3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
SAYEMBARA 5: AKHIR TAK TERDUGA PRIA ASING


__ADS_3

Waktu kembali berlalu begitu cepat. Tak terasa hari telah berganti. Setelah menghabiskan satu hari penuh untuk pemulihan, kini Ryura dan Furby ingin pergi menikmati hari jauh dari keramaian dan masalah.


Ryura sudah muak dan enggan berurusan dengan orang-orang yang tak dikenal, namun berani mengganggunya. Itu hal paling mengesalkan bagi gadis itu.


Jalan setapak yang entah di daerah mana, mereka tak tahu. Keduanya hanya tahu kalau mereka ingin menikmati hari yang tenang bersama ketenangan alam yang tak ada duanya. Jalanan yang cukup untuk dilewati satu gerbong kereta kuda dengan di kedua sisinya di tumbuhi batang bambu yang besar dan berjumlah banyak. Semilir angin menambah khidmat suasana disana.


"Keputusan mu benar-benar tepat. Lihatlah pohon-pohon bambu yang besar-besar itu. Indah, bukan?!" seru Furby riang dalam telepatinya. Ryura pun hanya diam tak berkomentar.


Sebab, ia pun tahu tempat ini benar-benar bisa mengobati kekesalannya pada para pengganggu.


Udara segarnya yang jauh dari polusi udara sebagaimana yang ada di kehidupan sebelumnya, membuat ia merasa beruntung sudah di pindahkan ke masa yang masih asri ini.


Keduanya tidak banyak bicara. Bahkan tidak berbicara sedikitpun selama perjalanan yang tidak memiliki tujuan itu. Hanya berjalan santai dengan Ryura di punggung Furby.


Keheningan yang nikmat itu ternyata tidak bisa bertahan lama, saat insting bahaya berbunyi di benak kuda bulan itu. Otomatis langkahnya pun berhenti seketika.


Ryura yang berada di punggungnya hanya diam. Tak perlu bertanya ia tahu sesuatu telah datang pada mereka. Hanya saja Ryura tak habis pikir pada siapapun itu yang hobi sekali mengganggu ketenangannya, apa yang mereka cari dengan mengusiknya?! Sungguh tak habis pikir.


Kesunyian kini berubah mencekam dengan aura asing yang datang. Merasakan hal itu, Furby segera menajamkan inderanya. Sedang, Ryura masihlah acuh tak acuh dengan itu.


Sampai pada yang di nanti muncul.


Wush...


Sruk!


Sebuah tombak bambu melayang dengan kecepatan tinggi dan menancap tajam nan kuat tepat di depan kaki Furby. Membuat kuda itu sedikit memundurkan langkahnya, menghindar.


Tak hanya aura asing yang menyebar di sekitar mereka, tapi Furby pun turut mengeluarkan auranya sebagai kuda legendaris. Sayangnya, itu tak bertahan lama karena Ryura segera memintanya untuk tenang dengan menepuk ringan lehernya.


"Tenang. Ini urusanku!" tegasnya dengan intonasi kecil tak ingin dibantah. Ia sudah bisa merasakan kehadiran orang tak dikenal itu adalah untuk berurusan dengannya.


Bruk!


Melompat turun dari kuda yang di tungganginya. Kemudian, mengambil posisi di depan Furby.


"HAHAHAHAHAHA..." suara tawa seseorang yang diyakini suara milik seorang pria tiba-tiba memasuki gendang telinga kedua makhluk berbeda itu.


"LIHAT SIAPA YANG TENGAH SENDIRIAN DI HUTAN BAMBU INI?! CUKUP BERNYALI! TIDAK TAKUTKAH, KALAU DISINI MALAH AKAN MENJADI PEMAKAMAN BAGI MU... GADIS MUDA!" lantang teriakan tersebut membuktikan bahwa Ryura benar atas firasatnya.


Ryura tak bergeming sedikitpun meski ia mendengar nada provokatif dari suara pria tak dikenal itu. Baginya, orang asing itu belum memenuhi kualifikasi untuk membuatnya takut.


