
Setelah pergi meninggalkan aula kerajaan, Reychu kembali kekediaman tulip yaitu kediaman yang menjadi tempat tinggalnya selama menjadi permaisuri. Kediaman itu mutlak miliknya, oleh sebab itu meski ia melakukan kesalahan kaisar tidak bisa memindahkannya dari kediaman tulip tersebut karena kediaman itu sudah di peruntukan bagi permaisuri keturunan keluarga Ahn oleh kaisar sebelumnya.
Melangkah masuk ke pekarangan yang ada di kediaman tulip itu, namun seketika langkahnya harus terhenti sebab suatu hal yang ia lihat membuatnya menghela nafas singkat dengan mata menyorot malas. Jujur saja, saat ini ia jengah bila mendapati hal yang sama seperti kemarin.
Tanpa basa-basi. "PELAYAAAANNN!!!" teriaknya kencang. Ia tak peduli bila ia sedang kembali ke peran sesungguhnya sebagai seorang permaisuri. Baginya ini lebih penting dari gelarnya yang tidak ada apa-apanya itu.
Dengan tergopoh-gopoh beberapa pelayan yang mengikutinya sejak persiapan penyambutan tadi kini tampak bergegas menghampirinya setelah mendengar teriakkan tak biasa dari ratu mereka.
Ini kedua kalinya mereka mendengar permaisuri meneriakkan panggilan mereka hingga membuat para pelayan itu dilema. Mereka dibuat bingung dengan bagaimana cara menangani permaisuri yang sekarang. Bila itu dulu, mereka tak akan merasa kesulitan justru mereka dibuat dapat merasakan berada di posisi lebih tinggi dari permaisuri. Akan tetapi, kini jangankan merasakannya lagi untuk sekadar mendongak sedikit saja rasanya mereka akan kehilangan hidup mereka saat itu juga.
Permaisuri sekarang benar-benar berbeda.
"I..iya yang mulia!" jawab mereka serempak. Reychu melayangkan tatapan merendah bercampur malas.
Ya, saat ini Reychu sedang dalam mode malas. Ia jadi enggan melakukan apapun selain bersantai.
"Kalian ini ber-9 kan?" para pelayan itu saling melirik dalam tunduknya kemudian mengangguk membenarkan.
Reychu mengangguk paham.
"Kalau begitu... Dengarkan perintah pertamaku ini." memandang kesembilan pelayan yang menunduk didepannya, Reychu terkikik dalam hati mendapatkan kesempatan menjadi orang yang di hormati sekaligus ditakuti.
Para pelayan itu diam menunggu perintah yang akan Reychu utarakan. Meski sedikit enggan karena bukan majikan sesungguhnya namun mereka tak bisa berbuat apa-apa saat ini.
"Aku tahu kalian ini pelayan yang ditunjuk langsung oleh Gong Dahye si selir bermuka dua yang tidak tahu diri itu!" ia msih sempat mengumpat rupanya. "Tapi, jangan berpikir kalau kalian sudah disini berarti kalian bebas bergerak untuk memata-matai ku... Itu tidak akan terjadi... Atau dengan kata lain itu hanya akan menjadi sia-sia. Kalian tahu kenapa...?!" terang Reychu dan mengakhiri dengan pertanyaan yang membuat pelayan itu bingung. Walau pada akhirnya jawaban tetap berada padanya.
Reychu memiringkan kepalanya dengan menatap lurus kesembilan pelayan tersebut. Itu terasa cukup mengintimidasi walaupun nyatanya Reychu tak berpikir melakukan hal itu.
Deg!
Mendengar keterangan permaisuri yang tepat sasaran membuat mulut para pelayan itu kelu. Mereka tak tahu harus menjawab apa?! Mereka hanya di perintahkan untuk mengawasinya saja dan itu terlepas dari apa saja yang ia lakukan -sejauh ini-, namun yang namanya memata-matai tetap saja memata-matai.
"Hehehe... Ketahuan, heh?!" ledek Reychu yang memang sudah tahu namun ia memilih sedikit bermain-main. Kesembilan pelayan itu kikuk dan salah tingkah saat kalimat yang di ucapkan Reychu lagi-lagi tepat pada sasarannya.
