
Tak terasa 5 hari perjalanan menyebrangi lautan tuntas juga. Apalagi selama waktu itu, ketiganya memiliki kegiatan mereka masing-masing.
Reychu dan Chi-chi dengan teman barunya yang bernama Ji Tian dan bahkan sampai bergabung dengan rombongan gadis itu. Mereka akrab dengan cepat. Tak hanya akrab, Reychu bahkan dapat kembali merasakan perasaan sayangnya terhadap Tina dulu yang kini beralih ke Ji Tian. Meski begitu, dia tidak sekalipun memiliki pemikiran kalau Tina dan Ji Tian adalah orang yang sama. Sebab, baginya kedua gadis itu tetaplah orang yang berbeda walaupun memiliki rupa yang sama secara keseluruhan.
Berasal dari kekaisaran yang sama namun dari negara yang berbeda, tak terpikirkan oleh Reychu akan ada kesempatan seperti ini. Tapi, ini bukanlah hal yang buruk menurutnya.
Dari yang ia ketahui selama beberapa hari menghabiskan waktu bersama. Ji Tian adalah anak bungsu dari pedagang kelas atas bernama Ji An Tong. Ji Tian adalah anak terakhir dari 4 bersaudara. Mereka juga merupakan keluarga yang harmonis.
Hanya saja, di kesempatan kali ini Reychu tidak dapat bertemu dengan 3 saudara Ji Tian lainnya lantaran mereka memiliki kesibukan di Negara Petir.
Perjalanan mereka menuju Kekaisaran Tenggara adalah karena Ji An Tong memiliki cabang di sana, pelanggan pun tak kalah banyak dari negara asalnya. Dia pergi bersama 10 pekerjanya dan putri satu-satunya yang katanya bosan bila harus terus-menerus diam. Pergi dengan membawa barang dagangan mereka.
Alhasil, di kapal inilah mereka berada dan akhirnya dipertemukan.
Rayan bersama Ruobin juga tak ketinggalan. Mereka juga mendapatkan kenalan baru yaitu, Jun Jiu Han dan Hong Tan. Kedua pemuda yang berasal dari Kekaisaran Utara, berguru di Akademi Zhilli. Yang menurut cerita kedua pemuda itu, Akademi Zhilli adalah akademi tersohor di seluruh benua.
Akademi Zhilli merupakan akademi dimana para calon alkimia belajar disana. Akademi Zhilli sendiri merupakan perguruan turun-temurun dari sebuah keluarga yang hebat dan kuat dalam hal alkimia hingga dijuluki Master Alchemist.
Disana juga asal para tabib hebat berasal.
Walau begitu, diluar sana tentunya ada juga perguruan medis. Hanya saja, tidak sehebat dan seterkenal Akademi Zhilli.
Mendengar cerita tersebut Rayan menjadi amat sangat antusias. Ia sampai ingin pergi kesana. Dengan tingkah imut manjanya ia mengguncang tubuh Ruobin dan merengek meminta Ruobin berjanji menemaninya kesana. Siluman rubah perak itu bisa apa kalau sudah di perlihatkan penampilan Rayan yang seperti itu selain mengiyakan.
Belum lagi ketika mendengar kalau generasi Zhilli yang sekarang masih tergolong muda dan tampan. Jelas saja, Rayan semakin dibuat antusias.
Gadis itu sudah berpikir akan mengajak kedua sahabatnya untuk ikut dengannya ke Kekaisaran Utara usai menyelesaikan kompetisi di Kekaisaran Tenggara nanti.
Dan itu bukan permintaan melainkan perintah. Rayan akan menyeret kedua sahabatnya terlepas dari mereka mau atau tidak.
Ryura sendiri tidak berbuat apa-apa selama di perjalanan. Dia hanya diam, tidur, makan, dan menjadi pendengar yang baik setiap kali Furby dan Duan Xi bercengkrama.
Bila orang normal pada umumnya akan merasa kebosanan, Ryura justru tidak sama sekali. Ia tetap santai dan tenang dalam diamnya.
Akan tetapi tak ada yang tahu apa yang tengah bersemayam didalam pikirannya. Setiap malam Ryura selalu berdiri diam menatap langit yang bertabur bintang dengan indahnya. Membiarkan semilir angin menghembus permukaan kulitnya dengan kencang hingga memberikan rasa dingin yang tak terkira, deru ombak pun tak tinggal diam. Ia mengayun bergelombang menabrak bagian bawah kapal, membantunya mendorong laju kapal bersamaan dengan dorongan angin pada layar kapal yang membentang.
