3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
KRITERIA


__ADS_3

Ryura berjalan kaki hingga sampai di gerbang Ibukota Lan-gang. Sesampainya disana, itu sudah sore hari. Tapi, yang tidak disangka oleh Ryura adalah keberadaan Furby yang menantinya kembali.


Bisa ia rasakan kegelisahannya, tanpa sadar Ryura menarik tipis amat tipis sudut bibirnya ke atas hingga orang lain tak dapat melihatnya.


Sedang Furby disana cukup tahu kalau kepekaannya terhadap aura kehidupan seseorang tidak berlaku bila itu di tujukan kepada Ryura. Alhasil, di hanya bisa menajamkan penglihatannya untuk mengawasi secara menyeluruh pada gerbang Ibukota Lan-gang. Dia bahkan sampai lupa kapan terakhir kali dia makan.


Prioritas utamanya adalah Ryura saat ini.


Ryura berjalan kearah Kuda Bulan itu.


Fokus Furby tak goyah sedikitpun dari awal ia memilih menunggu di gerbang itu sampai sekarang. Tapi, malangnya dia tetap juga tak sadar saat Ryura muncul dari atasnya dan langsung menghantam punggungnya.


Bugh!


Furby terkejut bukan main sampai refleks ia mengangkat tinggi-tinggi kedua kaki depannya dan meringkik kuat.


Tapi, Ryura di punggungnya tak bergeming meski Furby sudah bergerak liar lantaran terkejut akibat ulahnya. Sampai tak berselang lama, ekor mata Furby menangkap sosok Ryura yang sedang duduk di punggungnya dengan santai tanpa ada tanda-tanda akan terjatuh, padahal dia sudah bergerak-gerak tak tentu arah hanya agar manusia tak diketahuinya itu -sebelumnya- menyingkir dari punggungnya.


Namun, begitu ia tahu kalau itu adalah Ryura. Furby lekas berhenti bergerak. Meski dadanya naik-turun dengan melankolis tapi tak ayal matanya berkaca-kaca saat ia menoleh lagi untuk melihat dan memastikan kalau tadi itu bukan halusinasinya.


Matanya tak berbohong kalau saat ini ia benar-benar melihat Ryura menungganginya dengan santai tanpa ada tanda-tanda bahwa ia sedang marah padanya.


Ini persis seperti biasanya.


Tapi, detik berikutnya Furby tersadar saat otaknya segera menyuruhnya untuk mengingat kalau sahabat manusianya itu bukanlah manusia biasa yang memiliki emosi.


Dia -Ryura- yang Furby sendiri tidak tahu kapan, ada saat dimana ia akan melihat Ryura berekspresi.


Akan tetapi, untuk saat ini biarkan itu menjadi misteri.


Segera setelahnya, mata kudanya menumpahkan air mata. Ia menangis dengan perasaan sedih juga lega.


Sedih karena sikapnya tempo hari dan lega karena bisa kembali melihat Ryura-nya.


Dia nyaris gila dibuatnya.


"Kau kemana saja, Ryura... Aku takut sekali kau akan pergi meninggalkan aku... Huhuhu..." meweknya tak peduli lagi. Image pun bukan hal utama untuk dipikirkan.


Tapi, siapa sangka kalau Ryura malah berkata demikian sambil memiringkan kepalanya ringan. "Kenapa?"


Adegan menangis Furby terhenti bersamaan dengan dirinya yang terhenyak mendengar satu kata tanya itu. Sambil mengerutkan keningnya Furby menoleh guna melihat Ryura yang masih santai di atas punggungnya.


"Kenapa?! Tentu saja, karena aku ketakutan, Ryura! Tak mungkin kau tidak tahu itu." ungkap Furby dengan tanda tanya besar di kepalanya.


Padahal, ia sangat tahu semampu apa Ryura untuk bisa menembus dinding rahasia seseorang hanya dengan melihatnya. Kini, bisa-bisanya Ryura bertanya kenapa!