Mereka kesulitan menelan salivanya. Keringat dingin mulai mengalir di punggung mereka. Telapak tangan pun ikut basah. Tak ayal beberapa diantara mereka sulit menyembunyikan kegugupan yang menimbulkan getaran kecil pada tubuh.
Mata Reychu memindai tubuh mereka dengan perasaan senang. Ia merasa bangga pada dirinya sendiri karena mampu membuat takut orang lain akan dirinya.
"Hahaha... Mereka benar-benar menggemaskan saat takut..." batinnya gemas. Bahkan Reychu sampai ingin meremas mereka saking gemasnya.
"Usaha kalian memata-matai akan sia-sia dikarenakan, aku tidak akan melakukan apapun meskipun kalian sudah mendengar bagaimana aku mengibarkan bendera perang pada majikan kalian yang menjijikkan itu. Sebab aku bukan orang yang mau repot-repot memikirkan rencana untuk melawan musuh... Aku lebih suka langsung menyerang mereka disaat ada kesempatan! Jadi, percuma kalian mempersiapkan mata dan telinga kalian kalau pada akhirnya tidak ada yang kalian dapatkan dari mengawasi ku... HAHAHAHA!!!" jelas Reychu yang tak bisa menahan tawanya dikala wajah pias para pelayan di depannya saat ini terpampang nyata.
Reychu sungguh terhibur dengan hal itu. Tapi, wajahnya tiba-tiba berubah serius namun percayalah kalau sebenarnya ia hanya berpura-pura.
Dengan nada datar ia berucap. "Tunggu apa lagi! Segera bersihkan kediaman tulip ini hingga kembali seperti semula. Bersih, rapi, dan wangi! Kalau kalian ketahuan olehku tidak mengerjakan tugas kalian dengan benar! Bersiaplah mendapatkan hadiah dariku!" seraya menyeringai dengan seramnya. "Oh sebelum itu. 3 diantara kalian, sediakan aku tempat untuk bersantai di sini lengkap dengan camilan juga minumannya." lanjutnya.
Tanpa menunggu lagi, mereka pun bergegas bergerak cepat untuk memenuhi keinginan permaisuri mereka yang selama ini mereka tindas.
"Dia mengerikan!" celetuk seorang pelayan saat telah beranjak dari hadapan Reychu.
Lainnya mengangguk membenarkan. "Umm. Bukan hanya mengerikan. Kurasa dia akan jauh lebih menakutkan dari selir agung Gong Dahye. Aku jadi takut." balasnya meringis ngeri.
__ADS_1
Berleha-leha adalah kegiatan pertamanya setelah ia terbebas dari hukuman yang tidak mengenakkan juga mengancam nyawa. Bukan dengan senjata, melainkan dengan asupan makan yang tidak baik.
Meja bulat yang terbuat dari kayu sepasang dengan kursinya yang saat ini ia duduki. Diatas meja itu telah tersedia beberapa camilan yang dimasak juga berbagai macam buah segar dan jangan lupakan perlengkapan untuk minum teh hijau.
Reychu bersantai dengan khidmatnya. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kayu dengan kaki yang di selonjorkan ke atas meja tanpa sungkan. Perilakunya jauh dari kata pantas bila mengingat gelar yang disandangnya. Tapi, siapa peduli sekarang...
"Haaahh... Indahnya hari. Tidak panas, tidak juga dingin. Sangat pas! Hehehe..." monolognya sendiri.
Melirik para pelayan yang masih sibuk dengan kegiatan bersih-bersihnya. "Lakukan dengan benar! Jangan sampai ada yang terlewat! Dan jangan mengumpat ataupun menggerutu. Kalian harusnya sadar posisi kalian disini!" tutur Reychu yang dibuat-buat sarkas. Ia hanya sedang senang mengganggu orang lain.
"Baik, yang mulia!" jawab para pelayan serempak dari tempat mereka masing-masing bertugas.
Tapi, sepertinya takdir tidak mengizinkan dia senang terlalu lama. Itu terbukti dari munculnya si musuh bebuyutannya yang tiba-tiba datang tanpa diundang.
"Wah... Aku tidak tahu kalau permaisuri negara api seperti ini perangainya." sinis sebuah suara yang empunyanya tengah bernama mendekati kearah Reychu diikuti beberapa pelayannya. Siapa lagi kalau bukan Gong Dahye.
