
Brak!
"RAY!"
Pintu di buka paksa bersamaan dengan suara teriakan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Reychu.
Sebelum tiba dikamar yang ditempati Rayan, Reychu lebih dulu beradu mulut dengan Kaisar Agung Bai sampai akhirnya ia bisa lolos dari pria itu.
Karena tidak tahu sedang berada dimana, Reychu pun bertanya pada pelayan yang melintas disana saat itu guna menanyakan keberadaan dua sahabatnya.
Jawabannya membuat Reychu tahu kalau kedua sahabatnya berada ditempat terpisah.
Rayan ditempatkan di salah satu kamar, sendirian dan Ryura di tahan di paviliun Mutiara bersama pria berambut putih keperakan yang belum pernah ia lihat sama sekali.
Bukannya mencemaskan keadaan Ryura, Reychu malah berpikir yang tidak-tidak. Dia membayangkan sahabatnya melewati malam panas bersama pria itu dengan wajah tanpa ekspresi. Tanpa rona merah di pipinya, tanpa ekspresi bergairah, dan tanpa ada tanda-tanda terbuai oleh sentuhan pria itu.
Membayangkannya saja membuat Reychu tak bisa menahan tawa gelinya.
"Bukankah itu sama saja menggauli patung?! Bwahahaha... Aku tak bisa membayangkannya lebih jauh. Ini benar-benar diluar nalar. Hahaha..." dia berujar dan tertawa sendiri sambil berjalan menuju kamar tidur yang Rayan tempati.
Ditengah perjalanan, tiba-tiba sesuatu menerjang tubuhnya dengan pelukan. Saat ia melihat siapa yang menabrak bagian depan tubuhnya, saat itulah ia tahu kalau ternyata itu adalah Chi-chi.
"Chu-chu...!" riang Chi-chi menyebut nama Reychu.
"Aaa... Chi-chi!" sahut Reychu sama saja.
Mereka berpelukan seperti sudah lama tidak bertemu. Dari sanalah mereka akhirnya menuju kamar yang ditempati Rayan bersama.
Kembali ke awal.
Pak!
Bunyi benda yang dilempar Rayan menggema di belakang Reychu. Ternyata, benda itu adalah sepatu yang Rayan kenakan. Dia sedang berpakaian saat Reychu menerobos masuk ke kamarnya tanpa izin. Lantaran kesal, tanpa pikir panjang sepatu pun kena imbasnya.
Rayan melemparnya hingga melewati sisi kepala Reychu dan menabrak daun pintu yang dibuka paksa oleh Reychu.
Jejak tapaknya bahkan sampai tertinggal di sana.
Melihat sepintas barang yang lewat melalui ekor matanya, Reychu berseru. "Wow. Kau sudah bosan dengan sepatu itu? Berikan padaku. Biar ku jual saja. Meski sedikit tetap saja menghasilkan uang." tak ada rasa bersalah dalam suaranya. Benar-benar tak menganggap lemparan sepatu itu diperuntukkan padanya sebagai peringatan.
Rayan hanya menyipitkan mata seraya. Mendengus malas. Ia kembali melanjutkan mengenakan pakaiannya yang belum usai.
"Ryura kemana? Kudengar dia di tahan oleh seorang pria. Apa pria itu simpanannya?" tanya Reychu santai seraya berjalan menuju kursi dan mendudukinya.
Mendengar kalimat ngawur Reychu, Rayan hanya mendelik tajam sesaat sebelum menjawab. "Ck! Hati-hatilah mulai sekarang saat kau mau bicara Rey! Tempat kita berada sekarang bukan tempat dimana kau bisa menyinggung semua orang dengan kata-kata tak tersaring mu itu. Ini Kekaisaran Utara, benua dimana cukup banyak orang-orang hebat berada." kata Rayan mengingatkan.
"Kekaisaran Utara? Lalu, apa hubungannya dengan Ryura?" tak tahu apa dia sengaja bodoh atau benar-benar bodoh. "Perasaan, aku bertanya padamu tentang apakah Ryura diam-diam memiliki pria simpanan? Kenapa kau jadi bertindak seperti penatua yang memberikan nasihat pada keturunannya?! Aneh!" lanjutnya. Dia masih dengan santai mengatakan semua itu.
__ADS_1
Sikapnya yang seperti ini, selalu bisa membuat Rayan mudah meledak.
Pletak!
