
Seorang pelayan wanita yang diutus dari kediaman Permaisuri berjalan menyusuri jalanan di istana menuju beberapa tempat dengan langkah pasti dan tegas. Seolah ingin sesegera mungkin menyelesaikan tugasnya, karena ia pun memiliki tugas yang tak kalah penting dari menyampaikan pesan Permaisuri Ahn kepada para wanita Harem. Melainkan juga harus segera melaporkan berita ini kepada majikannya yang sebenarnya.
Tujuan pertama adalah kediaman Selir Tingkat Pertama yang bernama Kim Mulan.
Sesampainya disana. Ia langsung bertemu penjaga Kediaman Selir Tingkat Pertama. Ia segera mengutarakan maksud kedatangannya. Tak lama setelahnya, salah seorang penjaga memanggil pelayan yang tak sengaja melintas di dalam kediaman dan memberitahukan tentang kedatangan utusan Permaisuri ketempat mereka.
"Saya pelayan utusan Permaisuri Ahn Reychu. Datang kemari untuk menyampaikan pesan beliau. Tolong di sampaikan pada Nyonya Selir Tingkat Pertama." tukasnya tak bertele-tele.
"Dimengerti. Kalau begitu tunggu sebentar." berbalik untuk masuk, tapi lebih dulu bertemu seorang pelayan wanita. Dia memanggilnya dan memberitahukan apa yang ingin ia sampaikan.
Mendengar itu, pelayan itu segera berlari masuk untuk menemui junjungannya dan memberitahukan kabar tersebut.
"Nyonya Kim. Seorang pelayan wanita dari kediaman Permaisuri datang berkunjung untuk menyampaikan pesan dari Permaisuri. Apakah diizinkan masuk?" tanyanya sopan sambil melihat junjungannya yang tengah asik menyulam sapu tangan.
Kegiatan menyulamnya seketika berhenti kala mendengar kalimat yang diucapkan pelayannya. Merasa bahwa ada sesuatu yang penting, iapun memberikan izin.
"Kalau begitu biarkan dia masuk. Biar dia sendiri yang menyampaikan pesan itu. Aku ingin mendengarnya langsung!" lugasnya tanpa menoleh kearah pelayannya dan malah kembali melanjutkan kegiatan menyulamnya.
Si pelayan sudah terbiasa sehingga tidak lagi merasa tersinggung. Tanpa mau berlama-lama, ia kembali berlari keluar untuk membimbing utusan itu masuk menemui junjungannya.
Diluar pintu kediaman, pelayan utusan Permaisuri telah menunggu agak lama, barulah izin itu diberikan. Pelayan wanita dari kediaman Selir Tingkat Pertama segera memandu pelayan utusan Permaisuri Ahn tersebut untuk masuk menemui junjungannya. Tak tahu saja ia, kalau pelayan Permaisuri yang sebenarnya adalah pelayan Selir Agung itu sudah menggerutu didalam hatinya. Merasa kalau ini akan menjadi tugas yang dilakukan dalam waktu yang lama, bila di setiap kediaman ia harus masuk untuk menyampaikan sendiri pesan itu.
Tak ada artinya mengeluh, pelayan itu pun memilih menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskan keluar demi untuk menenangkan diri sendiri.
Tak perlu memakan waktu lama, kedua pelayan itu telah sampai ke salah satu paviliun di kediaman Selir Tingkat Pertama, dimana paviliun itu adalah tempat Selir Tingkat Pertama menghabiskan waktu bersantai-nya.
Tampak disana duduk seorang wanita penghuni Harem sedang menyulam menghadap kolam ikan disamping paviliun tersebut.
Sang pelayan segera memberi salam hormat dengan membungkuk.
"Salam Yang Mulia Selir Tingkat Pertama Kim. Pelayan ini datang membawa pesan dari Yang Mulia Permaisuri Ahn." tuturnya memberitahukan tujuannya.
Mendengar itu Kim Mulan pun menoleh dan membalas. "Salam diterima. Kalau begitu, kau bisa langsung mengatakan apa isi pesan Yang Mulia Permaisuri Ahn sehingga harus disampaikan secara lisan daripada secara tulisan. Selir ini ingin mengetahuinya..." katanya meminta pelayan itu segera mengatakan tujuannya.
