
Sepasang insan tampak sedang berpelukan satu sama lain dalam sebuah ruangan di paviliun tempat keluarga kerajaan Es menginap bila berada di Kediaman Ye.
Ya, saat ini Kaisar Agung Bai tengah memeluk erat tubuh Reychu usai dibawa kabur oleh pria itu dari sisi Rayan tepat saat kedua gadis itu sedang berjalan di luar ruangan tempat mereka berkumpul sebelumnya. Dia tidak tahu mengapa hanya mereka berdua yang dia temui dan tanpa Ryura.
Tapi, siapa yang peduli saat dipikirannya hanya ingin bertemu Reychu sesegera mungkin.
Dan disinilah keduanya, duduk berdampingan di balai kecil tak beratap diluar bagian tengah paviliun -dimana biasanya dijadikan tempat untuk bersantai sambil- memeluk satu sama lain atau tepatnya Kaisar Agung Bai yang memeluk Reychu dengan lebih mendominasi.
Sedang Reychu hanya membalas dengan bingung sebab dia sendiri tidak paham apa yang tengah terjadi kepada prianya hingga bertingkah manja seperti saat ini.
"Ada apa dengan mu? Bertingkah manja seperti ini. Kau tahu, itu membuat mu terlihat aneh. Aku jadi geli sendiri." gamblangnya dia berucap hingga seketika pelukan pun terurai dengan Kaisar Agung Bai yang memberengut kesal mendengar kalimat yang kekasihnya katakan.
"Berhentilah terlalu jujur. Ada kalanya beberapa kata tidak perlu diucapkan dengan terang-terangan demi menjaga hati dan kenyamanan satu sama lain dalam berbincang." kesalnya Kaisar Agung Bai, tapi sayangnya dia sudah terlanjur cinta.
Apa mau dikata...
"Oh, iya kah?! Aku tidak tahu. Aku sudah terbiasa mengucapkan apa yang ada dipikiran ku tanpa perlu memikirkannya lagi sejak aku kecil. Apalagi, Rayan dan Ryura tidak menegurku dengan serius selain berkata kalau mulutku cukup besar, pedas, dan tajam hingga mampu membunuh siapapun yang mendengarnya. Hm... Kupikir, kalimat di bagian akhir cukup berlebihan." terang Reychu sambil bersedekap dada dengan kepala mendongak memperlihatkan sorot matanya yang tengah berpikir keras.
Gestur itu benar-benar terlihat menjengkelkan.
Ia sama sekali tidak menyadari kalau Kaisar Agung Bai tengah melamun membayangkan masa kecil Reychu di dunianya -yang dia sendiri tidak tahu bagaimana membayangkannya- sedang berbicara sembarangan seperti itu di hadapan banyak orang dari kalangan yang berbeda. Sementara, dua gadis lainnya tidak melakukan apapun dan membiarkannya begitu saja.
Dia bahkan membayangkan Rayan yang biasanya mudah tersulut emosi bila berbicara dengan Reychu, lebih memilih menggerutu dibelakang tanpa berniat menegur sahabatnya -Reychu-, sedang Ryura...
Dia tak tahu harus bagaimana menanggapinya.
Apa yang bisa diharapkan dari orang yang dalam setahun bisa dihitung dengan jari berapa banyak kosakata yang dia keluarkan dari tenggorokannya itu?
Lantas, apa yang bisa dilakukan oleh orang seperti itu bila mendapati Reychu menyinggung seseorang yang seharusnya tidak di singgung?
Apakah akan berakhir dengan langsung membunuhnya atau bagaimana?
Semakin memikirkannya malah semakin menyakiti otaknya. Lebih baik tidak perlu memikirkannya lagi. Bukankah itu sudah jadi masa lalu para gadis?
Kini Reychu miliknya, sudah berada disisinya, dia hanya perlu memberikan pengertian dan membantu mengajarkan kepada Reychu beberapa hal tentang pengendalian diri agar mau sedikit lebih tenang dan anggun. Bagaimanapun ia akan membawa gadisnya kehadapan para anggota keluarga kerajaan.
