
Langit mulai menampakkan warna jingganya, menandakan hari sudah petang. Rayan yang sedang di landa kebosanan hanya berada didalam kamarnya menghadap keluar jendela seraya memikirkan apa yang mesti ia lakukan untuk kedepannya.
Menghela nafas lelah, ia sedikit frustrasi. "Bagaimana ini?! Sekarang aku bingung. Kenapa juga Ayah Yu Rayan pakai acara sayang-sayangan dengan ku. Kalau begini aku tidak punya alasan untuk membereskan mereka. Dia pria yang baik. Tapi... Kalau aku tetap melanjutkan tujuanku. Pria paruh baya yang tampan itu akan membenciku, lalu berniat membalaskan dendam keluarganya padaku. Ish... Aku tidak mau kalau jadi begitu! Gadis cantik nan imut seperti ku tidak boleh jadi musuhnya pria tampan! Itu sangat tidak benar... Ck! Aku bukan Ryura! Kalau dia, aku yakin seribu persen. Tanpa ba-bi-bu, ada masalah atau tidak... Semuanya terselesaikan!" batinnya yang bingung berujar panjang memikirkan hidupnya kedepan. Ia dibuat pusing sendiri.
Baginya ini sulit. Niatnya ingin menghabisi seluruh keluarga Yu agar setelahnya ia dan kedua sahabatnya tinggal pergi meninggalkan negara api. Mungkin, sekilas siapapun akan berpikir. Kenapa tidak pergi saja? Atau kenapa sampai harus repot-repot mengurusi Keluarga yang bahkan tidak menginginkan dirinya? Jawabannya adalah... Karena Keluarga itu sendiri tidak bisa dengan mudah melepaskan mereka. Alhasil, mau tak mau. Mereka selaku yang tak diinginkan lah yang harus turun tangan langsung untuk menanganinya. Bila perlu, babat habis semua agar tidak ada lagi yang bisa menghalau jalan mereka.
Hanya saja, yang paling berkemungkinan besar untuk mau repot-repot memikirkan semua itu adalah Rayan. Sedang Reychu, dia terlalu santai dan tak peduli bila tak penting baginya. Sementara, Ryura... Jangan ditanya lagi. Dia sudah sangat jelas.
"Aakh... Aku kesal sendiri jadinya..." keluhnya sesaat, kemudian terdiam. "Ya ampun... Apa yang aku lakukan... Tenang, Rayan sayang... Tenanglah... Jangan dijadikan beban pikiran atau kau akan kehilangan kecantikan mu. Ingat orang cantik tidak boleh stres. Tidak boleh!" katanya pada diri sendiri guna mengingatkan untuk tenang, itu selalu ia lakukan karena tak ingin sampai ada kerutan di wajahnya hanya karena kebanyakan beban pikiran.
Tok...
Tok...
Tok...
Saat sedang asyik-asyiknya mengoceh sendiri, suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.
"Eh! Siapa yang sore-sore begini datang berkunjung? Bukan para Tuan Putri 'kan?" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri yang tentu tak ada yang bisa menjawabnya.
Dilangkahkan kakinya menuju pintu, kemudian dibukanya dan setelah itu tampaklah si pelaku yang mengetuk pintu berada didepannya.
"Eh. Ayah! Ada apa?" tanyanya spontan begitu tahu siapa yang datang.
Pria paruh baya yang tak lain adalah Yu Ran Yuan pun tersenyum lembut pada sang putri tercintanya, sebelum akhirnya ia berkata.
"Sayang. Ayah kesini hanya ingin memberitahu mu kalau Ibu tirimu mengadakan acara makan malam bersama. Akan tetapi, ia tidak mengikutsertakan kamu. Padahal, rencananya Ayah ingin makam malam berdua denganmu malam ini. Mengingat ini akan jadi makan malam pertama bagi kita. Aku sudah sangat menantikan itu. Sayang sekali..." ucapnya dengan sendu.
"Oh... Kukira ada apa. Jangan khawatir, Ayah. Tidak apa-apa. Masih ada hari esok. Jangan terlalu dipikirkan. Kita masih bisa menikmati sarapan pagi bersama besok kalau perlu. Apalagi, tadi siang kita juga sudah makan bersama, kan..." kata Rayan pengertian.
"Tidak! Tidak ada hari esok! Aku tidak suka menunda-nunda kesempatan! Karena itu, Ayah kesal saat tahu kalau dia tidak mengajakmu!" ia menggerutu kesal. "Huh...! Apa perlu kuminta padanya agar kau di ikutsertakan?" cetusnya kala ide melintas.