Selir tersebut sempat memandang kesal saat melihat pelayan utusannya benar-benar di perbudak oleh Reychu. Padahal sebelumnya ia memerintahkan kepada beberapa pelayannya untuk melayani Reychu sekaligus menyamar guna memantau permaisuri tersebut agar ia tahu bisa mempersiapkan apa untuk melanjutkan misi penyingkiran permaisuri dari tahtanya.
Reychu yang mendengar suara itu segera melirik sekilas si pemilik suara. Tapi, begitu ia tahu siapa orangnya tanpa mau peduli ia kembali menikmati kegiatan santainya. Sesekali memasukkan anggur dan mengunyahnya, kemudian menyemburkan biji-biji yang ada keluar dari mulutnya.
Gong Dahye mengernyit jijik melihat kelakuan Reychu yang tak beretika itu.
"Permaisuri, apa yang kau lakukan?! Tidakkah kau tahu kalau itu adalah cara yang salah dalam peraturan tata cara makan di istana?! Kuharap kau sadar akan hal itu, permaisuri Ahn!" tekan selir agung Gong mencoba mengintimidasi.
"Kau repot-repot datang kemari hanya untuk memberitahu ku tentang itu?!" memandang malas Gong Dahye yang berceloteh tak henti. "Kalau begitu, kau sudah melakukannya. Sekarang kau bisa kembali ke kediaman mu. Hush... Hush...!" usirnya sambil menggunakan isyarat tangan, lalu kembali memakan camilan yang tersedia.
Ia tak peduli sama sekali, bahkan untuk sekadar mempersilahkan wanita itu duduk saja tidak ia lakukan. Bayi di dalam kandungan Gong Dahye sekalipun tidak membuatnya tersentuh.
"Beraninya kau mengusirku! Apa kau tidak takut aku akan mengadukannya kepada kaisar?!" kesal Gong Dahye tak terima. Tapi, juga tak ingin melewatkan kesempatan untuk menghasut kaisar kembali. Ia tersenyum miring berpikir kata-kata akan dapat membuat Reychu takut.
Melirik tak peduli, lalu menjawab dengan santainya. "Hanya wanita tak berguna yang suka mengadu. Apalagi untuk hal-hal yang sepele." nadanya acuh tapi cukup untuk menaikkan amarah wanita hamil itu.
Gong Dahye terhenyak kaget mendengarnya, namun kata yang di ucapkan Reychu mampu menyulut emosinya.
"Kau...! Wanita seperti mu yang tidak berguna!" kerasnya dengan wajah yang sudah merah padam karena marah. "Lihatlah dirimu yang sampai sekarang pun masih belum bisa mendapatkan hati kaisar. Padahal kau yang paling lama bersamanya..." sambil tersenyum miring. "Sedang aku... Lihat aku... Tidak butuh waktu lama mampu membuat kaisar jatuh hati padaku bahkan ia sampai membencimu. Hahaha..." ucapnya yang berujung tawa mengejek juga menghina Reychu.
Selir agung Gong Dahye sengaja mengatakan hal itu karena ia yakin kalau permaisuri Ahn hanya berpura-pura menjadi kuat tanpa tahu kalau itu semua nyata adanya.
Melirik penuh cemoohan. "Heh! Dasar kau ini... Itu saja tidak tahu." Reychu mendengus geli. "Dengar! Itu terjadi karena kaisar yang terlalu bodoh sampai ia sendiri tak tahu kemana hatinya harus berlabuh. Jika, pilihannya adalah kau... Menurut ku itu sudah membuktikan kalau ia itu buta dan bodoh." matanya mulai memindai fisik Gong Dahye dari atas hingga bawah. "Tidak habis pikir dengan selera pria itu... Wanita seperti mu, bagaimana bisa membuatnya jatuh hati?! Kecuali kalau kau mengguna-guna pria itu sehingga baginya kau wanita yang sempurna. Hahaha... Kasihan sekali!" ejeknya tanpa ragu.
BRAK!
Prang!
