3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
YU RAYAN : SELESAI


__ADS_3

Dua pasang mata saling menatap. Satunya menatap dengan tajam, sedang satunya menatap dengan tatapan mengejek. Akan tetapi, tatapan tajam dari seorang wanita hamil disana menyiratkan sedikit kebingungan. Ternyata ia tak mengenali sosok gadis didepannya yang tengah bersandar pada pintu yang entah sejak kapan tertutup dan lagi... Setelah di telisik... Kemana perginya pelayan pribadinya yang dari tadi terus mengikuti?!


"Jangan mencari yang tidak ada, Nona... Cukup fokus pada kita berdua saja." kata gadis bertopeng kucing yang hanya menampakkan bagian bibirnya saja dengan santai.


Yu Ming Luo sedikit terhenyak karena menyadari kalau gadis didepannya mengetahui bila ia sedang mencari keberadaan pelayannya.


"Siapa kau? Apa kau yang mengirim pesan ini?" tanyanya seraya mengangkat kain yang ada di tangannya.


Gadis bertopeng itu terkekeh. "Menurutmu?" pancingnya sembari memanas-manasi.


Tangan Yu Ming Luo mengepal erat, ia yang sedang hamil sangat sensitif dan gadis didepannya ini malah sengaja menyentil kesensitifannya.


"Kau jangan membuatku marah! Aku yakin kau pelakunya! Tapi, siapa kau sebenarnya? Apa namamu juga Rayan? Karena aku yakin kalau anak itu sudah mati kemarin!" desisnya panjang lebar bercampur penasaran. Gadis bertopeng itu malah menunjukkan senyum jenakanya.


"Pertanyaanmu banyak sekali. Sebenarnya, kau tak perlu banyak bertanya. Lagipula, kejadiannya berlangsung dalam waktu berdekatan dan kemudian aku datang. Kalau begini saja kau tak bisa menebaknya, kelewatan sekali..." kata gadis bertopeng itu dengan bergurau.


"Jadi, itu kau." geram Yu Ming Luo. "KENAPA? APA MASALAHMU DENGAN KELUARGA KU? MENGAPA KAU BUAT HANCUR KELUARGA KU? KENAPA?!" bentaknya yang sudah tak bisa menahan amarahnya yang menumpuk di dalam dada.


"Wowowow... Tenang... Jangan emosional. Itu buruk untuk kandunganmu." jawab gadis bertopeng itu seolah mengkhawatirkan Yu Ming Luo. "Calon bayi itu tidak termasuk dalam target rencana ku. Jadi, jangan membuatku seolah-olah yang paling bersalah disini." sambungnya santai tanpa memikirkan kalau wanita di depannya semakin marah karenanya.


Dada Yu Ming Luo bergemuruh hingga bergerak naik-turun, apalagi wajahnya yang sudah seperti wajan panas.


"Baik. Biarkan aku menjawab pertanyaan mu. Tapi, jangan marah setelahnya, yaaa... Aku ini baik, bersyukurlah karena aku tidak melakukan hal yang lebih buruk dari ini." senyum manis dapat Yu Ming Luo lihat, karena hanya bagian itu dari wajah lawan bicaranya yang terlihat. Tapi, yang membuatnya kesal adalah senyum itu justru yang terlihat memuakkan.


Bersikap santai sambil memandangi kuku jarinya. "Seperti dugaan mu. Aku yang membuat kacau kalian sekeluarga. Ah... Kata-katanya kurang tepat. Mungkin menggunakan kata 'hancur' lebih baik." gadis bertopeng itu kembali menampilkan senyumnya.


"Kau..." geramnya hendak bicara, tapi di potong oleh gadis bertopeng itu.


"Kalian pantas mendapatkannya. Aku lakukan ini demi Yu Rayan. Membalas rasa sakitnya atas apa yang selama ini ia terima." gadis bertopeng itu mulai bicara serius. "Aku kadang tidak mengerti, bagaimana kalian bisa berbuat sejahat itu untuk anak yang lahir tanpa tahu apa-apa. Sadarkah kau, kalau kemungkinan besar hal itu juga akan berlaku untuk anakmu?" lanjutnya dan saat ia menekankan kata pada akhir kalimat nya sukses membuat Yu Ming Luo terdiam.


