3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
BERSITEGANG


__ADS_3

Hari telah berganti siang. Reychu pun memilih kembali ke kediamannya dan berencana untuk tidur siang. Ia juga rindu Chi-chi. Sengaja tidak di bawa agar tidak menganggu acara rapat tadi. Rencananya sore ini ia akan pergi mengunjungi kedua sahabatnya beserta yang lain. Sekaligus ia ingin meminta sahabatnya untuk segera menuntaskan masalah mereka agar bisa ikut bersamanya tinggal di istana kerajaan Huoli.


Itu ia lakukan hanya untuk sekadar mengajak sahabatnya menonton drama romantis klasik cinta segitiga nya penguasa negara api. Tentu dengan dia sebagai salah satu tokoh utama wanitanya. Pasti menyenangkan, pikirnya.


Setibanya di kediaman tulip dan hendak memasuki kamarnya, suara seseorang yang paling malas untuk ia temui terdengar dari arah belakangnya. Dengan berat hati ia pun berbalik dan lihat siapa yang datang...


"Permaisuri Ahn Reychu, kita harus bicara!" itu bukanlah permintaan melainkan perintah. Reychu mendengus karenanya. Pria tampan berkedudukan paling tinggi di negara api itu bisa-bisanya menggunakan kekuasaannya hanya untuk membuatnya membuang waktu santainya agar mau berbincang dengan pria itu.


Ia bisa saja membangkang, tapi ia masih ingat dunia sekarang ia tempati adalah dunia yang jauh dari keadilan dalam ber-hak asasi manusia atau dengan kata lain ia bisa saja mati hanya karena menyinggung seorang kaisar sang penguasa negara yang ia tinggal di dalamnya. Walaupun bisa saja ia melawan dengan kemampuan yang dimiliki olehnya, akan tetapi ia tidak ingin menjadikan dirinya buronan.


Dia hanya ingin terlepas dari statusnya untuk bebas. Bukan bebas untuk di buron. Jelas tak mau, yang benar saja!


Benar-benar merepotkan! Reychu jadi mengingat Ryura yang tak peduli pada apapun!


Enaknya jadi Ryura...


"Wow! Lihat siapa yang datang?! Selama 3 tahun pernikahan kau baru mau menginjakkan kakimu ketempatku sekarang ini. Menakjubkan! "sindir Reychu lantang. "Coba ku tanya... Ada apa gerangan anda datang mengunjungi kediaman permaisuri ini, yang mulia kaisar Li Hanzue?" lanjutnya penuh penekanan yang meledek tanpa mengubah cara pandangnya yang mengejek itu.


Kaisar hanya bisa menghela nafasnya yang tiba-tiba terasa berat. Dadanya menjadi sesak. Ada rasa sakit didalam sana mendapati tak ada sambutan hangat seperti dulu. Dimana gadis itu selalu bisa tersenyum manis penuh cinta di setiap ada kesempatan untuk bertemu dengannya, meski tak pernah mendapatkan balasan yang serupa.


Kini ia tahu rasanya...


Sakit... Dan merasa bodoh sendiri...


"Masih bisakah aku berharap?! Cintanya lagi?!" lirih sedih batinnya sambil menertawakan dirinya sendiri.


Tak percaya kalau kini dia yang menginginkan cinta dari seorang gadis yang dinikahkan dengannya 3 tahun lalu. Gadis kecil namun memiliki sifat dewasa yang tak pernah ragu untuk menunjukkan betapa besar ia mencintai pria seperti dirinya. Tapi, bodohnya dia malah mencintai gadis yang pertama kali menjadi selirnya hanya karena ia lebih menggoda dan tahu bagaimana memanjakan diri padanya. Padahal bila dibandingkan, permaisuri tentu berkali-kali lipat lebih unggul dari pada selir agung.


Bisakah ia menggunakan kata 'seandainya'?!