Fyuuuh...
Fhyuuu...
Wush...
Wush...
Yang lainnya telah memasuki alam mimpi, meninggalkan dirinya seorang diri di tengah malam.
Hingga sesuatu mengusiknya. Ryura menoleh kearah kursi yang sudah ia duduki beberapa hari ini. Di sana terdapat bungkusan panjang dari kain yang tertutup rapat seolah tak membiarkan ada celah yang terlihat berada di sana, tergeletak di kursi tersebut.
Barang yang selalu Ryura bawa kemanapun ia pergi. Hal itu membuat barang tersebut tampak menjadi barang berharga dan kesayangan si pemiliknya.
Lama Ryura mengamatinya dalam diam, hingga sebuah suara yang pernah ia dengar memasuki pendengarannya.
Meski begitu, Ryura tak menunjukkan tanda-tanda terkejut ataupun bingung. Dia tetap dalam posisinya yang tengah mengamati bungkusan panjang di atas kursinya.
"Semuanya akan dimulai dari sini... Yang hilang dalam dirimu akan kembali padamu... Penantian yang tak kau ketahui akan segera terbayarkan... Tapi, tentunya... Ada harga untuk itu semua... Khikhikhi..."
Kelopak mata Ryura berkedip pelan beberapa kali dengan ekspresi yang tak juga berubah. Tak peduli sama sekali mengenai maksud dari kalimat yang dibisikkan padanya. Kalimat itu tajam namun penuh misteri, dalam waktu bersamaan membuatnya merasakan peringatan dan gertakan. Meski begitu, Ryura tetap diam dengan tenangnya.
__ADS_1
Setelah hening sejenak, kaki gadis itu melangkah mendekati kursi tempatnya biasa duduki. Mengambil apa yang tergeletak diatasnya, kemudian secara perlahan bergerak untuk membukanya.
Sebuah pedang terpampang seketika. Pedang dengan sarung kulit berkualitas tinggi berwarna cokelat kehitaman tampak megah di bawah cahaya bulan. Pegangannya yang juga dibungkus kain kulit tak tertinggal terlihat indah meski tanpa kilau dan ukiran.
Secara keseluruhan, pedang itu mengagumkan terlebih ketika Ryura menarik keluar mata pedangnya dari sarung yang selalu melindunginya selama ia sedang tak digunakan.
Putih bersih nan berkilau indah mempesona dengan pancaran sinarnya sendiri. Mengangkat tinggi-tinggi pedangnya tersebut seperti ingin menghunuskan langit dengan ujungnya yang tajam. Mata kosong tak berjejak itu memandangi dalam benda ditangannya.
Sadar atau tidak, mata itu sepersekian detik menunjukkan warna kehidupannya. Berkilat Kilauan indah muncul di bola mata hitam kelamnya. Tak hanya itu, segaris senyum tipis yang amat tipis pun tak tertinggal. Ryura tersenyum untuk kesekian kalinya, tapi sayangnya tak ada yang menjadi saksi untuk mengabadikan momen langka itu.
Sampai dia kembali ke dirinya selama ini. Datar, santai, dan tenang.
Chaaa...
Langit cerah menyambut pagi yang indah. Bertepatan dengan tibanya badan kapal di dermaga pelabuhan Negara Angin. Hiruk pikuk rutinitas orang-orang dari negara itu sudah terlihat menghiasi hari, tibanya mereka di sana.
Reychu, Rayan, Ruobin, Chi-chi, dan Duan Xi sudah lebih dulu menapaki kakinya ketanah, sedang Ryura dan Furby masih di dalam guna mengambil kereta beserta bawaan yang berada didalamnya.
Sebelum Ryura dan Furby turun dari kapal. Ryura lebih dulu menutupi tubuh Furby yang sudah kembali ke wujudnya semula yaitu kuda bulan legendaris dengan pelana besar.
Tak ada yang tahu dari mana asal pelana itu didapat. Ukurannya pas di tubuh Furby yang luar biasa besar itu. Sedikit banyaknya juga dapat menutupi sosoknya sebagai seekor siluman tingkat tinggi yang legendaris.