"Yu Zhao Yan. Heh! Pria tua itu adalah orang yang paling menjunjung tinggi harga diri dan kedudukannya. Kalau, aku membalasnya dengan membunuhnya itu terlalu mudah baginya. Lalu, apa jadinya wibawa seorang Yu Zhao Yan kalau ia justru berbuat hina dengan wanita yang sudah menjadi anaknya." seringai kemenangan terpampang nyata. "Lin An Lie. Bukankah adalah pilihan yang tepat." lanjutnya.


Deg!


Diamnya Yu Ming Luo, karena ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Ia merasa sudah sehabisan stok kosa kata. Mencerna kalimat yang bersifat teka-teki dari gadis bertopeng itu namun tidak begitu sulit untuk dikaitkan satu dengan yang lain. Seperti sekarang ini, saat beberapa potong kata ia gabungkan.


"Yu Zhao Yan, kakeknya... Berbuat hina dengan wanita... Lin An Lie, Bibinya..." batinnya bagai di sambar petir disiang bolong. Berharap yang ia dengar tidaklah nyata.


Belum usai ia berpikir. Gadis bertopeng didepannya kembali berkata.


"Yu Ji Xu dan Ru Jinyu... Yu Chen dan Hwang Minsu... Eumm... Mereka pasangan-pasangan yang serasi. Siapapun akan sangat senang melihat mereka. Suami setia yang hanya memiliki satu istri. Hebat! Di zaman ini mana ada yang bisa bertahan hanya dengan satu istri. Aku cukup salut." jedanya dengan diiringi senyuman manis. "Lantas, apa jadinya kalau mereka di silangkan... Pasti tak kalah bagus. Hihihi..." sambungnya.


Lagi, Yu Ming Luo hanya bisa diam. Pikirannya kembali di paksa untuk mencerna maksud dari apa yang dikatakan oleh gadis bertopeng itu.


Wajar saja kalau ia berpikir keras tentang orang tua di keluarga Yu. Pasalnya, dia tak melihat langsung selain dari mendengar kabar yang di bawa oleh pelayannya. Sedang untuk para saudarinya, dia sudah mendengar sendiri pengakuan mereka saat tadi di halaman tengah kediaman Yu.


"Dan untuk saudari-saudarimu... Aku lakukan itu hanya untuk membuat mereka sadar. Seberapa tinggi mereka menjunjung tinggi diri mereka sebagai seorang keturunan Yu. Mereka tetaplah, tak lebih dari segumpal daging yang harus di lindungi kehormatannya sampai pada waktunya. Namun, sayangnya kalian ini terlalu sombong. Menganggap diri kalian cukup hebat hanya karena kalian anak sah? Lalu, apa jadinya kalau anak sah hidup tanpa memiliki kehormatan lagi, sedang anak haram mati dalam keadaan masih suci. Tidakkah itu sama saja, hidup serasa mati. Memangnya siapa yang mau dengan anak yang sudah kotor? Oh. Ada... Tapi, tunggulah beberapa tahun lagi... Hehehehe..." terangnya yang semakin menyentak dan menekan jiwa Yu Ming Luo yang mendengarnya.


"Tunggu sampai kejadian ini menjadi konsumsi publik. Kau dan keluarga mu, tak akan jadi lebih dari sekadar kotoran." usai berkata demikian. Gadis bertopeng itu pun menghilang. Yu Ming Luo sampai tak sadar kapan hilangnya, tapi ia tak berniat untuk mencari karena apa yang di katakan oleh gadis itu cukup mengganggu pikirannya.


Tepat saat itulah, pelayan pribadinya masuk dengan tergesa-gesa dan berkata seolah waktu yang tadi ia habiskan bersama gadis bertopeng itu tak pernah ada.


"Nona, jangan berlari seperti itu. Ingatlah, anda sedang mengandung saat ini."


"Hah?!" ia menghela nafas bingung sekaligus tidak percaya kala ucapan pelayannya menegaskan kalau ia baru saja berlari kembali kekamarnya. Tak tahu harus apa. Pikirannya benar-benar kacau.



Frustrasi, syok, depresi, dan stress. Kini mendominasi seluruh anggota Keluarga Yu. Pagi yang mengerikan itu tak bisa di cegah. Ingin membantahnya pun tak lagi bisa, saat seluruh pasang mata yang bekerja pada mereka tak lagi ragu menyalangkan tatapannya.


Tak butuh kata-kata bila ingin menginjak harga diri orang lain. Cukup dari tatapan mata saja juga sudah bisa menjelaskan segalanya. Itu juga yang kini dirasakan oleh semua anggota Keluarga Yu.