Ryura hanya diam sambil terus menatap tepat ke wajah kuda Furby yang tampak sekali kegagahannya meski dalam fitur wajah kuda. Tentu ia tahu itu, hanya saja apa yang membuat Furby sampai memiliki pikiran seperti itu. Itulah yang sebenarnya ingin ditanyakan oleh Ryura.


Ryura merasa Furby terlalu berlebihan dalam menyikapi sikapnya.


Merasa aneh dengan ekspresi Ryura yang meski datar tapi entah mengapa Furby merasa kalau Ryura pada dasarnya tak ada hubungannya dengan keresahan hatinya.


"Ehem. Ryura, kau tidak marah?" tanya Furby pada akhirnya untuk memastikan.


Dan jawaban Ryura dengan isyarat gelengan membuat sudut bibirnya berkedut.


Ia mulai berpikir. "Jadi, beberapa hari ini aku yang menderita sendiri?! Aku membuat resah diriku sendiri, sementara Ryura sebenarnya tak peduli?! Hah?! Aku takut dia marah, aku takut dia meninggalkan ku, aku takut dia membuangku. Tapi, faktanya dia bahkan mengabaikan ku!" telaah Furby memetik kesimpulan dari sikap santai Ryura yang seolah tak pernah berada dalam permasalahan rumit dengannya.


Kini, Furby tak bisa berkata-kata, selain merasa miris sendiri dan hanya mendengarkan kata-kata Ryura selanjutnya.


"Kembali." kata Ryura menginstrupsi.


__ADS_1


Sampainya mereka di penginapan yang disewa Ruobin. Ryura langsung meninggalkan Furby di penitipan kuda tanpa menoleh saat ia bergerak masuk kedalam penginapan tersebut.


Melihat itu Furby jauh lebih lega dalam hatinya. Keacuhan Ryura yang seperti inilah, yang ia kenali dan akrab akan perangainya.


Setelah dipikir-pikir, sepertinya dia terlalu banyak berpikir saat merasa ketakutan Ryura akan marah padanya. Padahal nyatanya, Ryura tak ambil pusing tuduhannya sebelumnya.


Di dalam kamar penginapan, Rayan dan Reychu baru saja memulai makan malam mereka saat tiba-tiba pintu kamar dibuka tanpa permisi.


Reychu yang mendengar suara pintu berdecit pun spontan menoleh dan hendak memaki orang yang tak tahu sopan santun saat datang berkunjung. Tapi, siapa duga kala matanya menangkap ekspresi datar nan acuh yang sudah luar biasa dikenalinya, suaranya langsung tertelan kembali ke perutnya bersamaan dengan sisa sesuap nasi di mulutnya.


Sambil menyipitkan matanya Reychu segera melemparkan sumpit ditangannya dengan akurat kearah orang yang baru saja datang itu.


Hap!


Sebelum ujung sumpit itu menyentuh wajah Ryura, gadis itu sudah menangkapnya lebih dulu dengan gerakan santai namun gesit.


Tak ada perubahan sedikitpun diwajahnya. Ryura masih tenang dan santai seperti biasanya.


Disisi lain, Rayan yang melihat kelakuan Reychu hanya menggelengkan kepalanya merasa sudah biasa. Lalu, kembali melanjutkan makannya.


Tapi, sebelum itu sedikit peringatan diberikan. "Jangan mulai, Rey!"


Sayangnya, bukan Reychu namanya kalau ia patuh.


Reychu malah tertawa kemudian. "Hahahaha... Ini benar-benar nostalgia." sambil mencomot segumpal nasi dari dalam mangkuk menggunakan tangannya langsung, lalu di masukkan ke dalam mulutnya dengan santainya.


Mengabaikan reaksi Rayan yang sudah biasa dia lihat.


"Jorok, Reychu!" jijik Rayan melihat kelakuan sahabatnya itu.


Pada dasarnya, dalam sebagian budaya Asia yang menggunakan sumpit sebagai alat makan memiliki anggapan bahwa menggunakan tangan adalah hal yang tidak dibenarkan. Salah satu alasannya adalah karena merasa itu tindakan yang jorok.


Disini, jelas siapa Reychu.


