3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
PEDANG SUCI IKATAN SEJATI


__ADS_3

Terkejut!


Mata hitam itu terbelalak lebar kala ia melihat langsung raut wajah kaget penunggangnya untuk pertama kalinya. Matanya sampai berkedip berkali-kali guna memastikan kalau ia tidak salah lihat.


"I..itu... Sungguhan...?!" gumamnya tak percaya. Furby sampai kehabisan kata-kata setelah melihat sesuatu yang langka di depannya.


Ryura, sahabat manusianya sekaligus penunggangnya tampak memandangi sebuah benda panjang yang di bungkus dalam genggamannya dengan binar tak percaya juga bahagia...?!


Kuda bulan itu tak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Sebab, ini adalah kali pertama Ryura menunjukkan ekspresinya. Meski, auranya masih kosong tak terasa. Tapi, raut wajah itu cukup untuk melihat momen langka yang selalu dinantikan oleh orang-orang terdekat Ryura selama ini.


Tanpa sadar, Furby mengucap syukur dalam hatinya sambil terus memandang wajah Ryura yang biasanya tak berekspresi kini bahkan ada binar disana. Sepertinya, sesuatu yang baik dan menggugah minat seorang Ryura muncul.


Dialihkan matanya ke arah benda itu. Walaupun jauh dengan kemampuannya ia tetap bisa melihatnya.


Disana, di tangan Ryura sebuah bungkusan panjang sedang dibuka oleh gadis itu hingga ujungnya terlihat. Dia tak tahu pasti apa itu, sebelum tampak wujud seluruhnya.


Keterpakuan Ryura tak berlangsung lama, ketika ia segera dengan cepat membuka bungkusan itu dan membuangnya. Jadi, tampaklah wujud yang sesungguhnya. Melihat apa yang kini ada di tangan Ryura, Furby pun terkejut hingga menganga dibuatnya.


"I..itu..." pekiknya dalam hati.



Flashback on...


Akhir pekan kali ini, ketiga sahabat itu berencana untuk pergi ke tempat wisata bersejarah. Ada kesamaan dalam hal ini, yaitu kesukaan mereka tentang sejarah. Tapi, bila ditanya apa yang membuat mereka menyukainya, maka jawabannya akan berbeda.


Jalanan kota besar, benar-benar sangat padat. Padahal saat itu jam masih menunjukkan pukul 8 pagi. Ketiganya berniat untuk menjelajahi tempat-tempat bersejarah itu lebih awal. Karena, sudah di pastikan kalau akhir pekan akan selalu dipenuhi dengan lautan manusia yang ingin menikmati masa liburan, dimana selalu ada di setiap minggunya.


Mereka pergi menggunakan mobil. Begitu sampai, mobil yang mereka tumpangi segera diparkirkan di tempat yang telah disediakan. Tanpa mau berlama-lama di tempat parkir, mereka segera keluar dari sana dan bergerak masuk kedalam tempat tujuan mereka.


Meski masih pagi, tapi sudah ada beberapa orang yang datang lebih dulu sebelum mereka.


"Wah... Ku pikir kita sudah datang lebih awal?" celetuk Reychu seraya berkacak pinggang sambil memandangi orang lalu lalang didepannya.


"Jangan berlagak bodoh, Rey! Ini tempat wisata! Kau mau yang dari pagi buta juga ada. Lagipula, tempat ini terbuka untuk umum. Tanpa tiket, kau cukup untuk tidak membuang sampah sembarang." timpal Rayan malas.


Sedang Ryura hanya diam mengikuti. Matanya sempat ia ajak untuk melihat-lihat pemandangan menyejukkan di tempat bersejarah itu. Dapat ia lihat, kalau tempat tersebut benar-benar dijaga dengan baik oleh pemerintah agar tidak terkontaminasi oleh dunia luar. Bahkan sampai dibuat peraturan khusus untuk mendisiplinkan para pengunjung agar tidak merusak keaslian tempat tersebut.