Matanya mulai menatap dalam mata indah milik gadis didepannya ini. Mencoba untuk kembali menyelami, kembali berharap masih adanya secercah harapan untuk sebuah kesempatan. Tapi sayangnya, mata itu tak lagi meninggalkan jejak cinta didalamnya. Tak ada setitik pun yang tersisa dari cinta yang selama ini ia lihat dan ia dapatkan. Kini yang tertinggal hanyalah kekosongan yang menciptakan warna baru tanpa adanya warna cinta yang dulunya diukir khusus untuk dirinya.


Mata itu hanya menatapnya sebagai orang asing. Tidak lebih. Orang asing yang berstatus suami.


Dan itu terdengar aneh!


"Tak bisakah kau... menyambutku dengan... Hangat...?!" tanya kaisar Li Hanzue ragu. Tak yakin dengan apa yang ingin ia katakan, tapi tak tahu mengapa malah itu yang keluar dari mulutnya.


Mata Reychu membelalak, gadis itu sendiri juga mulai meragukan pendengarannya. Namun saat melihat bagaimana pria berstatus sebagai suaminya itu mengalihkan pandangannya dan terlihat malu-malu dengan telinga yang memerah. Siapa yang dapat menahannya...


"HAHAHAHAHAHA...!" pecahlah tawanya yang tak bisa ia tahan kala untuk pertama kalinya ia melihat kaisar yang dikenal dingin dan tegas itu tampak malu-malu kucing dihadapannya, padahal ia yakin tidak ada bagian itu yang pernah dilalui permaisuri asli dalam ingatan pemilik tubuh ini.


"Hahaha... Sepertinya ia telah jatuh hati padaku..." katanya membatin dengan percaya dirinya yang tinggi.


Tapi, itu terdengar masuk akal...


Tawanya mampu menyentak kaisar Li Hanzue, membuat pria itu kembali menatapnya.

__ADS_1


Pria itu semakin merasa malu saat mendapat respon seperti itu. Tak menyangka bila ia justru ditertawakan. Tapi, ia tentu tak ingin sampai kehilangan muka di depan gadis yang kini ia kejar kembali cintanya. Masa bodoh dengan rasa malunya, ia tak ingin kehilangan permaisurinya sekarang.


Pria itu memilih diam dan tebal muka saja.


"Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan? Oh astaga... Hahaha...!" Reychu tak bisa mempercayainya begitu saja. Kalaupun percaya, hatinya pun tidak akan dengan mudah bergetar. Itu terdengar konyol untuknya.


"Ada yang salah dengan itu?" tanya kaisar Li Hanzue yang benar-benar memilih tebal muka.


"Hehehe... Salah?! Tidak. Tidak ada yang salah. Hanya terdengar aneh!" kekehnya menjawab. "Kau harus tahu! Ini pertama kalinya aku melihat bagaimana rupa kaisar yang selalu dingin padaku berubah memerah karena malu. Kau tahu?! Itu sangat mengejutkan!" lanjutnya meledek. "Tapi jujur saja, perkataan mu itu sama sekali tidak menyentuh buatku. Itu malah terdengar seperti..." jedanya, lalu di tatapnya dengan tatapan merendah.


"Lelucon!" tekannya.


Mendengar jawaban seperti itu sungguh menyiratkan bahwa Reychu meragukannya atau lebih tepatnya tak percaya sama sekali. Alhasil, wajah malu kaisar yang sebelumnya berganti menjadi serius. Ia merasa perlu menyelesaikan masalah pribadi diantara mereka, karena bagaimanapun kaisar kini sadar. Ia tak bisa melepaskan permaisurinya, apapun yang terjadi.


"Aku suamimu! Terlepas dari status ku yang seorang kaisar aku juga punya hak atas dirimu! Begitupun dengan hatimu! Aku tahu yang kulakukan dulu telah melukai perasaan mu. Tapi, kini aku ingin memperbaikinya. Tidakkah kau melihat keseriusan ku?!" tutur kaisar tulus sampai keningnya berkerut serius. Gadis gila yang kini berperan sebagai permaisuri melihat keseriusan nan tulus tersebut. Tapi, tetap saja. Keseriusan itu tidak mampu mengubah pandangan dan hatinya untuk terbuka.


