
Tak!
Pendaratan sempurna dari ketiga pembunuh bayaran yang datang ke kamar tempat para gadis 3Ry tinggal.
Ketiganya berada tepat di atas atapnya. Saling memberi kode arahan sebelum siap menangkap target yang sudah ditemukan.
Tanpa mereka tahu kalau targetnya akan melenceng.
"Kita masuk sekarang!" tegas salah satunya dengan suara rendah yang langsung diangguki tanpa ragu oleh dua rekannya yang lain.
Dengan lihai mereka memasuki kamar target tanpa suara.
Sebuah ruangan yang gelap dan hanya dibiaskan oleh cahaya remang-remang dari luar ruangan adalah apa yang dapat membantu mereka melihat saat ini, walau tak banyak. Meski begitu, sebagai pembunuh bayaran yang sudah terlatih, hal demikian bukanlah masalah lagi. Mereka sudah memiliki kemampuan untuk dapat melihat dalam kegelapan.
Sejenak mereka mengedarkan pandangannya sampai akhirnya target terkunci, mereka siap untuk segera bertindak.
Sebuah gundukan berbalut selimut diatas peraduan memberikan mereka keyakinan kalau gundukan itu adalah sang target.
Jujur saja, mereka cukup percaya diri sekali.
Dengan gesit salah satunya menerjang lebih dulu kearah target yang berada di peraduan. Tangannya sudah memegang pedang yang memang dibawanya dan siap untuk dilayangkan.
Sampai...
Bruk!
Crack!
Hap!
Hap!
Suara itu terdengar bersamaan.
Pembunuh bayaran yang maju untuk membunuh target dibuat membeku dengan suara yang menggema masuk ke pendengarannya, karena suara terdengar cukup dekat. Ia juga tercengang dengan apa yang terpampang didepan matanya.
Sesuatu yang baru saja dia hantam dengan pedangnya ternyata...
Siapa yang tahu, kalau gundukan yang disangka target ternyata tidak lebih dari sekedar kumpulan jerami yang di bentuk menyerupai manusia atau lebih tepatnya, boneka jerami itu adalah alat latihan para murid Sekte Salju Perak saat pelajaran berpedang.
Syuuuit!
Dia yang tercengang membuat dirinya menurunkan kewaspadaan lantaran benaknya sudah dipenuhi dengan kebingungan dan dugaan-dugaan akan siapa sebenarnya target mereka kali ini. Tapi, disaat semua itu belum selesai ia cerna, tiba-tiba ia sudah lebih dulu di sadarkan oleh suara siulan dari arah belakangnya.
Sadar kalau dirinya sudah lengah, segera dengan sigap si pembunuh bayaran itu menoleh dengan sikap pertahanan. Pedangnya diacungkan kedepan. Sayangnya, dia tak menduga bahwasanya begitu ia berbalik mata langsung disuguhkan dengan pemandangan dua rekannya yang sudah dilumpuhkan oleh dua orang gadis bertopeng.
Dua gadis yang berdiri dengan cukup bergaya. Kesannya sombong, tapi cenderung songong.
"...!!" lagi, pembunuh bayaran itu tercengang melihat dua rekannya yang berlutut tak berdaya di depan dua gadis yang dengan santainya menginjak punggung rekannya.
"Apa! Bagaimana mungkin?!" batinnya kaget luar biasa hingga rasanya matanya siap lepas kapan saja.
__ADS_1
Meski keadaan ruangan remang-remang, tapi sebagai kultivator yang ahli semua itu sudah tak berarti apa-apa lagi. Sangat mudah membuat diri mereka menjadi dapat melihat dalam kegelapan.
Hanya saja, sebagai pembunuh bayaran dari organisasi yang sudah terkenal dan sangat ditakuti oleh masyarakat ramai dari segala penjuru Kekaisaran Utara -meski tidak seterkenal Sekte Salju Perak- melihat keadaan berbalik, selain merasa harga dirinya telah jatuh. Dia juga merasa lawan kali ini tidak semudah yang di perkirakan.
Dengan kewaspadaan yang ditingkatkan, dia bergumam sambil menggertakkan giginya lantaran geram karena merasa kecolongan. "Seharusnya, tidak begitu cepat meremehkan calon Nyonya Keluarga Ye... Ini masalah!"
"Hai, Tuan. Selamat datang di pelabuhan terakhir hidupmu! Sebagai tuan rumah, aku menyambut nyawamu dengan bahagia! Hehehe..." seorang gadis yang mengenakan topeng paling jelek menyapa dengan diakhiri tawanya yang seperti orang gila namun terdengar mengerikan disaat bersamaan.
Ternyata itu cukup ampuh untuk membuat bulu kuduk sang pembunuh bayaran yang berdiri didekat peraduan meremang ngeri.
"Siapa kalian? Beraninya, melukai teman-teman ku?" tanyanya masih sadar untuk tidak bersuara keras di daerah bahaya seperti ini.
