
Waktu berlalu tanpa terasa hingga jam menunjuk pukul 1 dini hari. Meski sudah lewat tengah malam suasana Club malam masih hidup dan semarak sampai-sampai bila mereka tidak memiliki jam untuk melihat waktu, dipastikan tak akan ada yang tahu sudah jam berapa saat ini.
Ketiga pria itu masih duduk diam menunggu sambil menyesap wine tanpa mengalihkan pandangannya dari arah tempat dimana 3Ry masuk dan menghilang.
Mereka tidak beranjak sedikitpun bahkan untuk sekedar membantu 3Ry, karena mereka memiliki kepercayaan tinggi atas pujaan hati mereka bahwa para gadis itu mampu sebagaimana mereka mampu di masa lalu.
Tugas mereka saat ini hanya menunggu mereka keluar untuk segera dibawa pulang.
"Menurut mu, berapa lama waktu yang dibutuhkan mereka untuk menyelesaikan misi ini?" tanya Bai Gikwang guna mengisi kekosongan diantara mereka.
"Harusnya cepat. Ini hanya Martin Gong. pria itu tak pernah mengalami masalah besar dalam hidupnya yang lebih buruk dari dibawa ke kantor polisi karena pelecehan terhadap perempuan." tutur Ye Zi Xian cukup tahu.
"Ya. Lagipula, mereka bertiga pasti datang dengan persiapan. Jadi, harus menjadi yang berhasil." timpal Shin Mo Lan setuju.
Percakapan ketiganya tidak lebih dari seputar pujaan hati mereka dan dalam diam, para bawahannya hanya bisa menguping dengan rasa kian penasaran akan sosok pujaan hati Bos mereka.
Tak lama setelah itu, sosok-sosok yang ditunggu pun keluar juga dari lorong tersebut dan berjalan menyelinap disela-sela kerumunan orang yang bersenang-senang sampai-sampai tidak ada yang menyadari kalau para gadis itu sebenarnya membawa bau darah ditubuh mereka atau tepatnya bau darah dari cairan yang sempat terpercik ke pakaian mereka.
Terlihat jelas bila sambil berjalan, tangan-tangan ketiganya juga tak henti-hentinya bergerak untuk mengelap jejak-jejak darah yang menempel menggunakan sapu tangan hingga sapu tangan itu tak dapat dikenali lagi warna aslinya.
Semua gerakan itu hanya ditangkap oleh penglihatan tiga pria tampan tersebut. Sedang yang lain, terlalu asik dengan dunianya sendiri.
Melihat mereka bergerak keluar, para pria pun ikut menyusul sambil menjaga jarak. Sebab, mereka tak bisa terburu-buru menjemput para gadis atau 3Ry akan menganggap mereka gila dan aneh karena memaksa pulang gadis tanpa mengenalnya.
Lagipula, para pria masih ingin melihat kapan dan bagaimana kejadian yang akan membawa jiwa 3Ry kembali ke masa lalu terjadi.
Begitu keluar, ternyata langit tengah menumpahkan hujan walau tidak deras.
Didepan mereka, para gadis tetap santai meski sedang menerobos hujan. Para pria mengikuti dengan bawahan mereka yang siap siaga dari belakang.
Para pria berusia mengurangi jejak kehadiran mereka sebanyak mungkin agar tidak mengejutkan ketiga gadis mereka.
Selama seluruh proses keberangkatan, 3Ry benar-benar tak menyadari kalau mereka dibuntuti dan para pria itu dengan lancar terus mengikuti sambil menjaga jarak.
Saking fokusnya pada para gadis, tak ada diantara para pria itu yang angkat suara. Mereka hanyut dalam keheningan yang hanya ditemani oleh suara hujan dan guntur serta kilatan petir yang menyambar.
Saat mobil dijalankan pun, tiga mobil Jeep terus melaju mengikuti dari belakang mobil 3Ry. Sambil tetap menjaga jarak aman. Bahkan mereka rela untuk tidak menyalakan lampu demi tidak menarik perhatian 3Ry terlalu awal.
Jantung ketiga pria yang berada di mobil masing-masing berdetak sangat kencang persis sama seperti saat mereka memeluk tubuh tak bernyawa 3Ry di kehidupan masa lalu sebelum mereka ikut melintasi waktu dan masuk kedalam tubuh asing yang kini menjadi tubuh mereka.
Dan itu belum seberapa dari pada setelahnya...
Jantung mereka serasa mau lepas saat melihat sendiri petir terakhir yang menyambar mobil 3Ry hingga mobil itu terlonjak dan berbalik terjun ke jurang yang tak jauh dari jalan kecil itu. Segera, para pria berteriak meminta bawahan mereka untuk bergegas mendekat dan berhenti agar para pria lekas menyelamatkan para gadis mereka.
Karena kepanikan Bos-nya, bawahan pun ikut panik sampai nyaris hilang fokus.