Senyum lucu terpatri di bibirnya saat melihat raut serius namun memelas disaat bersamaan diwajah kaisar. Ia merasa ini cukup menggelitik namun belum memenuhi syarat untuk membuatnya tertawa.


"Yang mulia! Kau sadar dengan yang kau katakan padaku sekarang ini?!" tanya Reychu ingin tahu.


"Aku sadar! Dan sangat sadar!" lugas kaisar amat yakin.


"Ouh. Baiklah. Tapi, aku juga akan mengatakan ini dengan sadar. Kalau aku sudah tidak lagi menyimpan perasaan apapun untuk dirimu. Semenjak kau membuangku ke istana dingin, sejak saat itu pula, aku tak ingin lagi mencintaimu!" terang Reychu yang sejujurnya ia sendiri merinding geli. Tapi, ia harus berusaha menahan dengan mengingatkan dirinya kalau ia tak akan tinggal lebih lama lagi di istana sebagai permaisuri.


Ya, dia benar-benar ingin segera pergi dari sana!


"Huh! Tidak! Aku yakin kau masih mencintai ku. Aku bisa melihatnya di setiap kesempatan dimana kau melihatku bersama selir agung. Kau selalu memilih berdebat dengan selir agung. Kau cemburu bukan? Jangan membohongi dirimu sendiri, Ahn Reychu!" untuk pertama kalinya ia menyebutkan nama istrinya langsung tanpa embel-embel permaisuri. Bahkan dari kata-katanya, kaisar tampak nyaris frustrasi tiap kali mendengar Reychu berkata sudah tidak lagi mencintainya. Sungguh pada dasarnya ia tak ingin mendengar dan tak ingin itu sampai benar terjadi.


Ia sadar akan kesalahannya dimasa lalu. Tapi, ia ingin kembali egois kali ini untuk bisa menahan permaisuri tetap disisinya. Ia tak ingin posisi permaisuri di tempati oleh perempuan selain Reychu.


"Cih! Apa sekarang dia sedang memaksaku?!" batinnya mulai jengkel kala melihat kaisar bersikap diluar kebiasaannya sebagai seorang kaisar.


Reychu pun mendengus kesal. "Kau yang jangan membohongi dirimu sendiri, Li Hanzue!" geram Reychu hingga ia langsung melupakan tata krama yang biasa dia pertahanan selama menjadi permaisuri.


Lanjutnya. "Buka matamu dan lihat aku! Lihat! Sudah tidak ada lagi cinta untukmu disini!" tunjuknya kedada. "Jangankan perasaan cinta, bayang-bayangnya pun sudah tidak ada lagi! Kau sudah hilang dari hatiku! Hilang! Kau dengar!" lanjutnya penuh penekanan.


"Si*l! Sekali lagi kau memaksa ku mencintaimu, habislah kau!" kesalnya dalam hati sampai ingin rasanya ia mencabik-cabik wajah tampan kaisar.


Kepala kaisar menggeleng, ia tak ingin mendengar hal itu.


"Tidak... Jangan pernah katakan itu lagi... Kau akan tetap menjadi permaisuri ku apapun yang terjadi! Dan jangan berpikir untuk lengser dari posisimu!" menatap tajam Reychu yang dibalas serupa. "Ini perintah!" tekannya kemudian.


Mendengar itu Reychu pun tertawa sarkas. "HAHAHAHAHA... Kau pikir itu akan membuat ku tunduk padamu?! Sayangnya tidak!" bangkang Reychu tak mau kalah.


Kaisar melangkah mendekat hingga nyaris tak menyisakan jarak diantara keduanya. Tatapan dingin namun tersirat obsesi didalamnya beradu dengan tatapan jengkel yang tak ingin di kendalikan memancar jelas di kedua bola mata Reychu.


Keduanya tengah bersitegang.

__ADS_1


"Kau akan menyesalinya bila masih ingin membangkang, permaisuri ku!" ancam kaisar Li Hanzue dengan menggunakan nada rendah dan dalamnya. Ia benar-benar ingin menekankan Reychu dengan kekuasaannya.