"Ckckck! Pertanyaan macam apa itu?! Sebagai tamu tak diundang, kau tak seharusnya bertanya begitu." kata gadis bertopeng jelek itu. "Pertanyaan itu lebih cocok untuk kami gunakan..." jedanya. "Siapa kau? Beraninya kau mencoba melukai sahabatku?" katanya tajam dengan ekspresi yang sama tajamnya, tapi kemudian berubah santai dalam sekejap. "Itu baru benar. Hahaha!" gelegar tawa mengakhirinya.
Gadis disebelahnya hanya bisa memutar bola matanya jengah dari balik topeng kucingnya. "Mulai lagi." batinnya.
"Kau tak perlu khawatir. Rekan-rekan mu dan kau belum boleh mati dulu. Soalnya, kalian masih di perlukan. Tunggu sampai kami merasa cukup bermain-mainnya, baru setelah itu kami lepaskan. Itupun tergantung pada keinginan kami juga... Ingin kalian mati dengan cara apa!" ujar gadis bertopeng kucing dengan manis dengan senyum menawan yang justru membuat orang yang melihatnya merinding.
Dia menggunakan topeng setengah wajah, sedang satunya menggunakan topeng wajah penuh. Mereka yang tak lain adalah Rayan dan Reychu.
Saat ini dua pria yang dilumpuhkan oleh dua 3Ry berlutut dengan seluruh anggota tubuhnya yang tak bisa digerakkan seolah semuanya mati rasa, namun disaat bersamaan tidak. Mereka sudah menggunakan berbagai cara untuk melepaskan diri, tapi entah bagaimana bisa menjadi begitu sulit. Sesuatu yang digunakan oleh gadis-gadis itu tampaknya bukan sembarang senjata, begitulah pikir mereka.
Dan benar, Rayan menggunakan bubuk pelumpuh untuk membuat para pembunuh bayaran itu tak berdaya. Bubuk itu bukan sembarang Bubuk tentunya dan hanya Rayan yang bisa membuatnya.
Cara menggunakan bubuk tersebut cukup di lepaskan keseluruh tubuh dan musuh akan segera jatuh hanya dalam hitungan menit.
Itulah yang dilakukan Ruobin sebelumnya atas instruksi dari Rayan.
Dan akhirnya...
Brugh!
"!!!"
Mata sang pembunuh bayaran terakhir terbelalak lebar begitu merasakan tubuhnya tiba-tiba ambruk tersungkur tanpa bisa dicegah. Dia hanya bisa menggerakkan mata dan berbicara, tapi, sisanya... Tubuhnya mati rasa.
"Ap..apa... Apa yang kau berikan padaku?!" marah si pembunuh bayaran saat dia sudah sekuat tenaga mencoba menggerakkan tubuhnya namun nihil. Tubuhnya benar-benar tak bisa digerakkan.
"Hentikan. Kau hanya akan membuang-buang tenagamu saja. Mereka licik. Mereka sudah melakukan sesuatu pada kita sehingga kita tak bisa bergerak lagi!" sarkas rekannya yang berada dibawah kaki Reychu.
Duk!
Dengan santainya Reychu menendang belakang kepala pria itu begitu mendengar kata-katanya. "Kau pintar. Tahu saja kalau kami licik. Itu sudah seharusnya, kau tahu. Siapa juga yang mau di ganggu oleh kotoran seperti kalian ini?! Seharusnya kalian bersyukur karena kami masih memberi kalian kesempatan bernafas. Tapi, aku tidak bisa menjamin seandainya yang berada disini adalah gadis yang menjadi target kalian. Hehehe..." terangnya sambil mengibaskan sebuah kertas yang tertera gambar Ryura didalamnya bersamaan dengan kalimat terakhir yang dia ucapkan.
Ternyata kedua sahabat Ryura itu yang mengambilnya tadi tanpa di sadari oleh para pembunuh bayaran itu.
"Lihat! pembunuhan ini benar-benar niat dilakukan. Sampai-sampai mereka membuat sketsa Ryura untuk kelancaran misi. Ckckck!" cerocos Reychu tanpa lelah.
Mendengar itu, Rayan terkekeh kecil dengan penuh ejekan. "Entah siapa yang begitu memiliki keyakinan kuat, bila dengan cara ini Ryura kita dapat mati?! Bod*h!"
Kemudian, Reychu pun membungkuk mendekatkan bibirnya ke telinga pembunuh bayaran yang berlutut didepannya saat ini.
__ADS_1
"Kalian harus tahu... Dia bukan target buruan yang bisa dengan mudah ditangkap dan bukan pula orang yang memiliki belas kasih. Karena, bila dia yang disini... Dia tidak akan sebaik hati itu untuk mau bertele-tele seperti ini. Dia lebih suka langsung... Kheeek..." menggerakkan jari jemarinya dibawah leher dalam satu arah horizontal sambil mengeluarkan suara tertentu. "Membunuhnya!" suara yang Reychu gunakan tidak rendah tidak juga tinggi sehingga ketiga pembunuh bayaran itu dapat mendengarnya.
Glek!
Pria yang mendengar paling jelas setiap kata yang di ucapkan itu meneguk salivanya dengan susah payah usai mendengar sebuah kebenaran yang tidak mereka ketahui.