"Pelayan ini menjawab, Yang Mulia Selir Tingkat Pertama Kim." ujarnya sebelum memulai pada bagian terpentingnya. "Yang Mulia Permaisuri Ahn Reychu memerintahkan hamba ini untuk memberitahukan kepada seluruh penghuni Harem Kaisar bahwa beliau mengundang para Selir Kaisar untuk datang berkunjung ke kediaman Permaisuri Ahn besok. Beliau berkata bahwa ada hal penting yang ingin disampaikan." akhirinya masih sambil sedikit membungkuk dengan tangan yang saling bertautan didepan wajahnya.
Alis Selir Tingkat Pertama Kim Mulan berkerut heran juga bingung. "Kalau boleh Selir ini tahu... Hal penting apa itu..." tanyanya penasaran. Meski ini bukan kali pertama para selir harus mengunjungi kediaman Permaisuri mereka. Namun, ini rasanya berbeda.
"Hamba tidak tahu, Yang Mulia. Hamba hanya diperintahkan untuk menyampaikan pesan beliau." jawab sang pelayan sopan.
Selir Tingkat Pertama Kim Mulan hanya bisa mengerjapkan matanya begitu tahu kalau ini benar-benar sesuatu yang penting hingga sangat rahasia.
Permaisuri Ahn yang dulu akan memanggil bila itu berkaitan dengan sebuah perayaan di kerajaan yang tanggungjawabnya di pegang penuh oleh Permaisuri sendiri. Itupun bermaksud agar perwakilan atau tuan rumah kerajaan Huoli tidak sampai membuat kesalahan sehingga harus selalu diingatkan, meski tidak perlu.
Tapi, entah mengapa. Kali ini ia merasa ada sesuatu yang janggal.
Sesuatu yang mungkin akan berdampak besar. Bila dipikirkan terlalu keras hanya akan membuat pusing kepala, jadi Selir Tingkat Pertama Kim Mulan memilih untuk mengikuti apa maunya Permaisuri Ahn yang sekarang.
Dia tahu Permaisuri Ahn sudah banyak berubah. Padahal, ia hanya tak lagi melihatnya selama 6 bulan. Tapi, siapa yang tahu kalau 6 bulan itu akan membentuk kepribadian lain dalam diri Permaisuri negara api.
Firasatnya mengatakan... Permaisuri Ahn yang sekarang tidaklah mudah.
Menatap pelayan utusan Permaisuri itu dengan dalam. "Dimengerti. Kau boleh kembali." katanya seraya mengisyaratkan pelayannya untuk mengantar sang utusan keluar.
"Kalau begitu, pelayan ini akan undur diri, Yang Mulia Selir Tingkat Pertama Kim." salam pamit pelayan itu katakan sambil membungkuk mohon izin baru setelahnya ia pergi meninggalkan kediaman Selir Tingkat Pertama Kim Mulan dengan ditemani pelayan kediaman itu.
Sementara Kim Mulan masih menatap punggung pelayan itu dengan seksama, sebelum akhirnya kembali melanjutkan kegiatan menyulamnya. Walaupun begitu, pikirannya berkelana tentang pesan tersebut.
Bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ingin dilakukan Permaisuri Ahn kali ini?
__ADS_1
Bukan bermaksud curiga. Tapi, sejak beberapa kali pertemuan dimana ia dan yang lainnya memiliki kesempatan untuk melihat Permaisuri Ahn setelah gadis itu terlepas dari masa hukumannya. Dia bisa melihat perbedaan gadis itu dengan yang sebelumnya. Selain bermulut tajam dan terbuka, Permaisuri pun menjadi semakin terang-terangan dalam menyatakan permusuhan. Tidak seperti Selir Agung Gong Dahye yang penuh tipu muslihatnya.
Bagaimana ia bisa tahu? Sebenarnya, Tak ada penghuni Harem Kaisar yang tidak tahu akal bulus Selir Agung Gong Dahye. Sebagai wanitanya Kaisar Li, mereka cukup tahu apa yang akan terjadi di Harem Kaisar begitu seorang perempuan masuk kedalamnya. Hanya saja, peluang dia menang sangat tipis, apalagi dengan Kaisar Li yang berdiri di belakang Selir Agung dengan aura penuh perlindungan untuk selir kesayangannya.
