3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
KUIL


__ADS_3

Sebuah tandu berhenti di depan kuil kerajaan Huoli. Para pelayan yang mengikutinya segera mengambil tempat untuk menyambut seseorang yang berada didalam tandu tersebut. Orang-orang yang lebih dulu datang menyempatkan diri untuk melihat siapa gerangan yang menaiki tandu mewah itu.


Salah seorang pelayan membantunya menyibak kain penutup tandu dan salah seorang lagi berdiri didepannya dengan tangan terulur, siap membantu orang itu keluar dari tandu.


Sebuah lengan berbungkus lengan hanfu berwarna putih berpadu ungu lembut di beberapa bagian terulur keluar dari tandu untuk menerima tangan pelayannya, disusul dengan kakinya yang beralaskan sepatu bordir motif bunga. Itu sangat indah. Begitu ia keluar, semua mata yang melihat langsung disuguhkan dengan senyum menawan dari wanita kedua kerajaan Huoli.


Siapa lagi kalau bukan, Gong Dahye.


Namun, senyum itu seketika surut kala matanya menangkap sosok pria gagah tengah menuruni tandu yang ukurannya lebih besar dan mewah khusus untuk seorang penguasa negeri, lalu berjalan menuju tandu lain. Tampak disana pria itu mengulurkan tangannya membantu seseorang dalam tandu kedua yang tidak terlalu mewah namun dapat dikenali siapa pemilik tandu tersebut.


Tanpa komando, kedua tangan Selir Agung Gong Dahye mengepal erat. Wajahnya boleh berekspresi manis, tapi di lubuk hatinya ia menggeram marah oleh cemburu karena harus melihat prianya bersama wanita lain.


"Yang Mulia Selir Agung..." seru pelayannya kikuk melihat keadaan yang seperti ini. Untuk pertama kalinya Kaisar Li membawa wanitanya yang lain untuk menemaninya. Biasanya, akan selalu bersama Gong Dahye. Namun, bila Gong Dahye tidak bisa, maka Kaisar Li tidak akan membawa yang lainnya.


Lalu, ini apa?


"Yang Mulia, anda harus tenang. mereka pasti hanya kebetulan bertemu. Jangan mudah terpancing, Yang Mulia. Ingat... Tujuan anda, Yang Mulia." kata pelayannya mengingatkan, menyadarkan Gong Dahye dari amarah yang siap meledak sebelumnya.


Berulang kali Selir Agung Gong Dahye merapalkan kata-kata yang bisa menenangkannya dari dalam hati tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari prianya yakni Kaisar Li dan wanita ketiga di kerajaan Huoli yang tak lain adalah Selir Kehormatan Wang Jinji.


Gemuruh emosi mulai menumpuk di dada hingga ia nyaris kesulitan menahannya. Berpikir bahwa Permaisuri belum dapat disingkirkan, kini sudah ada yang mau melangkahinya. Amarah bercampur cemburu tak elak memenuhi ruang hati dan pikirannya.


Tapi, masih berusaha agar Kaisar Li tidak melihatnya. Benar kata pelayannya, dia harus ingat tujuannya.


Sebenarnya, sangat mudah untuk melihat betapa gelap wajah Selir Agung Gong Dahye. Bahkan Selir Kehormatan Wang Jinji saja bisa menangkap kemarahan itu walau dari jarak jauh. Hawanya selalu tak bisa di bohongi, menghujam langsung pada siapapun yang dituju.


Mengerikan!


Hanya saja, saat ini Kaisar Li sedang dalam suasana hati yang buruk. Pikirannya berada di kediaman Permaisuri, berkelana memikirkan peluangnya yang hanya secuil untuk dapat memenangkan kembali hati Permaisurinya.


Antara keputusasaan dan ketidakberdayaan. Pria nomor satu di negara api itu merasa ini adalah kasus paling sulit untuk ditangani dari pada tugas-tugas kerajaan.


Dia hanya bisa menghela nafas berat untuk kesekian kalinya.


Berjalan beriringan dengan Wang Jinji menuju ke tempat dimana Selir Agung Gong Dahye berdiri menunggu mereka. Kaisar Li melihatnya, namun dia sedang tak memiliki minat lain selain Permaisuri. Entah mengapa kehampaan mendera hatinya.


Begitu sampai dihadapan Selir Agung Gong Dahye, Kaisar Li berseru lembut dengan tidak bersemangat. "Kenapa kau berdiri di sini? Harusnya kau masuk kedalam agar biksu segera menuntun mu untuk ritual."


