
Meninggalkan Ryura di penginapan dan pergi menggunakan jurus teleportasi milik Ruobin bersama Rayan kembali ke istana. Sejujurnya, Reychu masih ingin berkelana kemana-mana untuk bersenang-senang. Akan tetapi, setelah melihat Duan Xi ia tidak bisa tidak memikirkan tentang festival yang di sebut pria tua pendek itu. Karena itu, ia pikir semakin cepat ia menyelesaikan masalahnya di istana maka akan semakin cepat pula ia bersenang-senang di luar jauh dari negara api yang membosankan ini, menurutnya.
"Kau tinggal disini?" tanya Rayan yang saat itu baru saja membuka topeng kucingnya dan langsung mengedarkan pandangannya keseluruh ruang yang tampak megah. Apa yang tersaji benar-benar menuntaskan segala dahaganya akan keindahan. Rayan tersenyum tanpa sadar saat matanya akhirnya bisa di manjakan dengan kemegahan yang indah di kamar kediaman Reychu, mengingat ia adalah seorang permaisuri.
Ruobin berjalan menuju kursi yang tersedia disana dan duduk dengan tenang. Dia melihat sebuah hiburan kala matanya menangkap ekspresi berseri-seri Rayan ketika menerima semua keindahan kamar Reychu dimatanya. Gadis itu bahkan tanpa malu menjatuhkan tubuhnya ke atas peraduan dengan ekspresi terkejut kagum kemudian. Melihat itu Ruobin tak bisa menahan senyum menawannya di balik topeng rubahnya.
"Wow! Ini lebih empuk dari yang aku pikirkan!" tangannya mengelus-elus permukaan tebal dan empuk meski tidak seembuk dan selembut ranjang di dunia modern dia dulu.
"Tentu! Dan aku dengan bangga mengatakan bahwa aku beruntung bisa langsung menikmati kemegahan yang selalu kau cintai ini. Bahkan, setiap malam aku selalu memimpikan dirimu yang menangis dan merengek padaku agar aku mau memberikan mu kesempatan untuk merasakannya. Sungguh mimpi yang indah. Hahaha...!" dengan gamblang Reychu mengatakan semua kebenaran itu. Fakta memang, selama ia telah menempati kamar megah ini atas perintah Kaisar Li Hanzue, Reychu sudah langsung memimpikan Rayan yang menyedihkan karena ingin ikut merasakan keberuntungannya. Setiap mengingat itu, Reychu tak bisa tidak terkikik lucu.
Dia tidak sadar kalau Rayan sudah menatap datar dirinya. Lalu, waktu berikutnya dia sudah melemparkan bantal keras yang ada di peraduan kearah Reychu hingga membentur punggungnya dan membuatnya terhuyung ke depan.
Mendapati itu, Reychu jelas kaget. Dia menoleh dengan tatapan horornya. "Rayan! Kau menyakiti ku!" katanya dengan dramatis sambil tangannya berusaha menggapai punggungnya, bermaksud untuk meredakan rasa sakitnya.
"REYCHUUU...!" teriakan Rayan langsung menggema keseluruh ruang. Menyebabkan Reychu membangkitkan tawa senangnya atas kemarahan Rayan.
"HAHAHAHA...!"
Rayan mendengus kesal. Ruobin yang sejak tadi diam hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan kedua gadis itu bila sudah di satukan.
Ternyata saat tawa Reychu menggelegar, Chi-chi langsung berlari masuk dan menubruk tubuhnya ke pelukan Reychu. Cukup peka untuk segala sesuatu tentang Reychu.
"Hei! Kau merindukanku? Cepat sekali!" narsis Reychu, tapi siluman kelinci itu tidak merasa begitu. Ia justru senang Reychu pulang lebih awal.
"Aku selalu merindukanmu, Chu-chu!" suara imut khas bocah laki-laki membalas.
