
Masih menikmati jalan-jalan pagi menjelang siang dibawah tatapan mata yang tidak ada bersahabat-sahabatnya.
Setelah lama berjalan dan mengamati, akhirnya makanan yang dipikirnya belum pernah ia makan pun terlihat jua. Segeralah dihampirinya kios makanan tersebut. Seketika, tatapan melotot yang ia dapatkan.
Wanita tua yang menjadi penjualnya jelas sekali tidak ingin dagangannya dibeli oleh Reychu meskipun dia tergiur dengan uang yang bisa dihasilkan darinya.
Sementara Reychu, gadis itu sama sekali tidak memperhatikan wanita tua itu. Fokusnya hanya ada pada makanan yang ditata di meja kios si penjual.
Tanpa memperdulikan mata keriput wanita tua itu yang siap keluar dari tempatnya kapan saja, Reychu langsung bertanya.
"Berapa ini?" seraya menunjuk sebuah makanan yang berbentuk lonjong, kelihatan padat dan berwarna merah menyala. Tampaknya enak, pikirnya.
Tapi, justru inilah jawaban si wanita tua itu...
"Tidak dijual! Pergi sana! Jangan datang kemari! Aku tidak akan menjualnya padamu!" galak sekali wanita tua itu.
Reychu meliriknya seketika kala dia diusir begitu saja. Tapi, bukannya tersinggung, Reychu malah tertawa aneh. Lalu, berujar yang nyaris merontokkan jantung wanita tua itu.
"Oh, nenek... Kenapa masih bersikeras untuk tidak menjualnya pada ku, hmm...? Kau yakin tidak butuh uang? Diusia mu yang renta ini, tidak baik kalau membuang kesempatan menjadi kaya hanya karena kau tak sudi jualan mu dibeli oleh ku. Itu tidak benar sama sekali. Bagaimana kalau kau mati sebab kelaparan hanya gara-gara kekurangan uang? Siapa yang rugi? Kau juga 'kan? Ckckck..." seolah-olah ikut prihatin Reychu menggelengkan kepalanya dramatis, bahkan Chi-chi ikut menggeleng mengikuti Reychu.
Keduanya malah kelihatan menjengkelkan bila begitu. Hehe!
Wajah wanita tua yang dipanggil nenek itu menghitam. Dia syok juga marah, tapi tak ada yang bisa ia ucapkan sebagai balasannya. Hanya berdiri disana memelototi Reychu dengan lebih ganas seperti siap untuk memakannya.
Reychu sendiri, abai akan hal itu. Dia malah menyomot 5 buah makanan yang menarik perhatiannya itu lalu melemparkan sekeping koin emas dan itu sukses menyadarkan wanita tua tersebut.
Siapa yang tidak kaget. Makanan yang dijualnya, perbuah hanya 3 keping koin perak. Bayangkan saja, 5 buah makanan tersebut dibayar dengan satu keping koin emas yang satu kepingnya sama dengan 1000 keping koin perak? Bukankah itu banyak? Dia benar-benar kaya mendadak.
Ingin segera diambilnya koin tersebut dengan bahagia, tapi masih ada Reychu didepannya dan dia enggan menunjukkan antusiasmenya karena tak mau menjadi bahan lelucon. Apalagi, melihat Reychu yang kini terkekeh geli melihatnya sambil menggigit sedikit demi sedikit kue yang ternyata enak, walau tak seenak kue yang lain. Tapi, masih bisa dimakan lah.
Wanita tua yang melihat tawa meledek Reychu hanya bisa menahan diri dan mengabaikannya. Dia tak mau dipermalukan lebih dari ini.
Tapi, kata-kata Reychu selanjutnya sukses memecahkan pertahanannya.
"Ambillah. Itu uangmu sekarang. Banyak 'kan?! Lihat, betapa baiknya aku membayar lebih untuk kue yang rasanya masih kurang ini. Tapi, tidak masalah. Masih bisa di nikmati."
Prank!
Suara retakan yang berasal dari wajah wanita tua itu yang membeku bak batu rasanya bisa terdengar.
Tak sampai disitu, Reychu menambahkan...
Seraya memandang Kue yang tinggal setengah di tangannya. "Kue ini juga masih bisa di buat enak. Itu uang, bisa kau gunakan untuk membeli bahan yang lebih baik. Jangan ikut-ikutan yang lainnya. Mengikuti mereka kau tak akan mendadak kaya seperti ini. Lagipula, bila kau mati kelaparan, orang yang menghasut mu agar ikut menghinaku juga tak akan memberikan kompensasi apapun padamu. Bisa saja, saat kau jatuh tergeletak dan mati, orang tersebut pun tak tahu juga tak mau tahu. Bukankah itu menyedihkan? Jadi, gunakan hidupmu dengan baik, ya..." tutur Reychu sok bijak.