Terlebih kala satu persatu orang-orang yang bekerja untuk mereka memilih mengundurkan diri. Mending kalau pergi begitu saja, tapi ini pun bukan berarti akan luput dari kesempatan mantan pekerja mereka untuk menghina dan menindas mereka.


Selalu ada jejak yang bisa di tinggalkan.

__ADS_1


Yu Zhao Yan selaku kepala keluarga tentunya marah, namun rasa malu lebih menguasainya. Apalagi, saat ditekan oleh histeria para cucunya yang menangisi nasib mereka yang begitu malang. Dia sendiri juga tak lepas dari rasa malu, karena ikut masuk kedalam tindakan bodoh yang mana malah menggauli istri mendiang putra ketiganya sendiri.


Sementara untuk masalah kedua putranya, ia sudah mengetahuinya. Lagi dan lagi, ia ingin marah tapi tidak bisa. Seandainya, ia tak terlibat tentu akan bisa ia atasi. Tapi, ini... Sekadar berucap saja ia harus berpikir dua kali.


Pagi yang tak terlupakan itu berganti siang, lalu beranjak ke petang.


Hanya dengan menutup mata saja ia sudah bisa merasakan tatapan hina seluruh rakyat negara api untuk keluarganya. Bahkan petang hari ini, telinganya bisa langsung mendengar suara lempar benda padat di luar kediaman bercampur dengan suara keras orang-orang yang terus menjatuhkan martabat keluarganya.


Sambil mencengkram rambut, ia menggeram frustrasi. "Kenapa jadi begini..."


Tak ada satupun dari mereka yang keluar dari kamar masing-masing. Selain pelayan Yu Ming Luo, yang lainnya telah pergi meninggalkan kediaman Yu atas keinginan mereka sendiri. Dengan pemikiran bahwa mereka malu kalau harus bekerja untuk keluarga hina seperti Keluarga Yu.


Juga, dalam waktu singkat nama baik mereka sebagai bangsawan yang masih terikat darah dengan keluarga perdana menteri pun hancur hari itu juga. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Andai, kerugiannya sedikit. Ini selain hilang kesucian, hilang juga kehormatan, jabatan, martabat, harta, dan harga diri. Lenyap tak tersisa.


Selain Yu Ming Luo, tak ada yang berpikir kalau semua itu terjadi atas dasar jebakan seseorang.


Tuan rumah itu hanya bisa meratapi nasib mereka setelah ini. Membayangkan akan setara dengan gelandangan, membuat beban pikiran tersendiri bagi mereka.



Glek!


Glek!


Glek!


"Aaahhh... Leganya..." meletakkan gelas bambu yang berukuran besar dan panjang setelah ia meneguk habis isinya.


"Heh! Lega apanya?! Rencanamu berhasil atau karena memang kehausan?" goda pria bertopeng didepannya yang tak lain adalah Ruobin. Mereka sedang berada di sebuah rumah makan elit tempo dulu, tepat di ruangan khusus yang segala privasinya dijaga ketat.


"Hahaha... Menurutmu..." balas gadis didepannya dengan tertawa renyah.


"Menurutku... Kau luar biasa! Juga kau diluar dugaan!" kagum Ruobin tak dapat ditutupi. "Jujur saja, pertama kali aku mendengar susunan rencana pembalasan mu. Aku merasa kau terlalu berbelit. Kenapa, tidak sekalian menghabisi mereka saja?! Tapi, tidak ku sangka. Kau cukup jeli untuk menganggap kematian terlalu mudah bagi mereka. Ckckck... Ku ucapkan selamat untukmu, Rayan!" sambungnya salut seraya memberikan selamat atas keberhasilan sahabat manusianya yang imut ini.


Sedikit menyombongkan diri tak apa, bukan?!


"Tapi, Rayan. Aku penasaran racun apa yang kau berikan pada mereka hingga seperti itu. Setahuku, kalau hanya sekadar obat perangsang pasti tidak akan senatural itu cara kerjanya." tanya Ruobin kala ia ingat kalau sejah rencana dibuat ia selalu ingin tahu apa yang di sematkan oleh Rayan sebagai bahan utama dalam menyukseskan rencananya.