"Auw! Apa salahku kali ini?" keluh Reychu seraya menggosok-gosok bagian kepalanya yang dipukul oleh Rayan.
"Reychu sayang, dengarkan aku baik-baik! Apa yang aku katakan tadi adalah untuk kebaikan mu sendiri. Kau tanya apa hubungannya antara Ryura dan Kekaisaran Utara, bukan? Kalau begitu dengar jawaban ku. Ada kaitannya. Karena, saat ini Ryura sedang bersama salah satu pria yang berpengaruh di Benua Utara ini. Pria yang dengan entengnya kau sebut sebagai simpanannya Ryura. Aku tak tahu apa yang akan terjadi padamu bila ia mendengar kau mengatainya simpanan Ryura. Karena itulah, aku mengingatkan mu sekarang. Apa sudah jelas?!" panjang lebar Rayan menerangkan semua yang ia tahu.
Dalam hati ia sudah bersumpah kalau Reychu masih berlagak bodoh lagi. Ia akan mematahkan lehernya.
"Wow! Benarkah! Tidak ku sangka. Ryura hebat juga dalam mengambil hati seseorang. Hohoho..." entah bagian mana yang menjadi fokus Reychu, yang pasti dia seperti tidak mempedulikan keseluruhan peringatan yang Rayan ucapkan.
Mendengar itu yang ditangkap oleh Reychu atas apa yang ia terangkan. Rayan jengah dan lelah. Dia malas melanjutkan lebih jauh lagi. Si gila satu ini sudah cukup tua untuk di ajari, begitu pikirnya.
"Tunggu! Apa itu artinya, pria tampan berambut merah yang bersama ku juga salah satunya?" tanya Reychu begitu wajah Kaisar Agung Bai melintas dibenaknya.
Sambil mengangguk membenarkan, Rayan menjawab. "That's right!"
"Wow! Hebat!"
"Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan di otak mu yang berantakan itu? Kau tidak sedang berpikir yang aneh-aneh bukan?" karena curiga Rayan bertanya. Cukup paham sifat sahabatnya yang satu ini.
"Jangan suka berprasangka buruk padaku. Aku tidak berpikir apa-apa selain berpikir kalau ada kemungkinan si rambut merah itu adalah jodohku yang sesungguhnya. Dia tampan. Aku benar-benar mendapatkan pasangan yang tampan. Hehe..." Rayan tak tahu harus bagaimana merespon saat melihat Reychu dengan kelakuan aneh bin konyolnya kambuh.
"Dan kau bangga?" dengan ogah-ogahan Rayan bertanya.
Sedang Rayan sudah terlanjur malas meladeni orang gila di dekatnya saat ini, jadi ia memilih mengabaikannya saja.
Dan dia hanya berkata. "Dasar tidak waras!"
Tiba-tiba, Rayan tertegun sejenak. Dia sepertinya menyadari ada sesuatu yang kurang. "Rey, bukannya tadi kau datang kemari bersama Chi-chi? Kemana dia?" akhirnya Rayan ingat kalau ia melupakan siluman kelinci kecil itu. Padahal tadi tampaknya dia sempat melihat siluman itu walau sekilas.
"Oh. Dia langsung melarikan diri begitu melihat mu masih berpakaian. Dia laki-laki, kurasa dia malu. Eh! Laki-laki punya malu? Ck. Sepertinya aku harus mencarikan Chi-chi pasangan yang tepat. Ini tidak benar kalau sampai dia punya malu. Dia laki-laki. Biasanya laki-laki buas bila melihat perempuan telanjang!" santai sekali Reychu menjawab. Dia sama sekali tidak menyadari wajah gelap Rayan yang seperti siap memakannya.
Plak!
"Ouch! Ray...!" diusap bibirnya yang habis di tepuk oleh Rayan dengan kuat. Reychu mengaduh karena kaget. Tadi, dia sampai tidak sadar kalau tangan Rayan akan meluncur di bibirnya karena keasikan bicara.
"Mulutmu, Rey! Mulutmu...! Astaga...!" geram Rayan sampai tangannya di angkat lagi seperti hendak mencakar Reychu saat ini juga. Betapa geregetnya Rayan pada sahabatnya yang satu ini.
Reychu hanya memanyunkan bibirnya sambil mengedarkan pandangannya kearah lain. Dia bersikap pura-pura tidak tahu.