Ucapannya juga berhasil menusuk hati para pedagang disekelilingnya hingga mereka bungkam dengan malu. Sebab, mereka berada di posisi yang sama dengan wanita tua itu sebelum ini.
__ADS_1
Sama-sama ingin menyiksa Reychu dengan menghinanya, menindasnya, mengabaikannya dan menolaknya. Tapi, mereka bodoh untuk menyadari kalau Reychu tak merasa dirugikan sama sekali.
Merasa tak ada keperluan lagi, dia beranjak pergi untuk melanjutkan jalan-jalannya sambil makan, tentunya.
Kegiatannya membuat dia tak menyadari kalau ada seorang anak kecil berpakaian kelewat biasa berlari kearahnya dengan sengaja dan menabraknya kuat. Tapi, sayangnya yang jatuh bukan Reychu melainkan bocah itu sendiri.
Brugh!
Seketika telapak kecil tangannya yang dijadikan tumpuan karena refleks tubuh terluka akibat terjatuh.
Kelakuan anak laki-laki itu pun menyentak Reychu dan membuatnya menoleh kearah bocah tersebut. Beruntung, kuenya tidak ikut jatuh, pikirnya.
Masih sempat-sempatnya dia...
Mata keduanya beradu. Mata acuh tak acuh Reychu yang memandang heran dan mata merah dan basah bocah itu yang ternyata terselip secuil ketakutan didalamnya yang ditujukan padanya. Tapi, bukan jenis ketakutan yang sepenuhnya disebabkan olehnya, disana juga terdapat ketakutan yang disebabkan oleh keterpaksaan.
Mengamati hal ini, Reychu segera tahu kalau ternyata ada motif dibalik insiden kecil ini. Tak perlu dijelaskan, karena apa yang dipikirkannya sama dengan apa yang terjadi selanjutnya.
"ASTAGA, PUTRAKU!" teriak seorang wanita paruh baya yang diyakini sebagai ibu dari bocah yang masih terduduk di tanah dengan Reychu berdiri santai didepannya tanpa niat membantu sama sekali.
Wanita itu berlari menghampiri putranya guna langsung menyelamatkannya, namun tak lupa pula untuk langsung menyalang kepada Reychu yang geli dengan drama didepannya.
"Dasar perempuan gila! Beraninya kau menyakiti putraku! Lihat! Dia sampai berdarah seperti ini karena mu! Kau pikir kau siapa?! Hanya karena Yang Mulia ada di belakang mu kau berani menindas rakyat biasa! Bernyali sekali kau! Aku tidak mau tahu. Kau harus bertanggung jawab! Perempuan gila seperti mu benar-benar tak tahu diri! Cepat tanggung jawab!" ibu tersebut mengamuk tak jelas dihadapan Reychu dengan ditonton oleh banyak orang.
Dia bertindak begitu berani tanpa rasa malu.
Akankah dia membunuh anak kecil itu?
Menaikkan sebelah alisnya dengan geli. "Kau itu bicara apa? Aku sama sekali tidak mengerti!" kekeh Reychu diakhir kalimat. Geli sendiri melihat kelakuan ibu tersebut.
Bersedekap dada dengan gaya songongnya, lalu bergerak sedikit membungkuk dengan cahaya penindasan dimatanya yang indah.
"Kau bilang aku melukai putramu? Luka yang mana yang kau maksud? Apa yang di telapak tangannya itu?" melirik sekilas tangan bocah itu yang lecet dan sedikit berdarah, itu pasti perih untuk penderita sekecil bocah itu.
Sambungnya. "Kau ingin aku bertanggungjawab atas luka seperti itu? Apa kau bercanda? ... Hahahaha..." tawa Reychu pecah sarat akan ejekan yang tak disamarkan seraya menegakkan punggungnya kembali.
Bahunya bergetar saking kuatnya dia tertawa.
Memiringkan kepalanya dengan ekspresi nakal diwajahnya yang berhasil membuat hati ibu dan anak itu gelisah tanpa sebab.
"Tentu, aku akan bertanggung jawab. Tapi, aku harus melakukan sesuatu dulu agar tanggung jawab ku sempurna."
Seketika, detik berikutnya nafas semua orang dibuat tercekik oleh apa yang Reychu tunjukkan.
Dia mengeluarkan salah satu pedang kembarnya dengan santai tanpa tergesa-gesa. Kemudian, mengarahkan langsung ujung mata pedangnya kedepan wajah ibu dan anak itu.
__ADS_1
Tak bisa mengelak lagi, bahwa bocah laki-laki yang kira-kira berusia 7 tahun itu sudah mati-matian berusaha menahan tangisnya. Terlalu takut kalau-kalau Reychu menggerakkan tangannya dan melukai dia dan ibunya.