Tak peduli dari mana asalnya pelana kuda itu, selama Ryura yang memberikannya Furby yakin kalau itu didapat dengan cara yang bisa dikatakan baik. Karena yang ia tahu, selama tak ada yang memulai duluan, Ryura tak akan melakukan hal buruk pada seseorang.
Akhirnya setelah usai mengurus apa yang perlu diurus, Ryura dan Furby pun keluar juga.
Dapat dilihat oleh keduanya kalau yang lainnya telah menunggu. Akan tetapi, sepertinya tidak hanya ada rombongan 3Ry disana.
"Kita berpisah disini!" celetuk Rayan pada dua pemuda yang ada dihadapannya dengan tersenyum enggan. Enggan untuk berpisah.
"Kami pasti akan merindukan mu!" jujur Jun Jiu Han yang dibenarkan oleh Hong Tan dari dalam hatinya.
"Baik. Itu akan kami lakukan. Apalagi kalau kehebatan mu kami ceritakan pada Pimpinan... Kau pasti bisa menjadi tamu kehormatan Akademi Zhilli." yakin Jun Jiu Han total. Ia cukup bersyukur dan bangga pada takdir yang mempertemukan mereka dengan Rayan yang Dimata mereka luar biasa.
Rayan yang mendapatkan pujian tersirat pun menjadi malu-malu kucing. Merasa tersipu dan tersanjung. Karena, meski tidak secara langsung mengatakan dirinya hebat. Tetap saja, kalimat yang di utarakan sudah cukup menjelaskan semua.
Betapa senangnya dia...!
"Ah, kalian ini... Bisa-bisa aku menjadi besar kepala nanti..." ucapnya di sertai kekehannya yang centil.
Mendengar itu mereka pun akhirnya tertawa.
"Rayan! Nona Ryura sudah datang. Ayo!" ajak Ruobin sembari memberitahukan kedatangan Ryura dan Furby dari dalam kapal.
"Baiklah! Kami juga akan melanjutkan perjalanan ke akademi. Kami akan pulang! Seseorang sudah membantu kami menyelesaikan ujian ini. Terimakasih!" tutur Hong Tan panjang seraya tersenyum tipis namun tulus kearah Rayan.
"Sudahlah, itu bukan apa-apa. Santai saja! Asal kalian mau berjanji untuk tidak
menyalahgunakan apa yang sudah ku ajarkan. Maka, semua baik-baik saja." peringatan dari Rayan terucap juga.
"Tentu, jangan khawatir. Kami tidak sebodoh itu untuk melenceng dari jalan yg lurus. Bukankah begitu, Tan?" yakin Jun Jiu Han mengajak serta Hong Tan.
Hong Tan mengangguk mengiyakan. "Em. Jangan khawatir soal itu. Bertemu dengan mu adalah berkah bagi kami." tulusnya pada akhirnya menunjukkan sisi hangat yang artinya pemuda itu sudah menerima Rayan sebagai temannya, jangan lupakan Ruobin. Meski, ia tak begitu suka lantaran Ruobin adalah siluman.
Masih menganggap bahwa siluman itu buruk.
"Kalau begitu, saatnya kita berpisah. Sampai jumpa lagi. Aku janji akan berkunjung kesana nanti..." kata Rayan lalu berbalik bersama Ruobin dan pergi kembali ke rombongannya sambil melambaikan tangan, begitu pula dengan dua pemuda itu.
"Sampai jumpa!"
__ADS_1
Beralih ke Reychu.
"Waah... Kau sudah sampai! Aku malah masih harus kembali melakukan perjalanan, karena masih sangat jauh." cetus Reychu sambil berkacak pinggang lalu bergerak memutar pinggangnya melakukan peregangan.
"Haha... Namanya juga tujuan mu ke pusat Kekaisaran Tenggara. Tentu kau dan yang lainnya masih harus melakukan perjalanan lagi. Tapi, jangan risau aku doakan kalian akan sampai dengan selamat." balas Ji Tian seketika membuat Reychu langsung menatapnya.
"Itu harus. Sebagai teman ku kau harus sering-sering melakukannya. Hahaha..." guraunya. Ulah jail Reychu membuat Ji Tian ikut tertawa.
"Kau ini..." jedanya. "Pergilah. Titipkan salam ku untuk yang lainnya." kata Ji Tian sembari tersenyum manis.