Ingin rasanya tidak mempercayainya, tapi hati tak bisa diajak kompromi. Hatinya terlalu jujur untuk mempercayainya.
Sedang dua lainnya juga turut mendengarnya walau tidak sampai memekakkan telinga lantaran diucapkan terlalu dekat.
Mereka tercekat dengan kebenaran itu.
Giliran Rayan yang angkat bicara. "Yah, inilah resiko yang harus kalian terima karena bertindak tanpa mencari tahu tentang sesuatu yang... Mungkin... Bisa dijadikan pegangan untuk menyiapkan rencana cadangan." nasihat Rayan dengan nada meledek.
"Padahal kalian jelas tahu, siapa target kalian kali ini." Rayan merujuk pada status Ryura yang sudah menjadi calon nyonya baru Ye. "Apa informasi yang di berikan oleh klien kalian hanya secuil? Atau mungkin melenceng dari fakta, karena terlalu ingin sahabat kami segera dilenyapkan? Kalian tahu, itu terlalu naif!" sambungnya prihatin.
Berjalan memutari para pembunuh bayaran yang tak berdaya. "Sebagai pembunuh bayaran, kalian seharusnya memiliki rencana cadangan dan tidak boleh terlalu tinggi hati sampai menganggap target kalian jauh lebih lemah dari kalian. Itu sombong sekali... Aku tidak suka!" centilnya.
"Haha... Sudah, jangan menjelaskan hal-hal yang sudah jelas. Itu adalah kebodohan mereka sendiri. Mereka terlalu terpaku pada pendapat banyak orang mengenai organisasi mereka yang sudah sangat tersohor itu. Sehingga mereka lupa untuk menginjak tanah. Alhasil, disinilah mereka... Niat hati ingin menangkap target, kini malah ditangkap target. Hahahaha!!!" Reychu tidak ada hentinya menemukan celah untuk menertawakan para pembunuh bayaran yang menyedihkan ini.
Sementara Rayan hanya tersenyum miring menanggapinya sambil memandang sinis para pembunuh bayaran tersebut.
"Sudah-sudah. Kita langsung keintinya saja." meminta Reychu berhenti bercanda, lalu beralih ke tiga pria pembunuh bayaran itu. "Beritahu kami! Siapa yang meminta kalian melakukannya? Kali ini, aku tidak akan berbelas kasih!" ujar Rayan tajam.
"Cuih! Jangan bermimpi! Kami ini setia pada tuan kami dan pekerjaan kami. Gertakan mu sama sekali tidak menggentarkan pendirian kami!" keras pria yang tersungkur dalam posisi tengkurap itu tegas. Diawal dia bahkan sempat meludah hingga mengenai ujung pakaian Rayan.
"Iuuhh... Jorok. Air ludahmu mengenai pakaian ku tahu! Dasar menjijikkan!" keluh Rayan tak senang dengan hal sepele yang baru saja terjadi. Oleh karena itu juga, dia mulai tak ragu lagi untuk bertindak keras dan kasar kepada si pelaku peludah dengan cara menginjak kepala pria itu sampai membuat si empunya kepala meringis kesakitan.
Tak!
"Argh...! Dasar jal*ng! Beraninya kau!" teriak si pembunuh bayaran itu dengan kuat namun tertahan.
Rayan yang mendengar makian untuknya begitu tak sedap di dengar ia pun menambahkan lagi tekanan pada kepala yang diinjaknya.
"Masih berani kau mengumpati ku?! Kau pikir aku tidak berani, hah?!" marah Rayan yang tampak imut-imut seram.
Sraaa...
Mengibaskan rambutnya yang panjang, lalu berkacak pinggang. "Mungkin kekuatan spiritual mu lebih unggul dari ku. Tapi, tetap saja kau masih kalah bila berhadapan denganku. Jadi, simpan saja suaramu itu untuk nanti. Suaramu itu sudah jelek, ditambah mengumpat. Kejelekan mu itu sudah tak bisa ku jabarkan dengan kata-kata lagi! Huh!" sungut Rayan yang di akhir kalimatnya dia menekan lebih kuat injakannya pada kepala pembunuh bayaran tersebut dengan gemas.
Sudah tak berdaya, meringis pun tak guna. Dua yang lainnya hanya bisa mengasihani kemalangan rekan mereka. Setidaknya, mereka berdua tidak di perlakukan sekasar itu. Hanya dilumpuhkan tanpa dilukai.
Meskipun begitu, tetap saja... Ini benar-benar menjadi masalah. Mereka tak tahu bagaimana keberlangsungan hidup mereka kedepannya. Karena, bila melihat perilaku dua gadis didekat mereka saat ini yang bisa dengan mudah menangkap mereka tanpa mengeluarkan banyak usaha. Lantas, bagaimana dengan gadis yang menjadi target mereka?
Dua gadis disini saja bisa begitu berani memperlakukan mereka yang terkenal kejam bak mainan tak bernyawa. Apa jadinya dengan gadis satunya? Akankah benar-benar adalah orang yang tak suka basa-basi seperti yang dikatakan oleh salah satu gadis itu?
maaf lama sayang-sayang koehhh...
dan selamat membaca gaess πππ
__ADS_1