Semua perlawanan hanya akan menjadi sulit. Akhirnya, dia pun memilih mencari aman dengan tetap diam.
Pelayan itu kembali melanjutkan seperti halnya yang ia lakukan sebelumnya di kediaman Selir Tingkat Pertama Kim Mulan.
Disinilah ia sekarang. Dikediaman Selir Tingkat Tinggi Mu Bizhuo.
Dia pun di bawa masuk sekali lagi. Jujur saja, hatinya sudah menjerit penuh keluhan karena lelah harus melakukan tugas ini sendiri. Permaisuri tidak mengizinkan lebih dari satu pelayan yang menyampaikan pesan rahasia darinya itu, meski nyatanya seluruh pelayan tahu apa yang hendak di beritahukan pada acara kunjungan keesokan harinya.
Faktanya, dia sengaja tidak memberitahukan yang sebenarnya pada Selir lainnya. Karena, sang majikan yang tak lain adalah Selir Agung Gong Dahye belum mengetahui apa maksud dari pertemuan kali ini. Jadi, ia memilih untuk merahasiakannya dari para selir lainnya dan memberitahukan isi rahasia itu pada majikannya.
Setibanya di dalam, kali ini sedikit lebih baik. Sebab, sang tuan rumah sedang duduk santai di bawah pohon dengan di temani beberapa pelayannya juga beberapa camilan yang berada di atas meja.
Melihat pelayannya membawa seorang pelayan yang ia tahu jelas bukan bagian dari kediamannya pun mengajukan pertanyaan. "Siapa yang kau bawa itu? Aku sedang tidak ingin menambah pelayan!" nada suaranya angkuh yang tidak di tahan. Berhubung berada dalam lingkungan pribadi, siapa yang mau repot-repot memasang topeng?! Begitulah kira-kira.
"Yang Mulia Selir Tingkat Tinggi Mu. Hamba ini membawa utusan dari kediaman Permaisuri Ahn. Ada pesan yang ingin ia sampaikan pada Yang Mulia Selir Tingkat Tinggi Mu." ujar pelayannya memberitahukan.
Ekspresinya berubah sedikit terkejut, kala tahu datang darimana pelayan didepannya ini.
"Oh... Jadi, kau utusan dari Permaisuri?" tanya Mu Bizhuo sinis.
"Benar, Yang Mulia." jawabnya setelah didalam hati ia mengumpat saking tak senangnya dengan perlakuan Selir Tingkat Tinggi Mu Bizhuo yang tak bisa dibandingkan dengan junjungannya, Selir Agung Gong Dahye. Pikirnya.
"Kalau begitu apa pesan yang mau disampaikan? Kenapa tidak mengirim surat saja. Itu lebih cepat!" ketusnya.
Mengabaikan wanita angkuh didepannya, pelayan utusan itupun memilih langsung angkat bicara. "Isi pesan ini adalah Yang Mulia Permaisuri Ahn Reychu mengundang ada berkunjung ke kediaman beliau besok. Permaisuri berkata, ada hal penting yang ingin ia sampaikan kepada seluruh penghuni Harem Kaisar. Beliau berpesan agar semuanya dapat hadir karena ini sangat penting." lugas pelayan tersebut menjawab.
Alis Selir Tingkat Tinggi Mu Bizhuo terjalin bersamaan dengan ekspresi bingung juga penasaran.
Dengan kepribadiannya yang sempat ia lihat, dia beranggapan kalau Permaisuri telah banyak berubah dan berpikir kalau kali ini ia akan menyingkirkan Selir Agung. Membayangkan hal itu membuat ia merasa senang seolah ada beban yang diangkat dari pundaknya.
Dengan suasana hati yang mendadak bahagia itu ia tak menahan pelayan tersebut berlama-lama di kediamannya.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan datang besok. Kau sudah boleh kembali." tuturnya seraya melambaikan tangannya mengisyaratkan usiran halus dari Selir Tingkat Tinggi Mu Bizhuo kepada pelayan utusan Permaisuri itu.
Tak mau berlama-lama juga, pelayan itupun membungkuk memberi salam undur diri, kemudian iapun berlalu pergi setelahnya.