Selir agung Gong Dahye tak bisa lagi membendung amarahnya begitu mendengar kalimat yang cukup menghina harga dirinya. Sehingga membuat ia mendorong meja yang menyediakan camilan santai Reychu kearah samping. Berhamburanlah semuanya juga piring, teko, dan cangkir teh ikut pecah. Tapi, Reychu hanya terhenyak sedikit namun bukan dalam artian takut justru saat ini ia tengah menampilkan ekspresi wajah konyolnya seraya menarik lipat kedua kakinya ikut naik ke kursi duduknya. Membuatnya terlihat meringkuk.
Sesaat setelah terhenyak ala dirinya detik berikutnya pecahlah tawanya yang menggelegar bahkan sampai mengalahkan suara meja jatuh sebelumnya.
"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA...!!!"
Selir agung Gong Dahye masih dengan nafas yang memburu akibat amarahnya tadi dan kini malah di anggap lucu oleh musuhnya. Langsung saja, ia menatap tajam sekaligus sengit penuh kebencian kearah Reychu yang belum menghentikan tawanya.
"DIAM KAU, JAL*NG!" teriak Gong Dahye di puncak amarahnya.
__ADS_1
Tetap saja umpatan itu tak juga membuat Reychu menghentikan tawanya. Namun, beberapa saat kemudian ia mulai bisa mengendalikan diri yang sempat lepas kendali.
"Heh... Hehehe... Hehe... Hhh... Uhuk...uhuk..." redanya sampai terbatuk sedikit, matanya menangkap aura membunuh dari wanita hamil itu. Wajahnya menggelap, tangannya mengepal, dan jangan lupa sorot matanya yang tak lagi ditutup-tutupi kalau ia amat membenci Reychu. Tapi, Reychu acuh aja.
Bergerak untuk berdiri dari duduknya, lalu berpose santai sambil bersedekap dada dengan tatapan provokatif. "Marah, ya?! Uuu... Aku takuuut..." katanya yang dibuat-buat seolah ia menciut, tapi nadanya sangat jelas kalau itu hanya ejekan.
"Kau benar-benar ingin mati rupanya!" desis Gong Dahye menggeram.
"Ingin?! Tentu, tidak... Tapi, kalau kau mau duluan, silahkan. Aku tidak apa..." senyum Reychu mengejek.
"Sudah, hentikan! Kau, Ahn Reychu! Berhentilah berpura-pura hebat dan kuat... Itu tidak akan menutup fakta kalau kau sungguh tak berguna dan lemah. Jangan mencoba mengelabui orang lain tentang dirimu yang sekarang, karena itu tak akan membuat kaisar berpaling dari ku. Kau tahu..." Reychu terkekeh mendengar penuturan Gong Dahye yang begitu berpercaya diri tinggi.
"Kau pikir aku peduli?!" cemoohnya acuh. "Kaisar bodoh itu tak pantas untukku. Tidak peduli aku yang sekarang mampu membuatnya berpaling atau tidak. Sekalipun ia berpaling, aku tidak memiliki ruang untuk menerima barang bekas sepertinya." gamblang Reychu seperti biasa. "Aku ini masihlah seorang gadis perawan. Artinya, aku juga harus mendapatkan seorang pria perjaka. Apa gunanya dapat barang bekas?! Kau pikir aku tempat pembuangan!" lanjutnya yang sukses membuat wanita hamil itu tersinggung.
"Kau... Kau pikir, kau sesuci itu?! Kau tak lebih dari perempuan hina yang tak diinginkan. Belum lagi, kau juga sudah di tinggalkan oleh keluarga mu. Apalagi yang tersisa dari keluarga Ahn. Hah?!" sembur Gong Dahye tak terima mendengar kalimat Reychu yang jelas sekali merendahkan dirinya.
Berdecak merasa lucu sendiri. "Ckckck... Inilah yang membuatku mengasihani pilihan si kaisar itu. Kenapa juga ia harus memilih perempuan yang bodoh namun bernafsu tinggi seperti mu... Aku yakin kau menginginkan kaisar karena ia tampan dan bertubuh bagus. Oh, jangan lupakan posisi nya...! Coba saja kalau dia itu pendek dan jelek, aku yakin jangankan mau, meliriknya saja kau enggan. Hehehe..." kekeh Reychu santai.
"Jangan sembarangan kau, ya! Tahu apa kau tentangku?!" sergah Gong Dahye keras. Ia benar-benar tak terima. Selir agung nyaris kehabisan kata-kata demi menghadapi permaisuri yang tampak telah berubah itu. Perubahannya sungguh gila!