Jangan sampai sesuatu dari diri Reychu akan menjadi celah bagi pihak keluarganya untuk menolak menerimanya menjadi menantu keluarga Kerajaan Es, permaisuri Kekaisaran Utara.
Membayangkannya saja membuat dia panik.
Ini dia pikirkan dengan mengesampingkan kemungkinan kekasihnya akan pergi meninggalkannya untuk kembali ke tempat asalnya yang tidak diketahui dimana itu.
"Sudah, lupakan. Aku bisa mengajarimu nanti. Yang penting, kau sendiri tidak berpikir untuk meninggalkan ku dengan menggunakan apa yang orang anggap buruk dari dirimu, itu sudah cukup." tulusnya.
Reychu lantas sadar dari lamunannya kala mendengar perkataan tersebut. Ditatapnya penuh penghayatan wajah tampan prianya.
"Aku cukup tersentuh. Haha." Reychu terkekeh begitu manis diakhir kalimat sambil memiringkan kepalanya dengan sedikit rasa menggoda dalam tatapannya. Benar-benar menunjukkan sisi dirinya yang berbeda.
Itu manis dan manja sekali.
Kaisar Agung Bai hampir terhanyut lagi ke dalam pesona kekasihnya. Karena gemas, dia langsung memeluknya lagi sebelum akhirnya berpindah menjadi berbaring dengan berbantalkan paha Reychu yang sedang menganggur.
__ADS_1
Sruuk!
Merasakan kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dia sampai tersenyum karenanya.
Maklum, jaman kuno tidak ada kedekatan mesra yang melewati batas sebelum menikah, kecuali berkunjung ke rumah bordil tentunya. jadi, ini jelas pertama kalinya pria itu merasakannya.
Apalagi bersama Reychu. lengkap sudah.
"Nyamannya..." ujarnya dengan mata tertutup dan bibir tersenyum manis menikmati kenyamanan ini.
"Kalau begitu, istirahatlah. Meskipun berstatus sebagai Kaisar Agung, kau tetaplah manusia. Kau butuh refleksi untuk menyegarkan dirimu kembali." Perhatian normal yang Reychu berikan membuatnya tertegun, seolah ia belum terbiasa dengan sikap normal Reychu karena sudah terlanjur terbiasa dengan sikap Reychu yang serampangan.
Membuka matanya, Kaisar Agung Bai tidak mengatakan apa-apa dan hanya memandang wajah cantik Reychu.
Gadis itupun tak mau kalah.
"Semakin kau melihat ku, maka akan semakin membuat mu tak bisa hidup tanpa ku. Kalau tidak takut lakukanlah." kata Reychu seraya menampilkan seringainya yang khas.
Bukannya menolak, Kaisar Agung Bai malah terus menatap wajah kekasihnya dengan lebih lembut dan penuh perasaan.
"Aku tidak takut. Menghabiskan hidup bersama mu tidak akan menjadi penyesalan bagiku. Hanya... Yang aku takutkan hanya, bila nanti kau pergi... Apa yang harus aku lakukan? Aku belum siap kehilanganmu. Aku tidak akan pernah siap." nada pilu juga terdengar saat kalimat itu diucapkan sendiri oleh Kaisar Agung Bai tanpa ragu.
Reychu yang melihatnya hanya bisa terdiam. Ini pertama kali baginya merasakan perasaan manis seperti ini. Tak bisa dipungkiri kalau rasanya tidak ada duanya. Hangat dan nyaman masuk hingga ke relung hati yang terdalam.
Dia tidak bisa menolaknya.
"Kalau begitu, kau harus datang berkunjung kesana. Aku akan meminta Rayan menyiapkan banyak makanan yang biasa kami makan disana. Aku juga akan meminta Ryura untuk mengemudi membiarkan aku membawamu berkeliling disana. Kau tidak akan menyesal saat merasakannya nanti." ujarnya setengah bergurau. Karena dia sendiri tidak tahu apakah memang bisa membawa prianya ikut kembali ke masa modern?