Rayan melihat bocah laki-laki bertelinga panjang itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya masih dengan ekspresi tak percaya. Kalau pada akhirnya ada juga yang tidak menganggap Reychu gila. Padahal ini bukanlah pemandangan baru setelah beberapa waktu belakangan ini. Hanya saja, masih sulit untuk Rayan percaya.
Malas meladeni lagi si gila Reychu, ditambah dengan teman silumannya. Rayan kembali mencoba menikmati kenikmatan dari peraduan milik permaisuri. Hingga tiba-tiba, sesuatu terendus olehnya.
"Bau apa ini?" celetuknya sambil bangkit untuk duduk dan memandang Reychu yang sudah duduk santai di kursi lain di seberang meja tempat Ruobin juga duduk. Sambil memangku silumannya.
"Bau? Bau apa?" tanya balik Reychu lantaran gagal paham.
Kernyitan dalam terbentuk di kening Rayan. "Bau obat!" tukasnya yakin.
"Oooh... Itu! Kebetulan sekali! Rayan coba kau periksa obat jenis apa itu? Aku tidak sengaja menemukannya saat beberapa hari lalu berjalan-jalan keliling Istana! Aku tidak berpikir macam-macam soal obat itu. Hanya saja sedikit mencurigakan. Jadi, aku membawanya pulang." jelas Reychu santai tak peduli.
Mendengar itu Rayan tidak bisa tidak menggelengkan kepalanya. "Bod*h! Kalau sampai ada yang berusaha menjebakmu lagi dengan obat itu bagaimana? Ingat kau masih tidak aman disini." kata Rayan mengingatkan sambil mulai meraba-raba peraduan untuk menemukan asal bau yang ia endus.
"Jangan berlebihan!" tukas Reychu acuh tak acuh.
"Dimana obatnya?"
__ADS_1
"Dibawah kasur."
Menyibak kasur agak tebal itu, seketika ia dapat melihat sebuah buntalan kecil kain putih ada di sana. Tanpa menunggu lama, ia segera mengambilnya dan mulai memeriksanya.
Dihirup sedikit aroma yang sempat ia rasakan samar sebelumnya, detik berikutnya ia terhenyak kaget. Menoleh cepat kearah Reychu. Sedang Ruobin sibuk mengawasi saja.
"Ini obat tidur...?!" kata Rayan sambil mengerutkan keningnya antara yakin tidak yakin.
"Obat tidur?" melihat dengan aneh ekspresi Rayan. "Lantas, mengapa ekspresi mu begitu? Tidak mungkin kau ragu bukan?!" tanya Reychu sambil melontarkan sedikit candaan.
Rayan mendelik sekilas ketika mendengarnya. "Omong kosong!" tegasnya. "Aku bukan ragu. Hanya saja, dari baunya ada yang aneh. Bila di endus sesaat, obat ini memang terasa seperti obat tidur. Tapi, bila di teliti lebih dalam. Ada campuran lain yang terkandung didalamnya." lanjut Rayan tak mau menggubris candaan sahabatnya, saat dirasa situasinya sedang serius.
"Kalau begitu, apa tepatnya obat tidur itu?" tanya Reychu langsung ke intinya.
"Ini... Seperti obat tidur resep keras!" singkatnya pasti.
"Obat tidur resep keras? Apa maksudnya itu?" Reychu masih belum mengerti. Maklum, dia bukan Rayan yang sudah berkecimpung dalam berbagai macam obat dan racun bahkan sejak ia masih dini.
"Obat ini... Jika, di minum jangka panjang akan menimbulkan efek lain pada tubuh orang yang meminumnya. Dimana efek tersebut akan membuat si pengguna akan tertidur untuk waktu yang lama. Penggunanya akan tampak seperti sedang dalam keadaan koma! Obat ini mampu menidurkan seluruh saraf... Yang terburuknya bisa merusak sarafnya juga, bila di konsumsi terus-menerus. Untuk lebih mudahnya, aku bisa menyebut obat ini dengan nama... Obat putri tidur!" jelas Rayan tanpa ragu sambil memegang buntalan kecil yang terbuat dari kain itu. Tak perlu membukanya, dari mengendusnya Rayan sudah tahu apa isinya.
