
Tak terasa Shin Mo Lan dan Rayan sampai juga ke kediaman utama keluarga Shin cabang pertama. Begitu mobil hitam Shin Mo Lan memasuki halaman rumah, tak menyangka akan melihat banyak mobil didepannya.
Sejenak Rayan dan Shin Mo Lan saling pandang.
Bertanya-tanya, siapa lagi yang datang.
Dengan Rayan berujar tanya. "Bukankah keluarga mu hanya ada 5 orang termasuk dirimu. Kenapa ada begitu banyak mobil?"
Sambil memindai mobil-mobil itu, Shin Mo Lan hanya punya satu pemikiran. Itu semua kesimpulan dari betapa familiar-nya mobil-mobil itu.
"Itu harus menjadi milik kerabat yang lain."
Mendengar itu Rayan tak bisa menahan diri untuk tidak menghela nafas seakan belum siap. "Mereka tidak datang untuk mempersulit ku kan?"
"Kalaupun memang itu tujuan mereka. Mereka tak punya hak!" jawaban Shin Mo Lan cukup tegas.
Akhirnya Rayan mereda. "Kau benar. Sebab kau sudah lebih dulu menjadi milikku. Bagaimana bisa mereka punya keberanian untuk menghalangi kita?!" dia berkata dengan sangat percaya diri.
Shin Mo Lan tersenyum mendengarnya. "Itu kau tahu. Ayo, masuk!"
Shin Mo Lan keluar lebih dulu guna untuk membuka pintu mobil disisi Rayan dan membantunya keluar. Rayan sampai terkekeh melihatnya.
Dia tahu perlakuan manis ini.
"Kau belajar banyak selama ini, ya?" celetuk Rayan dengan nada menggoda. Perkataannya merujuk pada perlakuan pria zaman modern terhadap pasangannya dan sekarang suaminya mempraktekkannya.
"Tentu. Apa gunanya tiba 10 tahun lebih awal kalau tidak untuk menjadi seperti sekarang. Kau harus bangga dan berterima kasih pada ku karena menjadi lebih romantis, sayang..." nadanya sangat memanjakan, Rayan sampai dibuat sungguhan tertawa kali ini.
"Akan aku lakukan. Haha..." lalu dia teringat akan sesuatu. "Hei! Aku tidak bawa banyak hadiah."
"Tidak apa-apa. Tinggal bilang saja kalau kau tidak menyangka akan bertemu semuanya." usulnya asal-asalan. terlihat sekali ketidakpeduliannya.
"Kupikir kau benar. Tidak ada alasan lain selain itu." dan Rayan pun cukup kooperatif.
Kedua pasangan ini...
Keduanya pun mengambil belanjaan terlebih dahulu sebelum berjalan hendak memasuki rumah tanpa tahu kalau tingkah laku mereka ternyata sudah dipantau oleh sekelompok orang dari jendela. Mata-mata mereka sudah berbinar bak lensa kamera dengan cahayanya.
Penuh gosip.
"Jadi, itu gadis yang dibicarakan bersamanya sejak tadi siang?" ujar seseorang diantara mereka.
"Benar. Tidak menyangka kalau ini sungguhan!" timpal yang lain.
Yang lain lagi melirik dengan ejekan dan menyahuti. "Kau seperti tidak kenal Tuan Muda Shin kita yang kedua itu saja. Dia menjadi sangat kuat sepuluh tahun belakangan ini. Menemukan gadis yang dia minati harusnya tidak sulit."
"Betul. Karakternya bahkan sangat menjanjikan. Membuat orang tidak pernah meragukannya. Belum lagi kalau dia tidak pernah low profil."
"Justru karena itu. Begitu dia mengambil keputusan... Boom! Gempar semuanya."
Kalimat mereka tidak lagi dilanjutkan begitu melihat dua sejoli itu masuk. Segera mereka bergegas kembali ketempat untuk bersikap seolah-olah yang mengintip tadi itu bukan mereka.
Begitu keduanya melangkahkan kakinya masuk, seorang kepala pelayan sudah menyambut keduanya.
__ADS_1
"Selamat datang, Tuan Muda kedua Shin dan selamat datang Nona!" sambutan kepala pelayan keluarga Shin cukup memuaskan Shin Mo Lan yang melihatnya.
Itu karena dia tahu apa yang harus dilakukan oleh seorang kepala pelayan.
"Aku suka sikapmu itu. Pertahankan." ujarnya yang ternyata berhasil memadamkan getaran gugup yang sejak tadi dirasakan oleh kepala pelayan.
Kepala pelayan cukup takut sikapnya tidak disenangi oleh Tuan Muda kedua ini. Hal ini sudah berlangsung cukup lama.
