
Kediaman keluarga kecil Yu Ran Yuan yang di tempati istri dan anaknya kini ramai oleh sanak saudara yang lain. Bukan untuk sesuatu yang baik, karena saat ini mereka semua sedang dilanda kecemasan.
Terkhusus Yu Zhao Yan selaku Ayahnya, orangtuanya yang masih hidup. Siapa yang sanggup melihat darah dagingnya berada di ujung kematian. Meskipun, rasa itu akan jadi pengecualian untuk sang cucu yang lahir diluar izinnya. Maksudnya, bukan hasil dari pernikahan.
"Ya dewa... Apa yang terjadi dengan putraku? Menantu Lin? Katakan padaku!" desak Yu Zhao Yan pada menantunya, ia ingin tahu apa yang membuat putranya terkapar seperti ini dengan darah yang terus keluar dari mulutnya dengan bantuan batuk.
"Huhuhu... Ti..tidak tahu, Ayah... Aku tidak tahu... Huhuhu... Tapi, tabib bilang Suamiku keracunan... Aku tidak mengerti. Siapa yang tega meracuninya... Huhuhu..." raungannya memenuhi kamar, ia tersedu-sedu seraya duduk di sisi peraduan Suaminya sembari menggenggam erat tangan sang suami. Bersikap seolah ia takut terjadi sesuatu pada suaminya.
"Apa?! Keracunan?! Bagaimana bisa?!" kaget Yu Zhao Yan tak percaya, tapi berhubung tabib yang di panggil masih ada di sana dan tidak meralat perkataannya membuat ia mau tak mau harus percaya.
Pria yang berstatus kepala keluarga Yu pun berbalik dengan mata yang bergerak memindai semua orang yang ada di sana termasuk para pelayan.
"SIAPA YANG BERANI MERACUNI PUTRAKU? TUNJUKKAN DIRIMU! JANGAN SAMPAI AKU YANG MENEMUKANNYA SENDIRI. MAKA, TAMATLAH RIWAYAT HIDUP MU!" teriaknya menggelegar akibat amarah yang tak tertahan. Siapa yang bisa tahan bila tahu putranya di racuni di kediamannya sendiri. Jelas itu menunjukkan kalau ada orang dalam yang telah mengambil tindakan.
Bertepatan dengan kalimat yang di teriakan berakhir, saat itu pula Yu Rayan, Yu Ran Ran, dan Yu Chang Ni datang dengan tergesa-gesa.
Sesampainya disana, tanpa salam atau apapun Yu Ran Ran segera menghampiri peraduan Ayahnya dan ikut menangis seperti yang ibunya lakukan. Sedang Rayan hanya bisa berada 2 meter dari samping peraduan. Setidaknya, cukup untuk melihat wajah sang Ayah pemilik tubuh.
"Itu pasti sakit... Maafkan aku, Tuan Yu Ran Yuan..." lirih batinnya dengan rasa bersalah.
"KENAPA DIAM SAJA... JAWAB AKU!" lanjut Yu Zhao Yan geram karena tak kunjung ada yang menjawab.
Logikanya saja, jelas kalau tidak ada yang berani unjuk diri. Bukankah itu sama saja dengan cari mati. Siapa yang mau?!
Akan tetapi, pada akhirnya tetap ada juga yang memiliki nyali untuk angkat bicara.
Sampai akhirnya seorang penanggungjawab dapur di kediaman Yu memberanikan diri untuk maju. Ia seperti ingin memberitahukan sesuatu kepada Tuannya. Sesuatu yang ia ketahui.
"T..tuan Besar Yu. A..a..ada yang ingin saya sampaikan..." ketakutan menjalar ke seluruh tubuh sang Kepala Koki yang tidak lain adalah si penanggungjawab tersebut.
Kalimat yang di ucapkan dengan terbata-bata itu menarik perhatian sang Kepala Keluarga, Yu Zhao Yan. "Katakan! Apa yang ingin kau sampaikan padaku!" tegasnya tajam seperti ingin membunuh siapapun begitu ia tahu siapa dalangnya.
"Mo..mohon maaf sebelumnya. So..sore tadi... Saya dan yang lainnya tengah menyiapkan makan malam untuk semuanya. T..tapi... Ditengah-tengah kegiatan kami... Seseorang datang dan menanyakan masakan mana yang akan disiapkan untuk Nyonya ketiga Yu yang sudah memesan untuk dibuatkan menu terpisah dengan yang lainnya..." jelasnya belum selesai.
"Ya, menantu Lin sudah memberitahu ku kalau akan membuat acara makan malam bersama putraku dan anak mereka. Lalu? Siapa orang itu? Apa dia yang meracuni putra ketiga ku?" tanya Yu Zhao Yan memotong kalimat Kepala Kokinya dengan mencoba sabar untuk mendengarkan jawaban pastinya. Ia tak ingin melewatkan sedikitpun petunjuk.
"S..saya tidak berani mengatakan 'iya', Tuan Besar. T..tapi, memang hanya dia yang sedikit mencurigakan."
"Kalau begitu, katakan padaku. Siapa dia?"