Mata Rayan terbelalak. "Ayah! Jangan! Itu bukan ide yang bagus! Mungkin saja, ini adalah cara Bibi Lin untuk berdamai dengan mu, Ayah. Makanya, dia hanya ingin mengundang Ayah saja. Sudah tidak perlu di permasalahkan. Ini hanya perkara kecil." terang Rayan panjang lebar.
"Jadi, menurutmu begitu?" Rayan mengangguk membenarkan.
Menghela nafas pasrah. "Baiklah, Ayah akan datang ke acara makan malam bersama mereka. Kau makanlah sendiri untuk malam ini. Maaf, Ayah jadi tidak bisa menikmati kebersamaan bersamamu malam ini." ujarnya merasa bersalah.
Rayan segera menggelengkan kepalanya tanda tak setuju. "Jangan dipikirkan. Aku baik-baik saja." tandasnya. "Sekarang Ayah kembalilah, lalu bersiap-siap. Jangan membuat mereka menunggu." lanjutnya seraya tersenyum manis.
Melihat itu, tangan Yu Ran Yuan tergerak untuk mengelus surai panjang milik putrinya dengan lembut penuh kasih.
"Baiklah. Kalau begitu, Ayah pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik! Ayah sangat menyayangimu lebih dari yang kau tahu! Maafkan Ayah yang baru sekarang bisa memperlakukan mu dengan baik!" katanya tulus dari dalam lubuk hatinya.
"Hahaha... Ayah ini...! Aku tidak akan menyalahkan mu. Jadi, tenanglah dan aku juga menyayangi mu, Ayah." balas Rayan lembut.
Cup!
Kening Rayan di kecup agak lama oleh Yu Ran Yuan. Entah mengapa, pria paruh baya itu merasa berat meninggalkan sang putri begitu saja malam ini. Sejujurnya, hatinya sudah memintanya untuk tidak menerima undangan makan malam dari istrinya itu. Tapi, entah apa yang membuatnya justru setuju untuk hadir. Iapun tak tahu.
Yang ia tahu, firasat buruk tengah menghampiri.
"Ayah pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik."
__ADS_1
"Eumm... Jangan cemaskan aku. Aku akan selalu baik-baik saja."
Usai percakapan itu berlangsung, Yu Ran Yuan pun pergi meninggalkan Rayan yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
Raut wajahnya yang semula tersenyum kini berganti datar penuh curiga.
"Ruobin!" panggilnya pelan dan si siluman yang di panggil pun muncul seketika. Sekarang pria bertopeng itu berada tepat di sebelahnya.
Wush!
"Apa yang kau dapat?" tanya Rayan penasaran.
"Wanita itu memesan racun di siang hari tadi dan baru saja mengambilnya dari si pengantar. Entah darimana ia bisa membeli racun itu dalam waktu singkat?!" jawab Ruobin tenang.
Ekspresi datar di wajah imut itu seketika berubah lagi menjadi sumringah. "Heh! Jadi, ia ingin menggunakan racun?! Untuk siapa?! Ayah?! Atau aku?!" tanyanya yang malah terdengar seperti main-main. "Cih! Permainan klasik! Tapi, tak apa... Mari kita ikuti cara mereka bermain. Setelahnya, biar aku yang akan ambil alih!" lugasnya dengan nada pelan namun tak tersirat keraguan didalamnya.
Bicara soal apa yang baru saja di bicarakan oleh Rayan dan Ruobin. Itu memang sudah terencana. Semua berawal dari pertemuan Yu Ran Yuan dengan Yu Ran Ran di halaman depan rumah tak jauh dari gerbang kediaman Yu.
Saat itu, Rayan sedang di landa bosan. Usai makan siang bersama Ayah pemilik tubuh di kamar rayan, iapun langsung saja tidur setelahnya akibat kelelahan. Namun, bukannya tidur Rayan justru merasa tak nyaman hingga ia memilih berjalan-jalan sebentar untuk membantu pencernaannya mencerna makanan yang ada. Dalam kegiatan jalan-jalannya itulah, ia tak sengaja melihat kedua Ayah dan anak itu sedang terlihat berbincang. Kemudian, dengan rasa penasarannya iapun mengambil tindakan untuk menguping.
Ia mendengar semuanya dan dia merasakan kecurigaan akan apa yang baru saja ia dengar. Merasa ganjil dengan itu. Kemudian ia memilih kembali ke kamarnya dan memanggil Ruobin.