Ryura berjalan mendekat dengan satu batang sumpit di tangannya. Tanpa permisi, Ryura pun ikut memakan makanan yang tersedia dia atas meja. Dia makan dalam posisi berdiri.


Tak!


Rayan mulai mengomel seraya mengetuk punggung tangan Ryura menggunakan sumpit ditangannya. Dia benar-benar merasa sudah seperti ibu dua anak yang karakternya mampu membunuhnya.


Sayangnya, gerakan Ryura tak terganggu sedikitpun. Gadis itu malah melirik wajah jengkel Rayan dengan acuh dan mengabaikannya.


Mau tidak mau Rayan hanya bisa mendengus melihat tanggapan Ryura atas omelannya.


Tak ingin suasana hatinya memburuk, lantas Rayan mengabaikan kedua sahabatnya dan melanjutkan makannya.


Usai makan, Reychu segera memborbardir Ryura dengan banyak pertanyaan.


"Kau kemana saja, hm? Apa kau tahu? Pak tua itu menggila saat pertama kali tahu kau menghilang. Sebenarnya apa yang kau lakukan diluar sana? Kau tidak sedang melakukan hal ilegal 'kan? Misalnya, seperti membunuh seseorang lalu menjual organ dalamnya untuk mendapatkan uang. Itu bukan hal yang tak mungkin. Dulu kita juga suka mendapatkan job untuk membunuh. Atau kau habis bercinta diluar sana? Tapi, apa ada yang mau denganmu melihat dari wajah mu yang datar itu? Atau jangan-jangan kau malah bersenang-senang sendirian dan tidak mengajak kami? Ryura... Jawab pertanyaan ku..."


Entah apa yang ada didalam isi kepala perempuan berambut pendek sedikit melewati bahu yang satu itu. Bisa-bisanya ia memiliki pertanyaan kreatif dan imajinatif, sampai dengan gamblangnya ia berucap.


Tuk!


Jengah dengan pertanyaan tak masuk akal Reychu, Rayan segera menoyor keningnya dengan sedikit lebih bertenaga hingga menimbulkan bunyi.


"Tutup mulutmu. Sampah apa yang kau makan tadi, hah?! Sejak kapan di dunia ini ada perdagangan organ dalam manusia. Tingkat medisnya bahkan belum sampai ketingkat operasi. Lalu, kemana Ryura akan menjualnya?! Sudah hentikan! Pertanyaan mu tak pernah berbobot!" sungut Rayan sudah biasa tapi masih saja merasa kesal dengan sahabatnya yang satu ini.


Isi kepalanya sama bebas dengan tingkah lakunya.


"Haish. Lihat, mama Rayan sudah marah." ledek Reychu pada akhirnya.


Rayan berdecih sebagai jawabannya.

__ADS_1


"Hei, Ryu. Kau belum menjawab pertanyaan ku!" begitu kalimat Reychu jatuh bersamaan dengan kepalanya menoleh kembali untuk melihat kearah Ryura, di malah dibuat tertegun sampai sudut bibirnya berkedut dengan ekspresi menyedihkan.


Ternyata, Ryura sudah menghilang dari posisinya tadi.


Seolah tahu apa yang akan dilakukan Ryura begitu ia menghilang didepan matanya. Secara naluriah memutar kepalanya untuk melihat ke peraduan dan benar saja, gadis datar itu sudah berbaring diatasnya dengan tenang dan lelap.


Menarik kembali pandangannya kearah Rayan, lalu berseru. "Kapan dia akan melepas gelar hantu hidup-nya? Bisa-bisanya dia bergerak tanpa suara. Kita baru saja berbicara tepat saat dia ada di samping kita..." nadanya terdengar begitu frustrasi.



Di istana, sekelompok orang sudah memenuhi ruang perjamuan makan.


Kaisar Agung Qin selalu menyediakan hal yang sama sempurnanya dengan perjamuan yang sudah-sudah di tahun-tahun sebelumnya.