Bukan apa-apa. Selama sepuluh tahun terakhir, sosok Shin Da Ming sudah banyak berubah walau perubahannya mengarah ke hal positif, akan tetapi sikap keterasingannya adalah yang paling meresahkan semua orang dalam keluarga Shin.
Belum lagi saat Shin Da Ming mulai menunjukkan taring kesuksesannya, semua orang dalam keluarga semakin resah dan takut kalau Shin Da Ming akan kian menjauh bila dia tidak senang akan sesuatu dalam keluarga. Karena itulah, tanpa kompromi semuanya membentuk pengaturan dalam diri masing-masing untuk jangan sampai membuat Shin Da Ming tidak senang agar keterasingan itu tidak berdampak buruk bagi mereka.
Hal ini berlaku hanya untuk selain keluarga kandung. Keluarga cabang pertama itu sendiri tidak dihitung.
Ini mereka lakukan bukan hanya atas nama kekeluargaan, alasan lain karena dengan menyandang status kerabat Shin Da Ming saja sudah cukup memberikan banyak keuntungan. Itulah sebabnya, banyak dari mereka sebisa mungkin untuk tidak mengacaukan hubungan yang tidak baik maupun buruk ini.
Bagaimanapun mereka tidak lebih dari keluarga sampingan.
Namun, itu mungkin juga berlaku bagi generasi sebelumnya dan generasi Shin Da Ming. Tapi, bagaimana dengan generasi muda setelahnya?
"Terimakasih, Tuan Muda kedua." jawabnya seraya membungkuk hormat.
Rayan disisi lain segera berbisik berkomentar setelah melihatnya.
"Mo Lan, kenapa aku merasa kalau kepala pelayan takut padamu?"
Shin Mo Lan menjawab dengan santai. "Aku tidak berpikir dia takut. Bukankah sudah seharusnya bawahan tunduk pada majikannya dan tamu terlepas dari apakah dia suka atau tidak."
Dia tidak suka pelayan yang berani menginjak kepala majikannya. Hal ini adalah pengalaman dari kehidupan sebelumnya.
"Masuk akal. Hanya saja..."
"Sudah. Jangan buang energi mu untuk hal yang tidak penting itu. Disini ada yang lebih penting daripada itu." ujar Shin Mo Lan mengingatkan.
"Kau benar. Huh. Aku sudah siap!" kata Rayan yang membuat Shin Mo Lan tersenyum ringan mendengarnya.
Keduanya mulai memasuki ruang tengah tempat dimana saat ini hampir semua keluarga besar Shin berkumpul.
Mereka berkumpul pada awalnya untuk membahas berita menghebohkan yang terjadi hari ini. Tak terbayangkan kalau tokoh utamanya akan muncul saat ini juga.
Sedang orang tua Shin Da Ming meski sudah di kabari kalau akan dikenalkan dengan calon menantu mereka. Akan tetapi, waktunya belum ditetapkan. Maka dari itu, kemunculan sejoli ini agak mengejutkan mereka semua.
Sejak kemunculan keduanya pun tatapan semua orang langsung jatuh ke sosok Rayan yang berjalan dengan percaya dirinya disisi Shin Mo Lan dengan beberapa tas belanja di tangannya.
Walau sebenarnya dia juga agak gugup. Maklum, ini pertama kalinya dia berkunjung dengan maksud yang lebih khusus daripada berkunjung biasa.
"Kakak kedua!" tiba-tiba seorang gadis mendekat muncul menyambut Shin Mo Lan dengan wajah yang sedikit banyaknya mirip dengan wajah Shin Da Ming.
Rayan langsung bisa menebak kalau gadis itu adalah adik perempuan suaminya di kehidupan kali ini.
"Kau sudah pulang." itu bukan pertanyaan, dimaksudkan untuk mengkonfirmasi kegiatan sang adik yang tinggal di asrama. Dengan wajah datar namun agak lebih mudah didekati ditampilkan. Paling tidak untuk keluarga kandung pemilik tubuh, Shin Mo Lan tidak benar-benar menunjukkan keterasingannya secara ekstrim seperti kepada kerabat yang lain.
"Em. Aku buru-buru pulang dari asrama begitu mendengar kabar tersebut. Jadi, ini calon kakak ipar ku?" kalimat tanya terakhir diucapkan sembari menoleh kearah Rayan yang langsung tersenyum menyapanya.
__ADS_1
"Wah.." melirik menggoda pada sang kakak lantaran mendapatkan gadis yang cantik dan imut lagi menggemaskan untuk dibawa pulang. "Ternyata kakak kedua memiliki selera yang unik, ya... Apa ini?! Mungil-mungil... Hihihi!"
Melambaikan tangannya menyapa Rayan. "Halo, calon kakak ipar. Kenalkan, namaku Shin Da Rin. Aku anak bungsu dalam keluarga. Semoga kita bisa akrab!"