"Aku tidak sabar menunggu hari esok. Apa yang ingin perempuan bod*h itu sampaikan." menggerakkan matanya ke segala arah, ia berpikir sampai senyum liciknya terbit. "Haruskah aku mengatakannya pada Yang Mulia Kaisar? Tapi, bila ini bukan rahasia besar, aku akan dalam masalah." pikirnya sambil mengetuk-ngetuk meja kayu yang menjadi tempat tangannya bertumpu.
Berdiri didepan pintu masuk Kediaman Selir Kehormatan Wang Jinji, pelayan itu menghembuskan nafasnya lelah. Tak tahu harus berkata apa. Ini sungguh berat untuknya.
Ini adalah pertama kalinya ia harus mengeluarkan tenaga ekstra hanya untuk berkeliling dari satu kediaman ke kediaman yang lain hanya untuk menyampaikan pesan. Hal ini membuat ia berpikir, apa yang menjadi alasan Permaisuri Ahn tidak ingin repot-repot membuat surat undangan bila mau mengundang para selir ke kediamannya. Padahal, menggunakan surat undangan akan jauh lebih praktis dan cepat.
Tanpa ia tahu kalau bahwasanya, itu hanya akal-akalan Reychu saja yang ingin sedikit bermain dengan para bawahan yang bukan bawahannya.
Tapi, satu hal yang ia tahu pasti adalah pertemuan yang gadis Permaisuri itu rencanakan mungkin akan sangat di senangi oleh para selir dan akan menjadi bencana untuk Selir Agung -sang majikannya-. Memikirkan itu ia menjadi sedikit bergidik ngeri membayangkan akan menjadi semengerikan apa majikannya bila dia tahu apa tujuan undangan itu dibuat.
Tak ingin memikirkan lebih jauh lagi segera ia melangkah hendak memasuki kediaman Selir Kehormatan Wang Jinji. Selir terakhir yang harus ia kunjungi sebelum akhirnya mendatangi kediaman junjungannya yang sebenarnya.
"Ada urusan apa kau kemari?" tanya seorang penjaga yang menjaga di depan pintu kediaman.
"Aku utusan Permaisuri Ahn Reychu. Datang untuk menyampaikan pesan penting secara lisan." tukas pelayan utusan itu langsung.
__ADS_1
"Kalau begitu tunggu sebentar." setelahnya salah satu penjaga itu segera masuk untuk memberitahukan perihal tersebut.
Tak lama setelah itu, penjaga itu kembali keluar dan langsung mempersilakan pelayan tersebut untuk masuk dengan di pandu oleh seorang pelayan yang sudah menunggunya.
"Mari lewat sini!" ujar pelayan dari kediaman Selir Kehormatan Wang Jinji. Mengangguk singkat sebagai tanggapan.
Beberapa menit berjalan menuju ke sebuah gazebo kecil yang dibuat di kediaman tersebut. Di sana tampak Selir Kehormatan Wang Jinji sedang bersantai sembari memberi makan ikan yang ada di kolam buatannya.
Kedua pelayan itu mendekat dan menyapa sang Selir." Salam hormat hamba kepada Yang Mulia Selir Kehormatan Wang!" salam mereka serempak.
Suara mereka mengalihkan perhatian sang selir hingga wanita itu menoleh kearah mereka.
"Salam diterima." balasnya. "Pelayan ku berkata kalau kau membawa pesan lisan dari Permaisuri Ahn. Tentang apa itu?" tanya Wang Jinji langsung.
Membungkuk hormat, pelayan utusan itu menjawab. "Hamba menjawab, Yang Mulia Selir Kehormatan Wang... Yang Mulia Permaisuri Ahn Reychu mengirim saya untuk menyampaikan pesan lisan beliau mengenai undangannya esok hari untuk mengunjungi kediaman Permaisuri. Beliau berkata bahwa ada hal penting yang ingin ia sampaikan kepada seluruh penghuni Harem Kaisar, Yang Mulia Selir Kehormatan Wang." katanya menyampaikan pesan Permaisuri.
Wang Jinji sedikit berpikir. "Pesan ini untuk penghuni Harem Kaisar?" tanyanya memastikan.
"Benar, Yang Mulia." jawab pelayan itu membenarkan.
"Ini agak mencurigakan!" gumamnya yang hanya dapat didengar olehnya sendiri.
Menatap kearah pelayan utusan Permaisuri itu, lalu berkata. "Baiklah. Aku terima undangan lisannya. Kau sudah boleh kembali."