Menekan kuat rasa cemburunya ia menjawab. "Bagaimana bisa Selir ini pergi begitu saja. Padahal Selir ini sudah melihat kehadiran Yang Mulia. Apakah Yang Mulia tidak senang dengan apa yang Selir ini lakukan?" jelasnya dengan diakhiri pertanyaan bernada sedih yang manja seraya melirik tajam Selir Kehormatan Wang Jinji melalui ekor matanya. Terlihat jelas kalau ia sengaja mengabaikan kehadiran wanita lain diantara mereka.


Kaisar Li yang acuh pada orang lain selain mereka yang penting untuknya, amat mendukung suasana saat itu.


Wang Jinji yang dilirik seperti itu hanya diam mengabaikannya. Cukup tahu kalau saat ini ia dianggap telah melakukan kesalahan yang hanya Selir Agung yang menanggapinya.


Sedikit senyum terbentuk di bibir Kaisar Li. "Tentu tidak. Bagaimana itu bisa terjadi... Baiklah, ayo. Aku akan mengantarmu kedalam. Kita akan melakukannya bersama-sama." tukas Kaisar Li merasa sedikit bersalah.


Dan lagi, ia kembali mengabaikan siapapun bila sudah bersama Selir kesayangannya. Merangkulnya dengan lembut dan membawanya masuk kedalam kuil. Meninggalkan Selir Kehormatan Wang Jinji yang memilih diam membiarkan sepasang suami-istri yang saling mencintai itu berlalu lebih dulu.


Melihat junjungannya terlalu baik pelayan pribadinya berseru tak senang. "Nyonya... Apa yang anda lakukan?! Mengapa diam saja?! Lihat! Selir Agung pasti merasa tinggi begitu melihat anda diam saja. Dia pasti berpikir kalau anda takut padanya!"


Menoleh memandang pelayannya yang setia itu lembut dengan menarik senyum tipis yang menawan. "Apa yang kau katakan?! Aku diam karena aku tak ingin ikut campur. Aku lebih suka di abaikan, tetapi hidup tenang. Daripada dipedulikan, tetapi hidup dalam keresahan. Kau tahu maksudku bukan?!" usai berkata demikian, Selir Kehormatan Wang Jinji pun mulai kembali melangkahkan kakinya menuju kuil untuk ikut melakukan ritual doa.


Meninggalkan tempat dimana tampaknya menjadi saksi bisu Selir Agung Gong Dahye menandai Selir Kehormatan Wang Jinji sebagai halangan dalam hubungannya dengan Kaisar Li.


Mengabaikan seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka. Orang itu menyaksikan segalanya yang terjadi dan mulai merasa miris untuk dirinya sendiri sebelum akhirnya ia menyusul masuk kedalam kuil.

__ADS_1



Ruang dalam kuil sudah dipenuhi oleh pendatang. Kaisar Li dan anggota keluarga kerajaan Huoli telah mengambil tempat di bagian depan sehingga semua ibisa melihat seluruh anggota Keluarga Kerajaan Huoli. Namun, sepertinya mereka merasa ada yang kurang.


Saat itulah, bisik-bisik antar sesama pengunjung yang ikut melakukan ritual doa mulai memenuhi seisi kuil.


Mereka mulai mempertanyakan keberadaan Permaisuri Ahn Reychu yang malah tidak hadir. Beragam spekulasi dilontarkan. Banyak yang beranggapan bahwa Permaisuri Ahn tidak diizinkan untuk ikut, ada juga yang beranggapan bahwa Permaisuri Ahn tidak mau ikut, ada pun juga yang beranggapan bahwa Permaisuri Ahn ditinggalkan.


Semua itu menjadi jelas karena mereka kebanyakan melihat bagaimana Kaisar Li masuk bersama Selir Agung Gong Dahye disisinya, mereka tidak menemukan keberadaan Permaisuri Ahn dimana pun.


Beruntungnya mereka mengatakan semua itu dengan berbisik. Kalau tidak, itu akan menjadi masalah besar bagi mereka.


"Permaisuri benar-benar tidak datang?"


"Sesuatu pasti telah terjadi!"


"Apa mereka benar-benar saling bermusuhan?"


"Tidakkah itu terlihat jelas dari bagaimana Permaisuri mengatakan dengan gamblang betapa tidak sukanya dia pada Selir Agung!"


"Dia membuat rumor itu nyata!"


"Dia benar-benar kejam sampai tak memberi Selir Agung muka. Bagaimana bisa dia menjadi Permaisuri?!"