"SOMBONG! KAU SUNGGUH ANGKUH SEKALI! APA KAU PIKIR DENGAN HANYA KARENA BISA MELENYAPKAN BEBERAPA NYAWA KAU SUDAH MERASA HEBAT?! MEREKA BAHKAN TAK LEBIH DARI SEKADAR RUMPUT LIAR YANG BISA DENGAN MUDAH DI BABAT!" lagi, suara itu menggema keras di tengah kesunyian hutan bambu tersebut. Suaranya mengandung emosi karena merasa di abaikan oleh lawan bicaranya.


Namun, seperti biasa. Ryura tak menggubris perkataan itu. Gadis itu tenang dalam diamnya dan itu cukup untuk membangkitkan amarah seseorang.


"BRENGS*K KAU, JAL*NG! BERANINYA KAU MENGABAIKANKU! LIHAT APA YANG AKAN AKU LAKUKAN UNTUK MEMBUATMU BERTEKUK LUTUT PADAKU! HANYA ANAK INGUSAN SAJA, BERANI SOMBONG! CUIH!" kemarahan tak terbendung menguasai kalimatnya. Ia benar-benar marah bercampur kesal akibat dari harga dirinya yang terusik karena di abaikan oleh gadis muda yang entah sejak kapan dianggap musuh olehnya.


Ryura kembali tak menggubrisnya. Itu sungguh membuat pemilik suara itu malu bukan main, ia merasa telah kehilangan mukanya. Sebagaimana yang sering dirasakan banyak orang kala diri sendiri berbicara panjang lebar, namun lawannya hanya diam. Apalagi kalau yang di ceritakan adalah cerita lucu yang bisa membuat diri sendiri tertawa, tapi tidak dengan lawan bicaranya. Itu amat terasa canggung dan malu disaat bersamaan.


Pria yang bersembunyi di atas batang bambu yang rimbun, bertindak begitu untuk memancing amarah Ryura yang malah membuat dirinya sendiri yang marah. Tidak dengan Ryura. Benar-benar senjata makan tuan!


"Si*lan, kau!" desis pria itu menggeram tertahan. Ia dibuat habis kesabarannya mendapati perlakukan Ryura yang hanya mendiaminya tanpa sedikitpun merasa marah. "Perempuan ini benar-benar..." tak ingin berlama-lama dia pun melompat keluar dari tempat persembunyiannya tanpa di minta.

__ADS_1


BRUGH!


Ryura yang akhirnya melihat sosok tak dikenal muncul hanya menatapnya dalam diam. Lagi-lagi itu malah mengusik amarah lawannya.


Mencoba tenang, pria itu mulai berbicara langsung pada intinya, karena sepertinya akan percuma kalau ia berbicara panjang lebar. Gadis didepannya tak akan membalas. "Serahkan kuda itu padaku. Maka, aku akan membebaskanmu dari kematian!" lantangnya.


Ryura hanya berkedip dan tidak berkata apapun. Cukup malas untuk itu.


"Gadis, jangan memancing kemarahan ku atau kau akan tahu akibat dari membuatku marah." peringatannya ternyata tak mempan untuk di ucapkan pada Ryura, karena gadis itu tetap tak bergeming.


Sementara, Furby hanya menatap tajam pria yang berdiri agak jauh dari hadapan mereka.


"Apa maunya kepar*t ini? Aku? Cih! Dia pikir aku barang!" gerutu Furby dalam benaknya tanpa melepas mata tajamnya pada pria itu. "Tapi, aura ini...?!" jedanya sesaat untuk berpikir, Furby merasa familiar dengan aura yang pria asing itu pancarkan. "Heh! Jadi, dia mengikuti ku sampai kemari?! Teguh juga pendiriannya! Sayang sekali, aku tidak tertarik!" lanjutnya dalam hati.


