3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
TERBONGKAR


__ADS_3

Drap...


Drap...


Drap...


Suara langkah kaki sebuah rombongan yang hanya terdiri dari 9 orang terdengar di sepanjang jalan menuju ketempat tujuan.


Terdapat 4 orang pria berpakaian prajurit bertugas membawa tandu yang berisi seseorang didalamnya. Menyisakan seorang pria paruh baya dengan 2 orang perempuan yang tampak seperti bawahannya dengan didampingi oleh seorang gadis di bagian paling belakang. Gadis itu diam sepanjang jalan dan bertindak seperti dia seorang pengawal, itupun dikarenakan yang lainnya salah mengira dia siapa seandainya saja yang lainnya tidak melihat bagaimana ia datang membawa sebuah pesan.


Pesan yang disampaikan gadis itu membuat pembuluh darah seseorang yang duduk dalam tandu mendidih tak tertahankan. Sebelum dia ditempatkan di dalam tandu tersebut, dia hanyalah seorang yang malang dari sebuah kamar tidur dengan sangat menyedihkan sampai kabar itu melesat masuk ke gendang telinganya melalui utusan seseorang yang amat ia kenal.


Tanpa ada yang bisa melihat siapa sosok yang berada didalamnya, sebab tertutup tirai penutup dan hanya bisa mengintip sekilas pada tangannya yang tampak terkepal kuat diatas pangkuannya kala tirai penutup tersebut tersibak angin yang berhembus pelan.


Tidak ada yang tidak merasa tertekan oleh aura dingin yang menusuk tulang dari dalam tandu. Sebagai sosok yang pernah berjaya di masanya, dia adalah pendamping paling kompeten kala itu bahkan hingga sekarang kalau saja musibah itu tidak menimpanya. Akan tetapi, itu hanya dapat dirasakan oleh 7 orang lainnya tidak termasuk gadis yang berjalan paling belakang.


Diam dan tenang tanpa suara adalah dia.


Tidak sedikitpun merasa terganggu.



Di kamar tidur Kediaman Selir Agung Gong Dahye masih sama seperti sebelumnya. Suasana tidak nyaman dan panas menyelimuti semua yang hadir disana.


Tentu objek sasarannya adalah Reychu selaku orang yang memulai perselisihan. Sebenarnya bukan pelaku utama, Reychu hanya diibaratkan sebagai korek api yang siap untuk menyundut sekelompok orang-orang di pihak Selir Agung Gong Dahye yang digambarkan sebagai sumbu petasannya.


Pada dasarnya, keseriusan Reychu tadi itu bukanlah bagian dari yang ingin ia perlihatkan. Hanya saja, keangkuhan mereka yang merasa berada pada posisi benar membuatnya cukup merasa tak tertahankan. Alhasil, dengan sendirinya ia menjadi serius.


"Permaisuri Ahn Reychu... Aku tidak tahu apa maksud dan tujuan mu mengatakan kalau bayi ini bukan bayiku. Sementara, siapapun tahu kalau Gong Dahye adalah Selir ku. Kau bicara seperti itu, seolah-olah menyakini kalau Dahye berkhianat dibelakang ku! Harus kau ingat... Aku adalah pemegang hukum yang sah di negara ini!" lugasnya Kaisar Li dengan penekanan yang tepat di setiap suku katanya dan tak lupa mengingat Reychu akan siapa dirinya di negara api ini sambil menatap dalam wajah cantik istri sahnya -Reychu- yang kini tampak tersenyum miring begitu kalimat tersebut usai diucapkan.


Tak menyadari beberapa orang yang mendominasi kamar itu terhenyak dengan beban berat yang tiba-tiba menghantam tepat pada titik pusat bahaya dalam diri mereka.


Mereka semua tentu tak akan lupa bila Kaisar Li adalah hukum utamanya, namun sebagai orang yang banyak bekerja dibawah serta belakang Kaisar Li tentunya lebih mengetahui seluk-beluk yang baik dan buruk untuk di mainkan. Meski mereka sangat tahu kalau sang Kaisar Li amat membenci yang namanya pengkhianatan.


Apa yang tidak bisa di lakukan bila ambisi sudah menguasai?!


Tapi, kebanyakan dari mereka yang terlalu ambisius adalah bahwa mereka berkemungkinan besar melupakan satu kemungkinan kecil yang jauh lebih berbahaya dari pada segala hal yang sudah dipersiapkan untuk memastikan kelancaran proses menuju apa yang diinginkan.


Senyum miring itu ternyata tidak menghilangkan keseriusannya. Dengan santai namun pas, Reychu berujar.


