
Bzzz...
Klik!
Cklek!
Seorang pria bertubuh gagah dengan otot-otot yang jelas keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk. Kecuali bagian itu, seluruh tubuhnya terlihat menampilkan bercak-bercak merah di hampir setiap jengkal kulitnya. Tapi, tampaknya pemilik tubuh sama sekali tidak merasa risih mempertontonkan semua itu, dia malah asik mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecilnya.
Melangkah maju kedepan, yang pertama dilihatnya adalah seorang gadis... Eh! Sudah tidak lagi. Sekarang sudah menjadi wanita, maksudnya... Atau tepatnya istrinya sedang duduk di ranjang sambil bermain ponsel dengan ekspresi serius. Dia belum mandi sehingga tubuhnya yang polos bertutul merah yang serupa dengan milik pria itu hanya ditutupi dengan selimut. Jangan lupakan rambutnya yang berantakan dan lepek.
"Mandilah, sayang. Aku sudah selesai." ujar Shin Mo Lan tanpa menghentikan kegiatannya mengeringkan rambut.
"Iya, sebentar." jawab Rayan tanpa mengangkat pandangannya dari ponsel. Hal itu membuat Shin Mo Lan mengernyit tak senang lantaran diabaikan.
Matanya melirik ponsel tersebut seraya membatin. "Dasar pengganggu!"
"Kalau tahu begini, aku sudah memaksamu untuk mandi bersama."
Rayan mendengus mendengarnya. "Iya, lalu kau akan melakukannya lagi. Huh!"
"Apa yang salah dengan itu? Jangan mengelak. Kita sama-sama menikmatinya, kan?" terangnya membela diri sambil menggoda.
"Iya. Nikmat! Tapi, melelahkan tahu." mendongak dan menampilkan ekspresi menyedihkan yang pasti langsung menusuk hati Shin Mo Lan. "Aku kan mungil... Dan kau besar. Saat melakukannya memang tidak berasa selain nikmat. Tapi, begitu selesai. Tubuhku terasa seperti dibanting monster. Sakit semua." keluhnya.
Shin Mo Lan jadi merasa bersalah. Berjalan mendekat dan duduk disebelah istrinya berniat membujuk dan meminta maaf.
"Sayang, maaf ya. Habisnya aku tidak bisa menahan diri kalau itu kamu. Aku merasa karena kau milikku. Aku harus selalu membuktikan bahwa hal itu tidak akan pernah berubah."
"Kenapa begitu? Kau bisa melakukan hal lain untuk membuktikannya."
"Kau tidak tahu, ya. Ada banyak sekali pasangan menikah tidak lagi harmonis hanya karena masalah sepele. Terkadang, hanya karena suaminya sudah jarang menyentuh istrinya, sang istri mulai berpikir yang tidak-tidak..."
"Bukankah itu wajar?"
"Memang tapi, wanita itu kebanyakan kalau sudah berpikiran negatif sulit untuk diluruskan. Karena itu, selalu ujung-ujungnya bertengkar. Aku tentu tak ingin hal itu terjadi. Jadi aku akan melakukannya sesering mungkin agar kau tahu bahwa aku hanya menginginkan mu."
Aduh, Shin Mo Lan bisa-bisanya...
Mata Rayan terbuka lebar menatap wajah tampan sang suami. Dia tak pernah berpikir kalau suaminya akan berpikir begitu. Itu sangat tak terduga. Rayan terharu tanpa tahu kalau yang diucapkan Shin Mo Lan setengah jujur, setengah bohong.
Jujur soal dia yang ingin selalu harmonis dalam rumah tangganya dengan Rayan dan bohong soal berhubungan intim yang jarang mudah memicu pertengkaran. Bukan alasannya yang dipersoalkan, tapi niat dia mengatakannya yang perlu di pertanyaan.
Shin Mo Lan semakin ahli saja.
"Mo Lan..." yang dipanggil berdehem. "Kau tahu betapa manisnya dirimu saat ini?" tanya Rayan dengan ekspresi memuja.