Ternyata, Furby mengenal aura yang di pancarkan oleh pria asing itu. Aura seseorang yang selalu menguntitnya dulu sebelum dia bertemu Ryura. Satu-satunya orang yang membuatnya berkelana jauh dari tempat asalnya. Tak disangka, hari harus bertemu kembali dengannya.


Furby masih sangat jelas mengingat bagaimana orang itu begitu terobsesi padanya sampai mau repot-repot menguntitnya hingga detik ini.


Diabaikan untuk kesekian kalinya membuat kedua tangannya terkepal erat hingga buku-bukunya memutih. Wajahnya memerah marah tak terkira, bahkan gemeretak giginya sampai terdengar. Mungkin bila ada orang lain disana yang mendengarnya pasti berpikir bahwa orang asing itu tengah mengunyah giginya sendiri.


Ryura jelas tahu emosi yang menyeruak di udara akibat ulahnya yang tidak mempedulikan pria tersebut. Tapi, apa boleh buat. Ryura bukan sengaja melakukannya, tapi ia memang merasa semua kalimat yang di ucapkan pria itu tak ada yang membuatnya mau angkat bicara.


"Ini kau yang minta!" kata pria itu di sela-sela giginya yang ditekan mengatup dengan amat geram. Ia marah dan kini tak bisa ditahan lagi.


Tap!


Wush!


Menghentak tanah sekali sebelum meluncurkan menerjang Ryura dengan jurus meringankan tubuhnya, tak lupa sebilah pedang yang langsung ia keluarkan begitu tubuhnya melesat tajam kearah gadis yang sudah sangat membuatnya naik darah.


Akan tetapi, bukan Ryura namanya kalau tak bisa menggunakan apa yang alam sediakan disekitarnya.


Melihat orang itu melesat kearahnya, Ryura segera bergerak kearah batang bambu dan menebasnya dengan mudah menggunakan tangan kosong. Meski, perbandingannya sangat jelas tumpang tindih. Tapi, sebagai orang yang memiliki kemampuan untuk mengandalkan dirinya sendiri, Ryura jelas tidak merasa kesulitan sekalipun dia tidak memiliki apapun sebagai senjatanya.


Krak!


Batang bambu itupun tumbang seketika, tanpa peduli kalau daunnya masih ada segera saja ditariknya bambu tersebut lalu diayunkan ke arah pria asing itu.


Bugh!


Karena, sedikit lengah. Pria itupun terkena hentakan batang bambu di sisi kanan tubuhnya hingga ia tersapu kesamping. Nyeri seketika terasa, sedikit ketidakpercayaan muncul di raut wajahnya. Ia tak menyangka gadis itu memiliki kecepatan yang luar biasa. Mendapati hal itu, pria asing itu tidak bisa tidak merutuki dirinya sendiri yang sempat-sempatnya mengagumi kehebatan Ryura.


Tak ingin lengah lagi dan kalah. Segera pria itu menahan tubuhnya dari dorongan dengan kakinya. Tanpa memberi jeda, ia kembali melompat ke arah Ryura dengan pedang yang sudah diangkatnya tinggi-tinggi.


Melihat itu, Ryura pun bergegas mematahkan batang bambu tersebut dengan sekali hentak ketanah hingga panjangnya kini dua kali panjang pedang. Di angkat dan diarahkannya ujung bambu itu kehadapan pria yang bisa ia duga akan menebasnya dengan pedang ditangannya itu.


Zruk!


Krek!


Batang bambu itu seketika terbelah dua tepat saat mata pedang menyambarnya. Melihat bambu yang terbelah itu Ryura tetap tenang. Dengan kecepatan yang amat cepat, bahkan sebelum lawannya sempat menarik kembali pedangnya, Ryura sudah lebih dulu menendang perut lawannya hingga terpental ke belakang dan terbanting serta terguling beberapa kali.


Akibatnya, lecet pun tak terelakkan di permukaan kulit pria itu.

__ADS_1


Menerima perlakuan tersebut, ia merasa terhina dengan sangat hina. Tak bisa ia utarakan sebesar apa kebencian yang ia berikan untuk gadis di depannya yang tampak masih berdiri gagah di seberang sana tanpa keluhan apapun.