Ia cukup salut dengan perhatian pemerintah terhadap tempat yang penuh kenangan ini.


Dia berjalan tanpa mempedulikan kedua sahabatnya yang terus beradu mulut setiap kali mereka berbicara. Seolah tak ada kesempatan untuk damai dan tenang. Untungnya, Ryura orang yang tidak peduli pada hal-hal yang seperti itu.


Gadis itu lebih memilih memanjakan matanya dengan keindahan alam yang selalu mampu menghipnotisnya dengan mudah. lihatlah, rimbunnya pepohonan dengan daun-daun mereka yang hijau menyegarkan. Saat ia menghirup udara disekitar, ia bisa langsung mencium aroma tanah yang lembab, dedaunan yang basah, dan kesegaran yang tak ada duanya. Cuaca pun turut mendukung keindahan itu.


Saat sedang asyik-asyiknya menikmati pemandangan. Secara tidak sengaja, matanya menemukan seorang pria berpakaian kuno namun tetap rapi tengah duduk di sebuah batu berukuran agak besar di dekat pohon rindang besar yang berdiri kokoh sendirian disana.


Entah dorongan dari mana, kakinya bergerak melangkah mendekati pria tersebut.

__ADS_1


Pria berperawakan kurus, berkulit putih pucat, agak keriput, menggunakan pakaian jenis hanfu pria berwarna putih berpadu dengan biru muda, terdapat corak bambu yang disulam dengan benang perak membuatnya berkilau kala terkena cahaya. Pria itu sedang duduk bersila dalam posisi teratai, tampak seperti sedang bersemedi. Matanya tertutup dengan begitu tenangnya seolah kebisingan tempat wisata bersejarah yang dipenuhi banyak orang itu tak akan bisa mengganggunya.


Sampai Ryura berdiri tepat di depannya sambil terus memandanginya tanpa ragu dan tidak sedikitpun teralihkan. Ia bahkan sama tak pedulinya dengan sekitarnya, tak takut bila ada yang menganggap aneh dirinya karena berdiri diam di depan seorang pria tua.


Ryura sendiri tak tahu apa yang sedang ia lakukan.


Agak lama keduanya terdiam hingga mata yang tertutup itu akhirnya terbuka. Bola mata ungu gelap yang berkilau cerah terlihat oleh Ryura, begitu bening penuh cahaya mengagumkan. Tapi, Ryura tak terlihat menunjukkan tanda-tanda orang yang kagum. Gadis itu lebih ke tak peduli, ia hanya ingin tahu apa yang ia lakukan di depan pria ini. Ingin pergi, namun tak ingin.


Terbukanya mata pria itu langsung bertubrukan tepat di dada Ryura yang terbungkus dengan kaos lengan panjang berwarna krem yang dimasukkan kedalam celana jeans longgarnya yang gantung sebetis.


Bila kebiasaan orang akan menunjukkan raut terkejut, tapi pria itu tidak. Dia justru dengan tenang mendongak perlahan hingga kedua pasang mata itu saling tatap.


Dimata pria itu, ia bisa melihat kekosongan dalam mata Ryura. Hal itu sukses membuat kedua sudut bibirnya terangkat dengan lembut dan ia pun tersenyum kepada Ryura yang sama sekali tak menggubrisnya.


Bibir yang tersenyum itu bergerak untuk bicara. "Akhirnya aku menemukan mu!" serunya dengan nada rendah tersirat sukacita.


Ryura diam tak mengerti. Meski, wajahnya tetap datar.


Tiba-tiba angin ringan berhembus dengan lembut dan menyapu keduanya sampai rambut mereka bergerak bersamaan. Melambai dalam keserasian.


Mengabaikan sikap acuh gadis didepannya, pria itu melanjutkan. "Aku sudah lama menantikan kedatangan mu disini dengan sabar, Cucu." jedanya. "Seseorang yang sesungguhnya memiliki hak atas pusaka ini!" lanjutnya.


