3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
SAYEMBARA 1: MENGANTAR NYAWA


__ADS_3

Matahari mulai beranjak keluar dari persembunyiannya. Memberi pancaran cahaya hangat yang mengindahkan suasana pagi hari ini. Tapi, sepertinya itu tidak berlaku bagi pria tua nan pendek yang saat ini tampak sangat berantakan. Penampilannya benar-benar membuat siapapun yang melihatnya pangling. Mereka pasti tidak akan mengira kalau dia adalah Duan Xi. Si Petapa hebat dari Puncak Gunung Keabadian di Perguruan Shouli.


Gunung, dimana sebuah perguruan beladiri yang hebat tak tertandingi berada. Ingin tahu kelanjutannya? Nantikan di episode yang akan datang.


Tap...


Tap...


Tap...


Dengan wajah suram sehabis bangun tidur pria itu berjalan cepat menggunakan kaki-kaki kecilnya. Maklum dia kan pendek. Rambut panjang putihnya berantakan, bahkan ikatan rambutnya sudah entah seperti apa bentuk. Bajunya juga kusut, sekusut suasana hatinya. Tak lupa ditangan kanannya masih memegang selebaran yang menjadi alasan ia jengkel sepanjang malam tadi, sedang tangan kirinya setia dengan tongat miliknya.


Tak membutuhkan waktu lama, Duan Xi telah sampai di penginapan nya juga penginapan dimana Ryura mengistirahatkan dirinya.


Sebenarnya, semalam ia berencana untuk memberitahukan Ryura perihal sayembara yang dibuat oleh Keluarganya untuk dia. Tapi, tak jadi karena dia sudah lebih dulu tidak sadarkan diri karena kelewat mengantuk. Kenapa tidak mabuk? Karena ketahanan tubuhnya akan arak cukup kuat.


Kini saat ia telah bangun, ingatan pertama yang melintas adalah sayembara dan Ryura. Alhasil, disinilah dia berada. Berlari cepat menuju kamar Ryura yang hanya berada di sebelah kamarnya. Tidak sabar untuk segera memberitahukan perihal sayembara itu pada yang bersangkutan.


Tak ingin repot-repot mengetuk pintu kamar Ryura, pasalnya ia tahu gadis itu punya kepekaan yang tajam. Bahkan, kalau pun Ryura sedang tidur, gadis itu akan tahu sedang dalam bahaya atau tidak.


BRAK!


Akan tetapi, entah beruntung atau tidak. Yang di lihatnya saat ini di dalam ruangan itu cukup mampu membuatnya mematung ditempatnya untuk sesaat.


Jleb!


Percaya tidak percaya, ini adalah kali pertama Duan Xi melihat sendiri walau tidak dari awal adegan, dimana Ryura sedang menancapkan mata pedang yang entah milik siapa tepat ke dada seorang pria yang sudah tergeletak mengenaskan di samping tubuh pria lainnya. Mungkin temannya. Bersama dengan genangan darah mereka sendiri. Karena Duan Xi yakin betul, kalau muridnya dalam keadaan baik-baik saja. Melihat bagaimana Ryura tak terlihat terluka selain darah yang terciprat kepadanya.


"Wow!" takjubnya sampai matanya berbinar kagum. Mendengar itu Ryura menoleh guna melihat siapa yang datang ke kamarnya pagi-pagi begini selain kedua orang tak dikenal yang mati di bawahnya sekarang ini.


Sambil berjalan mendekat, Duan Xi berujar. "Sepertinya, aku melewatkan sesuatu disini. Tak ingin memberitahu ku?" tanya Duan Xi penasaran.


Untuk sesaat Ryura diam, sebelum akhirnya ia berkata tanpa melepas matanya dari mayat-mayat itu. "Penyusup." singkatnya.


Flashback on...


Beberapa jam sebelum fajar tiba. Dua orang pria berpakaian serba hitam tanpa penutup wajah tampak sedang berlari menuju sebuah bangunan penginapan berlantai dua melalui atap bangunan yang lain. Mereka bertindak bak ninja. Menurut informasi yang mereka dapatkan, salah satu kamar di lantai dua tersebut adalah kamar yang di sewa oleh target mereka.


Jika, bertanya soal penutup wajah. Kenapa mereka enggan menggunakan nya. Karena ini bukanlah tugas rahasia, yang artinya siapapun bisa melakukannya tanpa terkecuali. Tak heran siapapun bisa melakukannya, pekerjaan kali ini bayarannya besar. Siapapun itu bisa mendadak kaya karenanya.