Dari situlah rencana di susun.
Malam tiba. Kini sebuah keluarga kecil yang sulit untuk menemukan kebahagiaannya tengah menikmati makan malam bersama. Siapa lagi kalau bukan Yu Ran Yuan, Lin An Lie, dan Yu Ran Ran, putri mereka.
Makan malam berlangsung aman. Sejauh ini. Tidak ada yang berbicara. Bukan karena adab makan, melainkan karena sang kepala keluarga kecil itu tak berminat sedikitpun untuk melakukan perbincangan. Sedang, istrinya... Entahlah, ia terlihat aneh...
Tak!
Terdengar suara sumpit yang diletakkan. Ternyata, Yu Ran Yuan telah selesai menghabiskan makanannya. Li An Lie yang melihatnya segera angkat bicara.
"Kau sudah selesai, Suamiku?"
Melirik malas sang istri. "Kau bisa melihatnya." jawabnya enggan.
"Baiklah, aku tahu. Kalau begitu, ini... Minumlah teh herbal ini. Teh ini baik untuk relaksasi." ujarnya tanpa tersinggung dengan perkataan Yu Ran Yuan sebelumnya. Hal itu membuat pria berstatus suami itu menjadi curiga. Pasalnya, sang istri yang ia tahu adalah wanita yang lumayan emosional, temperamen nya agak sulit di atasi. Terlebih, kalau berkaitan dengan dirinya dan Yan Yue.
Sementara wanita yang ia lihat sekarang, terlalu tenang dan itu mencurigakan.
"Kenapa melihat ku seperti itu? Ada yang aneh denganku?" tanya Lin An Lie begitu melihat dirinya tengah ditatap curiga oleh suaminya secara terang-terangan.
"Ya! Kau aneh! Ada apa denganmu? Pagi tadi, kau masih emosional. Lalu, sekarang... Apa kau merencanakan sesuatu?" gamblang Yu Ran Yuan tanpa ragu mengeluarkan apa yang ada di kepalanya, tak peduli kalau putrinya nyaris tersedak minuman ketika mendengarnya.
"Kau mencurigaiku? Bisakah kau melihat sedikit saja kalau aku sedang berusaha memperbaiki hubungan kita? Aku..." belum selesai ia bicara Yu Ran Yuan sudah lebih dulu menyela.
"Tidak ada yang perlu di perbaiki!" tajamnya. "Karena tidak akan ada yang berubah! Sebaik apapun kau sebagai seorang istri, hatiku tidak akan lagi bisa goyah untuk berpindah ke lain hati! Aku sudah mengatakan itu sejak lama... Kau masih tidak mengerti?! Dan aku juga tak ingin bersikap lembut seperti yang kau inginkan. Karena, aku tidak bisa! Aku tidak mencintaimu! Bersikap lembut padamu, sama saja aku membohongi diriku sendiri. Aku tak nyaman dengan itu. Cukup dulu dan itu menyiksaku!" tandasnya tanpa ampun.
Yu Ran Ran yang mendengarnya hanya bisa menunduk seraya mengepalkan tangannya kuat. Dalam benaknya ia mengumpat dan memaki Yu Rayan tak karuan. Baginya, itu semua karena anak haram itu. Anak haram yang lahir dari rahim wanita yang selalu Ayahnya sebut wanita yang dia cintai, wanita yang amat sangat ia cintai. Marah dan benci semakin membara membuat ia bersumpah untuk menghabisi Yu Rayan dengan tangannya sendiri.
Tanpa mempedulikan pertengkaran yang terjadi antara kedua orangtuanya, ia memilih beranjak pergi ketempat yang ingin ia tuju dengan amarah yang siap untuk dikeluarkan. Sedang pasangan itu benar-benar mengabaikan putri mereka.
__ADS_1
"KENAPA KAU SEPERTI INI PADAKU? AKU YANG ADA DI SISIMU! AKU YANG ADA DI DEPAN MATAMU SETIAP WAKTU! AKU YANG MELAYANIMU SECARA SAH! KENAPA JADI WANITA RENDAHAN ITU YANG KAU PUJA-PUJA?! KENAPA WANITA YANG BAHKAN TIDAK DIKETAHUI ASAL-USULNYA ITU YANG KAU CINTAI?! KENAPA WANITA ITU?! APA HANYA KARENA IA CANTIK?! AKU JUGA CANTIK! TAPI, KENAPA TETAP SAJA JAL*NG ITU YANG KAU SUKA!" bentaknya frustrasi tak karuan seraya bangkit dari duduknya sampai membuat kursi yang ia duduki terpental kebelakang.