Dirasa lawannya tersungkur, Ryura segera mengalihkan pandangannya kearah pedang yang tersangkut di batang bambu yang dibuat terbelah oleh mata pedang itu. Tanpa banyak berpikir, pedang pun beralih tangan dengan mudahnya.


Melihat apa yang Ryura lakukan, pria itu tak bisa tidak marah. "BERANINYA KAU MENYENTUH PEDANGKU...!" amuknya tanpa ampun. Bagi pria itu, apa yang sudah menjadi miliknya, maka selamanya adalah miliknya. Karena itu, begitu melihat tangan musuhnya menyentuh barang miliknya. Pria itu tidak bisa tidak marah.


Kembali, ia berlari menerjang Ryura dengan seluruh tenaganya. Sayangnya, Ryura sudah malas mengulur waktu. Tak ingin berlama-lama, Ryura pun juga berlari kearah lawannya dengan pedang di tangannya. Ia pun akan menerjang pria yang sudah dengan berani mengganggunya itu.


Menerjang hingga akhir hayatnya.


Yang satunya diselimuti kemarahan dan kebencian, sedang satunya lagi tetap dalam ketenangan yang hakiki. Tak sedikitpun tergoyahkan.


"Ini yang terakhir!" batinnya merujuk pada sayembara yang diadakan oleh keluarga Han.


Langsung saja...


Sret...


Sret...


Sret...


Sret...


Beberapa tebasan melayang kearahnya hingga kedua tangan dan kedua kakinya kehilangan kemampuannya seketika itu juga. Matanya menjadi terbelalak tak percaya, otaknya tak bisa berpikir jernih. Ia tak bisa mencerna dengan baik atas apa yang telah menimpanya.


Menatap kaget pada sosok Ryura yang tak gentar di atas kedua kakinya sendiri bersama pedang miliknya yang telah berlumuran darah. Masih tak ingin percaya kalau ia terluka dengan mudahnya bahkan sebelum ia mengerahkan seluruh kekuatannya.


Bola matanya memandang ngeri Ryura yang masih santai dan tenang dalam diamnya, meski beberapa noda darahnya telah terpercik tanpa bisa dihalangi.


Keadaan ini aneh untuknya. Terlalu aneh untuk dianggap sebuah pertarungan.


"K..k..kau..." sulit untuk mengucapkan apa yang ingin ia katakan. Gadis ini benar-benar mengerikan, bahkan akan sangat mengerikan kala berhadapan langsung dengan dia.


"Ini yang kau inginkan, bukan?! Maka, aku kabulkan!" detik berikutnya selesai Ryura berkata demikian.


Crash...!


Gluduk... Duk... Duk...!


Bruk!


Selesai...


Dengan gerakan pasti dan santainya, Ryura menebas pria asing yang ia tak merasa punya masalah dengan dia sampai kepala itu benar-benar telah meninggalkan badannya. Darah menyembur saat itu juga dari potongan leher yang terpotong mengenaskan. Pakaian Ryura sebagiannya sudah tak lagi terlihat baik. Darah memenuhi sebagian itu dengan sempurna.


Klontang!


Pedang itu pun segera ia buang. Dikarenakan, pertarungan konyolnya telah usai. Konyol, karena memang pertarungan itu tak sesuai harapan orang-orang kebanyakan. Akan tetapi, sesuatu mengusik hatinya untuk pertama kalinya.


Sebuah bungkusan panjang kain tampak sedikit terbuka akibat terkena ujung pedangnya saat ia menebas pria malang itu. Sebuah kilau memancar dari dalamnya, menyentuh hati dan rasa ingin tahunya.


Tanpa ba-bi-bu lagi, segera saja ia raih bungkusan panjang yang sudah sedikit sobek karena ulahnya. Kemudian, dibuka tanpa ragu. Maka, tampaklah...

__ADS_1



terimakasih atas dukungannya yaaa.


__ADS_2