
Dirumah Rayan dan Shin Mo Lan.
Tampak Rayan membuka pintu kamar dan masuk kedalamnya dengan membawa sepucuk surat yang diyakini sebagai surat undangan oleh Shin Mo Lan yang melihatnya bersamaan dengan dia yang baru saja keluar dari kamar mandi dalam keadaan hanya berhanduk.
Aroma segar setiap usai mandi begitu memanjakan indera penciuman Rayan yang langsung tersenyum manja kearah suaminya.
Rayan pun melangkah mendekat sembari menggoyangkan surat undangan ditangannya. "Coba tebak apa yang aku bawa?"
Melihat sejenak warna amplop undangan tersebut yang hampir seketika dikenali oleh Shin Mo Lan.
"Undangan dari Perjamuan Bunga Kota?"
Mata Rayan terbelalak kagum melihat suaminya ternyata tahu surat apa yang dia pegang.
"Bagaimana kau tahu? Kelihatannya ini dikhususkan untuk perempuan." katanya sembari mengamati surat undangan berwarna khas warna perempuan yang masih tersegel secara bolak-balik.
Cup!
Dikecupnya kening sang istri sebelum dia berjalan masuk ke ruangan khusus pakaian mereka dan sambil berlalu dia menjawab. "Tentu saja aku tahu. Meskipun undangan itu khusus untuk perempuan bukan berarti tidak pernah terdengar. Aku yakin kau juga pasti sudah pernah mendengarnya. Perjamuan ini semacam perkumpulan kaum sosialita. Untuk membuatnya terkesan mewah, setiap tahunnya selalu ada perbaruan hanya untuk membuat perjamuan ini semakin bernilai..." tuturnya sambil mencari pakaian rumahan untuk ia kenakan.
"Iya, sih. Tidak heran, para perempuan kaya itu selalu merasa bangga bila sudah diundang oleh perjamuan itu. Haruskah aku bangga juga." bibir Rayan mencebik tak tertarik.
Shin Mo Lan tersenyum melihatnya. "Kalau begitu tidak usah datang. Lagipula, acara semacam itu lebih mirip membuang-buang waktu. Lebih baik kita gunakan untuk honeymoon." celetuknya sembari menarik sehelai pakaian rumahan yang akan dia kenakan.
Rayan melirik suaminya dengan wajah tersipu-sipu, lalu mendekati suaminya yang hendak memakai pakaiannya. Rayan memeluknya dari belakang dengan manja.
"Aku tentu mau sekali kalau kita pergi honeymoon. Tapi, kalau acara ini aku tolak mulut kotor perempuan-perempuan itu akan mulai berkoar yang ujung-ujungnya akan menimbulkan rumor lain. Ya, meskipun apapun bentuk rumornya sama sekali tidak penting bagi ku. Itu tetap mengganggu. Sebab mereka akan lebih merendahkan ku. Kau kan tahu kalau cap rakyat jelata yang disematkan untuk aku, Reychu, dan Ryura itu sudah mendarah daging di otak mereka. Para kaum sosialita itu akan berpikir kalau kami tidak percaya diri untuk tampil karena merasa rendah. Ouh, my God! Itu jelas tidak mungkin!" tutur Rayan yang lebih ke omelan penuh keluhan.
Shin Mo Lan berbalik setelah mendengarnya dengan Rayan yang enggan melepas pelukannya. Kaos yang masih tersangkut di kedua lengan Shin Mo Lan sama sekali tidak mengganggunya. Malah ia gunakan untuk mengurung istrinya yang enggan melepaskannya. Dikenakan kaosnya hingga kepala Rayan terjebak didalamnya.
__ADS_1
Rayan tentunya tersenyum senang bisa menempel di dada bidang suaminya lebih lama untuk bermanja-manja. Mencium aroma tubuh suaminya yang berbaur dengan aroma sabun, menambah wangi hingga Rayan betah berlama-lama menghirupnya.
Shin Mo Lan berganti memeluk sang istri yang terjebak di dalam kaosnya sambil meletakkan dagunya di puncak kepala Rayan. Padahal Shin Mo Lan masih mengenakan handuk di area bawahnya.
"Wanginya..." gumam Rayan yang membuat Shin Mo Lan terkekeh tanpa suara.
"Lakukan saja sesuka mu. Asalkan, kau bisa menjaga milikku dengan baik." seloroh Shin Mo Lan yang mengundang tawa bahagia Rayan yang paham maksud dari milikku itu.
"Serahkan padaku. Milikmu akan selalu baik-baik saja. Lagipula, ada Reychu dan Ryura. Kita selalu saling melindungi meskipun tak jarang saling menyakiti. Hahaha..." Rayan tak menjelaskan arti menyakiti disini. Itulah mengapa dia menyambungnya dengan tawa.