Kaisar Agung Bai dan Shin Mo Lan berjalan bersama ke paviliun Mutiara, tak lupa Min Hwan yang mengikuti di belakang Shin Mo Lan.
Setibanya disana, yang dilihat mereka hanya ada Dong Jia Zi di depan pintu kamar tempat dimana Ye Zi Xian biasa tinggal saat berada di kediaman Zhilli Shin.
__ADS_1
"Jia Zi, apa yang kau lakukan di sini?" Kaisar Agung Bai melihat sekilas kearah pintu yang masih tertutup dibelakang Dong Jia Zi. "Tuan mu belum bangun? Tidak biasanya!" sambungnya.
Dong Jia Zi membungkukkan tubuhnya guna memberikan pria muda didepannya hormat. "Salam, Yang Mulia! Salam, Tuan Muda Shin!" kembali menegakkan tubuhnya, ia melanjutkan. "Tidak, Yang Mulia. Tuan Ye sudah bangun sejak tadi. Tapi, beliau hanya keluar untuk memberikan saya pesan untuk disampaikan pada anda, Yang Mulia."
"Lalu, katakan pesannya."
"Beliau berkata kalau saat ini sedang tidak ingin diganggu dan meminta maaf karena tidak ikut ke ruang perjamuan." ia mengatakan isi pesannya.
"Gadis itu ada didalam?" tanya Shin Mo Lan kali ini untuk memastikan.
"Benar, Tuan Muda! Saat ini beliau sedang menunggu Nona Ryura bangun dari tidurnya." jawabnya.
Menggelengkan kepala dengan tak berdaya, dua pria tampan itu saling pandang.
Kaisar Agung Bai bicara lebih dulu. "Apa dia sudah gila?! Mereka belum menikah!" keluhnya seperti lupa kalau dia tidak jauh berbeda dengan sahabatnya saat dekat dengan Reychu.
"Jangan tanya aku. Dia sudah besar." Shin Mo Lan tak tahu harus bagaimana merespon.
"Tapi, apa benar gadis itu belum bangun? Matahari sudah sangat terang." tanya Kaisar Agung Bai masih merasa tak percaya tentang hibernasi yang terjadi pada Ryura.
"Dia benar-benar tidur. Aku tidak tahu kapan tidurnya dimulai. Yang pasti, kalau pagi saja tidak membuatnya bangun, itu artinya dia baru akan bangun nanti. Kondisinya memang seperti itu, meski aku sendiri baru melihat kasus seperti itu untuk pertama kalinya. Dia benar-benar menjalani hibernasi." jelas Shin Mo Lan.
"Haish. Ya sudah. Kita langsung ke ruang perjamuan saja. Tidak baik membuat keluarga mu menunggu." kata Kaisar Agung Bai dan siap berbalik.
"Kau seorang Kaisar Agung. Tidak ada yang berani menyalahkan mu." ledek Shin Mo Lan dengan sudut bibirnya sedikit ditarik.
"Cih! Kalau itu aku tahu! Aku hanya memikirkan gadis-gadis itu. Mereka baru disini. Tidak baik, membuat mereka melakukan kesalahan." terangnya, menyembunyikan makna terselubung dibaliknya.
"Kenapa aku tidak benar-benar merasa kalau kau memperhatikan mereka?! Kata-kata mu ini lebih kepada seperti kau sedang ingin melindungi salah satunya. Apa yang kau maksud adalah gadis yang kau bawa itu?" ledek Shin Mo Lan lagi.
Tapi, temannya tampaknya memilih acuh saja.
Hening sejenak. "Benar. Aku berencana untuk menikahinya. Jadi, dia harus tampil baik didepan umum. Setidaknya, jangan sampai orang mengatakan hal-hal buruk tentang dia." itu yang ia katakan di luar, dengan sedikit lanjutan dihatinya. "Meski aku yakin, Reychu-ku mampu mengatasi semua itu tanpa memerlukan bantuan ku. Paling tidak, aku hanya bisa mengurangi kemungkinan buruknya saat ini."
Setelah itu mereka pun beranjak pergi meninggalkan paviliun Mutiara untuk menuju ruang perjamuan kediaman Zhilli Shin.
maaf telat say.
tapi Thor dah up ya...
yang nunggu eps Ye-Ryu. mungkin Thor up di chapter berikutnya atau berikutnya lagi. hehehe
selamat membaca gaess...
πππ
__ADS_1