Butuh waktu lebih 20 menit untuk mereka bisa menemukan kamar yang di pakai target mereka. Sebab banyaknya kamar dan minimnya informasi yang akurat membuat mereka mau tak mau harus mencarinya sendiri.


Tepat berada di luar jendela kamar si target. Keduanya mengangguk yakin untuk segera masuk, walau harus secara pelan. Karena mereka juga harus waspada pada target yang satu ini. Sesuai dengan harga hadiahnya, maka itu membuktikan kalau sasarannya bukanlah orang yang mudah.


Mereka tahu itu. Tapi, entah mengapa mereka lebih tergiur dengan hadiahnya ketimbang nyawa mereka yang hanya satu itu. Alhasil, tanpa mempertimbangkan konsekuensinya mereka bertindak dengan rencana yang belum matang betul. Terlebih yang dihadapi adalah Ryura, gadis yang menjadi lawan tersulit di kerajaan Huoli setelah Kaisar Kerajaan Huoli sendiri.


Pendapat itu bukan sekadar pendapat...


Krieet...


Daun jendela itu di buka secara perlahan. Salah satunya mengintip lebih dulu guna memastikan kalau si target masih dalam keadaan tidur. Setelah yakin, ia segera mengode temannya untuk lanjut mengikutinya masuk.


Tak butuh waktu lama, keduanya sudah berada di dalam dengan mata yang memandang awas ke arah tubuh seseorang yang terlelap membelakangi mereka. Perlahan tapi pasti, mereka mulai mendekat kearah peraduan dimana sasarannya berada dengan sebilah pedang di tangan masing-masing.


Jujur saja, jauh di lubuk hati terdalam mereka terselip ketakutan yang kerap kali mereka tepis hanya dengan membayangkan hadiah dari sayembara yang mereka ikuti.

__ADS_1


Katakanlah mereka dua orang bod*h dari kumpulan orang-orang bod*h.


Tanpa mereka tahu, dalam tidurnya Ryura tahu ada yang datang padanya.


Datang di waktu yang tidak tepat, sehingga membuat jiwa membunuhnya menganggap kalau yang datang adalah orang yang ingin mengantarkan nyawa padanya. Dalam kata lain, kedua pria itu telah mengganggu ketenangan dalam tidurnya.


"Pasti bisa!" seru batin keduanya menyemangati diri mereka sendiri.


Saat sudah berada tepat di samping peraduan. Salah satunya mulai mengangkat pedang dengan kedua tangannya tinggi-tinggi, menyejajarkan dengan leher Ryura. Berpikir kalau mereka tak perlu berlama-lama, yang penting si target cepat mati.


Segera di ayunkannya pedang tersebut, belum sempat mata pedang itu mengenai leher Ryura. Gadis itu sudah lebih dulu memutar tubuhnya dengan kaki digunakan untuk mendorong orag yang berniat membunuhnya itu kesamping. Hingga keduanya terdorong dan menubruk dinding.


BRUGH!


"Ouch!" ringis keduanya bersamaan, karena tubuh mereka saling menindih.


Sedang di pelaku dorong malah tampak santai duduk di pinggir peraduan seraya menyesuaikan matanya yang terasa masih berat untuk dibuka. Pasalnya, ia masihlah mengantuk. Tapi, sudah ada saja yang mengganggu.


"*Si*lan! Dia sudah bangun*!" umpat pria pertama dengan suara kecil. Temannya yang mendengar langsung menoleh guna untuk melihat sendiri kalau target mereka benar-benar sudah bengun dari tidurnya.


"Sial!" umpat satunya lagi dan tanpa aba-aba juga terkesan tergesa-gesa, pria kedua itu segera bergerak maju menerjang Ryura dengan menghunuskan pedangnya ke depan.


Ryura melihat itu di sela-sela matanya yang masih menyipit, sebab belum benar-benar bisa terbuka sempurna. Tapi, penglihatannya bukanlah patokan ia bisa atau tidaknya melawan melainkan intuisi serta instingnya.


Melihat mata pedang itu nyaris mengenai lehernya, Ryura sudah lebih dulu mengelak dan tangannya segera menangkap mata pedang tersebut dengan mudahnya. Tak sampai disitu, iapun menarik pedang tersebut dari pemiliknya dan mengambilnya. Kini, pedang itu berpindah tangan.