Shin Mo Lan terkekeh mendengar dan melihat ekspresi istrinya yang terlihat terharu dan puas mendengar apa yang tadi dia katakan.
"Tahu. Ekspresi mu membuktikannya."
AAAAAARRRRGGGHHHH!
Dalam hati Rayan menjerit histeris saking bahagianya dia menerima banyak hal-hal romantis dari suaminya. Seketika suasana hatinya yang bagus meningkat tajam. Tanpa kata, sekali lagi tubuh tegap Shin Mo Lan yang polos didorong hingga terlentang.
__ADS_1
Shin Mo Lan segera merasa dejavu. "Rayan..." kagetnya dia hingga tegang saat tubuhnya lebih cepat merespon daripada otaknya.
Rayan tak menggubris perkataan suaminya, dia langsung ke inti dari tindakannya. "Mo Lan suamiku sayang. Mau lagi?" tanyanya sambil mengedipkan sebelah matanya genit.
BOOM!
H*srat Shin Mo Lan yang sudah padam seketika bangkit lagi dan kali ini langsung ke puncaknya. Kalau sudah begini, bagaimana bisa dia menolak.
Kemudian, keduanya pun kembali melakukan kegiatan panas mereka sampai melewatkan makan malam.
Keesokan harinya...
Saat sarapan. Keduanya makan dengan khidmat dimeja makan dalam suasana yang harmonis.
"Sayang, Gikwang mengirim pesan tadi. Dia berencana untuk mengajak kita semua berkumpul. Ada Zi Xian dan Nona Ryura juga." katanya memberitahu.
"Oh, benarkah. Ya ampun. Aku hampir melupakan mereka. Sudah berapa lama kami tidak bertemu." tanya Rayan semangat saat diingatkan tentang dua sahabatnya yang rasanya sudah lama tidak bertemu.
Dia merindukan mereka.
"Haha. Kau ini ada-ada saja. Memang kau pikir berapa lama... Ini baru 2 atau 3 hari yang lalu. Dikecualikan, saat kalian tidak sadarkan diri." jelasnya kemudian menyuapi makanan untuk dirinya sendiri.
"Hah! Benarkah? Aku pikir sudah satu minggu." kaget Rayan mendengar pernyataan suaminya.
Dia sendiri tak menyangka kalau waktu sesingkat itu bisa terasa lama baginya.e
"Kau mungkin berpikir begitu karena ini kali pertama kalian berjauhan." Shin Mo Lan setengah menebak. Mungkin karena pertemuan saat sadar sangat singkat karena masing-masing dari mereka dibawa pergi oleh pasangan masing-masing. Jadi, terasa sangat lama.
"Siang ini. Sekalian mengadakan makan siang bersama."
"Baiklah." setujunya. Tiba-tiba, sesuatu mengingatkannya membuat Rayan mengangkat pandangannya kearah suaminya. "Oh ya, suamiku. Setelah ini temani aku ke apartemen, ya. Ada yang ingin aku ambil."
"Pentingkah?"
"Sangat. Nanti aku juga akan minta satu ruang di sini untuk menjadi tempat kerjaku."
"Terserah mu saja. Ini rumah kita. Kau bebas melakukan apapun disini." terang Shin Mo Lan mengulang kalimat yang sudah-sudah.
Dengan wajah menggemaskan Rayan menjawab. "Terima kasih, suamiku sayang...!"
Sambil tersenyum Shin Mo Lan menjawab. "Apapun untukmu, sayang."
Usai sarapan keduanya langsung bersiap untuk pergi. Seraya menunggu waktu jam makan siang, Rayan berencana membawa Shin Mo Lan ke apartemennya dan dua sahabatnya lebih dulu untuk mengambil sesuatu yang amat penting bagi Rayan baru kemudian keduanya ke pertemuan.
Apa hal penting itu?
Apalagi kalau bukan hasil eksperimennya!