Shin Da Rin, anak bungsu yang lahir jauh setelah dua kakak laki-lakinya. Sebab kini dia baru berusia 20 tahun.
"Halo, juga Nona Shin. Namaku Rayan Monica. Kau bisa memanggilku Rayan. Agar kita bisa lebih akrab." balas Rayan menerimanya dengan baik.
"Kalau begitu kau juga harus memanggil ku dengan lebih akrab. Da Rin. Itu lebih baik." ralat Shin Da Rin dan Rayan mengangguk mengerti.
"Sudah dilanjutkan sambil duduk saja. Kau tidak mungkin membiarkannya berdiri sambil membawa barang-barang itu, bukan? Itu semua dia siapkan untukmu, ayah, ibu, dan kakak." lalu membawa Rayan untuk duduk di sofa yang kosong diruang tengah.
"Wah. Calon kakak ipar, kau tidak seharusnya repot-repot begini." seru Shin Da Rin tak enak, tapi masih meraih belanjaan dari tangan Rayan dengan kalimat. "Tapi, aku tak akan menolaknya. Namanya juga hadiah! Hehe..."
Rayan lagi-lagi tersenyum manis dibuatnya. Menurutnya, gadis ini cukup enak dipandang. Dia suka. Apalagi perilakunya agaknya sedikit banyak mirip dengan adik perempuan suaminya, Shin Mo Yue.
Begitu tiba di dekat semua orang, sebelum bergerak duduk, Rayan lebih dulu mengucapkan salam sambil membungkukkan badannya dengan sikap percaya diri meninggalkan kegugupannya sebelumnya.
Karena dia sudah siap bergabung!
"Halo, semua! Perkenalkan, nama saya Rayan Monica! Senang bertemu dengan kalian sekalian!"
Keadaan hening sejenak, membuat Rayan kikuk seketika. "Eh?! Apa aku terlalu kaku?" tanya Rayan dengan suara rendahnya, namun masih terdengar sebab hanya dia yang bersuara kala itu.
"Hahaha... Tidak apa-apa. Kami hanya masih tidak menyangka kalau putraku benar-benar akan membawa pulang kekasihnya." seru sang Ayah riang lebih dulu guna memecahkan kecanggungan sesaat sebelumnya.
Dengan tersenyum, Ibu Shin turut menimpali. "Benar. Jangan sungkan. Aku senang kalau akhirnya salah satu putraku memiliki kehidupan yang normal."
"Maksud ibu apa?" tanya Shin Mo Lan agak tidak senang sampai raut wajahnya rada menakutkan.
Baru saja, Shin Mo Lan merasakan sindiran dari Ibu pemilik tubuhnya.
Tapi, sebagai orang tua, Ibu Shin tidak terpengaruh walau rasanya tetap tidak nyaman. "Iya. Kau dan kakakmu itu 'kan sulit sekali dimintai agar bersegera menikah. Di jodohkan tidak mau, apalagi sekarang. Lihat saja kakakmu. Dia lupa kalau dia memiliki urusan untuk segera diselesaikan." kalimat terakhir memiliki arti kalau orang seperti Shin Da Zhuo sudah terlalu matang untuk menunda menikah lebih lama lagi.
"Itu karena dia belum memiliki keinginan untuk itu, Bu." ujar Shin Mo Lan agak membela.
Paling tidak dari semua anggota keluarga besar Shin. Shin Da Zhuo adalah orang yang tidak dia berikan sikap keterasingan biasanya. Itu tidak lebih karena dia menyukai karakter sang kakak pemilik tubuh.
"Iya, iya, iya." Beralih ke Rayan. "Oke, abaikan dia. Kemarilah. Biar aku bisa melihat lebih jelas pilihan putra ku itu." sambil menyipit tak sabar karena rasa penasarannya, dia melanjutkan. "Pilihan putra ku harus menjadi sesuatu yang istimewa, karena dia bukan pria yang mudah menetapkan hatinya."
Rayan hanya tersenyum dipermukaan, meski dalam hati dia tak tahu harus berkata apa. Sebab, perkataan Ibu Shin ini sebenarnya sudah ketinggalan zaman. Bagaimanapun dia orang yang paling tahu seperti apa suaminya.
Tapi, apa mau dikata saat dia masih harus bermain peran tak tahu apa-apa.
Shin Mo Lan disampingnya hanya menepuk-nepuk puncak kepalanya meminta pemakluman. Hal ini mengingatkannya pada kali pertama dia tiba ke masa modern ini. Berusaha agar tidak terlihat aneh dengan perubahan mendadak dari pemilik tubuh yang dia tempati karena dirinya.
Keduanya pun saling pandang seolah berbicara satu sama lain.
"Bersabarlah, Istriku. Haha..."
"Huh! Ini konyol!"
__ADS_1