"Obat putri tidur! Kau membuat namanya terdengar bagus ditelinga!" celetuk Reychu yang tak sesuai tempat.
"Reychu..." panggil Rayan dengan nada rendahnya.
"Dimana kau menemukan obat ini? Ini jelas tidak mungkin untuk di berikan padamu ataupun untuk menjebakmu. Kecuali, ada yang sudah diberikan obat ini dan orang lain mencoba memfitnah mu dengan itu." kata Rayan mulai berasumsi.
Reychu menggeleng, tanda tidak setuju. "Tidak! Kau salah!"
"Bagaimana kau bisa berpikir begitu?"
"Aku belum lama berada di istana. Selebihnya, aku di kurung di istana dingin selama 6 bulan. Meskipun faktanya aku keluar dengan kalian 3 bulan setengahnya. Selama hukuman tersebut, Kaisar sendiri yang melarang siapapun untuk melayani ku selain datang hanya untuk menaruh persediaan bahan pangan di dapur. Mereka tidak bisa menjebak ku dengan ini. Sangat tidak masuk diakal." jelas Reychu santai.
"'Ah... Begitu... Lalu, siapa yang menggunakannya dan untuk siapa itu digunakan?"
Mendengar pertanyaan Rayan, Reychu langsung menunjukkan seringainya. "Kita ditakdirkan untuk mencaritahunya. Hehehe..."
"Seriuslah, Rey!"
"Ck! Aku selalu serius, Ray!" Reychu mengulang nada yang di pakai Rayan.
"Ya! Kau selalu serius dalam ketidakseriusan mu!" ketus Rayan jengah dan malah di tanggapi dengan tawa renyah dari sahabatnya itu.
"Jadi, apa langkah awal kalian?" lama diam, akhirnya Ruobin angkat bicara juga.
__ADS_1
"Astaga! Aku nyaris melupakan mu! Untungnya kau mau bicara. Hahaha..." Ucap Reychu dengan nada berlebihan.
"Abaikan dia!" cetus Rayan malas. "Kalau ditanya langkah awal. Ini benar-benar tidak bisa dilakukan terburu-buru. Setidaknya, kita harus tahu dulu siapa yang mengonsumsi obat ini." terangnya sambil berpikir, meski fakta mengatakan kalau Rayan jelas tidak akan menemukan jawabannya. "Rey, apa kau tahu siapa yang kira-kira di kabarkan sudah tertidur untuk waktu lama?" akhirnya pertanyaan itu keluar.
"Yang tertidur?" pikir Reychu sesaat, kemudian ia menggeleng tanda tidak tahu. Selang waktunya amat tipis untuk benar-benar berpikir.
Kening Rayan berkerut tak percaya. "Jangan menjawab secepat itu, padahal kau belum benar-benar memikirkannya!" tegas Rayan rada kesal. Reychu selalu seperti itu.
"Astaga...! Kau ini! Tapi, aku sungguh tidak mengingatnya. Selain kenyataan saat aku di tuduh ingin mencelakai Gong-gong itu di usia kandungannya yang sudah 1 bulan. Aku langsung di tendang ke istana dingin. Selebihnya, aku tidak tahu apapun mengenai apa yang terjadi di luar dinding istana dingin." jelas Reychu jujur. Ia jarang tidak jujur, kebiasaannya yang bermulut ember dan blak-blakan mempertipis kebohongannya. Karena, dia akan dengan gamblang mengatakan apapun yang ada di kepala dan hatinya tanpa ragu.
"Ini akan sulit kalau begitu." hela Rayan merasa buntu.