"Oh itu... Itu bukan racun. Hanya hasil eksperimen ku, yang ku kembangkan dari obat perangsang itu sendiri. Jika, pada umumnya obat tersebut langsung bereaksi ada atau tidaknya sentuhan dengan meningkatkan panas pada tubuh bersamaan dengan hasrat yang turut meningkat. Maka, lain halnya dengan hasil eksperimen ku yang satu ini." dengan bangga ia mulai menjelaskan. "Awalnya, aku hanya berpikir terlalu kelihatan kalau aku langsung menggunakan obat perangsang. Apalagi, untuk rencana yang seperti ini. Terlebih, aku butuh alur yang natural. Jadi, saat dimana aku sudah jauh-jauh hari merencanakannya, aku sudah bereksperimen dengan obat itu. Kau ingat saat pergi berlatih dengan Guru Duan Xi. Saat itulah aku menyempatkan diri untuk menggunakan waktu menyelesaikan eksperimen ku. Tak hanya untuk mengembangkan obat perangsang, saat ada sisa waktu aku juga mengembangkan obat lainnya." lanjutnya.


Dengan senyum merekah ia kembali menerangkan. "Obat perangsang yang aku kembangkan. Ku buat, dengan menekan hasrat yang sudah menggebu di dalam pusat nafsu manusia. Dimana, ibarat tombol waktu. Saat sentuhan, ku jadikan syarat untuk mengaktifkan hasrat itu. Maka, ketika ia bersentuhan dengan lawan jenis siapapun itu baik kenal atau tidak, baik sedarah atau tidak, baik cinta atau tidak. Saat itu juga keinginan untuk menyentuh lebih dalam bangkit. Dan aku juga membuat sebisa mungkin untuk menjadikan sentuhan pertama yang hanya di inginkan orang yang meminumnya. Membuat kerja otak saraf untuk indera peraba hanya menginginkan satu sentuhan dari tekstur kulit yang pertama kali di rekam oleh saraf tersebut. Alhasil, saat nafsu sudah lebih menguasai dari pada otak. Maka, dengan sendirinya orang itu akan hilang kendali dan melupakan apapun, karena fokus utamanya adalah menyalurkan dahaganya pada keinginan nafsu yang menggairahkan." jelasnya lugas dengan kebanggaan yang tiada duanya.


"Itulah juga yang membuat ku menamakan obat itu sebagai... 'Ramuan sentuhan pertama'... Bagaimana menurutmu?" menaik-turunkan alisnya meminta pendapat dari Ruobin setelah ia panjang lebar menjelaskan segalanya.


Menggelengkan kepala pelan seraya bertepuk tangan. Ruobin tak memiliki kata-kata lain selain...


Prok...


Prok...


Prok...


"Hebat! Sungguh hebat! Luar biasa! Hahaha... Tidak salah aku memiliki sahabat manusia seperti mu. Hahaha!" Ruobin tak kalah bangga pada sahabatnya itu.


Rayan tersenyum senang mendengarnya.


"Aku pun ingin mengucapkan terima kasih padamu, Ruobin. Berkat bantuan dari kemampuan mu juga akhirnya rencana ku bisa berhasil." tulus Rayan mengucapkannya dibarengi dengan senyuman hangat miliknya.


Ruobin mengangguk tanda menerimanya. "Terima kasih kembali. Aku juga harus berterima kasih padamu. Berkat kau, aku bisa melihat warna lain di hidupku selain bersenang-senang. Hahaha..." tawanya pecah, melihat itu Rayan pun ikut menyusul Ruobin tertawa.


Mereka tertawa bahagia usai menjatuhkan sekeluarga yang menurut mereka pantas dijatuhkan.



Hari itu adalah hari yang takkan pernah dilupakan oleh kedua belah pihak.

__ADS_1


Rayan yang menjadi Yu Rayan, sebelum membunuh karakter itu dengan intriknya agar bisa membebaskan diri dari belenggu menyebalkan yang bernama Keluarga. Mengingat Keluarga Yu tak bisa di jadikan tempat untuk pulang.


Sementara, Keluarga Yu sendiri. Menjadi terpuruk. Usaha hancur, harga diri hancur. Mereka merasa tak ada yang tersisa. Kediaman mereka pun tak luput dari perundungan. Tak ada yang bisa dilakukan, untuk menampakkan wajah saja mereka sudah sangat malu.


Yu Ming Luo sendiri juga tak bisa berbuat apa-apa. Ingin mengatakan kalau keluarganya dijebak pun akan sulit. Terlebih kalau saat ia harus berkata kalau yang menjebak keluarganya adalah gadis bernama Rayan. Siapa yang akan percaya...


Alhasil, ia hanya bisa diam menyendiri di kamarnya. Seperti halnya yang anggota keluarga lainnya lakukan.



Susunan rencana pembalasan Yu Rayan.


