3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
MEMBIARKAN LAWAN MEMULAI


__ADS_3

Berita menghebohkan itu sampai ke Meng Ruona.


Saat ini dia tengah di ruang kerjanya sedang menyempatkan waktu untuk melihat kehebohan yang terjadi di dunia maya perihal berita tentang kembalinya Ye Huan bekerja. Dia membaca banyaknya praduga untuk keadaan rumah tangga pria yang dicintainya itu.


Jujur saja, hatinya senang mendengar semua komentar buruk tentang pasangan pengantin baru itu. Dia merasa doanya untuk memiliki Ye Huan menemukan jalannya. Dia terus membaca semua berita mengenai hal itu dengan sumringah yang tiada hentinya.


"Aku sudah bilang. Ye Huan adalah milikku. Mungkin saat ini dia berstatus suami seseorang. Tapi, siapa yang tahu kalau pada akhirnya. Istri seorang Ye Huan adalah Meng Ruona. Aku dan hanya aku." angkuhnya merasa sangat percaya diri.


Saat matanya menangkap postingan yang menampilkan sosok Ryura dengan kecantikannya yang dingin, Meng Ruona melayangkan tatapan merendahkan dan mengejek.


"Lihat. Kalian memang tidak berjodoh. Masa, baru beberapa hari sudah renggang. Tidakkah itu menandakan kalau sebagai orang rendahan jangan terlalu banyak bermimpi. Kasihan sekali dirimu." Meng Ruona tergelak rendah menertawakan betapa mirisnya jalan cinta Ryura.


Tiba-tiba, perempuan cantik itu mengingat Bo Kang dan rencananya. Matanya menajam nan menuntut tanpa ada objek yang ditatap. "Bo Kang, ku harap kau tidak mengecewakan ku. Kau harus melakukan apapun untuk membantuku menyingkirkan wanita itu dari Ye Huan. Aku tidak mau sampai mendengar kegagalan darimu. Seharusnya kau bersyukur aku sudi melihat mu lagi setelah sekian lama. Jadi, bawakan aku keberhasilan mu." arogansi Meng Ruona terdengar jelas dalam nada rendahnya kala mengucapkan semua kalimat penuh kesombongan itu.


Dia sangat percaya diri.


Tok...


Tok...


Tok...


Meng Ruona tersadar dari kegiatannya setelah mendengar ketukan pintu dan mendongak sedikit kearah sana, lalu berkata. "Masuk!"


Seorang wanita yakni seorang sekretaris masuk setelah mendapat izin dari sang pemilik ruangan sekaligus atasannya.


Berjalan mendekat lalu melaporkan apa yang akan dia laporkan. "Nona Meng. Sudah waktunya rapat. Yang lain sudah menunggu anda."


Meng Ruona mengangguk mengiyakan. Kemudian mematikan ponselnya, memasukkan benda itu ke saku blazer-nya, dan keluar dari ruang kantornya menuju ruang rapat yang akan berlangsung.



Jam makan siang.


Terlihat Meng Ruona tengah berlari dengan tergesa-gesa keluar dari gedung kantornya, lalu bergegas memasuki mobil yang sejak dari ruangan kerjanya telah dia perintahkan untuk di bawa kedepan gedung agar dia tak perlu membuang lebih banyak waktu lagi untuk mengambilnya.


Di sepanjang jalan, salah satu headset bluetooth tak lepas dari telinga kanannya. Ternyata dia sedang tersambung dengan seseorang melalui panggilan telepon.


"Dia ada dimana?" tanya Meng Ruona kepada orang diseberang telpon sambil melirik spion mobil sekilas sebelum menjalankannya.


Dia terkesan terburu-buru.


"Di restoran Prancis, Nona. Beliau sedang melakukan pertemuan penting dengan klien dari luar negeri sekaligus makan siang bersama." jawab orang seberang dengan nada suara yang hati-hati, seolah takut ada yang mendengarnya.

__ADS_1


Seringai lantas terbit di bibir Meng Ruona. "Bagus. Terimakasih sudah mau bekerjasama. Aku tidak akan melupakannya. Seperti janjiku sebelumnya, aku akan mewujudkan satu permintaan mu tiap kali kau mau membantu ku." terang Meng Ruona dengan perasaan membuncah bahagia.


"Baik, Nona. Terimakasih banyak juga. Senang bekerjasama dengan anda. Saya akan memberitahu Anda apa yang saya inginkan setelah saya menemukannya." lagi, jawab orang di seberang.


Tuut...


Sambungan di matikan segera, sebab Meng Ruona harus bergerak cepat atau kesempatan yang didapatnya akan sia-sia.


Menilik dari pertukaran dialog tersebut, tampaknya ada yang sedang dilakukan oleh Meng Ruona terlepas dari dia yang meminta bantuan Bo Kang dan orang yang bekerjasama dengannya sudah pasti tak lain adalah seseorang yang bekerja dibawah kepemimpinan Ye Huan secara langsung, mengingat dia sangat tahu jadwal Ye Huan.


Seperti saat ini.


Di tempat lain, pada saat bersamaan juga. Seseorang mematikan ponselnya setelah apa yang dia butuhkan didapatkan dan saat mendongak dua wajah penuh penantian sudah terpasang didepannya.


"Apa yang kau dapat?" tanya salah satunya.


Yang ditanya hanya menatap si penanya tanpa menjawab hingga membuat geregetan. "Katakan sesuatu..." desaknya tak sabar. Itu karena dia terlalu penasaran.