Tapi, Shin Mo Lan jelas tahu apa maksudnya.
persahabatan istrinya itu memang lain dari yang lain.
Itulah yang Bai Gikwang lihat saat dia memasuki kamar.
"Apa yang kau lihat sampai fokus seperti itu? Sampai kehadiran ku tidak kau lihat." tanyanya sambil melepas jas kantor yang dikenakannya beserta yang lain satu persatu dengan mata menatap bingung kekasihnya.
Tanpa melihat balik, Reychu menjawab. "Aku mendapatkan undangan dari Perjamuan Bunga Kota."
Mendengar itu Bai Gikwang mengangguk. "Oh, lalu apa masalahnya?" tanyanya lagi karena masih aneh dengan kegiatan Reychu saat ini.
Dengan kening berkerut serius, Reychu menjawab. "Aku bingung, kenapa warnanya harus merah muda? Tidak bisakah warna lain? Apa mereka lupa kalau warna bunga itu tidak cuma merah muda. Apalagi namanya Perjamuan Bunga Kota, kenapa tidak semua warna jenis bunga yang ada di kota dipakai? Dasar aneh!"
Bai Gikwang malah berkedip dengan ekspresi berpikir. Lalu, mengangguk kecil dan berkata dengan suara rendah. "Itu masuk akal."
Kembali menatap sang kekasih. "Tapi, itu tidak penting, sayang. Yang penting adalah isinya. Itu undangan, bukan? Pikirkan saja apakah kau mau menghadirinya atau tidak."
__ADS_1
Bai Gikwang bergerak mengumpulkan semua pakaiannya untuk di masukkan kedalam keranjang pakaian kotor. Kini pria itu hanya menggunakan handuk.
Mendengar itu senyum khas Reychu terbentuk. "Kalau itu, sudah jelas... Bagaimana bisa aku melewatkan kesempatan untuk melihat wanita-wanita bertopeng itu. Ajang sosialita ini bisa menjadi salah satu hiburan bagiku untuk melihat wajah-wajah yang berbeda satu sama lain namun ingin dipandang sama. Yaitu, ingin dipandang sama-sama cantik. Lucunya..."
Bertopeng yang Reychu maksud adalah bermake-up tebal dan menor.
"Tapi, apa jadinya kalau kedatangan ku menghancurkan fantasi mereka tentang kecantikan. Hohoho... Belum lagi Rayan dan Ryura. Topeng mereka akan hancur seketika itu juga. Wahahaha..." otak Reychu sudah membayangkannya.
Bai Gikwang hanya tersenyum lucu mendengarnya sembari menghampiri Reychu dan duduk di tepi ranjang. Menggunakan tangannya yang kekar dan panjang guna meraih Reychu untuk ia peluk.
"Berikan aku pelukan." dan dengan senang hati Reychu menyambutnya.
"Apa istrinya Ye Zi Xian sudah membahas hal ini?" Bai Gikwang merujuk pada kemampuan misteriusnya Ryura yang sampai detik ini tak memiliki kejelasan yang logis.
"Oh. Untung kau bertanya. Hmm... Kupikir sudah, soalnya saat video call beberapa waktu lalu Ryura memang menyinggung sesuatu tapi tidak secara spesifik. Kau tahukan, ucapannya selalu penuh teka-teki. Dia hanya bilang, kalau tempat bermainku dan Rayan nanti akan sangat menyenangkan ku. Dia juga bilang kalau segalanya akan dia urus dan sisanya kami berdua yang mainkan. Sepertinya, itu ada hubungannya dengan Perjamuan ini." jelas Reychu sambil memainkan pusar kekasihnya dengan jari telunjuknya.
Hal itu sukses menganggu ketenangan Bai Gikwang tentunya. Tapi, dia tak kuasa menahan Reychu. Selain karena itu adalah Reychu yang melakukannya, dia pun suka diperlakukan seperti apapun itu oleh Reychu.
Keduanya itu... Begitulah...
"Ya, apapun itu terserah kalian saja. Tapi, pastikan untuk selalu baik-baik saja. Terutama untuk mu, sayang. Ingat! Usai perjamuan adalah hari pernikahan kita. Aku tak ingin sesuatu terjadi padamu yang akan mengganggu acara kita. Aku ingin segera mengikatmu, jadi baik-baik lah. Oke?!" pinta Bai Gikwang penuh harap sambil mengeratkan pelukannya dibarengi dengan kecupan-kecupan kecil di puncak kepala Reychu. Dia tak sanggup kalau harus menunggu lebih lama lagi.
Di masa kuno dia sudah gagal mengikat kekasihnya, di masa ini dia tak mau gagal lagi.
"Hahaha... Baiklah, baiklah..." senang saja Reychu tanpa tahu seberapa frustrasinya Bai Gikwang menahan diri selama ini.
Dalam dua kehidupan, Bai Gikwang menahannya dengan susah payah.
__ADS_1