3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
PELINTAS


__ADS_3

Dingin.


Terasa sesuatu yang dingin bergerak lembut di permukaan pipi Ye Zi Xian, itu membuatnya nyaman. Kenyamanan tersebut memintanya untuk semakin lelap dalam tidurnya, tapi disisi lain justru malah ada sesuatu yang mendorongnya untuk segera terjaga.


Lantas sesuatu yang bergerak lembut diatas pipinya itu ditangkap oleh tangannya. Begitu dia menggenggamnya, matanya yang terpejam sebelumnya segera terbuka dengan binar kaget melintas didalamnya.


Tampaknya cukup tahu apa yang digenggamnya.


Terkejut dan bahagia adalah apa yang terpancar dari kedua matanya itu.


"Ryura!"


Ya, gadis itu pelakunya. Dia sedang duduk di pinggir peraduan saat ini. Menikmati momen membelai wajah calon suaminya sesuka hatinya sebelum akhirnya dihentikan oleh si empunya wajah. Saat melihat kalau pria itu terbangun karena ulahnya, dia sama sekali tidak meminta maaf karena sebelum atau bahkan tak berniat melakukan itu Ye Zi Xian sudah menerjang tubuhnya lebih dulu untuk ia peluk. Mencari kehangatan hakiki yang hanya bisa didapat dari Ryura. Apalagi, mengingat kini dia sudah berada di tempat asalnya. Lembah Beku.


Maksudnya, suhu dingin disekitarnya dijadikan alasan untuk mencari kehangatan. Padahal, dia sudah terbiasa dengan dingin.


"Kau tahu aku disini?"


"Hm" Ye Zi Xian terkekeh kecil mendengar dehaman itu sebagai jawaban dari pertanyaannya. Sudah tidak kaget lagi dengan kemampuan yang Ryura miliki.


Masih enggan untuk melepaskan diri. Jadi, dia memilih berlama-lama memeluk kekasihnya.


Sampai ketenangan itu dibuyarkan oleh Ryura karena ucapannya yang ambigu dan membingungkan.


"Aku tidak lama disini."


"Hah?!" bingungnya. Diapun melepaskan pelukannya untuk melihat langsung Ryura dan menanyakan maksud dari perkataannya yang membingungkan itu melalui sorot matanya.


Hening sejenak, sebelum Ryura mengulang kembali perkataannya. "Aku tidak lama disini."


Deg!


Jantung Ye Zi Xian berdetak kencang seketika, mendengar pernyataan yang langsung membuatnya berpikiran buruk.


Tak ingin ketakutan dengan apa yang dipikirkannya, Ye Zi Xian memilih menanyakan langsung maksud dari perkataannya.


Walaupun dia harus bertanya dengan keberanian yang menipis.


"Apa yang kau katakan? Jangan membuat ku takut, sayang!" cengkraman tangan Ye Zi Xian di lengan atas Ryura mengerat. Pikirannya sudah berkelana kemana-mana.


Tidak tahu apakah itu menyakiti Ryura atau tidak. Ye Zi Xian terlanjur gelisah hingga tak sadar dengan kekuatan yang ia lepaskan, belum lagi Ryura, gadis itu selalu asik dalam diamnya.


Aura kegelisahan melayang memenuhi ruangan. Menyelimuti keduanya dalam keresahan.


Sedang Ryura, tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan. Dia belum pernah berada di situasi seperti ini. Di kehidupan sebelumnya pun, tidak ada adegan ini diantara dia dan dua sahabatnya. Ketiganya terlahir liar dan selalu bersama, tidak ada kesempatan untuk berpisah yang mengharuskan menangis tersedu-sedu karenanya.


Tapi, saat ini berbeda. Ye Zi Xian adalah takdirnya. Meski ia bisa katakan kalau kelak mereka akan kembali bersatu. Sayangnya, Ryura tidak tahu bagaimana caranya hal itu bisa terjadi.