Shin Mo Lan tak akan pernah menyangka kalau kecintaan istrinya terhadap obat-obatan ataupun racun sebesar itu.
Keduanya pun pergi, namun kali ini tanpa supir. Katanya, mau menikmati jadi pengantin baru.
__ADS_1
Baiklah, biarkan saja. Selama mereka senang.
Selama perjalanan tentu tidak ada kesunyian. Sebagaimana sejoli yang sedang kasmaran. Begitulah mereka. Itu berlangsung terus sampai tiba di apartemen 3Ry.
Setelah memarkirkan mobil di parkiran apartemen, Rayan segera membawa Shin Mo Lan naik ke tempat dimana dia pernah tinggal sebelum bertemu dengan Shin Mo Lan lagi.
"Ini bukan apartemen yang termahal. Mengapa tinggal disini?" tanya Shin Mo Lan sambil melihat sekeliling.
"Kami ingin tetap low profile. Jadi, tempat tinggalnya juga harus sederhana." jawab Rayan santai.
Keduanya memasuki lift sebelum tiba di apartemen.
Ceklek!
Rayan membuka pintunya dengan semangat. Tapi, siapa yang tahu kalau keadaan didalam sudah seperti itu?
Suram dan berdebu. Persis seperti rumah hantu.
Rayan sang pecinta kebersihan tak tahan melihatnya. Matanya terbelalak penuh pertentangan.
"Benar-benar buruk! Mengapa kotor sekali!" pekiknya.
Shin Mo Lan dari belakang ikut melihat dan benar saja seperti yang dikatakan oleh istrinya. Apartemen ini sudah ditinggal lama oleh 3Ry, sangat tidak mengherankan kalau menjadi seperti ini.
Dari 3Ry jatuh koma hingga dibawa oleh para pria mereka. Tak ada satupun yang kembali untuk mengurus apartemen ini.
Karena itu, keadaannya pun benar-benar tak tertahankan.
Rayan langsung menarik lengan bajunya, tapi dihentikan segera oleh Shin Mo Lan.
"Kau mau apa?"
"Aku mau membersihkan semua ini. Rumah ini benar-benar kotor!" tak ketinggalan nada jijik didalamnya.
"Tidak perlu. Kita ambil saja barang-barang mu, masalah kebersihan, kita bisa meminta jasa cleaning servis untuk melakukannya. Istriku tidak perlu repot-repot melakukannya saat dia bisa membayar jasa orang lain. Hitung-hitung menolong jasa kebersihan menambah pelanggan." jelas Shin Mo Lan bagaimanapun caranya, sang istri tidak boleh mengerjakan hal-hal yang melelahkan. Cukup dia saja yang membuatnya lelah. Hihihi...
"Huh. Hiiih! Mengerikan!" ketusnya saat matanya kembali melirik keadaan didalam apartemennya.
Namun, akhirnya, dia mendengarkan perkataan sang suami dan segera membawa suaminya mengikutinya untuk langsung ke ruang pribadinya.
Sayangnya, hari ini tampaknya bukan hari yang baik untuk Rayan. Pasalnya...
Cklek!
Pintu ruangan pribadinya di buka dan seketika, hal yang dibenci Rayan memasuki matanya dengan bangga dan sombong. Kira-kira, begitulah ilustrasi yang ditangkap oleh Rayan.
AAAAAARRRRGGGHHHH...
Shin Mo Lan menghela nafas seraya berkedip yang berdaya melihat betapa frustrasinya sang istri saat ini.
Pemandangan didalam ruangan pribadinya tak kalah mengerikan dari ruangan lain.
Hanya saja yang membuat Rayan menderita frustasi adalah saat tanaman-tanaman herbal-nya mati karena tidak terawat selama dia tidak ada, meja kerjanya penuh debu, belum lagi rak-rak tempat dimana botol-botol hasil eksperimennya, semuanya tertutupi debu dan jaring laba-laba.
__ADS_1
Mengerikan!