"Dia... Adalah... Nona Yu... Yu Rayan, Tuanku." sang penanggungjawab memejamkan matanya cemas. Ia takut salah orang. Apalagi setelah melihat sendiri bagaimana sosok lain Yu Rayan sejak kembali dari menghilangnya dia selama 3 bulan lalu waktu itu.
"APA?!" semua yang mendengarnya dibuat kaget bukan main dan seketika itu juga mereka melayangkan tatapan tajam penuh kebencian berkali-kali lipat kepada Rayan yang tak bergeming seraya memandang iba pada Ayah sang pemilik tubuh.
Jangan bilang ia tidak mendengarnya. Ia sangat jelas mendengarnya. Hanya saja, ia memilih untuk diam.
Mencoba-coba untuk bersikap layaknya Ryura. Meski jelas, itu tidak akan bisa disamakan.
"TERNYATA KAU!" teriak Yu Zhao Yan untuk kesekian kalinya seraya mengacungkan jari telunjuknya dengan tajam kearah Rayan.
Seluruh anggota keluarga memang membencinya, namun tetap tak bisa percaya kalau anak haram itu memiliki keberanian setinggi itu hingga berani bertindak jauh diluar ekspektasi mereka.
__ADS_1
Bahkan Lin An Lie yang mendengarnya pun tak kalah terkejut. Wajah terkejutnya tampak seperti orang bodoh. Dia melihat Rayan dengan raut wajah seolah berkata 'Kau benar-benar membunuhnya...?!'. Rayan yang melihat itu hanya membalas dengan tersenyum miring penuh siasat yang lagi-lagi membuat Lin An Lie double shock karenanya.
Wanita paruh baya itu merasa ada yang salah.
Rayan berbalik badan dan kini ia menghadap seluruh anggota keluarga, ia membuka suara. "Hmm... Itu aku!" santainya seperti tidak ada beban saat menjawabnya.
Flashback on...
Berjalan dengan tenang dan sedikit riang menuju dapur kediaman Yu. Gadis cantik nan imut itu melangkah ringan tanpa ragu. Begitu sampai di dapur kediaman, ia langsung nyelonong masuk dan menyapa pekerja disana yang pertama ia jumpai, orang itu terlihat sedang memotong bawang bombai.
"Selamat sore!" yang disapa tentu terkejut. Karena, baru kali ini ada majikannya yang mau menginjakkan kaki di area dapur yang biasanya di pegang kendali oleh orang yang sudah dipercayakan.
"E'eh... Ah... Ya... Se... selamat sore! Nona?!" balasnya ragu.
"Hahaha... Jangan begitu... Santai saja! Kau ini!" kekeh gadis itu yang tak lain adalah Rayan kala merasakan kegugupan dari dalam diri pekerja dapur itu.
"'Ah... Haha... I..iya... N..nona..." balasnya ragu dan bingung, sedikit heran juga tak tahu harus apa.
Rayan hanya tersenyum menanggapinya. Itu wajar menurutnya. Era kuno seperti ini pastilah amat jelas perbedaan antara orang-orang yang berbeda kasta, meski zaman modern masih bisa dilihat. Namun, itu tentu dari orang-orang tertentu.
Merasa tak ada kepentingan lain selain tujuannya ke dapur. Rayan pun memilih tidak ingin berlama-lama. Selain tak ingin ketahuan, ia juga tak ingin rencananya gagal.
"Oh, ya. Orang yang bertanggungjawab disini siapa, ya?" tanyanya pelan dan tenang. Bermaksud untuk agar tidak dicurigai.
"Oh... Maksud, Nona... Kepala Koki? Beliau yang memegang tanggungjawab sepenuhnya di dapur ini." terang pekerja itu menjawab. Tidak merasa curiga sedikitpun.
"Ouh... Kalau begitu, dimana dia? Aku ada perlu dengannya." jelas Rayan singkat. Walaupun sebenarnya itu tidak terlalu perlu ia lakukan. Tapi, mau bagaimana lagi. Sedikit berbasa-basi agar tetap aman tidak salah untuk dilakukan.
Pandangan Rayan mengikuti arah telunjuk itu dan disana bisa ia lihat seorang pria berbadan besar alias gemuk agak pendek, bahkan hampir sama tinggi dengan dirinya sedang sibuk menata beberapa makanan yang sudah tampak siap kemudian kembali menyiapkan makanan lain yang belum terselesaikan.
"Oh... Baiklah." kembali menatap kearah pekerja itu dengan senyum manis yang ramah. "Kalau begitu, aku kesana dulu, ya... Terimakasih atas infonya! Selamat melanjutkan kembali pekerjaannya! Semangat!" katanya sebagai akhir dari perbincangan singkat itu dengan membumbuinya sedikit kata-kata pendukung lain agar terlihat natural.
"'Ah... Tentu, Nona. Terimakasih kembali...!" balas pekerja itu tak kalah ramah. Ia sampai tak percaya kalau Rayan yang dulu sering di perbudak oleh keluarganya sendiri adalah orang yang cukup menyenangkan.
Siapa yang menduga, apa yang berada dibalik wajah menggemaskannya itu?!
