
PLAK!
"Dasar bod*h! Mengambil hati pria saja kau tidak bisa! Bukankah sebelumnya kau sudah pernah melakukannya! Kenapa kali ini tidak bisa, hah?!" suara kejam seorang pria paruh baya menggema setelah suara tamparan dari tangannya mengenai pipi wanita muda didepannya.
Wajah merahnya yang gelap serta sorot mata tajam nan menusuk penuh kebencian tak terhalang apapun. Seluruh amarahnya terlihat jelas.
Sementara wanita muda yang menjadi sasaran hanya bisa diam membisu sambil menundukkan kepalanya dengan tangan terkepal dikedua sisi tubuhnya yang berusaha ia sembunyikan.
Pipi putihnya seketika memerah bercapkan telapak tangan besar hasil tamparan barusan.
Dia -Jiang Wanwan- merasa terhina. Dia benci dirugikan seperti ini. Akan tetapi, kebencian yang tumbuh semakin besar dihatinya justru bukan diarahkan pada pria paruh baya yang tak lain adalah ayahnya, melainkan diarahkan ke Rayan selaku gadis yang berhasil merebut Shin Da Ming darinya.
Dia berpikir, bila Rayan tidak muncul ditengah-tengah dia dan Shin Da Ming hal ini tak akan terjadi.
Sebenarnya ini bukan kali pertama dia dimarahi bila apa yang ditugaskan padanya tidak berjalan baik. Hanya saja, baru kali ini dia menerima perlakuan seburuk ini. Jelas saja dia merasa dirugikan dan semua itu ia anggap disebabkan oleh Rayan, seorang gadis yang entah muncul dari mana.
Jiang Wanwan, putri dari keluarga Jiang yang tergolong keluarga terpandang yang memiliki perusahaan farmasi, salah satu perusahaan terbesar di negara itu dari sekian banyak perusahaan farmasi terbesar lainnya.
Faktanya, dia bukanlah putri satu-satunya yang dimiliki keluarga Jiang. Dia masih memiliki adik bahkan sepupu. Akan tetapi dari sekian banyak anak perempuan di keluarga tersebut, bisa dibilang hanya dia yang memiliki banyak kekurangan. Selain dari memiliki fisik yang sedikit lebih unggul dari saudari yang lain.
Mulai dari kecerdasan, kemampuan, bakat, dan beberapa hal lainnnya. Jiang Wanwan kalah jauh dari saudari-saudarinya. Hal inilah yang membuatnya berada diurutan terakhir dalam keluarga sehingga dianggap tidak berguna.
Beruntungnya, dia memiliki paras yang cantik sehingga masih bisa ditoleransikan, juga dulu dia sempat naik level saat Shin Da Ming menyatakan cinta padanya dan menjalin hubungan kemudian. Sayangnya, perhatian yang baru saja dia dapatkan malah membuatnya sombong dan lupa diri. Belum lagi dibawah pengaruh pergaulan lantaran tidak mendapatkan ketenangan dirumah, dia yang awalnya pacar setia berubah menjadi pengkhianat hanya gara-gara dianggap menyedihkan oleh teman-temannya sebab belum pernah melakukan s*x dan lagi teman-teman sering mengejek Shin Da Ming sebagai pria yang tak berguna atau impoten karena tak pernah tergoda oleh kemolekan tubuh perempuan termasuk kekasihnya sendiri.
Padahal, tanpa mereka tahu hal itu disebabkan oleh teguhnya prinsip Shin Da Ming dalam menjaga amanah keluarga untuk tidak bermain-main dalam hal demikian sebelum menikah. Itulah mengapa saat berpacaran Shin Da Ming hanya melakukan paling banyak berpelukan, tidak lebih.
Juga selebihnya dia fokus pada pendidikan dengan tujuan lain agar saat meminang kekasihnya dia dapat dipandang sempurna.