Dia tahu, akan ada hari dimana dia dan kedua sahabatnya akan kembali ke kehidupan sebelumnya. Tapi, dia tidak tahu bagaimana cara membawa serta Ye Zi Xian dan dua lainnya.


Jadi, hanya ini yang bisa dia katakan sebagai bentuk penjagaan. Setidaknya, mereka bisa memiliki momen bersama lebih banyak lagi. Sebelum akhirnya, hari yang tak diinginkan itu terjadi.


Wajah Ryura tetap datar tak berekspresi, tapi Ye Zi Xian bisa melihat kesenduan didalamnya untuk masalah ini.

__ADS_1


"Ryura..." lirih sedih keluar dari bibir Ye Zi Xian dengan mata menyorot bingung serta gelisah nan putus asa.


Sambil bergerak mengelus wajah tampan pria didepannya, Ryura berterus-terang dengan suara rendah yang dalam dan lembut.


"Aku adalah pelintas..."


Kening Ye Zi Xian berkerut mendengarnya, ia bingung. Dia tak berkata apapun karena tahu kalimat yang ingin Ryura sampaikan belum dikeluarkan semuanya.


"... Jiwaku melintasi ruang dan waktu hingga bisa berada disini..." memandang ke kedalaman mata Ye Zi Xian yang hitam bak malam kelam. "... Tubuh ini bukan milikku... Begitu juga dengan kedua sahabat ku..." Untuk pertama kalinya Ryura berbicara panjang lebar.


"Tidak mungkin!" bantah Ye Zi Xian dengan suara rendah.


Bukan tak percaya dengan hal yang seperti itu. Dia hanya tidak percaya kalau itu harus terjadi pada dia dan kekasihnya yang bahkan baru saja di pertemukan.


Bagaimana bisa dia menerima hal ini? Dia begitu mencintai Ryura!


Ryura tak menghiraukan kegelisahan Ye Zi Xian dan terus melanjutkan. Dia perlu untuk menjelaskan semua tentang hal ini.


Ini juga demi kebaikan bersama.


"Kematian yang terjadi walau singkat sebelumnya adalah tanda..." lidah Ye Zi Xian kelu mendengarnya.


Dia tahu kematian mana yang dimaksud oleh Ryura. Ini mengguncang jiwa Ye Zi Xian yang mendengarnya.


"Kemungkinan akan ada kali berikutnya. Sampai kami benar-benar akan kembali... Kembali ke kehidupan kami yang sebenarnya." finalnya Ryura menjelaskan.


"Kemana? Kemana itu? Jangan begini! Kita baru bertemu! Bagaimana bisa akan berpisah begitu cepat?! ... Ryura...! Ini tidak benar, kan?! Ryura... Ini tidak nyata! Kau pasti berbohong padaku. Benarkan?! Ryura!" sedih tak bisa Ye Zi Xian bendung. Dia sungguh tak ingin kehilangan Ryura-nya.


Tidak ingin!


Untuk pertama kalinya air mata menetes di pipinya dan mengenai tangan Ryura yang masih berada disana guna mengusap lembut wajah rupawan kekasihnya.


Diusapnya air mata itu tanpa berucap lagi. Ryura bungkam disela-sela tangis tanpa suara Ye Zi Xian yang tak sanggup untuk menerima fakta yang didengarnya.


Tak terbayangkan olehnya, kalau dia tak akan memiliki banyak waktu bersama pujaan hatinya.


Ryura hanya terdiam sambil memeluk hangat Ye Zi Xian yang masih hanyut dalam ketidakpercayaannya.


Mengusap sayang, bentuk Ryura ingin menenangkan kesedihan prianya.


Sesungguhnya, bukan hanya Ye Zi Xian yang bersedih... Diapun demikian...


Rasanya tak tertahankan...



Keesokan harinya...


Keheningan menyelimuti sebuah ruangan yang dihuni oleh 3 orang pria. Ketiganya tengah duduk di sekitar meja bundar yang terbuat dari kayu mahoni berukir indah nan rumit, namun tidak membuatnya terlihat berlebihan.