Kini tujuan Rayan adalah mendekati si Kepala Koki. Sesampainya di dekat pria bertubuh tambun itu, segera saja ia bertanya dengan nada yang sama agar meminimalisir kecurigaan. Meskipun ia tak bisa menjamin tetap akan aman. Bagaimanapun, setiap orang memiliki kemampuan mereka sendiri dalam menanggapi hal-hal yang mungkin akan terjadi.
"Permisi... Anda Kepala Kokinya?" tanyanya langsung dan tak lupa untuk tetap tersenyum. Yang ditanya sempat tersentak kaget.
"Oh! Ya, saya Kepala Kokinya..." jawabnya agak kikuk, apalagi ketika matanya menangkap sosok majikan yang meski sering di perbudak dulu. Namun, sejak tiga bulan lebih terakhir ini gadis yang selalu dikatai 'anak haram' itu tampak berbeda. Jauh lebih berani dan periang... Mungkin.
Entahlah, ia tak begitu mengikuti perkembangannya. Karena selam ini ia lebih memilih menutup mata dan telinga agar tetap bisa bekerja dengan aman nan lancar. Baginya, ia punya hal pribadi yang lebih penting untuk diurus.
"Eum... Maaf menganggumu, Kepala Koki. Aku ada perlu disini. Aku ingin bertanya... Dimana makanan yang akan di bawa ke kediaman Nyonya ketiga Yu? Apakah sudah siap?"
"Oh, itu. Ya, sudah. Disana... Yang di sebelah kiri." sambil menunjuk kearah yang dimaksud, dimana disana ada 3 nampan sedang dengan 5 menu tersedia beserta perlengkapan makannya.
"Sip... Baiklah. Aku kesana dulu. Silakan lanjutkan lagi pekerjaannya. Maaf untuk gangguannya. Hihihi..." katanya dengan memberi sedikit ringisan rasa bersalah.
"Ya... Haha... Tidak apa-apa, Nona. Jangan khawatir." balas Kepala Koki itu kikuk. Masih terasa canggung bila berurusan dengan yang namanya majikan.
__ADS_1
Rayan hanya tersenyum sebelum beranjak mendekati apa yang menjadi tujuannya sejak awal. Sesampainya didepan makanan yang siap diantarkan. Ia melihat dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Sedang dari kejauhan, Kepala Koki nampak masih melihatnya. Dalam posisi membelakangi si Kepala Koki, jelas ia tak begitu tahu apa yang sedang dilakukan majikannya itu terhadap makanan yang hendak di sajikan oleh mereka.
Kecurigaan mulai menghinggapi.
Flashback off...
"TIDAK TAHU DI UNTUNG KAU!" lagi, pria yang memiliki jabatan paling tinggi di rumah keluarga Yu itu berteriak. Sepertinya kalau tidak berteriak bukan dia namanya. "SERET ANAK HARAM ITU KEMBALI KE GUBUK JERAMINYA! DAN PASTIKAN IA TIDAK KELUAR! KARENA AKU SENDIRI YANG AKAN MEMENGGAL KEPALANYA!" bentakan bernada perintah itu mau tidak mau harus bawahannya lakukan.
"Tunggu!" kata Rayan lantang.
"Mau apa lagi kau, hah?!" marah Yu Zhao Yan kala melihat tidak ada ketakutan ataupun rasa bersalah dari anak haram itu.
"Biarkan aku ucapkan kalimat perpisahan dengan Ayahku. Ku yakin anda tidak akan keberatan bukan. Lagipula, disini aku sudah tentu tidak bisa berbuat apa-apa." santainya dalam berujar benar-benar tak enak didengar oleh beberapa pasang telinga disana.
Dengan nafas yang masih belum stabil juga keraguan serta kemarahan yang tiada akhir bila harus berurusan dengan gadis imut didepannya ini.
"Aku tidak memberimu izin lama." Rayan tersenyum mendengarnya.
"Kakek yang baik." celetuknya jenaka.
Setelahnya, dengan cepat didekatinya sang Ayah pemilik tubuh. Tidak ada yang tahu apa yang ia lakukan dengan pria paruh baya yang sekarat itu. Bahkan Lin An Lie yang berada paling dekat pun juga tak bisa menduga apa yang sedang dilakukan Rayan pada Yu Ran Yuan.
Tidak sampai 1 menit.
Akhirnya, dengan pasrah Rayan membiarkan tubuhnya di bawa pergi ke tempat yang dikatakan tadi tanpa perlawanan.
Sebelum benar-benar beranjak. Ia masih sempat melirik melalui ekor matanya beserta seringai liciknya kearah Lin An Lie. Wanita paruh baya itu sampai terhenyak melihatnya. Keningnya berkerut tajam penuh kebingungan.
Ia benar-benar merasa ada yang salah.
Ada yang tidak benar disini.
Tapi, apa?!
assalamu'alaikum READERS...
selamat membaca kembali...
semoga kalian masih suka. dan jangan lupa untuk like dan votenya juga sertakan komen ya...
aku menantikan itu...
tetap semangat menjalani hidup... wkwkwk
bai-bai πππ
wassalamu'alaikum....π
__ADS_1