BRAK!
Yu Ran Yuan yang mendengarnya tak terima, hatinya panas seketika begitu mendengar wanitanya dihina. Iapun ikut bangkit dan menatap nyalang istrinya.
"APA KAU BILANG!" diangkatnya tangan hendak memukul, namun sebelum itu sesuatu telah terjadi.
Deg!
UKH!
UHUK!
Sesuatu telah terjadi pada tubuhnya. Yu Ran Yuan merasa tubuhnya seperti di tusuk-tusuk oleh ribuan jarum. Ia sampai batuk dan mengeluarkan darah. Sakit yang ia rasa membuatnya jatuh berlutut menahan tubuh yang semakin dilanda rasa sakit. Sakit yang didera tubuhnya bukan main. Ia sampai kesulitan berbicara.
"K..ka..kau... Uhuk!" berusaha untuk bicara. Sedang Lin An Lie hanya diam di tempatnya duduk, malah wanita itu sempat-sempatnya menenggak teh di cangkirnya. Kemudian, melirik acuh pada suaminya.
"Sakit?" tanyanya dengan nada penuh ejekan. "Hahaha... Itu belum seberapa dengan rasa sakit yang aku rasakan!" jedanya. "Sebenarnya, aku ingin kau melihat bagaimana aku menghabisi anak haram itu. Tapi, mau bagaimana lagi... Semua tergantung kemampuan bertahanmu. Aku cukup baik bukan?! Tentu, sangat baik! Tapi, sayang... Tidak dicintai oleh suaminya sendiri! Miris sekali bukan?!" katanya santai. Yu Ran Yuan yang kesakitan hanya bisa mengumpat istrinya yang mendadak gila itu dalam hati.
"Aku tidak bisa mati seperti ini! Rayan membutuhkan ku! Aku harus menemuinya dulu! Ini tidak adil! Aku belum menghabiskan banyak waktu dengan Rayan! Yan Yue! Tolong aku! Tolong putri kita!" batinnya berujar bingung serta cemas.
Ia hanya bisa berusaha untuk bertahan lebih lama, meskipun tubuhnya mulai tak bisa di gerakkan.
BRAK!
"RAYAN! RAYAN! KEMARI KAU!"
Baru saja datang kekediaman orang, bukannya memberi salam gadis itu justru membuat keributan. Si pemilik kamar sampai merasa terusik karenanya.
"Dimana sopan santun mu, Yu Ran Ran!" tekannya sembari menatap tajam gadis yang main nyelonong masuk kekamarnya.
"Aku tidak butuh sopan santun untuk berhadapan denganmu!" sarkasnya. "Anak haram seperti mu tidak pantas mendapatkan perlakuan baik dari keturunan terhormat!" lanjutnya.
Rayan tersenyum miring mendengarnya. "Benarkah! Aku tersentuh mendengarnya!"
"TUTUP MULUTMU!" ia membentak sembari menarik kerah hanfu Rayan kuat. "Kau tahu! Karena ulahmu, Ayah dan Ibuku tidka bisa lagi akur. Kenapa kau tidak mati saja?!" desisnya marah. Wajahnya bahkan sudah merah padam.
Sayangnya, Rayan santai saja menghadapi kemarahan gadis itu yang menurutnya biasa-biasa saja.
"hahaha... lucu sekali! Ulah apa yang kulakukan sampai kau menuduh ku? Harusnya kau sadar, kalau inilah yang disebut takdir. Ayah dan Ibumu memang di takdirkan untuk terikat ikatan suci pernikahan. Tapi, sayangnya. tidak ditakdirkan untuk terikat cinta diantara keduanya. Begitu saja kau masih belum mengerti?" katanya santai bahkan tampak meremehkan.
"KAU..." belum selesai Yu Ran Ran melanjutkan kalimatnya, suara seseorang menginstruksikan keduanya.
"CUKUP!" teriak
pemilik suara itu yang tak lain adalah Yu Chang Ni. "Berhenti sekarang! Kalau ingin bertengkar nanti saja. Tidakkah Paman Ran Yuan lebih penting?" jelasnya yang sukses mengagetkan kedua saudari kandung beda Ibu itu.
"ADA APA DENGAN AYAH?!"
__ADS_1
selamat membaca...