"Kau lupa kecerdasannya mengalahkan kecerdasan Selir Agung, bahkan Kaisar Li sendiri. Dia cukup mumpuni untuk mendampingi Kaisar Li mengurus kerajaan!"


"Hanya itu? Bukankah, itu membuatnya tidak lebih penting daripada rekan kerja?"


"Itu masuk akal. Tapi, apa boleh buat. Kaisar dan Permaisuri sebelumnya yang memilih Permaisuri Ahn sebagai Permaisuri selanjutnya. Kita bisa apa?"


Keramaian yang memenuhi ruang dalam kuil menyebabkan mereka yang datang terlambat harus melakukan ritual doa diluar kuil, tepatnya di halaman kuil dengan beberapa Biksu yang memimpin. Tak menyangka, ritual kali ini disambut baik oleh seluruh bangsawan dalam.


Tak lain adalah bangsawan yang bekerja di dalam istana dan tinggal di kawasan dekat istana. Mereka datang bersama sanak keluarga mereka. Hal itu yang menyebabkan kuil dalam dan luar penuh sesak oleh para pengunjung yang ikut dalam ritual doa hari ini.


Ritual doa itu berlangsung hingga matahari terbenam. Barulah satu persatu para pengunjung yang hadir mulai meninggalkan kuil setelah sang Kaisar mengizinkan mereka kembali lebih dulu, membiarkan Kaisar Li dan Selir Agung tertinggal, dikarenakan Gong Dahye yang mulai bermain peran.


Wajahnya seketika berubah murung seolah ia sedang mengalami kesedihan yang dalam. Kaisar Li yang melihat itu bingung dan mulai bertanya.


"Dahye, ada apa? Kau terlihat sedih." mengusap lembut punggung selirnya.


Mendongak untuk menatap mata tajam Kaisar Li yang tak pernah tidak lembut bila menatap dirinya. "Hamba sedih Yang Mulia... Permaisuri tidak hadir ke ritual doa hari ini. Apa... Apakah Yang Mulia Permaisuri cemburu dan marah hingga dia tidak ingin datang?" mengelus perutnya dengan ekspresi frustrasi tipuannya. "Tapi, ini adalah anak anda Yang Mulia Kaisar. Selir ini bahkan rela kalau harus berbagi anak dengan Yang Mulia Permaisuri. Hamba tidak ingin kebencian Permaisuri akan berimbas pada anak hamba kelak. Dia tidak bersalah..." menunjukkan kepalanya seperti sedang menatap nanar perutnya dimana ada bayi mereka disana, bersamaan dengan intonasi suaranya yang kian mengecil hingga memperlihatkan betapa sedihnya dia.


Kaisar Li yang masih mencintai Selir Agung Gong Dahye hanya dapat melihat apa yang ada dipermukaan saja dan tidak merasa curiga sedikitpun kalau pada kenyataannya, kalimat selirnya itu mengandung provokasi yang kuat.


Dia bertingkah seperti wanita lemah yang tak bersalah dan hanya selalu menjadi sasaran kebencian semua perempuan Harem karena kasih sayang Kaisar Li yang hanya ditujukan padanya.


Meski kini, ia merasa harus lebih ekstra untuk membuat Kaisar Li kembali berpaling setelah ia tahu kalau prianya mulai mencintai musuhnya.


Kening Kaisar Li berkerut, ia berpikir tentang apa yang baru saja ia dengar. Dia memang sudah melihat bagaimana istri sahnya mengatakan secara gamblang betapa bencinya dia kepada Selir Agung Gong Dahye, bahkan dirinya pun turut dibenci. Tapi, di saat bersamaan pula ia tidak mendapati niat buruk dalam dirinya apalagi kecemburuan. Semua ini membuatnya sadar, bahwa sebenarnya terakhir kalinya dia melihat Permaisurinya diliputi kecemburuan adalah sebelum hukuman ke istana dingin terjadi.


Ia ingat jelas seperti apa wajah Permaisuri Ahn Reychu kala menatapnya nanar penuh luka. Bahkan tak ragu untuk meneteskan air matanya saat itu juga, yang mana malah ia katakan sebagai tipu muslihat istrinya yang ingin menarik perhatiannya. Ia mengabaikannya, ia melupakannya secara halus, ia membuangnya secara tidak langsung. Ia melakukan semua itu atas nama kebenciannya terhadap istrinya. Tak terpikirkan olehnya, bila pada akhirnya ia pun luluh juga.


Namun sayangnya, sang istri sudah tak lagi menginginkannya.