"Tentu, akan aku sampaikan salam mu pada mereka. Kau juga, sampaikan salam ku untuk keluarga mu dan yang lainnya. Terutama Paman Ji. Waah... Paman gembul itu benar-benar menggemaskan. Aku pasti akan sangat merindukannya. Hehehe..." lantangnya.
"Siapa yang mengatai ku gembul, hmm...?!" tiba-tiba suara bariton seorang pria paruh baya mengagetkan kedua gadis itu. Tubuhnya seperti yang Reychu katakan, gemuk namun benar-benar membuat pria itu tampak menggemaskan. Walaupun saat ini pria itu tengah berkacak pinggang dan berkata ketus, tapi nadanya sama sekali tidak menyiratkan kemarahan. Justru terdengar seperti ikut memasuki permainan.
"Hahaha... Siapa lagi kalau bukan Paman! Lagi pula, Tian tidak gembul dia malah kurus. Paman kau sungguh pelit. Bagaimana bisa kau tidak memberinya makan. Hahaha..." lagu Reychu malah melontarkan candaan tanpa tanggung-tanggung.
"Hush. Mulut mu itu... Kau pikir makan apa kau saat bersama kami. Dasar bocah!" timpal Ji An Tong tidak marah sama sekali.
"Ck. Reychu... Kau ini benar-benar ya..." geleng Ji Tian tak habis pikir.
Jujur, memang senang berteman dengan Reychu. Akan tetapi, mereka sering dibuat kaget dengan perkataannya yang luar biasa gamblang tanpa sensor.
"Sudah-sudah. Abaikan dia. Lama-lama aku ikut gila." tukas Ji An Tong seraya mengacak rambut Reychu sebagai bentuk rasa gemasnya, baru kemudian berbalik pergi kembali ke rombongannya.
Merasa kepalanya dia usap. Reychu tidak merespon banyak. Dia biasa saja.
"Hush, hush... Pergilah." usir nya bercanda. "Aku tak mau bertanggung jawab kalau kau tertinggal. Hehe..." sambungnya.
"Ish. Aku pukul kau ya..." geram Ji Tian seraya mengangkat tangannya hendak melakukan gerakan memukul meski nyatanya tidak benar-benar dilakukan.
Reychu hanya tertawa renyah dan nyaring mengabaikan sorotan orang-orang yang melihatnya.
Reychu benar-benar telah terbiasa dengan tatapan jijik dan menghina dari banyak orang. Baginya, hidupnya adalah miliknya, maka ia bebas berbuat semaunya.
"Ya sudah. Kami pergi. Semoga kita bisa bertemu lagi." lambai Ji Tian sebagai tanda perpisahan mereka.
Reychu membalasnya seraya berteriak agar terdengar oleh Ji Tian yang mulai menjauh.
"JANGAN KHAWATIR! KITA AKAN BERTEMU LAGI DAN ITU PASTI...! SAMPAI JUMPA...!!" balasnya.
Gadis itu masih diam ditempatnya sambil terus menatap ke arah Ji Tian pergi. Senyum bahagia atas rindu yang tersalurkan pun tak kunjung hilang. Gelagatnya yang seperti itu membuat beberapa orang berasumsi bahwa dia memiliki gangguan jiwa.
"Berangkat!" seru Ryura tiba-tiba dengan nada datar khasnya kala gadis itu melewati punggung Reychu yang asik dengan dunianya.
"Oh! Baik!" sahut Reychu akhirnya tersadar. Diapun naik dan bergabung dengan yang lainnya, saat mereka sudah lebih dulu memasuki gerbong kereta.
Duduk di tempat yang sama seperti sebelumnya. Lalu, bergerak mengeluarkan kepalanya dari jendela kereta dan berseru keras juga riang.
"RYURA! JALAAAANNN..."
Merangkap menjadi kusir, Ryura segera meminta Furby melajukan langkah kakinya cepat. Tanpa membuang waktu, mereka kembali melanjutkan perjalanan memasuki Negara Angin di Benua Tenggara atau Kekaisaran Tenggara yang biasa disebut sebagai Negara Musim Semi.
Klotak!
Klotak!
Klotak!
__ADS_1
(pinterest: kira-kira begitu visual untuk dermaganya)
ok semoga kalian puas.πππ