Ryura sampai terhenyak saat matanya menangkap benda panjang yang indah dan membuatnya seketika jatuh hati padanya. Melirik sekilas pria yang memegangnya, ia sedikit berpikir tentang dari mana asal benda panjang dengan ukiran indah berwarna putih bersih tak bernoda sedikitpun itu datang. Seingatnya, ia tak melihat ada benda itu di tangan pria tua berpakaian kuno tersebut.


Tapi, bukan urusannya juga. Jadi, segera ia abaikan.


"Pusaka?" ulang Ryura yang tertarik dengan satu kata itu. Matanya berkedip meminta penjelasan.


"Pusaka ini hanya akan memiliki Tuannya di setiap masanya. Tuan yang menjadi pasangan sang pemilik sesungguhnya. Kaulah orangnya!" penjelasan itu malah membuat Ryura semakin bingung.


Pria itu tahu atas kebingungan gadis itu. Tapi, ia juga tak memiliki wewenang untuk menjelaskan lebih dari yang yang sudah ditentukan. Mengabaikan kebingungan Ryura, pria itu kembali melanjutkan...


"Pusaka ini bernama 'Pedang Suci Ikatan Sejati'! Hanya ada dua di muka bumi ini... Keduanya adalah milik satu keturunan!" usai mengatakan itu, kedua tangannya bergerak menyodorkan benda panjang yang tak terduga oleh Ryura adalah sebuah pedang kearahnya.


"Kau ditakdirkan untuk memilikinya!" kata pria itu mengakhiri.


Ryura memandang dalam untuk sejenak. Tak ada yang tahu apa yang ada dipikiran Ryura.


"Aku tidak mengerti. Juga tidak peduli dengan yang kau katakan. Tapi, karena kau berkata ini milikku. Aku tertarik untuk memilikinya." lugas Ryura tanpa ragu mengulurkan tangannya dan mengambil pedang yang bila dilihat dari permukaannya, akan tampak seperti benda panjang biasa layaknya tongkat khusus untuk tunanetra.


Tak hanya ingin melihat permukaannya, Ryura pun bergerak menyentuhnya lebih dan tak menyangka kalau itu bisa membukanya. Bisa ia lihat, mata pedang itu tipis dan kecil dari mata pedang pada umumnya. Yang membuatnya sama hanya panjangnya saja.


Dan yang paling menakjubkan dimata Ryura adalah warna mata pedangnya yang sama putihnya dengan gagang dan sarung pedang itu sendiri. Membuat pedang tersebut lain dari yang lain dan Ryura telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan pedang itu semakin jatuh cinta padanya.


Terlalu terlena dengan mengangumi pedang indah ditangannya, Ryura sampai lupa akan sosok pria tua berpenampilan kuno itu. Saat ingin mengucapkan sesuatu, orang tua itu sudah tidak ada ditempatnya.


Ryura memutar kepalanya guna melihat sekeliling. Matanya menjelajahi setiap sudut yang terjangkau penglihatannya. Namun sayang, orang itu tak ada. Ia menghilang bak hantu.

__ADS_1


Cukup misterius bagi Ryura. Akan tetapi, apa pedulinya. Ia memiliki benda yang indah ditangannya. Benda yang kata orang tua itu adalah sebuah pusaka. Tapi, sekali lagi ia tak peduli benda apa dan dari mana asal usulnya, yang ia tahu ia menyukainya dan ingin memilikinya.


Membayangkan memiliki sebuah pedang ditangannya. Ryura jadi bersemangat untuk menggunakannya saat misi berlangsung. Pasti akan sangat istimewa rasanya. Membayangkan hal itu, Ryura tak bisa menutupi senyum segaris nan tipis dari bibirnya.


Dipandangi sekali lagi pedang itu dengan perasaan baik yang membuncah. Lalu, berbalik pergi untuk menyusul kedua sahabatnya.


Sejak saat itulah, pedang itu sering menemaninya menghadapi lawan-lawannya. Sejak memiliki pedang itu pulalah, Ryura tak terlalu berminat menggunakan pistol ataupun belati layaknya Rayan dan Reychu.


Flashback off...