Untungnya, mereka masih terkendali.
Setelah mobil dihentikan, satu persatu dari para pria itu keluar dari mobil dan berlari kearah tepi jurang untuk melihat seberapa dalam jatuhnya pujaan hati mereka yang kini berhasil menyesakkan dada mereka karena syok menyaksikan kejadian yang meski sudah diwanti-wanti tetap saja masih mengejutkan bagi para pria yang sebenarnya tak ingin hal buruk itu terjadi.
__ADS_1
Tapi, inilah takdirnya.
Saat melihat kebawah, cahaya dari lampu depan dan belakang mobil masih terlihat jelas yang menandakan jurangnya tidak terlalu dalam. Karena itu, tanpa ragu dimulai dari Ye Zi Xian, Bai Gikwang, disusul Shin Mo Lan langsung turut terjun guna menyelamatkan istri-istri dan kekasih mereka.
Semua itu dilakukan dalam waktu singkat sampai Chang Bin, Lai Zouji, dan Yi Feng tak memiliki kesempatan untuk mencegah Bos mereka melakukan hal berbahaya itu.
"Astaga! Mereka nekat sekali!" takutnya Yi Feng saat kalimat itu ia ucapkan. Punggungnya sampai berkeringat saking takutnya.
"Melihat cinta mereka selama ini. Kurasa ini seharusnya tidak lagi mengherankan." timpal Lai Zouji yang masih bisa berkata dengan tenang walau dalam hati ketakutannya juga belum sirna.
"Pertama kalinya aku melihat cinta seperti itu!" sahut Chang Bin sambil menyalakan senter dari ponselnya disusul yang lain.
Mereka hanya bisa membantu dari atas.
Sementara dibawah, begitu menapakkan kaki ditanah rawan tebing jurang yang bisa saja masih ada celah untuk jatuh lebih dalam, mereka hanya bisa berhati-hati. Mereka masih bisa mengingat kalau ini bukan lagi masa lalu yang mereka bisa menggunakan jurus peringan tubuh untuk menghindari jatuh.
Didunia ini, mereka hanya bisa mengandalkan diri sendiri.
"Mereka harus baik-baik saja." kata Bai Gikwang tak bisa tidak cemas.
Kata-katanya membuat dua lainnya semakin khawatir.
"Mereka pasti akan baik-baik saja." ujar Shin Mo Lan sambil mencoba mencari cara untuk membuka pintu mobil bagian depan samping kemudi atau dengan kata lain tempat dimana Rayan duduki.
Saat ini mobil dalam keadaan menungging dengan posisi agak miring kesisi lain dimana kemudi berada. Alhasil, posisi Ryura lebih memprihatinkan daripada Rayan maupun Reychu, sebab tubuh Ryura tertindih oleh tubuh Rayan. Sedang tubuh Reychu masih terselamatkan karena sebelumnya Reychu bergerak cepat untuk meminimalisir dampak yang mungkin akan ditimbulkan. Namun, karena memang sudah harus terjadi, kepalanya tetap tak terhindarkan dari benturan hingga jatuh tak sadarkan diri.
Kini posisinya memunggungi Rayan dan Ryura yang saling tertindih dan tersangkut ditengah-tengah kedua kursi depan.
Nafas para pria tak bisa dikatakan betapa sulitnya itu di hirup dan dikeluarkan. Mereka terlalu takut sesuatu yang buruk terjadi pada 3Ry.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Prak!
Ye Zi Xian lebih dulu berhasil membuka celah dengan memukul kaca mobil bagian depan menggunakan emosi yang meletup-letup lantaran tidak sabaran.
Di otaknya hanya ingin segera menyelamatkan Ryura-nya, istrinya dari kecelakaan ini.
"Bantu aku buka ini!" seru Ye Zi Xian sambil mengorbankan telapak tangannya karena memaksa merobek retakan kaca mobil hasil pukulannya.
Yang lain juga tak tinggal diam. Mereka pun bersedia mengorbankan telapak tangan mereka demi menyelamatkan 3Ry.
Setelah celah kian melebar. Shin Mo Lan bergerak lebih dulu guna menarik Rayan keluar agar dapat menyelamatkan Ryura kemudian.
"Bertahanlah!" seru Shin Mo Lan dengan suara rendah sambil mengeluarkan istrinya dari dalam mobil dengan cepat namun tetap berhati-hati.
__ADS_1
Dalam hati dia terus berdoa semoga Rayan baik-baik saja.
Setelah Rayan dikeluarkan, kini giliran Ryura. Bai Gikwang yang tahu harus mengambil urutan terakhir hanya bisa bersabar dan menggumamkan doa untuk keselamatan kekasihnya.