Dengan santai Ryura bangkit dari duduknya dan menatap kosong tanpa ekspresi kearah kedua pria yang ia sendiri tak tahu siapa dan apa masalah mereka dengan dirinya.


"Jangan membuang waktu lagi. Kita seng langsung dia!" seru pria pertama lugas. Tapi, bila teliti pasti bisa menangkap kegugupan dari rasa takut yang mulai merayap naik.


"Kalau begitu, biar aku yang maju lebih dulu. Kau bantu aku dengan mengunci pergerakannya!" usul pria pertama berasa sudah cukup mahir dalam menyusun strategi.


"Baik!" dan bodohnya, pria kedua pun berpikir itu adalah usul yang bagus.


Tanpa ada yang tau kalau kini Ryura sudah berpindah kebelakang mereka.


Tepat saat mereka mulai menyerang. Mereka di kejutkan dengan tidak adanya target mereka di hadapan. Saat pikiran kalau Ryura kabur sebuah suara tercekat menyentak sepasang telinga yang mendengarnya.


Crash!


Gluduk!


Bruk!


Pria kedua yang pedangnya di tangan Ryura terkejut bukan main. Tubuhnya sampai tak bisa bergerak lagi. Alarm tanda bahaya berbunyi keras di benaknya. Meminta ia segera pergi dari sana untuk menyelamatkan diri. Tapi, amarah datang membodohi. Menimbulkan perasaan tak terima kala melihat temannya dengan mudah di tebas kepalanya oleh si target dengan tak terduga. Bahkan ia baru menyadari kalau gadis itu sudah berpindah ke belakang mereka. Melihat itu membuat pria itu marah seketika dan mengabaikan peringatan yang alam bawah sadarnya berikan. Emosi menyelimuti hingga menggerakkan dirinya untuk menyerang Ryura yang kini sudah tampak mengerikan karena cipratan darah yang keluar dari leher pria yang di tebasnya usai membiarkan tubuh pria yang di penggalnya ambruk begitu saja hingga mengenai sebagian wajah dan dadanya.


"*DASAR KEP*RAT KAU...!!! AKAN AKU BUNUH KAU*!" teriak pria satunya yang masih hidup. Tapi, yang diteriaki tak bergeming.


Dengan tangan kosong pria yang sudah dikuasai amarah itu bergerak menyerangnya. Ryura yang tak pernah punya hati untuk sedikit berbaik hati langsung mengangkat kakinya bertepatan dengan pria itu yang hendak memukul wajahnya. Alhasil, si penyerang yang entah dari mana asal dan apa tujuannya mendatangi lalu menyerangnya pun terpental cukup kuat sampai ia tergeletak tak jauh dari tubuh temannya yang sudah tak berkepala.


BRAK!


Berkali-kali pria itu mengumpat dan mengutuk Ryura sampai ia lupa kalau dia sendiri yang mengantarkan nyawanya pada Ryura tanpa pertimbangan yang matang.


Belum sempat pria itu mengangkat tubuhnya untuk bangun, Ryura sudah ada di sisinya berdiri menjulang tinggi.

__ADS_1


Jika sebelumnya pria itu mendadak tak takut. Lain dengan sekarang, jantungnya berdetak amat kencang. Ketakutan kini labih dirasanya.


Dengan tergagap ia bertanya pertanyaan yang tak perlu di pertanyakan lagi. "A..a..apa yang akan k..kau la..kukan?"


Ryura diam seperti biasa. Namun, tangan kirinya yang memegang pedang diangkat dengan arah mata pedangnya kebawah mengarah tepat ke jantung pria itu yang kini semakin membeku dan tak bisa menggerakkan tubuhnya karena tiba-tiba diam tak bisa ia gerakkan.


Dalam hati pria itu menyesali kebodohannya yang tak pernah berpikir dua kali saat akan melakukan sesuatu. Ia menyesal karena lebih tergiur dengan hadiahnya ketimbang mempertahankan nyawanya.


Ingin meminta belas kasih pada Ryura, sayangnya suaranya tak bisa ia keluarkan. Tak ada pilihan lain selain pasrah.


Tak suka berlama-lama. Ryura pun melanjutkan gerakannya dan bersamaan dengan itu pintu terbuka. Menandakan seseorang akan masuk. Tapi, sekali lagi. Apa pedulinya?!


BRAK!


Jleb!


Kejadian yang amat cepat itu membuat orang yang baru datang terdiam sesaat.