"Siapa bilang? Kita punya Ryura!" mendengar nama sahabatnya yang lain, Rayan langsung cerah kembali.
Sambil menunjuk Reychu yang tengah memangku bocah kelinci itu, Rayan berseru semangat. "Kau benar! Ryura lebih mudah untuk menemukan apapun meski tanpa bukti!" jedanya. "Tapi... Kapan dia akan datang?" tanya Rayan kembali lesu.
"Hehehe... Kalau itu aku tidak tahu!" celetuk Reychu santai seolah-olah yang sedang mereka bahas bukanlah masalahnya. Rayan berdecak mendengarnya.
"Chu-chu, apa perlu aku bantu mencarinya? Aku bisa menemukannya juga. Cukup biarkan aku mengetahui baunya, setelah itu aku akan mencarinya." pinta Chi-chi memohon. Ia selalu ingin melakukan apapun untuk Reychu. Baru saja Reychu akan menjawabnya, suara Ruobin lebih dulu menyela.
"Kau tidak akan bisa! Biarkan mereka menunggu Ryura kembali. Kalau kau yang melakukannya, akan memerlukan waktu lama." seru Ruobin acuh tak acuh. Ia begitu karena baginya, selain Rayan yang lain bukan apa-apa.
"Kenapa kau berkata begitu? Kita ini siluman. Kita punya sesuatu yang tak dimiliki oleh manusia. Sedang Ryura itu... Apa memangnya dia itu?" sambar Chi-chi tak terima saat mendengar kalimat yang ia pahami agak membandingkan dirinya dengan manusia sahabatnya Reychu. Entah mengapa, mendengar nama Ryura ia selalu merasa kesal sendiri. Jujur, Chi-chi tidak menyukai gadis tak berekspresi itu bahkan sejak awal bertemu.
Memandang tajam siluman yang lebih rendah darinya itu, lalu berkata dengan rendah dan dalam. Suara itu jadi terdengar mengerikan.
"Kalau begitu, carilah!"
Chi-chi langsung mengalami kesulitan dalam meneguk salivanya.
"Wow. Ini kali pertama aku melihat kalian bersitegang. Tenanglah. Aku tahu kau ingin membantuku, Chi-chi. Dan aku tahu kau mampu. Tapi, kalau kau yang bertindak aku khawatir akan sulit. Bila kau harus berkeliaran dalam wujud kelinci, kemudian kau ditangkap oleh orang yang membenciku. Mereka tahu kau peliharaan ku, mereka pasti akan melakukan hal buruk padamu." terang Reychu sambil mengelus sayang puncak kepala bocah laki-laki bertelinga panjang itu.
"Kalau begitu kenapa tidak suruh dia saja." katanya sambil menunjuk kearah Ruobin.
"Tidak ada bedanya. Tidak ada petunjuk dari Reychu. Berarti tidak ada jalan lain. Selain memasuki seluruh kediaman. Sayangnya, aku tak ingin ambil resiko. Asal kau tahu saja. Di beberapa tempat di istana ini. Aku merasakan energi yang kuat. Itu menandakan, istana bukan tempatnya siluman bisa dengan mudah berkeliaran. Aku tidak bod*h, sampai rela mengorbankan nyawaku untuk tuanmu. Aku punya Rayan yang harus aku jaga." ungkapnya jujur. Ingin mencoba menjadi seperti Reychu yang bis adnegan gamblang mengatakan semuanya. Meski jujur saja, itu agak kaku untuk ia lakukan.
"Hebat! Tipe yang setia! Apa kalian berencana untuk menikah?"
Kalimat itu sungguh tidak sinkron dengan keadaan saat ini dan membuat hal itu tidak bisa mencegah wajah datar Rayan dan Ruobin untuk muncul. Terkadang tidak habis pikir dengan pola pikir Reychu yang sulit untuk dipahami.
hola selamat membaca gaess...
__ADS_1
next time yaaa ๐