Meraba permukaan pedang itu dengan kesenangan yang tiada tara. Ia tak menyangka pedang itu ada di sini. Mengingat siapa yang dulu memberikannya pedang itu, membuat ia berpikir kalau pedang tersebut memang berasal dari dunia kuno ini.


Tapi, ia tidak tahu mengapa harus berpindah masa hanya untuk memberikannya pada dirinya. Walau tak urung ia senang karena pedang itu memang diperuntukkan untuknya.


Ke terdiamannya Ryura lenyap saat suara Furby memenuhi otaknya. Ternyata, kuda itu sednag bertelepati dengan dia.


"Ryu... Ryura... I..itu... Pedang... Pedang Suci Ikatan Sejati?! Bagaimana bisa ada pada brengs*k ini?"


"Kau tahu ini?" mengabaikan maksud sesungguhnya dari perkataan Furby, Ryura mengajukan pertanyaannya sendiri perihal pedang yang sedang ia pegang saat ini.


Kepala Furby mengangguk. "Eum. Pusaka yang hanya ada dua di dunia ini. Semua orang tahu bila melihat langsung wujud pedang itu." terangnya singkat melalui telepatinya. "Pedang itu ada penentu jodoh pemilik sesungguhnya!" lanjutnya lagi.


Sebenarnya perkataan itu cukup mengejutkan. Akan tetapi, Ryura tidak terkejut. Entah mengapa!


"Penentu jodoh?" ulang Ryura tenang, namun jelas ia ingin penjelasan lebih.


"Ya, Pedang Suci Ikatan Sejati adalah pedang yang memiliki jiwanya sendiri. Jiwa itulah yang menuntunnya menemukan perempuan mana yang pantas untuk memegang kendali atas dirinya sekaligus menentukan siapa yang akan menjadi pendamping hidup pria yang menjadi pemilik sesungguhnya kedua pedang itu. Singkatnya, dari pedang itulah generasi sang pemilik tidak akan pernah mengalami kesulitan dalam memilih pasangan hidup." binar bangga tak mampu ditutupi oleh Furby kala menjelaskannya.


"Bukankah itu agak memaksa?" celetuk Ryura dengan pertanyaannya. Merasa tak akan ada hal baik bila ditentukan.


Mendengar itu dengan datar Furby mencibir. "Jangan meragukan kesetiaan Keturunan mereka. Mereka memang bangsawan, namun bukan bagian dari Keluarga Kerajaan dan mereka tak pernah ragu dengan pilihan pusaka keluarga mereka. Karena pilihan itu akan membawa mereka pada pilihan yang tepat." dengusnya malas. "Dan aku tidak menyangka kalau pedang itu ada di tanganmu. Kau bisa membukanya kalau kau ingin tahu apakah pedang itu menerimamu atau tidak. Setahu ku, pedang pusaka ini tidak akan pernah bisa dibuka bila bukan pemiliknya." seru Furby ingin tahu. Ia menjadi agak penasaran siapa yang bisa membuka pedang itu dari sarungnya dan bila itu Ryura, dia akan merasa semua ini sangat tidak adil. Pria yang ada di belahan bumi yang lain pasti akan sangat senang seandainya ia tahu betapa istimewanya jodohnya itu.


Ryura tidak menjawab ataupun menuruti rasa penasaran Furby yang ingin tahu apakah ia bisa membuka pedangnya atau tidak. Meski, Ryura sudah memiliki firasat kalau ia sangat bisa membukanya tanpa ragu.


Tapi, di satu sisi. Ia tak menyangka akan mendapatkan jodoh semudah itu hanya karena sebilah pedang...?!



assalamu'alaikum... aku datang lagi...


mohon sabar dan ikuti alurnya yaaa...


ini gak lama lagi kok. 2 ato 3 chapter lagi, kalian udah bisa memasuki kawasan istana untuk menyaksikan Reychu disana.


karena itu, sabar ya sayang...

__ADS_1


wassalamu'alaikum


bai-bai πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


__ADS_2