Flashback off...


Duan Xi memandang tak yakin pada dua mayat pria yang mati mengenaskan di bawah kaki Ryura. Di sisi lain, ia sebenarnya sangat ingin tahu bagaimana kejadian itu berlangsung. Tapi, sudah di pastikan kalau Ryura tak akan mau repot-repot menceritakannya. Ingin bertanya pada si korban Ryura yang tergeletak mengenaskan di depan matanya pun pasti akan sia-sia, karena mereka sudah tak bernyawa. Malang sekali...


"Hmm... Kurasa mereka bukan penyusup biasa, muridku!" perkataan itu membuat Ryura menoleh kearahnya denga datar seperti biasa.


Tanpa menunda lagi niat awalnya yang ingin mendatangi muridnya. Segera di sodorkan sebuah selebaran yang sejak kemarin sore di milikinya kepada Ryura.


Merasa kali itu bukan sembarang kertas, Ryura pun menerimanya. Lalu, dibuka dan dibacanya.


Jangan mengharapkan ekspresi terkejut terlihat di wajahnya. Jangan juga mengharapkan emosi lain selain tidak ada emosi keluar dari dirinya. Jangan pula mengharapkan respon berarti dari sosok Ryura.


Usai membaca selebaran yang baru ia tahu kalau ternyata pihak keluarga si pemilik tubuh membuat sayembara untuk membunuhnya kembali ia lipat dan simpan di balik hanfunya yang bernodakan darah itu. Kemudian berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Artinya, dia kembali meninggalkan gurunya begitu saja.


Melihat itu Duan Xi hanya bisa mendengus jengkel. Tapi, tak ingin ambil pusing sehingga ia memilih keluar untuk kembali ke kamarnya. Hanya saja, saat ia keluar beberapa orang terlihat disana seolah mencoba untuk melongokkan kepalanya guna melihat apa gerangan yang sudah terjadi tadi di kamar yang dihuni Ryura.


Duan Xi sempat bingung dan bertanya. "Ada apa ini? Apa yang kalian lakukan di depan kamar orang lain?"


"Tuan... Tadi, kami mendengar ada suara benda keras menghantam dinding. Suara itu terdengar dari kamar ini. Bukankah ini kamar gadis itu?" tanya seorang wanita berpakaian pelayan yang tak lain adalah pekerja di penginapan tersebut gugup dan cukup paham maksud dari kata 'gadis itu' yang diucapkan nya.


"Ohh. Itu... Tak perlu di pikirkan. Yang perlu kau lakukan adalah panggil beberapa rekan kerjamu yang pria dan bereskan kekacauan yang ada di dalam kamar ini." jedanya sambil memandang satu persatu wajah yang muncul didepan kamar Ryura saat ini. "Aku yakin, kalian sudah tahu kabar tentang sayembara itu. Jadi, aku sarankan demi kebaikan kalian sendiri. Lain kali kalau kalian melihat ada yang menyerang gadis itu, maka abaikan saja. Mereka hanyalah orang-orang bod*h yang tergiur hadiah uang yang dijanjikan oleh Keluarga Han. Tanpa memikirkan keselamatan diri mereka sendiri yang berkemungkinan besar untuk mati ditangan gadis itu." terangnya belum selesai.


Keseriusannya meningkat. "Kalian boleh menganggapnya penjahat, pembunuh, atau apapun itu. Tapi, satu hal yang perlu kalian tahu. Gadis itu tak akan membunuh bila tak ada yang memancingnya untuk melakukan itu. Usiklah dia kalau kalian ingin mati lebih cepat!" tandasnya lugas dan meyakinkan sehingga beberapa orang yang mendengarnya terdiam mencerna kata-kata pria tua yang pendek tersebut.


Melihat orang-orang itu mulai mempertimbangkan perkataannya, Duan Xi pun beranjak pergi meninggalkan beberapa orang itu untuk kembali kekamarnya. Ia lelah dan ingin kembali tidur di peraduan yang dirindukannya.



assalamu'alaikum READERS...


author gak punya kata2 buat kali ini. cuma Thor kembali mengingatkan untuk jangan pelit yaaa...


dukung author dengan terus like, vote, tips, dan komen yaaa....


author juga pingin liat sebesar apa antusias kalian dengan cerita karya author yang satu ini.


kalo gitu selamat membaca...

__ADS_1


sampai jumpa lageeeeee..


__ADS_2