Di mulai dari membiarkan dirinya dituduh sebagai pembunuh Ayahnya sendiri. Lalu, memancing agar sang kepala keluarga Yu menjatuhkannya hukuman mati. Setelah dirasa langkah pertama berjalan lancar. Ia pun akan di giring untuk ditahan hingga keesokan harinya untuk menjalankan hukuman.


Detik-detik menuju penghukuman, Rayan menyerahkan bagian itu kepada Ruobin seperti yang sudah di rencana. Dimana Ruobin akan menggunakan kemampuan ilusinya untuk menyelamatkan Rayan sekaligus untuk memanipulasi cerita berdasarkan apa yang diinginkan oleh Yu Zhao Yan. Yaitu, kematian Yu Rayan yang mengenaskan. Ia juga harus mengerahkan seluruh kekuatannya, karena yang akan di kenakan ilusi bukan hanya anggota keluarga saja. Melainkan seluruh penghuni Kediaman Yu, terutama yang menjadi saksi mata berlangsungnya hukuman itu.


Di langkah kali ini, Rayan memiliki dua rencana.


Rencana pertama, bila setelah kematian Yu Rayan keadaan kembali normal. Maka, Rayan akan menggunakan cara dengan memancing satu persatu dari anggota keluarga ke posisi mereka yang sudah ia tetapkan. Kemudian meracuni mereka dengan ramuan obat miliknya dan tunggu hasilnya.


Rencana kedua, bila setelah kematian Yu Rayan. Kepala keluarga mengadakan sebuah perayaan maka saat perayaan itulah rencananya akan dilangsungkan. Yaitu, meminumkan mereka ramuan miliknya dan kembali menunggu hasilnya.


Di langkah terakhir ini, ia telah menyiapkan dua persiapan. Yang mana satunya persiapan bila gagal dan satunya bila sukses.


Menurut perhitungannya. Bila, para pekerja bukanlah orang yang loyal pada majikan mereka. Maka, kemungkinan besar keberhasilan akan diraih oleh Yu Rayan. Namun, bila mereka merasa bahwa gaji lebih penting demi keberlangsungan hidup. Maka, mereka akan membantu merahasiakan semua kejadian itu agar tidak keluar dari lingkaran kediaman.


Dan dalam hal ini, maka Rayan akan mengambil tindakan untuk membayar saksi agar mau buka mulut ke khalayak umum. Meski, sejujurnya ia agak tidak nyaman untuk rencananya yang satu ini. Tapi, apa boleh buat. Semua ini ia lakukan semata-mata hanya untuk membuat mereka sadar kekuasaan tak akan selamanya bertahan.


Akan tetapi, sepertinya keberuntungan sedang berpihak padanya. Sehingga, rencana yang paling dia inginkan lah yang terus berhasil dijalankan.


Dengan begitu, apalagi yang bisa ia lakukan selain bersyukur dan sekarang tinggal menunggu kedua sahabatnya menyelesaikan masalah mereka sebelum akhirnya mereka dapat pergi meninggalkan negara api ini.


Dan untuk sementara waktu, Rayan akan menggunakan topeng selagi menunggu kedua sahabatnya selesai dengan masalah mereka.


Tiba saat mereka meninggalkan kerajaan Huoli di negara api. Barulah ia akan membuka topengnya, karena sesungguhnya ia tidak suka kalau wajah cantik nan imutnya terhalang oleh sesuatu apapun itu. Baginya, segala sesuatu yang indah itu sudah sepatutnya untuk di tunjukkan.



assalamu'alaikum, READERS...


author ucapkan terimakasih kasih bagi semua yang berkenan untuk membaca cerita abal-abal punya author ini.


dengan berat hati pula, author mengucapkan maaf karena harus menamatkan hari ini juga.


semoga kalian masih menyayangi author selaku ibu dari 3Ry melintas waktu...


semoga kita bisa kembali ke part berikutnya dengan Han Ryura sebagai pusat perhatian kita semua.


maka dari itu. author akan meliburkan sejenak Rayan Monica dari layar kaca. digantikan dengan Ryura Jenna...


semoga diamnya Ryura tidak membuat kalian jengkel, yaa.


dia memang begitu anaknya. maklum, author yang buat soalnya. heheh


ok klo begitu. author tinggal dulu ya...


jangan lupa like, vote, dan komennya... Wokeh...


kasihanilah author yang haus akan dukungan kalian semua...🥺


siplah klo begini... author pamit dulu yaaa...


sampai jumpa lageeeeee....


wassalamu'alaikum... semua...

__ADS_1


__ADS_2