Seseorang itu masih enggan menjawab dan malah memilih menelpon seseorang. Dibawah tatapan dua pasang mata lainnya yang semakin dibuat penasaran, sedang dia masih terlihat biasa saja.


"CK! Dia ini..." greget salah seorang itu melihat keacuhan sahabatnya.


Tuut... Tuut...


Telpon pun tersambung.


"Halo, dengan Sekretaris Lai disini. Saya ingin tahu dengan siapa saya bicara saat ini!" nada datar Lai Zouji dan terdengar tidak senang. Maklum, pasalnya yang dihubungi adalah nomor pribadi. Lai Zouji masih ingat dengan jelas kalau nomor pribadinya tidak pernah dibiarkan tersebar sembarangan.


Jadi, siapa yang menghubunginya dengan lancang ini?


"Aku." satu kata saja, namun sukses membuat orang diseberang telpon membeku.


Meski tidak tahu suara milik siapa itu, tapi auranya tak bisa bohong. Dengan tergagap Lai Zouji angkat suara. "Ehm... Ny..nyonya Ye?!"


Yang di sebut hanya berdehem dan itu cukup untuk menyadarkan Lai Zouji bahwa saat ini dia tengah berbicara dengan Ryura Jenna, istri tercinta Tuan-nya.


Matilah dia!


Tadi dia berbicara dengan nada seperti itu!


Bersyukur saat ini Lai Zouji sudah menyingkir sejenak dari Ye Huan dan kliennya yang sedang makan siang sejak ia menerima panggilan telepon.


Tak terbayangkan oleh Lai Zouji akan jadi apa dirinya kalau sampai terdengar oleh Ye Huan saat ia berbicara seperti itu.

__ADS_1


Ryura sendiri tampaknya tak peduli dengan konflik batin bawahan suaminya itu, dia langsung bertanya. "Suamiku disana?"


Lai Zouji menenangkan diri sejenak sebelum menjawab. "Ya, Nyonya." kali ini nadanya sangat sopan dan patuh. Beda sekali dengan yang tadi.


"Katakan padanya, aku menyuruhnya kembali setelah urusannya selesai tanpa penundaan." tandas Ryura dengan nada datar khas miliknya yang terasa tidak bisa dibantah oleh Lai Zouji.


Demi kesejahteraan hidupnya, dia patuh sampai mengangguk cepat. "Baik, Nyonya. Akan saya sampaikan agar beliau kembali tanpa penundaan." lugasnya mengulang titah Ryura agar semakin jelas.


Tuut...


Tanpa kata lagi, sambungan di putus sepihak oleh Nyonya-nya. Akhirnya, jantung Lai Zouji bisa kembali berdetak normal setelah tadi terpacu tanpa bisa dicegah hingga dia nyaris kehabisan nafas.


Setelah keadaannya membaik, Lai Zouji sempat bingung darimana Nyonya Ye tahu nomor pribadinya. Kalau, beliau tahu dari Ye Huan sepertinya tidak perlu sampai menelpon melalui dirinya. Sebagai orang peka pada karakter pendiam nan dingin seperti Ye dan Nyonya-nya. Lai Zouji merasa kalau yang di lakukan Ryura memiliki makna lain.


Dan itu yang dia tidak tahu.


Kalau begitu, dia harus mencari tahu.


Segera, Lai Zouji beranjak untuk kembali ke ruang pribadi yang ditempati oleh Ye Zi dan kliennya.



"Sebenarnya ada apa, Ryu?" tanya Rayan menuntut. Sedari tadi ia sudah bersabar menunggu sahabatnya angkat bicara, tapi tak ada sahutan sama sekali.


Ya, ketiganya masih di restoran yang ada di mall. Selain beristirahat, ketiganya ingin sekalian makan malam.


Mengenai apa yang baru saja Ryura lakukan. Gadis itu masih sama misteriusnya seperti sebelumnya. Mungkin bisa dikatakan bahwa instingnya berkata akan terjadi sesuatu pada suaminya, itulah mengapa dia menghubungi Lai Zouji dengan nomor yang entah didapat dari mana.


Sebenarnya, bisa saja dia menghubungi suaminya. Akan tetapi, dia tidak melakukannya dikarenakan, bila Ryura berbicara langsung sudah pasti dia akan menjelaskan mengapa dia meminta suaminya pulang dan dia mungkin akan menjadi istri penurut kalau-kalau Ye Zi Xian tiba-tiba mengajukan keinginannya. Alhasil, dia memilih menggunakan Lai Zouji sebagai perantara.


Akan tetapi, dibalik alasan itu. Ada sesuatu yang lain dan itu rahasia Ryura sendiri.


"Seseorang ingin mempercepat permainan..." menatap Reychu dan Rayan bergantian dengan wajah datarnya. "Tertarik?"


Reychu yang lebih bersemangat kala mendengar kata itu.


"Ouh... Sudah pasti...! Hahaha... Kapan kita mulai? Aku sudah tidak sabar!" Reychu sampai menggosok kedua telapak tangannya beradu seperti telah menemukan makanan yang luar biasa enak.


"Kita tunggu dia bergerak lebih dulu untuk memulai." tukas Ryura dalam kekosongannya.


"Kemudian, kita tangkap dia untuk dijadikan mainannya. Hihihi..." sambung Reychu dengan segala kegilaannya.


__ADS_1


__ADS_2