3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
DUA WANITA MENYATAKAN PERANG


__ADS_3

"Suster, anda bisa kembali dulu." seru Rayan dengan senyum ramah setelah beberapa langkah menjauhi kamar inap Jiang Wanxi.


"Oh?! Baik, Nyonya. Kalau begitu, saya permisi."


Rayan tetap mempertahankan keanggunannya sembari menatap punggung perawat itu menjauh. Setelah sosoknya mulai menghilang di tikungan, senyum Rayan pun ikut menghilang di lanjut mendelik sinis ke arah pintu kamar rawat Jiang Wanxi.


"Huh! Bagaimana bisa aku melewatkan kesempatan seperti ini?!" katanya pada diri sendiri sembari menggerakkan jarinya diatas layar ponselnya, lalu membawanya ke telinga. Ternyata dia sedang melakukan panggilan telepon.


"Halo, sayang." seru si penerima yang tak lain adalah Shin Mo Lan.


"Mo Lan." diseberang sana Shin Mo Lan sedang berada di ruangannya bersama Yi Feng guna memeriksa berkas-berkas penting. Tapi, gerakannya terhenti saat mendengar suara serius istrinya yang bahkan langsung memanggil namanya.


Itu artinya sesuatu telah terjadi. Seketika Shin Mo Lan mengingat Jiang Wanxi yang menjadi pasien istrinya. Jadi, dengan tanpa merubah kelembutan dalam suaranya, Shin Mo Lan bertanya. "Ada apa, hmm..."


Yi Feng yang duduk di sofa spontan melirik bosnya saat nada lembut itu memasuki telinganya. Sejujurnya, dia sudah mulai terbiasa mendengar betapa lembutnya suara Shin Da Ming saat berbicara dengan istrinya. Sangat jauh berbeda dengan saat dia berbicara dengan orang lain sekalipun akrab. Tapi, tetap saja, terkadang telinganya gatal dan geli sendiri hingga bergidik dibuatnya hanya karena mendengar suara lembut sarat akan cinta mendalam yang keluar dari mulut bosnya.


"Yi Feng, bukankah kau sudah terbiasa..." batinnya layu.


"Aku akan berurusan dengan wanita itu. Jadi, jangan cari aku sampai aku yang mencari mu, oke?"


"Kau akan mengurusnya sekarang?"


"Tidak. Aku baru akan memulainya sekarang."


"Baiklah. Yang penting jaga dirimu baik-baik dan kalau ada apa-apa segera hubungi aku."


"Tentu, sayangnya aku. Mmuaach! Kalau begitu aku tutup dulu, yaa..."


"Iya, sayang..."


Tuut...

__ADS_1


Setelahnya, Shin Da Ming kembali tenggelam dengan berkas-berkasnya.


Ditempat Rayan, istri Shin Da Ming itu berbalik dan kembali melangkah menuju kamar inap Jiang Wanxi. Begitu sampai didepan pintu tanpa ba-bi-bu Rayan langsung membukanya dan masuk. Hal itu sukses membuat Jiang Wanxi yang tengah memainkan gawainya terkejut.


"Kau!"


"Aku kenapa?" Rayan sudah menanggalkan formalitasnya.


Berjalan mendekati Jiang Wanxi dengan bangga.


Jiang Wanxi mencoba bersikap seolah-olah dia tak tahu perubahan sikap Rayan padanya. "Ehem... Apa yang Dokter lakukan disini? Pemeriksaan saya sudah selesai, kan?" kata Jiang Wanxi menutupi keengganannya pada sosok Rayan. Agaknya dia masih mau bermain tipu-tipu saat ini.


Tapi, Rayan tidak berniat bermain lagi.


"Kenapa memanggilku dokter? Aku adalah Nyonya Shin. Seharusnya, kau memanggilku Nyonya Shin." kata Rayan yang sukses membuat riak di wajah Jiang Wanxi yang mendengarnya. "Dan lagi, aku tidak berniat memeriksa mu. Karena, rasanya aku justru ingin membuatmu lebih sakit. Jadi, aku menahannya." tandasnya.


Wajah Jiang Wanxi memerah marah tak terima mendengar perkataan Rayan. Melihat dari bagaimana Rayan bersikap padanya, tampaknya dia sudah tahu siapa dan apa tujuannya beberapa hari belakangan ini mendatangi rumah sakit.


"Tampaknya kau sangat bangga dengan status mu itu. Tapi, maaf saja. Aku tidak akan melakukannya. Juga, bagus kalau kau masih punya hati. Aku hanya takut kau tidak sanggup menanggung konsekuensinya bila berani berbuat hal yang buruk padaku..." sombong Jiang Wanxi sama sekali tidak takut padahal posisinya tidak menguntungkan karena sakit.


Rayan tertawa mendengarnya. "Aku takut?! Heh, itu jelas tak mungkin. Kau yang seharusnya takut dan bukan aku. Tapi, aku adalah sosok yang lemah lembut jadi aku tidak akan bermain kasar. Aku hanya tidak tega membuat mu tersiksa menanggungnya bila dipaksa." seringai manis namun menyebalkan terukir di bibir Rayan.