Sayang sekali, penghianatan harus ia terima yang menyebabkan jiwa asli Shin Da Ming mati dan digantikan oleh jiwa yang lain. Jiwa yang hanya memiliki Rayan dihatinya.
Tapi, siapa yang tahu tentang itu selain pasangan sejati itu sendiri.
Mata tajam pria paruh baya itu masih belum mereda. "Huh! Sekarang apa? Kau lihat beritanya! Dia menikah hari ini dan di posting untuk memperlihatkan betapa dia sangat mencintai wanitanya. Kau tahu apa artinya itu?" jedanya sambil menatap dengan begitu menusuk kearah putrinya yang hanya menang fisik tapi tidak dengan yang lain.
Dia pikir dengan mengandalkan fisik cukup untuk putrinya dianggap berguna, paling tidak dia bisa dijadikan tumbal untuk hal-hal tertentu. Tapi, tak pernah terbayangkan bahwa kebodohannya akan mencapai titik ini.
__ADS_1
Dia marah besar nyaris berpikir kalau putri ini bukan anaknya. Itu kalau dia tidak melihat rupanya yang lebih mirip dengan dia. Sudah dibuang sejak lama.
"Kenapa dulu kau menghianatinya, hah?! Bod*oh! Dasar bod*h!" umpatnya sambil menyodok kepala Jiang Wanwan dengan keras.
Wanita itu hanya menerima dengan berat hati.
Dia mengutuk Ayahnya!
Pria itu pikir siapa yang membuat dia menghianatinya? Tentu saja itu tak lepas dari campur tangan pria paruh baya itu sendiri. Kalau bukan karena pria itu yang sering membuatnya menderita untuk hal-hal tertentu, apakah dia akan memilih jalan penghianatan itu?
"Sudah, Ayah. Menghukumnya tak akan mengubah apapun. Lebih baik mencari jalan lain." tiba-tiba suara seorang wanita lainnya menyela kegiatan pria paruh baya itu dengan suara lembutnya yang terdengar pintar.
Jiang Wanwan tersentak karena suara itu. Dia tahu siapa pemiliknya. Ada jejak kebencian terlihat dari bagaimana dia mengepal erat genggaman tangannya.
Mendengar suara yang dikenalnya, seketika amarah Ayah Jiang mereda. Sambil mendengus dengan kekesalan yang tersisa dia berkata. "Kalau kau masih ingin tinggal di keluarga ini, jadilah berguna!" sarkasnya sebelum berbalik kearah pemilik suara tadi.
Melihat wajah cantik seorang wanita yang sedikit lebih muda dari Jiang Wanwan, wajah Ayah Jiang cerah seketika.
"Putriku, kau pulang lebih awal. Apa pekerjaan mu sudah selesai? Kenapa tidak langsung istirahat?" nada pada kata-katanya benar-benar berbeda dari saat dia berbicara dengan Jiang Wanwan. Kali ini penuh cinta kebapakan.
"Tidak apa-apa. Hanya ada yang ketinggalan saja. Jadi, aku pulang untuk mengambilnya." jawabnya sederhana.
"Kenapa tidak meminta pelayan saja yang mengambilnya, jangan menyusahkan mu bolak-balik."
"Bukan apa-apa. Lagipula, pelayan tak akan tahu apa yang harus aku ambil. Ayah Istirahatlah, dari tadi Ayah sudah mengeluarkan banyak emosi. Jangan sampai Ayah terkena darah tinggi." tuturnya dengan sedikit gurauan diakhir.
"Hahaha... Kau ini. Ayah sehat tahu. Tapi, baiklah. Ayah akan mendengarkan kata putri Ayah ini. Kau juga jangan terlalu memaksakan diri dalam bekerja. Perusahaan itu milik Ayah berarti milikmu juga, jadi santai saja."
Dengan senyum penurut, sang putri berkata. "Baik Ayah. Aku akan mendengarkan mu." sekali lagi sang Ayah tertawa sebelum beranjak pergi meninggalkan dua kakak beradik di ruangan tersebut.