"Jelas aku tahu kau memiliki otoritas yang tak dapat aku sangka lagi. Hanya saja, terlalu dini untuk mengatakan bahwa apa yang disebut pendamping tidak akan bertindak keluar dari jalurnya. Kau berbicara tentang status Gong Dahye sebagai Selir mu, seperti kau begitu percaya bahwa dia tak akan berani bermain api di belakang mu. Kau harus tahu tidak ada yang tidak mungkin untuk itu!" tandasnya langsung menghujam wajah Kaisar Li.


"Dan soal maksud ku mengatakan itu, tentu kau tahu jelas betapa ingin ku untuk kau segera memberikan ku dekrit itu!" jedanya. "Kaisar Li Hanzue... Sebagai seorang Kaisar, kau tidak bisa terlalu polos dan naif! Negara Api ini akan segera hancur kalau begitu!" untaian kata itu lancar dan mengalir dengan aman keluar dari mulut Permaisuri Ahn Reychu, namun disaat bersamaan mampu menekan pusat kelemahan sebagai seorang pemimpin suatu negeri.


Masuk kedalam pendengarannya sukses menciptakan kerutan di kening Kaisar Li dengan cukup kencang dan kuat, bahkan apa yang baru saja disampaikan Permaisurinya memberikan sedikit riak di hatinya akan sebuah keraguan.


Sejenak perasaan hampa yang sempat ia rasakan sebelumnya kembali hadir, membuatnya seketika menunduk untuk melihat bayi yang tertidur tenang di pelukannya.


Keraguan mulai naik.


Tapi, hal itu dipecahkan oleh suara seseorang...


"Yang Mulia... Anda tidak mungkin begitu saja mempercayai Permaisuri Ahn, bukan?" sorot matanya begitu sedih dan menyayat hati bagi yang melihatnya, kecuali bagi mereka yang memiliki penglihatan lebih bagus.


Dan Kaisar Li juga tertipu karenanya.


Kegelisahan tentu merayap dalam hati Gong Dahye. Ia jelas tak berpikir akan ada hal seperti ini terjadi. Tapi, siapa yang ingin dijatuhkan begitu saja. Meski ia tahu kalau Reychu mengatakan kebenarannya, selama tidak ada bukti, kata-kata gadis itu jelas tak akan membuahkan hasil apapun.

__ADS_1


Dengan air mata yang dikeluarkan, Selir Agung Gong Dahye berkata dengan lirih seolah baru saja di lukai hatinya. "Yang Mulia... Anda yang lebih tahu bahwa Selir ini memberikan Anda yang pertama kali. Bukankah ini terlalu kejam untuk menuduh ku melakukan hal hina itu. Hiks..."


"Cih!" Reychu secara spontan berdecih seraya memancarkan kilatan menghina dimatanya kala mendengar kalimat tersebut. Tak habis pikir pada logika yang aneh itu.


Lantas, mengapa kalau dia memberikan pengalaman pertamanya pada suaminya? Apa itu tidak bisa di katakan kalau dia tidak bisa memberikan pengalaman keduanya pada orang lain?


Hei! Selama mata tak pernah diciptakan di belakang kepala, apa yang tak mungkin untuk terjadi?!


Perkataan Selir Agung Gong Dahye membuat Reychu dan Rayan bergidik geli hingga nyaris terbahak. Sebagai seorang dari masa modern, jelas saja logika semacam itu tak akan berpengaruh terhadap apapun. Di masa modern, bahkan pasangan bisa dengan mudah berselingkuh di depan pasangannya. Apa yang tidak mungkin?!


Tapi, yang amat disayangkan adalah bahwa Kaisar Li dengan begitu mudah menerima penjelasan itu yang membuat Reychu tak bisa menahan tawanya yang sarat akan ketidakpercayaan dan kegelian.


"Kau akan belajar banyak setelah ini, Yang Mulia Kaisar Li Hanzue!" tekan Reychu pada sebutan Suami si pemilik tubuh dengan cukup jelas.


Tepat setelah itu suara derap langkah kaki terdengar berjalan semakin mendekat.


Bahkan dengan lancangnya tandu yang di bawa oleh 4 prajurit pria ikut dibawa masuk disusul dengan seorang pria paruh baya dan 2 pelayannya, terakhir si penyendiri yang berbau mistis.


Siapa lagi kalau bukan, Ryura.


Seluruh pasang mata yang ada disana terbelalak tak percaya. Bagaimana bisa ada begitu besar kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang itu tanpa memandang Kaisar Li yang ada disana dengan wajah dinginnya yang tak lagi sedap dipandang mata itu.


"APA KALIAN MELUPAKAN KAISAR INI SEBAGAI PEMIMPIN HINGGA BERANI BERTINDAK DILUAR BATAS! BERANINYA KALIAN MASUK DENGAN CARA SEPERTI ITU! KALIAN TIDAK LAGI MENGANGGAP KAISAR INI SEBAGAI KAISAR!!!" nada tinggi yang menggelar memasuki seluruh pasang telinga yang ada disana.