Suasana manis itu seandainya orang lain yang mendengarnya, mereka sudah tidak lagi berfokus pada kemesraan keduanya melainkan ketidaktahudirinya Reychu saat dengan mudahnya menggunakan nama kedua sahabatnya seolah mereka tidak lebih dari seorang koki rumah tangga dan supir belaka.
Ckckck! Kedua sejoli itu benar-benar...
"Hm... Kuharap aku punya kesempatan untuk merasakannya." harap Kaisar Agung Bai tidak lebih dari bisa bersama Reychu hingga maut memisahkan keduanya.
Membayangkan akan berpisah saja sudah membuatnya sesak.
"Jadi, ada masalah apa sampai aku diculik begini?" tanya Reychu sukses membuat sudut bibir Kaisar Agung Bai berkedut.
Tak terbayangkan olehnya bahwa ada hari saat dia sebagai seorang penguasa Kekaisaran Utara menjadi seorang penculik yang menculik kekasihnya sendiri. Kedengarannya bagaimana gitu...
"Kau ini..." gemasnya sambil mencubit sayang hidung Reychu.
Diingatkan tentang hal sebelumnya, langsung membuat Kaisar Agung Bai bergidik jijik.
"Aku tidak mau mengingatnya lagi. Tapi, aku juga tak bisa bila tidak mengatakannya pada mu. Baiklah, akan kukatakan." ekspresi jijiknya tak tertinggal barang sedikitpun. "Aku dan yang lain baru menemukan sebuah fakta mengejutkan yang teramat menjijikkan." lagi, dia bergidik.
"Ibu sambungnya Ye Zi Xian itu... Ternyata... Ekh... Mencintai putra sambungnya sendiri, itulah sebabnya dia berniat melenyapkan sahabat mu agar tidak menjadi penghalang untuknya bersama Ye Zi Xian. Mengetahui kebenaran itu aku langsung tidak bisa menahan diri. Aku merasa jijik! Membuat ku berpikir, bila ada yang seperti itu di keluarga ku aku akan langsung membunuhnya. Benar-benar menjijikkan! Penyakit!" umpatnya tak tertahankan.
"Inilah sebabnya aku menculikmu." sambungnya dengan spontan, sampai dia sendiri tertegun mengetahui apa yang keluar dari mulutnya.
"Ya ampun, aku sudah mengikuti jejak Reychu-ku..." hebohnya dari dalam hati.
__ADS_1
"Benar, betapa menjijikkan. Itulah mengapa kami langsung menyiapkan diri begitu tahu hal itu."
Mendengar itu Kaisar Agung Bai langsung bangkit dari rebahannya dengan tersentak.
"Kau mengetahuinya? Kenapa tidak memberitahu ku?" sedih rasanya tidak dipercayai.
"Bukan apa-apa. Ryura tidak berniat memberitahukan hal ini lebih awal dan menginginkan ini untuk diatasi sendiri terlebih dahulu. Jadi, kalau kau mau marah. Marahi saja Ryura. Dia yang mengambil keputusan." pandainya melempar masalah ke orang lain.
Seandainya ada Ye Zi Xian disini, sudah pasti dia lebih marah daripada marahnya Kaisar Agung Bai karena tidak dipercayai.
Mendengar nama Ryura, Kaisar Agung Bai hanya bisa menghela nafas panjang. Bukan apa, sebagai penguasa yang tak terkalahkan, Kaisar Agung Bai masih tak tahu bagaimana menyikapi sosok bernama Ryura bila sedang berhadapan. Gadis berparas manis kecintaannya Ye Zi Xian itu wujudnya saja yang terlihat dekat, tapi secara keseluruhan dia tampak seperti berada jauh. Hingga sulit untuk diraih.
Bila dipikirkan lagi, sepertinya hanya Ye Zi Xian yang bisa masuk dalam kehidupan gadis itu. Jelas sekali bagaimana Ye Zi Xian tampak begitu mudah memahami orang seperti apa Ryura itu.