Hanya saja, bagi Bai Gikwang yang baru pertama kali datang dengan gelar barunya tak bisa menahan rasa malas dan bosannya. Beberapa kali ia mengetuk-ngetukan jarinya di atas pangkuannya sebagai bentuk kesabarannya yang ditahan.


Dia ingat saat tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya. Sebelum ia naik tahta, di setiap kali ia ikut sang ayah Kaisar ke perayaan festival perang di negara Langit, ia selalu punya kesempatan untuk berkeliaran dengan bebas dan menikmati apa yang ia nikmati.


Melanglang bersama pengawal pribadi sekaligus orang kepercayaannya.


Kini, demi formalitas dia terpaksa duduk diam bersama yang lainnya untuk menikmati perjamuan yang di sediakan.


Yang lain tahu akan sikap dingin dan acuhnya, sehingga wajah datarnya tak dapat memprediksi suasana hatinya.


Lamunan Kaisar Agung Bai pecah kala Kaisar Agung Qin mengeluarkan sepenggal kalimatnya.


"Yang Mulia Bai, saya dengar anda belum juga menikah di usia yang sudah terlewat ini. Menurut rumor, anda belum menemukan gadis yang dapat membuat anda tertarik, benarkah itu?" tanyanya masih menjaga wibawanya sebagai seorang pemimpin dan juga orang yang lebih tua, tapi Kaisar Agung Qin tidak juga mengurangi kehati-hatiannya dalam mengungkit persoalan tersebut. Meski tidak ada yang salah dengan itu.


Terlebih dia tak memiliki niatan apapun saat menanyakan pertanyaan tersebut. Hal itu murni sebuah pertanyaan.


Hanya saja, dia tidak sadar kalau pertanyaannya menimbulkan efek tertentu bagi beberapa gadis yang ada disana.


Mengangkat matanya untuk melihat. sejenak diam, lalu menjawab dengan malas. "Benar. Kaisar ini belum menemukan yang disuka. Belum ada yang bisa membuat Kaisar ini tertarik. Tapi, saya pikir... Saya akan mencoba mencarinya di festival nanti."


"Hahaha... Itu bagus. Anda sudah seharusnya memiliki Permaisuri. Apalagi sekarang anda sudah bukan Putra Mahkota lagi. posisi anda membutuhkan seorang pendamping."


Kaisar Agung Bai mengangguk membenarkan meski masih dalam postur malasnya.


"Lalu, kalau boleh saya tahu. Gadis seperti apa yang anda inginkan untuk menjadi Permaisuri anda?" tanya Kaisar Agung Qin pada akhirnya.


Dia sebenarnya tidak begitu penasaran. Hanya saja, melihat perilaku penguasa Kekaisaran Utara yang seperti ini membuat rasa ingin tahunya tumbuh.


Sedikit berpikir, pria dengan karakter liar dan sulit di atasi yang saat ini tampak malas itu akan memiliki kriteria gadis yang seperti apa untuk dijadikan pendampingnya. Itu yang ia ingin diketahuinya.


Siapa yang tahu, kalau ternyata begitu Kaisar Agung Bai mendengar pertanyaan seperti itu. kilau dimatanya berbinar indah. Di angkat tangannya untuk mengusap dagunya dengan gerakan santai.


Tak tahu apa yang sedang ia pikirkan, tapi dia menjawab dengan lebih bersemangat dari sebelumnya.


"Gadis yang bisa membuat hatiku tergerak dalam sekali pandang!"


Nada yang digunakan tidak rendah, tidak juga tinggi. Cukup lugas dan tegas tanpa mengurangi sikap tenang dan wibawanya sedikitpun. Bagi mereka yang jeli dan berpendengaran tajam, sudah seharusnya mereka sadar kalau ada makna tersembunyi didalamnya.


Dan salah satu diantara mereka dalam perjamuan seketika menegang mendengarnya.



Alhamdulillah... kelar juga


sempat macet idenya. jadi baru bisa up ni hari.


semoga kalian suka


jgn lupa buat like vote tips dan komen nya yaaaa...

__ADS_1


selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan tahun 1442 H di hari ke-2...


πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


__ADS_2