Suasana menegang seketika, bahkan orang-orang yang datang bersama dengan tandu tersebut tidak bisa tidak merinding hingga ke tulang. Mereka bahkan sampai tak bisa bergerak barang semili pun dari pijakan kaki mereka. Namun, suara susulan berikutnya membekukan perasaan beberapa orang dengan arti yang berbeda.


Terutama Kaisar Li, perasaan yang kompleks menyebar dihatinya.


"Oh, apa itu juga berlaku untuk ku?" datar dan dingin, tetapi terdengar lemah. Suara itu cukup familiar di telinga semua orang.


Semuanya terkejut! Terutama anggota Keluarga Gong.


"Mari kita naikkan api kompornya!" seru Reychu dengan suara rendah yang hanya dapat didengar oleh kedua gadis disisi kiri dan kanannya.


"Ibunda!" sebut Kaisar Li spontan begitu mendengar suara wanita paruh baya yang begitu ia rindukan sejak beberapa bulan belakangan ini.


Kaisar Li sampai bangkit dari duduknya dan langsung menyerahkan kembali bayi di gendongannya kepada Selir Agung Gong Dahye tanpa menoleh dua kali. Kali ini, fokusnya hanya ibunya.


Yang dia tahu, akibat kecelakaan yang menyebabkan ibunya mengalami koma, Kaisar Li merasakan kehilangan. Tapi, karena masih mendengar bahwa ibunya masih bisa bertahan hidup, hal itu membuatnya merasa ia masih memiliki kesempatan untuk menyembuhkan ibunya. Walau kesempatannya kecil.


Bergerak keluar secara perlahan sembari di bantu oleh dua pelayan perempuan yang ikut, sedang pria paruh baya satunya bergegas mengambil kursi untuk Ibu Suri tanpa peduli di izinkan atau tidak.


Pria yang tak lain tabib itu sudah kehilangan rasa takutnya pada Keluarga Gong. Ia lebih takut pada Reychu dan temannya yang memakai topeng itu. Entah apa yang dilakukan dua sekawan itu pada tabib dan pengikutnya. Tapi, siapa yang menduga kalau masih ada satu gadis lagi yang cukup membuat merinding.


Setelah wanita paruh baya itu didudukkan di kursinya, ia masih berwajah dingin dalam rona agak pucat pada wajahnya. Itu sedikit memberi kesan seram.


"Ibunda! Kau akhirnya bangun juga! Ini sebuah anugerah! Aku hampir putus asa selama ini!" kata Kaisar Li dengan sukacita yang tak tertahankan tanpa menyadari kalau ibunya sama sekali tidak merubah raut wajahnya.


"Anugerah? Anugerah untuk membiarkan ku mati?" tajam Ibu Suri pada anaknya. Ia sudah sangat sakit hati, tak lagi mau peduli.


"Ibunda, ada apa? Mengapa berkata begitu?" bingung Kaisar Li yang lagi berlutut di depan ibunya seraya menggenggam tangan sang ibunda di pangkuan wanita paruh baya itu sendiri.


"Kenapa tidak kau tanyakan pada Selir tercinta mu itu?" masih setajam nada sebelumnya tanpa memandang siapapun.


Kening Kaisar Li berkerut tak mengerti. "Ibunda, Hanzue tidak mengerti apa maksud Ibunda. Kenapa mengaitkan ini dengan Selir ku?"


Mendengar itu tatapan tajam segera melayang kearah putranya. Hatinya tak lagi bisa dijelaskan bagaimana sakit dan mirisnya dia sebagai seorang ibu. Tak menyangka putranya yang ia kenal dingin dan kejam pada segala bentuk kejahatan, menjadi tak lebih dari sebongkah cangkang emas yang tak tahu ditangan siapa ia digenggam.

__ADS_1


Atau dengan kata lain, Ibu Suri menganggap Kaisar Li cukup bodoh untuk di peralat.


Semuanya sibuk memusatkan perhatian pada sepasang ibu dan anak itu. Tanpa menyadari kalau ayah bersama dua anaknya sudah nyaris kehilangan darah mereka, terlihat dari piasnya wajah mereka hingga memucat. Terutama kala merasakan firasat buruk yang tak dapat di singkirkan.


"Ini akan baik-baik saja bukan?!" tanya Gong Dahye pada dirinya sendiri dari dalam hati. Ia sudah takut sampai rasanya mau mati, apalagi bila mengingat keadaan ia saat ini yang belum bisa bergerak bebas pasca melahirkan cukup untuk membuatnya ketar-ketir dengan gelisah.


Disisi lain, ada juga yang kian bergetar nyaris kehilangan kekuatan kakinya, kalau saja tidak ada seseorang disisinya. Istrinya sampai dengan sedih menopang tubuh suaminya.