"Terima kasih, Yang Mulia Selir Kehormatan Wang. Kalau begitu, pelayan ini pamit undur diri." kembali membungkuk hormat sebelum ia benar-benar meninggalkan kediaman Selir Kehormatan Wang dengan di antar oleh pelayan Wang Jinji sebelumnya.
Pelayan itu tak bisa tidak senang, karena ternyata tak perlu terlalu lama berada di kediaman Selir Kehormatan Wang Jinji seperti di kediaman Selir sebelumnya.
Wang Jinji melihat sekilas punggung pelayan itu pergi, sebelum mengalihkan pandangannya kembali kearah kolam. Dimana terdapat sekitar sepuluh ekor ikan koi didalamnya. Selir Kehormatan Wang Jinji kembali melemparkan makanan ikan ke dalam kolam sambil berpikir tentang apa yang akan terjadi besok di kediaman Permaisuri Ahn.
Bila kelancaran penyampaian telah dilewati di tiga kediaman Selir sebelumnya. Maka, lain halnya ketika pelayan itu menyampaikan pesan lisan sang Permaisuri kepada Selir Agung Gong Dahye yang adalah junjungannya.
Kekacauan seketika menerpa.
Mendengar pesan yang sama seperti yang didengar oleh selir lainnya ternyata tak membuat Selir Agung Gong Dahye memberikan respon yang sama. Berhubung kali ini penyampaiannya di tambah dengan maksud yang pelayan tersebut ketahui tentang alasan undangan lisan itu dibuat.
Selir Agung Gong Dahye merah padam. Nafasnya memburu tak beraturan. Amarah menyebar membuat takut para pelayannya. Ia seolah tak sadar bila sedang mengandung.
"Apa kau bilang?! Perempuan itu mengundang semua selir Kaisar Li untuk di uji siapa yang pantas menggantikannya menempati posisi permaisuri, begitu?" berang-nya seraya melorot dengan ganas.
"Be..benar, Ya..yang Mu..mulia..." gagap pelayan tersebut tak berani.
"Si*lan! Apa maunya dia! Berani sekali mengambil tindakan seperti itu! Apa dia ingin melawan Selir ini?!" marah Selir Agung Gong Dahye tak tertahan.
Menatap tajam pelayan itu dengan matanya yang sudah memerah karena marah. "Tidak ada gunanya! Dia sengaja membuat ku marah! Pertemuan itu hanya akal-akalannya saja! Pada akhirnya, ia tak akan melirikku untuk menggantikannya! Apa dia pikir aku tidak tahu rencananya?! Bod*h!" sarkasnya dengan nada keras.
Semua pelayan yang ada disana hanya bisa menelan ludah dengan susah payah, karena takut.
"Kau kembalilah. Awasi terus perempuan itu. Aku akan datang sesuai undangan yang diberikan. Akan ku lihat lebih dulu, apa yang bisa ia lakukan untuk melawanku. Si lemah tak berguna itu hanya pandai menggertak sekarang. Tapi, pada akhirnya... Ia tetaplah sampah!" kalimat sarkasme-nya begitu tajam menggema di ruangan itu. Untungnya, tidak ada orang luar yang berada disana atau mereka akan tahu sosok asli Selir Agung Gong Dahye.
Pelayan itu segera membungkuk hormat dan pamit. Ia pergi dengan dengan cepat, tak sanggup bisa harus bertahan lebih lama lagi.
Junjungannya sungguh mengerikan. Bila di bandingkan. Kengerian Permaisuri adalah kengerian yang tersembunyi hingga akan menjadi kejutan luar biasa saat kengerian itu muncul kepermukaan, sedang kengerian Selir Agung Gong Dahye adalah kengerian yang umum pada dasarnya hingga hanya membuat takut namun tak mengguncang jiwa terdalam seseorang.
Suasana suram dan mencekam menyelimuti kediaman Selir Agung Gong Dahye. Wanita hamil itu kali ini benar-benar murka. Tak pernah terpikirkan olehnya kalau gadis itu bisa bertindak sejauh ini.
"Si*lan! Aku lengah!" umpatnya kesal bercampur marah dengan tangan yang mengepal kuat.
__ADS_1
aku datang....๐๐