Ketika Ye Zi Xian sedang menarik lengan Ryura keluar, sebuah cahaya muncul dari sisi kursi kemudi dekat pintu. Cahaya panjang bersinar terang menyengat mata Ye Zi Xian yang melihatnya, namun tak membuat pria itu silau akan cahayanya.
Ye Zi Xian tertegun melihat pada bungkusan panjang yang diselipkan ditengah-tengah kursi kemudi dan badan mobil. Dia mungkin tak tahu apa yang dibungkus dalam bungkusan kulit hitam panjang itu, tapi dia tahu cahaya apa itu.
Itu adalah cahaya dari pusaka keluarga Ye dimasa lalu. Ye Zi Xian tak menyangka dia akan melihatnya lagi setelah sekian lama dan nyaris melupakannya.
Kini dia ingat kalau dulu Ryura pernah bilang kalau dia sudah memiliki pedang pusaka itu sejak di kehidupan modernnya.
Sepertinya inilah yang dimaksud.
Saat dia masih melamunkan benda yang membawa Ryura padanya itu sebuah suara tua terdengar menggema di telinganya bersamaan sosok wajah samar yang transparan terlihat tanpa tubuhnya.
Lagi-lagi Ye Zi Xian tak tahu siapa itu tapi dari cahaya yang serupa terpancar dari tubuhnya dia bisa menebak kalau pria tua itu adalah satu dengan benda pusaka keluarga Ye tersebut.
Bisa jadi adalah leluhur keluarga Ye dimasa lalu.
"Akhirnya, tugasku sudah benar-benar selesai. Kalian sudah kembali disatukan." sosok itu tersenyum dibalik janggut putihnya. "Keturunan ku... Jaga dia dan jangan disia-siakan. Kau tak akan menemukan gadis lain yang cocok dengan mu selain dia. Karena, kalian sudah ditakdirkan." tanpa menunggu Ye Zi Xian menjawab, sosok samar dan transparan itu segera menghilang bersama pedang pusaka tersebut hingga menyisakan bungkusannya saja.
Baru kemudian Ye Zi Xian tersadar kembali dan bergegas menarik Ryura keluar. Tapi, pikirannya tentang sosok itu belum hilang.
Dia menunduk menatap wajah manis istrinya yang tak sadarkan diri sambil perlahan menarik sudut bibirnya penuh rasa bahagia dan syukur.
Kemudian bergumam yang hanya bisa didengar keduanya. "Ya. Kita memang ditakdirkan bersama. Bagaimana mungkin aku bisa tidak menjagamu?! Dan aku pun tak berpikir untuk mencari yang lain. Kau saja sudah cukup. Sayang..." dikecupnya kening Ryura penuh cinta.
Setelah Ye Zi Xian selesai dengan Ryura, kini giliran Bai Gikwang. Begitu Ryura dikeluarkan, pria itu bergegas memasukkan setengah tubuhnya agar bisa menjangkau tubuh Reychu yang memunggunginya dan terjepit ditengah-tengah kursi depan.
Sambil tetap berhati-hati, dia berusaha secepat mungkin mengeluarkan Reychu dari dalam mobil yang malang itu.
"Haaah...! Hah... Hah...!" hembusan nafasnya tak bisa lebih tersengal lagi dari ini. Jantung Bai Gikwang seperti akan dicabut dari tempatnya seandainya tidak segera dibungkus dengan kesejukan dan kelegaan setelah memastikan Reychu sudah ada dalam pelukannya.
"Aku mendapatkan mu. Aku sudah mendapatkan mu... Hah... Hah...!" batin Bai Gikwang lega.
Ketiganya terduduk lega sambil memeluk pasangan masing-masing. Memutuskan untuk beristirahat sebentar dari ketakutan yang mengerikan tadi. Mereka masih butuh tenaga untuk membawa 3Ry naik keatas.
Setidaknya saat ini mereka tidak kekurangan pencahayaan. Jurang gelap ini diterangi oleh lampu senter dari ponsel bawahan mereka.
Dalam hati mereka akan memberikan ketiganya bonus karena sigap dan tahu apa yang harus dilakukan.
"Tuan Muda. Beri kami perintah!" pinta Chang Bin yang disetujui oleh dua lainnya.
Bai Gikwang mendongak keatas untuk melihat bawahannya. Lalu, menunduk lagi untuk menatap wajah damai Reychu yang tak sadarkan diri. Dia tahu, mereka harus bergegas membawa 3Ry rumah sakit untuk penanganan segera. Akan tetapi, meskipun begitu baik Bai Gikwang ataupun yang lain tak menampik bila mereka sudah jauh lebih tenang setelah 3Ry dalam pelukan mereka.
"Kita pulang sekarang, sayang. Kita akan segera pulang. Bersabarlah. Kita sudah aman sekarang." tutur Bai Gikwang di telinga Reychu yang sudah pasti tak akan mendengarnya.
__ADS_1
Alhamdulillah up lagi
mohon dukungannya sayang2ku...