"Siapa yang memberitahu mu tentang ini? Setahuku, ini masih rahasia. Selain kami bertiga tidak ada yang mengetahuinya." tanyanya.
"Ryura yang memberitahukan kepada ku juga Rayan."
"Nona Ryura? Darimana dia tahu?" masih tidak bisa memahaminya dengan baik.
"Haha... Jangan tanya aku. Aku juga tidak tahu." jedanya. "Baik aku maupun Rayan, tidak sekalipun tahu bagaimana Ryura bisa begitu mudah menebak segala hal seperti dia bisa melihat masa depan. Tapi, sebenarnya itu tidak benar." Reychu mulai serius.
Lanjutnya. "Sejak pertama kali aku mengenalnya dulu diusia kami yang ke 5 tahun. Ryura sudah seperti itu. Pendiam, menyendiri, tanpa ekspresi, dan tanpa tanda-tanda kehadiran, yang pasti dia sebagaimana kalian melihatnya saat ini. Selain usia dan ukuran tubuhnya, tidak ada yang berbeda darinya. Kemisteriusannya selalu menjadi tanda tanya bagi siapapun yang mengenalnya. Bila terus dipikirkan, itu hanya akan merepotkan diri sendiri. Itulah sebabnya, aku dan Rayan memilih mengambil kesimpulan bahwa Ryura memiliki kepekaan dan insting yang diluar nalar. Juga kekuatan fisiknya. Hanya yang disayangkan darinya adalah tidak adanya emosi dan perasaan. Tapi, setidaknya dia tahu bagaimana bersikap terhadap orang-orang yang baik padanya." panjang lebar Reychu berbagi cerita tentang sahabatnya.
Kilatan dimatanya mengandung nostalgia. Ia jadi rindu kampung halamannya.
"Itu juga yang menjadi alasan mengapa aku cukup terkesan pada si rambut beruban itu. Ia berhasil menyusup kedalam hati Ryura dengan begitu mudahnya. Asalkan dia tidak akan pernah menyakitinya saja, itu sudah cukup bagiku. Aku juga berharap bisa melihat senyumnya. Kau tahu, aku belum pernah melihat Ryura yang tersenyum. Aku lebih sering menggambarnya agar memuaskan imajinasi ku. Huh. Aku jadi tidak sabar." lagi, Reychu berceloteh ria dengan riangnya.
Kaisar Agung Bai ikut senang melihat kekasihnya senang. "Tentu. Suatu hari nanti kau akan melihatnya. percaya padaku." Reychu mengangguk mengiyakan.
"Baik. Mari kita lupakan soal yang lain. kita fokus pada masalah kita saja." celetuk Kaisar Agung Bai kembali ke niat awalnya yang ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama Reychu saat ini.
Atau author menyebutnya. Manja-manja time.
"Memang kita punya masalah apa?" tanya Reychu bingung sebab dia tidak ingat memiliki masalah dengan kekasih berambut merahnya itu.
Mendekat dan berbisik tepat ditelinga Reychu. "Tentang masa depan kita."
Jarang Reychu mendapat kesempatan untuk merasa tersipu. Jadi, inilah saatnya.
Puk!
Ditepuknya pundak Kaisar Agung Bai tanpa efek apapun.
"Hihi... Kau benar. Kalau begitu ayo kita diskusikan sekarang. Sebelum ada yang mengganggu kita nanti." Reychu bersuara rendah namun terdengar jelas antusiasmenya.
Sayangnya, Kaisar Agung Bai malah menunjukkan raut wajah yang agak kecewa saat hanya melihat wajah Reychu tersipu hingga merona, tapi tidak sampai membuat gadisnya itu malu. Justru gadisnya lebih bersemangat ketimbang dirinya.
"Nasib-nasib... Ya Dewa, aku hanya ingin dia malu-malu kucing sesekali." ratap malang Kaisar Agung Bai dalam hatinya.
__ADS_1
yuuhuuu....
jangan berhenti menyukai cerita kuuuuu....ππππππβ€οΈ