatnya.


Ingin kembali mencoba bersuara namun nyatanya didului oleh Ryura. Ia berkata yang mana malah menambah perasaan kacau pada diri seseorang tersebut.

__ADS_1


"Jangan berpikir kalian bisa lolos dariku." mata itu menyorot dingin. "Aku tidak suka ketenangan ku di usik dan aku sudah pernah katakan itu, tapi sepertinya kalian justru sangat menyukai segala sesuatu yang bertujuan untuk mengacaukan hidup ku. Maka..." jedanya.


Menarik seringai tipis namun menakutkan. "Aku tidak akan sungkan lagi dan juga... Batas waktu telah ditetapkan, saat itu tiba semua tak akan lagi sama dan jangan pernah memohon untuk sebuah kesempatan. Karena aku tak cukup baik untuk memberi kalian kesempatan kedua."


Usai kalimat panjang itu diucapkan oleh Ryura, disekitar mereka perlahan menggelap dan tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya melayang, kakinya tak lagi merasakan pijakan, dan lagi tubuhnya seperti di tarik kebawah seolah menghempaskannya jatuh ke dalam kegelapan. Ia mencoba menggapai sosok Ryura yang masih berdiri dengan tegapnya seperti tak ikut merasakan apa yang ia tengah alami dan hanya memandangi dirinya dengan datar.


Hingga sosok Ryura perlahan mengecil di matanya dan menghilang*.



Seorang pemuda yang tak lain adalah Han Wu Shin tampak sedang berdiri menghadap keluar jendela kala hari telah berganti malam. Saat di mana ia telah berganti pakaian dengan pakaian tidur nya.


Berdiri tegap dengan kedua tangan diposisikan kebelakang dan saling terpaut yang perlahan tapi pasti, cengkeraman kedua tangannya itu tampak menguat tak lupa rahang kokohnya mengetat hingga terdengar samar-samar giginya yang saling bergesekan. Aura di sekitar pun turun drastis.


Matanya menajam lurus tanpa arah, seperti tengah ditujukan untuk seseorang. Sedang pikirannya berkelana kemana-mana.


"Mimpi itu... Ku pikir hanya aku yang memimpikan nya. Tak ku sangka..." ucapannya berhenti karena ia yang memang tak ingin melanjutkan nya.


Ya, yang kini membuat seorang pria yang terkenal berkepribadian tenang merasa terusik adalah mimpi yang ia alami dalam tidurnya beberapa minggu lalu. Sebelumnya ia sama sekali tak menganggap itu penting, tapi sepertinya kini sudah tidak lagi.


"Feng!" panggilnya kepada seseorang bernama Feng yang langsung muncul entah dari mana begitu namanya dipanggil sang tuan.


"Ya Tuanku!" ia membungkuk hormat dengan salah satu lututnya menyentuh lantai.


"Yang lainnya belum dapat menemukan adik bungsu. Karena itu, kau ku perintahkan untuk menemukannya. Beritahu aku dimana ia berada tanpa melakukan apapun padanya, karena sisanya akan menjadi bagianku." berbalik untuk melihat kearah pria bernama Feng itu. "Itulah tugasmu!" lanjutnya tegas.


Feng mengangguk paham. "Baik, Tuan muda kedua Han. Permisi!" begitu ia mengerti akan tugasnya, ia pun segera berpamitan pergi.


Tinggallah Wu Shin sendirian lagi.



***




Visual Cast untuk Han Wu Shin.


__ADS_1



Han Wu Shin x Han Ryura.


__ADS_2