Meski baru 7 tahun, bocah itu tahu kalau gadis didepannya ini sudah dijuluki sebagai gadis gila akibat sepak terjangnya selama sebulan lebih di Negara Es ini. Tak hanya dia, teman-teman sebayanya juga tahu siapa itu Reychu.
Bahkan fakta mencengangkannya adalah, seandainya para orang tua tidak melarang keras anak-anak mereka untuk mencontoh Reychu dan menyuruh anak-anak mereka menjauhinya, sebenarnya di lubuk hati para anak-anak tersebut Reychu adalah idola mereka.
Karena, bagi mereka Reychu itu luar biasa keren.
Bocah-bocah itu menyukai keberanian Reychu, menyukai kekonyolan Reychu, menyukai sikap santai Reychu, dan menyukai kegilaan-kegilaan yang Reychu ciptakan. Karena, nyatanya kegilaan tersebut tidak pernah merugikan orang lain kecuali bagi mereka yang membuat ulah dengannya.
"A..aapp...apa... Apa yang mau kau lakukan dengan benda itu? Jangan macam-macam?" gagap ibu itu ketakutan.
"Hehe... Kenapa hmm...? Bukankah kau memintaku bertanggung jawab? Ini aku akan melakukannya. Jadi, menurutlah agar semua berjalan lancar." katanya dengan nada main-main. Seru sekali ternyata menakut-nakuti orang lain.
"Menjauh dari kami... Atau kami akan melaporkan ini kepada pihak keamanan!" pekik ibu tersebut mulai panik.
"Laporkan saja. Apa kau pikir aku takut? Menurut mu, kegilaan apa yang belum kulakukan selama tinggal disini? Kupikir masih banyak. Dan bukan sekali dua kali aku dilaporkan. Tapi, memang nasib ku yang beruntung. Aku bisa apa..." nada membanggakan diri milik Reychu selalu tak bisa ditiru oleh siapapun.
Karena, meskipun terdengar sombong pendapat pertama yang lebih dulu muncul di benak semua orang saat mendengar nada itu adalah gila baru setelahnya sombong.
Kegilaan Reychu terlalu mendominasi daripada sifatnya yang lain.
Tiba-tiba, raut menjengkelkan Reychu berubah menjadi dingin hingga sukses membuat siapapun yang melihatnya saat itu tak bisa melawan rasa dingin yang menjalar di punggung mereka.
Tercengang adalah apa yang terlihat di wajah mereka.
"Maka dari itu, katakan pada siapapun yang menyuruh mu. Singkirkan segala macam rencana yang ingin dia lakukan untuk mengenyahkan ku, karena itu tak akan pernah terjadi. Aku... Reychu, tidak dalam posisi bisa di kalahkan dengan permainan anak-anak seperti ini! Dan katakan juga padanya, daripada menggunakan umpan ada baiknya langsung datangi aku. Aku tidak akan ragu untuk menyambut kedatangannya..." ucapnya dengan suara rendah agak berdesis penuh peringatan yang hanya dapat di dengar oleh ibu dan anak itu tanpa menggeser ujung pedangnya yang tampak mengancam nyawa tersebut.
Usai mengatakan itu, Reychu kembali menjadi konyol seperti sebelumnya. Dia tanpa tergesa-gesa menyingkirkan pedangnya untuk kembali ia sembunyikan, kemudian langsung berlalu pergi meninggalkan ibu dan anak itu yang terdiam ketakutan tanpa berpikir, seolah-olah dia tak ada hubungannya dengan apa yang baru saja terjadi.
Orang-orang yang menyaksikan juga turut terdiam bingung. Mempertanyakan, sebenarnya apa yang baru saja terjadi?
Sementara, yang membuat ulah berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi.
terlalu asik, sampe Thor lupa kalo udah ganti tahun. hehehe...
klo begitu biar Thor kasih sepatah dua patah kata.
ehem...
hati ini adalah hari pertama di tahun 2022. Thor mau ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena sudah sudi-kiranya membaca karya Thor yang masih banyak kurangnya ini. terima kasih sekali lagi... dan Thor minta maaf klo masih belum bisa memuaskan kalian dengan karya Thor. Thor cuma bisa mengatakan kalo Thor akan berusaha menjadi lebih baik lagi.
terimakasih atas dukungan kalian semua.
__ADS_1
Thor sayang kaliannn....
❤️❤️❤️❤️😘😘😘😘😘😚😚😚😚😚🥰🥰🥰🥰🥰🥳🥳🥳🥳🥳🥳🎊🎊🎊🎊🎉🎉🎉🎉