Sejak keluar dari masa hukuman, Permaisuri Ahn Reychu menjadi pribadi yang berbeda. Sangat berbeda sehingga tak jarang ia berpikir kalau dia melihat orang lain yang memiliki fisik serupa dengan istrinya. Terlebih, bila dulu tutur katanya selalu baik, kini dia dengan acuh mengeluarkan semua apa yang terlintas dibenaknya tanpa pikir panjang. Akan tetapi, sejauh ini ia tak melihat perilaku buruk lainnya pada diri Permaisurinya.

__ADS_1


Gadis itu cenderung suka berkata-kata tajam tanpa filter. Semua itu seolah menegaskan kalau ia hanya mengucapkan kata-katanya saja, tapi tidak untuk melakukannya.


Hal itu membuat ia ragu kalau Permaisurinya akan berbuat seburuk itu.


Memandang kembali selirnya lembut tak lupa dengan senyum tipisnya. "Jangan dipikirkan. Permaisuri sedang tidak enak badan. Karena itu, dia tidak bisa hadir. Percayalah, dia akan menerima kau dan anak kita pada akhirnya." tuturnya seraya mengelus perutnya buncit Selir Agung Gong Dahye, tapi tak dapat dipungkiri kalau sebenarnya ia merasa ragu pada kalimat yang diucapkannya sendiri.


"Ayo, kita segera kembali. Kau sudah harus kembali beristirahat. Tidak baik bagi wanita hamil untuk sering terkena angin malam." katanya kemudian menuntun selirnya untuk mengikutinya kembali ke kediaman mereka.


Lalu di tolehkan wajahnya guna menatap para biksu yang sudah siap menuntun jalan sang Kaisar untuk mengakhiri aktivitas hari ini.


"Biksu sekalian. Kami akan kembali sekarang." lugasnya tanpa mengurangi wibawanya seorang pemimpin.


"Tentu, Yang Mulia. Semoga perjalanan anda lancar sampai tujuan. Suatu kehormatan bagi kami, untuk bisa melayani perintah Yang Mulia Kaisar hari ini." ujar kepala Biksu berwibawa.


Kaisar Li hanya mengangguk menanggapinya. Kemudian, barulah mereka benar-benar pergi meninggalkan kuil membiarkan para biksu berdiri diluar kuil melihat mereka berlalu hingga tak terlihat lagi.


Sang Kepala Biksu menghela nafas lelah juga berat sambil memejamkan matanya sejenak, sebelum kembali dibuka. Pancaran matanya tak bisa di baca, seolah ia menyimpan sesuatu yang tidak diketahui orang lain. Terasa misterius dan penuh teka-teki.


"Kuharap semuanya akan baik-baik saja!" tukasnya dengan suara dalam.


"Yang Mulia, saya merasa gagal. Seharusnya, Kaisar Li sudah saya ingatkan sejak awal. Sehingga semua ini tak akan pernah terjadi... Permaisuri yang malang...!" batinnya bergumam penuh rasa bersalah.


Kepala Biksu tersebut masih berdiri diluar kuil memandang kesunyian yang berbanding terbalik dengan keramaian siang hari tadi. Sebelum akhirnya, dia dituntun untuk kembali kedalam kuil oleh rekan sesama biksunya, meninggalkan gelapnya malam diluar kuil yang kian mendingin.



ini dia yang bisa Thor suguhkan hari ini. maaf ya, kalau susunannya berantakan atau ada yang merasa janggal. tapi, Thor hanyalah penulis amatir. bakat tulis Thor masih kalah jauh dari para penulis yang ada di novel toon.


Thor masih harus banyak belajar.


Terima kasih dukungan kalian selama ini... sampai Thor bisa nembus chapter 100. itu udah wow buat Thor. sebab, sebelum ke apk ini, Thor cuma sanggup ngarang 5 chapter kebawah dan gak pernah lebih.


tapi, melihat dukungan kalian. Thor jadi pingin banget, liat ada karangan Thor yang bisa tamat.


sekali lagi terima kasih.


oh ya ada sedikit informasi ya...


Thor lagi persiapan buat bikin cerita baru dengan genre yang sama dengan cerita ini.


meski Thor gak bisa jamin kalian bakal sepenuhnya suka. tapi, Thor gak ragu buat kalian mau baca ceritanya.


Thor bocorin judulnya dulu aja yaaa...



coba baca apa nama judul cerita Thor yang baru ini... tulis di komentar yaaa...


untuk sinopsisnya, Thor tahan dulu oke.


hahaha...


Thor izinkan kalian berkhayal tentang cerita baru Thor dengan judul diatas.


kalo gitu sampai jumpa lagi... love u all...

__ADS_1


__ADS_2