"Hentikan omong kosong mu dan langsung saja. Aku sudah menghubungi keluarga ku jadi mereka akan segera tiba dan kau tidak akan memiliki kesempatan untuk beradu mulut dengan ku." senyum pongah bersinar diwajahnya seolah dia bisa mempermainkan Rayan sesuka hatinya.


Tapi, Rayan juga tak menyurutkan senyumnya. "Tenang saja. Tidak perlu terburu-buru. Santai saja. Lagipula aku tidak akan langsung menyelesaikannya hari ini. Kau harus sembuh dulu baru kita bisa menyelesaikan akun. Kau tahu, tidak enak sama sekali bila bertarung dengan kondisi jomplang."


"Huh. Tentu, tunggu saja saat aku sembuh. Kau harus bersiap kehilangan segalanya. Karena, aku Jiang Wanxi pasti tidak akan kalah dan saat itu tiba, gelar mu jadi milikku." yakin Jiang Wanxi menantang Rayan sepenuhnya.


"Kau sangat yakin sekali, ya... Tapi, maaf-maaf saja. Posisi Nyonya Shin tidak bisa dimiliki orang lain selain aku. Sudah begitu takdirnya. Sekeras apapun kau berusaha mengambilnya, Shin Da Ming tidak akan pernah menjadi milikmu. Tapi, tak apa. Aku izinkan kau berusaha. Hanya saja, lihat dulu apakah kau memiliki kemampuan untuk melewati ku atau tidak?" terang Rayan rada merendahkan yang diakhiri dengan kekehan kecil.


Seru Rayan selanjutnya dengan senyumnya yang menawan. "Jadi, Nona Jiang Wanxi... Selamat datang di batas yang tidak seharusnya kau lewati. Sebagai tuan rumah, aku menyambut mu dengan senang hati."

__ADS_1


Jiang Wanxi tak bisa tidak mengernyit aneh mendengar serangkaian kalimat yang Rayan ucapkan. Entah mengapa, kedengarannya seperti dia yang memasuki kandang musuh dan bukannya musuh yang dia seret ke jebakannya.


Tapi, sebagai orang yang merasa lebih tinggi dari Rayan, Jiang Wanxi tidak ambil pusing dan beranggapan bahwa biarkan saja Rayan merasa lebih hebat darinya karena sudah jelas siapa yang menang pada akhirnya.


Dia tak tahu, kalau setelah ini dia tak akan bisa mengangkat kepalanya lagi untuk menjadi sombong.



"Thanks, Ryu sayang." Tuut...


"Nona Ryura?" tanya Shin Mo Lan yang di benarkan oleh Rayan.


Beberapa saat lalu, Ryura mengirimkan sesuatu ke ponsel Rayan yang ternyata adalah file yang terhubung dengan cctv di kamar inap VVIP nomor 10 di gedung Phoenix yang tak lain adalah kamar yang Rayan pesankan untuk Jiang Wanxi. Salah satu cara guna menguras kantong uang wanita pengganggu itu.


Jangan tanya bagaimana Ryura lebih dulu bergerak padahal Rayan belum memberitahunya. Itu karena memang sudah seperti itulah Ryura dan Rayan tak terlalu terkejut saat tiba-tiba dia menerima file itu. Sejujurnya, dia baru saja kepikiran untuk meminta suaminya memberikan dia akses untuk melihat rekaman cctv di kamar tersebut guna memata-matai Jiang Wanxi. Tapi, setelah dipikir-pikir pasti akan memerlukan lebih banyak waktu karena saking banyaknya cctv yang di pasang di MOZHILLI ACADEMY HOSPITAL.


Jadi, kiriman Ryura benar-benar membantunya. Malah yang ini lebih praktis karena tidak perlu repot-repot untuk masuk ke dan mencari lagi filenya di komputer. Dengan Ryura memberinya akses langsung, dia tinggal melihatnya.


"Ya, dia memberikan ku bantuan dengan meretas cctv di kamar inap wanita itu. Ini akan jadi lebih mudah." jelas Rayan sembari membuka kiriman Ryura.


"Oh, sudah selesai di akses rupanya. Padahal baru tadi siang Ye Zi Xian mengatakan padaku kalau dia ingin meminta mengakses salah satu kamar inap di gedung Phoenix. Hmhm... Dia memang hebat dalam hal itu." tanggapan Shin Mo Lan sambil mengangguk.


Lanjutnya. "Nona Ryura juga masih sama misteriusnya. Aku terkadang dibuat penasaran dengan kemampuannya melihat masa depan. Apakah dia benar-benar memiliki kemampuan seperti itu?"


Rayan mengedikkan bahunya dan menjawab tanpa melepaskan fokusnya pada ponselnya. "Aku juga tidak tahu. Dia tak pernah mengatakannya, tapi juga tidak pernah menyembunyikannya. Jadi, biarlah. Selama bukan untuk menjahatiku dan Reychu, biarkan menjadi rahasia."


"Kau benar. Setiap orang pasti memiliki rahasianya. Jadi, tidak jadi masalah untuk tahu atau tidak." kata Shin Mo Lan sembari berjalan mendekati Rayan yang tengah duduk di ranjang yang ada di kamar keduanya.


Sang suami mendekat dan langsung memeluknya dari belakang. Shin Mo Lan meletakkan dagunya di bahu Rayan dan ikut melihat apa yang tengah di lakukan sang istri pada ponselnya.


__ADS_1


__ADS_2