Si suami berseru lirih dan putus asa. Matanya menatap ibu dan anak laki-laki di depan matanya dengan perasaan bersalah. "Aku akan berakhir..." sang istri segera menolak gagasan itu dengan wajah dan hati yang sama sedihnya.


"Jangan katakan itu lagi, Suamiku! Kau tak boleh meninggalkan aku disini sendirian..." balasnya sama lirihnya hingga kedua suara mereka hanya mereka yang mampu mendengarnya.


Menoleh dan menatap lekat wajah istrinya, ia tersenyum kecil tulus namun penuh rasa bersalah. "Aku pendosa, sayang... Kau memaafkan ku saja itu sudah sebuah anugerah untuk ku... Tapi, ini..." belum usai ia berujar jari lentik istrinya menghentikan bibirnya untuk kembali berucap.


Keduanya saling pandang menyelami cinta diantara mereka.


"Sstt... Kita sudah membahas ini sebelumnya. Jika kau mati, aku akan ikut denganmu!" tandas istrinya sembari mengencangkan tangannya pada tubuh suaminya yang sedang ia topang.


Setetes air mata jatuh dari sudut mata suaminya. Ia tak bisa mengatakan betapa beruntungnya dia memiliki istri seperti wanita yang kini disisinya. Tapi, mengingat dosanya. Ia tak bisa tidak merasa putus asa dan pasrah, meski hati rasanya ingin menolak demi bisa bersama sang istri. Ia bisa apa? Ia bersalah!


"Li Hanzue, putra ku! Apa kau benar-benar melupakan apa yang pernah Ayah dan Ibumu ini katakan dulu padamu?" alih Ibu Suri layaknya ingin memulai kembali apa yang harus ia mulai demi menyelesaikan apa yang harus diselesaikan.


"Apa yang aku lupakan, Ibunda?" tanya balik Kaisar Li yang sepertinya benar-benar melupakan apa yang dimaksud oleh wanita paruh baya itu sampai ibunya merasa berat dihatinya.


Putranya benar-benar melupakan peringatan kedua orang tuanya.


"Kutukan itu!" lugas Ibu Suri yang sudah tak mau peduli lagi, apakah itu rahasia atau bukan. Ia sudah kehabisan kesabaran. Baginya kali ini, putranya harus disadarkan.


Mendengar itu Kaisar Li segera mengingat satu fakta yang selama ini ia lupakan, yang mana itu sukses membuatnya memberikan wajah malas walaupun hanya beberapa detik. Tapi, cukup untuk ditangkap oleh mata Ibu Suri.


"Kau masih mengabaikan hal itu! Astaga, putraku! Kau benar-benar..." tak lagi tahu apa yang mesti ia katakan. Bahkan, jika saja kondisinya tidak selemah ini ia sudah akan bangkit dari kursinya untuk segera menampar wajah tampan putranya yang menurutnya tak berguna bila hanya bisa tampan saja.


"Ibunda, aku sudah bilang padamu. Aku akan buktikan padamu kalau kutukan itu tak akan berlaku padaku lagi... Dan sekarang lihatlah..." mengarahkan tangannya untuk menunjuk kepada bayi yang berada dalam gendongan Selir Agung Gong Dahye, dimana wanita yang baru melahirkan itu sedang berusaha keras untuk tetap tenang.


"Aku berhasil!" katanya dengan begitu bahagia.


Ibu Suri menoleh untuk melihat bayi itu, tapi ia tak percaya. Hatinya berkata bayi itu bukan cucunya.


"Dia bukan cucu ku!" tandas Ibu Suri tanpa pikir panjang.


Hati Kaisar Li sakit mendengar ibunya tidak mau mengakui cucunya sendiri.


"Ibunda, jangan berkata begitu! Dia cucumu, calon penerus masa depan Kerajaan Huoli kita." ujar Kaisar Li mencoba membujuk.


Sambil menatap tajam wajah tampan putranya, Ibu Suri tidak berubah pikiran. "Dia bukan cucu ku! Dan itu mutlak Kaisar Li!"


Mendengar itu, Kaisar Li segera bangkit dari berlututnya dengan gerah. Ia kesal dan tak habis pikir dengan jalan pikiran ibundanya.


Mengusap wajahnya kasar, Kaisar Li kembali berujar dengan kesal yang ditahan. "Ibu masih berpatok pada kutukan itu? Ibunda, kau harus tahu aku tak pernah mempercayai hal itu. Kalaupun ada, bagiku kutukan itu tak akan berlaku padaku. Sudah berapa kali aku menegaskan hal ini!"


"Kau masih tidak mengerti!" pungkas Ibu Suri seraya menggelengkan kepalanya tanda tak berdaya. Putranya masih sekeras dulu.


"Itu bayi Pangeran kedua!"


Deg!


__ADS_1


lanjutan nya OTW ya...


__ADS_2