Benar-benar...!


Tapi, sayangnya ia masih belum mengetahui kalau hal itu sama sekali tak akan menyurutkan keberanian Reychu. Dia pikir bisa begitu mudah menekan gadis gila yang suka hal-hal diluar akal sehat?! Jawabannya adalah tidak.


"Heh! Aku meragukan itu, yang mulia!" sinisnya merendahkan. "Kau belum mengenal ku selain sebagai perempuan yang begitu mencintaimu di masa lalu. Tapi, mulai sekarang dan selamanya... Aku yang akan menjadi alasan kau menyesal telah berurusan dengan ku!" balasnya lagi dengan nada sama rendah dan dalamnya.


Keduanya kembali saling tatap dengan berani, sama-sama saling menunjukkan seberapa besar pertahanan mereka dalam mengokohkan pendapat masing-masing.


Setelah dirasa cukup, Reychu pun melangkah mundur beberapa langkah dengan pelan namun pasti tanpa mengalihkan matanya dari kaisar yang juga terus menatapnya dalam.


"Ku anggap kita sudah selesai. Bisakah kau pergi sekarang! Aku ingin istirahat! Dengan adanya kau disini hanya akan menggangguku! Dan aku juga menginginkan kau untuk tidak menampakkan wajahmu di hadapan ku lagi... Kau tahu kenapa?! Karena dengan melihatmu itu mengotori mataku dan melihat mu juga itu cukup mampu membangkitkan keinginan ku untuk membunuhmu!" jelas Reychu terang-terangan tanpa rasa takut sedikitpun.


Sedang kaisar memilih mengabaikan apapun yang dikatakan Reychu. Tapi, ia pun merasa tak ingin suasana tegang ini berlanjut karena bagaimanapun ia ingin hubungannya dengan sang permaisuri kembali membaik. Jadi, ia memilih menuruti keinginan Reychu.


Tapi, siapa yang akan menduga kalau ia bisa bergerak cepat sehingga Reychu tak sempat menghindar.


Menghindar dari...


Cup!


Mata Reychu terbelalak tak percaya dengan yang baru saja terjadi padanya.


"Selamat beristirahat, sayang!" usai mengatakan itu kaisar pun pergi dengan gagahnya, meninggalkan Reychu yang mematung akibat terkejut.


Setelah orang yang menjadi pelaku pergi, Reychu segera berceletuk.


"Astaga! Inikah rasanya kening di cium!" sambil menyentuh bagian keningnya yang terkena ciuman. "Kenapa tidak seperti yang orang-orang katakan!" ia mendengus aneh. "Katanya hati perempuan akan menghangat dan berdesir bahagia. Kenapa aku tidak merasakan! Ckckck! Kurasa mereka semua yang mengatakan itu sudah gila! Ciuman model begini dibilang tanda cinta! Cuih!" celotehnya kemudian berjalan masuk ke kamarnya dengan acuh.


Kejadian yang menimpanya membuat ingatan dari kehidupan di masa modern melintas tepat pada bagian dimana ia pernah dengan tak tahu malunya menanyakan perihal 'apa rasanya ciuman?' pada sepasang sejoli yang baru saja ia pergoki sedang bermesraan di tempat sepi, di kawasan kampus.


Kini, ia merasa bodoh karena pernah menanyakan hal itu.



***assalamu'alaikum READERS kesayangan author...


masih ngikutin cerita nya kan yaaa...


semoga kalian masih suka.


author akan berusaha keras menyenangkan pembaca dengan karya author yang sebenarnya masih lah abal-abal ini. maklum pemula! hihihi...


ohya... author buka Q&A buat kalian yang mau nanya2 tentang author atau apa ajalah, kecuali nanya alur ceritanya ya... karena itu jelas gak mungkin author bocorin. hahaha.


ok, kalo gitu next time yaaa...

__ADS_1


μ‚¬λž‘ν•΄....😘😘😘***


__ADS_2