Ketiga pria disana tampaknya tengah berada dalam pikiran masing-masing.


Itu hal yang sudah pasti. Karena, beberapa saat lalu tepat ketika mereka semua selesai sarapan pagi Ye Zi Xian meminta kedua sahabatnya untuk ikut dengannya.

__ADS_1


Flashback on...


"Hal penting apa yang ingin kau katakan? Tampaknya sangat serius." ujar Kaisar Agung Bai melihat keanehan yang terlihat jelas di wajah sahabatnya, Ye Zi Xian saat ini.


Saat ini mereka baru saja tiba di sebuah ruangan yang sepi dan hanya diisi oleh mereka saja.


"Duduklah dulu... Dan buat diri kalian nyaman. Kupikir kalian butuh itu..." katanya ambigu.


Kaisar Agung Bai dan Shin Mo Lan saling pandang dengan penuh rasa penasaran dalam hati mereka.


Meski bukan kali pertama mereka berada dalam suasana serius seperti saat ini, namun keseriusan yang ditunjukkan oleh Ye Zi Xian jelas lebih besar dari yang sudah-sudah.


Ini adalah pertanyaannya...


Sebenarnya, ada apa ini?!


Setelah ketiganya duduk dengan nyaman di kursi mereka, Ye Zi Xian langsung masuk ke inti pembicaraan yang ingin dia katakan sejak awal. Tak berniat sedikitpun untuk berbasa-basi lagi.


"Mereka tidak akan lama disini." suara Ye Zi Xian langsung tercekat di tenggorokan begitu kalimat tersebut ia ucapkan. Masih segar dalam ingatan, bagaimana Ryura mengatakan kebenaran yang sulit ia terima itu. Kilasan tersebut membuatnya memejamkan mata dengan frustrasi.


Sama seperti respon Ye Zi Xian sebelumnya.


"...!!!"


Kening kedua sahabatnya mengernyit wajar mendengarnya. Mereka belum menemukan bagian dimana mereka akan terguncang oleh kabar yang siap untuk Ye Zi Xian sampaikan.


"Apa yang sedang kau bicarakan?" tanya Shin Mo Lan lantaran masih bingung.


Tak ingin sebuah fakta yang akan dia sampaikan terganggu untuk diucapkan, Ye Zi Xian pun memilih tegar dan mengabaikan segala perasaan campur aduk yang ada di hatinya saat ini, serta fokus pada penyampaian fakta.


"Gadis-gadis itu... Akan segera pergi cepat atau lambat... Ryura bilang, mereka adalah jiwa-jiwa yang melintasi ruang waktu, kemudian menghuni tubuh seseorang yang rohnya telah menghilang dari tempatnya..."


Syok adalah apa yang diderita oleh kedua pria tampan dihadapan Ye Zi Xian.


Walau pintar dan bahkan dikatakan jenius, kedua pria itu ternyata diberikan kesempatan untuk merasakan yang namanya gagal paham.


"Ye Zi Xian... Kau itu bicara apa? Mereka siapa yang pergi?" tanya Kaisar Agung Bai saat firasat buruk mendera hatinya.


Dia berusaha mengenyahkan segala pikiran negatifnya yang sebenarnya sudah terhubung dengan topik yang tengah ketiganya bicarakan.


"Ryura dan dua sahabatnya, akan pergi di waktu yang tidak bisa ditentukan." nadanya sendu dan pasrah, seolah-olah dia hanya bisa melakukan hal ini dan mengikhlaskan kejadian yang belum terjadi itu.


Deg!


"Pergi kemana?" kali ini Shin Mo Lan yang bertanya. Keadaannya sama seperti kedua sahabatnya.


Sama-sama dibuat jatuh hati dengan dalam, namun harus belajar melepaskan di detik berikutnya.


Itu jelas sangat tidak mengenakkan.


"Tempat asal mereka..." lugas Ye Zi Xian walau berat.


__ADS_1


maaf pendek. Thor masih banyak kerjaan juga. hehehe


hehe... lov yuuuuu...


__ADS_2