Senyum manis penuh kebaikan tadi hilang seketika sembari menyoroti sang kakak yang tampak menyedihkan dengan tatapan kasihan dan... Menghina?
Tap...
Tap...
__ADS_1
Tap...
Langkah kakinya bergerak mendekati Jiang Wanwan.
"Kenapa sulit sekali menuruti keinginan Ayah? Kakak, kau tidak akan seperti ini kalau dari dulu patuh." kata Jiang Wanxi -namanya- dengan nada lembut namun penuh makna. Belum lagi matanya yang berkilat licik.
Mendengar itu, Jiang Wanwan segera melayangkan tatapan permusuhan pada sang adik. "Kau diam saja. Ini bukan urusanmu!"
Senyum meledek muncul usai mendengar perkataan sang kakak. "Bagaimana bisa ini bukan urusan ku. Tahukah kau kakak ku sayang. Tuan Muda kedua Shin juga pria yang aku suka. Awalnya aku ingin berbaik hati untuk membiarkan mu mengambilnya saat tahu kalau dia sangat mencintai mu dulu. Tapi, ketika kau mengkhianatinya. Aku berubah pikiran." ungkapnya dengan gamblang.
Sorot mata Jiang Wanwan semakin tajam dibuatnya dan senyum Jiang Wanxi kian merekah melihatnya.
"Dia milikku! Jangan coba-coba!" masih tak mau mengakui kekalahan dengan Rayan.
"Benarkah?" Jiang Wanxi tertawa renyah penuh ejekan. "Apa kau lupa, siapa yang mencampakkannya dulu? Apalagi sekarang, kau saja tidak bisa menyingkirkan wanita yang muncul entah dari mana. Masih berpikir begitu tidak tahu diri? Tidakkah kau malu?" sekali lagi dia terkekeh geli melihat betapa menyedihkannya sang kakak.
Jiang Wanwan terdiam beberapa saat dengan mata tajamnya, lalu dia berkata dengan nada rendah yang menantang. Entah apa yang dia pikirkan sebelumnya.
"Kalau begitu, kenapa tidak kau coba saja menyingkirkannya sendiri? Kalau kau bisa, pria itu milikmu!" taruhan tersebut mengejutkan Jiang Wanxi.
Matanya menyipit curiga. Mencoba mencari tahu apa yang ingin kakaknya lakukan dengan bertingkah menyerah seperti ini. Padahal sebelumnya dia kukuh mengatakan kalau Tuan Muda kedua Shin adalah miliknya tanpa ragu.
Akan tetapi, tatapan tenang dan datar Jiang Wanwan membuatnya yang pintar ini saja tidak bisa menebak apa yang ingin dia lakukan.
Tapi, sebagai putri keluarga Jiang yang dianggap unggul dia tak takut menerima tantangan misterius seperti ini. Apalagi tantangan dari kakaknya yang bodoh.
"Baik. Kenapa tidak! Ingat apa yang kau katakan. Jadi, jangan berpikir untuk merebutnya kembali dariku saat aku berhasil mendapatkannya."
"Bukan masalah."
Meski Jiang Wanxi masih curiga, dia hanya bisa melangkah maju sekalipun ada banyak jebakan didalamnya. Karena inti dari taruhan ini adalah Shin Da Ming. Siapa yang akan menolak.
Setelahnya, Jiang Wanxi pun berbalik dan berlalu pergi dengan dagu terangkat bangga dan sombong tanpa melihat kilatan licik di mata Jiang Wanwan yang bibirnya menyeringai penuh makna.
"Lakukanlah. Karena, ketika kau berhasil aku yang akan menuai manfaatnya dan jika kau gagal... Kau yang menanggung akibatnya. Sementara aku, hanya akan menyaksikan mu jatuh sejauh-jauhnya!"
__ADS_1