"Oh ya?! Lantas bagaimana dengan mu... Lihatlah dirimu sekarang... Memangnya kau tahu aku?! Jangan konyol! Kau pun tak lebih dari wanita menjijikkan yang tidak punya kerjaan sehingga mencari kesibukan dengan membuat kekacauan yang mana menargetkan kaisar dan menyeretku ikut serta sebagai kambing hitam mu. Kau pikir aku bodoh seperti dirimu?! Jelas saja tidak!" tutur Reychu dengan membanggakan dirinya diakhir kalimat.
"Kau! Mati saja kau!" teriak Gong Dahye putus asa. Wanita hamil itu frustasi. Ia sudah di buat kualahan sampai tak memiliki kata-kata lain untuk membalas penghinaan yang dia dapatkan hari ini. Ahn Reychu yang sekarang selalu bisa menimpali perkataannya. Membuat dia tak bisa bila tidak bertambah marah.
"Wowowow... Tenang calon ibu! Kalau kau masih marah-marah kau akan segera melahirkan. Karena itu, sebelum hal tak diinginkan itu terjadi aku akan mengingatkan kalau aku tidak mengizinkan kau mengotori halamanku serta kediamanku dengan darah bersalin mu itu. Apalagi bayinya... Aku amat sangat tidak mengizinkan bayi yang ada di rahimmu menginjakkan kakinya di tempatku." tukasnya dengan nada yang tidak ada serius-seriusnya. "Bayiku bahkan belum ada, bagaimana bisa bayimu ku izinkan." lanjutnya acuh tak acuh.
Nafas Gong Dahye menggebu hingga dadanya naik-turun. Untuk pertama kalinya ia merasa kalah dari permaisuri. Padahal sebelumnya ia selalu menang melawan perempuan yang terkenal lemah lembut dan bijaksana itu. Tapi, lihatlah kini. Jelas saja kalau kebenciannya meningkat tajam.
"JAL*NG SI*LAN! AKU BERSUMPAH, AKU AKAN MEMBUNUHMU...!!!" teriak Gong Dahye di dalam batinnya.
Tanpa mau berkata-kata lagi, Gong Dahye pun berbalik pergi dengan diikuti pelayannya yang sejak tadi mengikutinya dan memilih diam saja saat melihat selirnya bertengkar dengan permaisuri. Bukannya tak ingin membantu, mereka hanya sudah di peringatkan untuk tidak menganggu.
Sebelum tubuh buncitnya melewati pintu kediaman tulip milik Reychu. Terdengar suara melengking Ahn Reychu yang berujar keras.
"SELAMAT TINGGAL... Eh, SELAMAT JALAN. MAKSUDNYA... BERKUNJUNGLAH LAGI DI LAIN WAKTU... AKU AKAN MELAYANIMU DENGAN LEBIH BURUK LAGI DARI INI... DAAAH...!!!" Reychu melambaikan tangannya dengan senyum penuh kemenangan karena berhasil membuat selir agung menyebalkan itu mati kutu.
"Heh... Satu, kosong... Kau harus bersiap untuk kekalahan berikutnya, Gong!" gumamnya menyebut marga wanita itu dengan rasa permusuhan yang kental.
Menoleh kebelakang dimana kesembilan pelayan yang diperintahkan untuk bersih-bersih tampak terpaku diam di tempatnya, sepertinya mereka baru saja menyaksikan pertengkaran mulut antara Reychu dan Gong Dahye.
Melihat itu Reychu menarik ujung bibirnya. "Kalian sudah lihat, bukan?!" suara itu menyadarkan mereka dari keterdiamannya lalu beralih memusatkan perhatian mereka pada Reychu yang masih terlihat santai-santai saja.
"Begitulah caraku memulai perang!" tukasnya gamblang tanpa mempedulikan wajah para pelayan yang seperti baru menyadari sesuatu.
Ya, sesuatu mengenai apa yang sebelumnya sudah di jelaskan oleh permaisuri tentang tugas mereka dari Gong Dahye yang akan menjadi tugas sia-sia.
Hihi... author pikir gk bisa up hari ini. gila... ngtiknya ngebut ini...
semoga kalian tetap suka...
ummuach...😘
__ADS_1