3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
KEMBALI KE PELUKAN 3


__ADS_3

Meninggalkan gedung perusahaannya begitu saja tanpa kata sampai membuat Chang Bin sendiri dibuat bingung. Tapi, karena sudah lama berada disisi Bos-nya -Bai Liam- cukup untuk memberitahunya siapa yang mampu membuat Bos-nya bersikap begitu.


Jadi, dia tak mengejar Bai Gikwang dan memilih menetap di perusahaan guna melanjutkan pekerjaannya sekaligus memantau keadaan usai ditinggal pemiliknya.


Sedang Bai Gikwang sendiri saat ini sudah didalam mobil merahnya tengah mengemudi secepat mungkin agar bisa segera sampai ketempat tujuan. Tak lupa ditengah ketergesaannya, dia masih sempat menghubungi Ye Zi Xian untuk memberi kabar.


Bagaimanapun ketiga gadis itu sadar berarti mereka bertiga harus mengetahuinya.


Tuut...


Klik!


Sambungan telepon terhubung.


"Ye Zi Xian! Dimana kau? Segeralah ke rumah sakit. Mereka sudah siuman!" hanya begitu saja, lalu sambungan telepon dimatikan tanpa mau tahu apa yang dilakukan oleh pihak yang ditelepon, dia mendengar atau tidak Bai Gikwang tidak peduli.


Dia hanya berbaik hati untuk menyampaikan informasi. Tidak lebih.


Ternyata, saat Bai Gikwang menelpon, Ye Zi Xian sendiri tengah dalam perjalanan menuju rumah sakit guna melakukan kebiasaannya berkunjung di setiap siang hari dengan alasan agar bisa makan siang bersama.


Itu hanya alibi walau sebenarnya tidak ada alibi juga tidak ada yang akan berani menghalanginya menjenguk Ryura.


Dihubungi oleh Bai Gikwang, pada awalnya dia tak memiliki pemikiran apapun sampai pihak penelpon menyemburnya dengan serangkaian kata tanpa jeda yang membuat dia seketika lupa untuk menegur sikap sahabatnya sampai sambungan telepon dimatikan.


Kini perhatian Ye Zi Xian sudah berpindah ke informasi yang disampaikan oleh sahabatnya.


3Ry sudah sadar...


Yang artinya Ryura juga harus sudah sadar.


Oleh sebab itu, tanpa penundaan lagi gas mobil ditekan dan kendaraan roda empat itu meluncur cepat begitu saja melewati banyaknya kendaraan di jalanan hanya demi bisa sampai secepatnya ke rumah sakit.


Tidak takut sama sekali akan bahaya jalanan yang bisa saja menimpanya.


(Walau penulis tidak berniat membuat alur seperti itu, hehe)


Di rumah sakit...


Reychu masih menunggu di koridor yang sama sebab dia enggan untuk masuk dan berdiam diri di dalam kamar inapnya. Alasannya suntuk hingga membuatnya bosan. Alhasil, dia menunggu diluar kamar.


Tiba-tiba suara langkah kaki berlari kembali terdengar. Reychu berpikir itu harus menjadi Bai Gikwang yang datang.


"Bai..." Reychu tak lagi bisa melanjutkan perkataannya saat hal tak terduga menimpanya.


Siapa yang mengira ketika dia menoleh untuk menyapa orang yang diduga sebagai Bai Gikwang malah hanya hembusan angin yang lewat. Artinya, keberadaannya diabaikan oleh seseorang bersurai putih panjang yang berlari cepat melewatinya dan masuk ke kamar inap yang lain di sebelah kamarnya.


Dia tak perlu bertanya siapa itu.


Rambut putih tak bisa menjadi orang lain selain pria beruban. Mata Reychu mendelik seketika kearah hilangnya pria itu di balik pintu disisi lain kamarnya.


"Huh. Pria satu itu tak juga berubah. Apa susahnya menyapaku sebagai bentuk menghormati ku karena bersahabat dengan istrinya?! Dia malah mengabaikan ku dan pergi begitu saja. Apa dia tidak takut Ryura tidak senang dengan sikapnya padaku." jedanya karena tersadar.


"Eh?! Aku lupa. Dia tak perlu takut soal itu. Ryura sendiri tak peduli. Ckckck. Sungguh Pasangan yang serasi." gerutuan yang bisa ia lakukan untuk mengomentari sikap Ye Zi Xian.


Di pihak Ye Zi Xian sendiri sama sekali tak menempatkan Reychu dipikirannya, karena Ryura lebih mendominasinya.

__ADS_1


Brak!


Begitu pintu dibuka keras, hal pertama yang dilihatnya adalah sesosok gadis duduk diatas ranjang rumah sakit sambil memandang kedepan dengan ekspresi datar dan kosong. Namun, detik berikutnya gadis itu menoleh dan langsung menatapnya.


Menatap mata yang sorotannya familiar membuat jantung Ye Zi Xian bertalu-talu dibuatnya.


Ye Zi Xian menutup pintu tanpa mengalihkan pandangannya dari Ryura dan melangkah satu demi satu secara perlahan dengan tujuan dia masih ingin menyadarkan ketidakpercayaannya kalau Ryura sudah sadar. Dia ingin memastikan lebih jelas kalau gadis yang saat ini menatapnya adalah Ryura-nya, istrinya.


Hatinya yang dicengkeram selama beberapa waktu belakangan ini karena keadaan Ryura, tiba-tiba lolos dengan mudahnya begitu seutas senyum manis terukir di bibir gadis yang duduk diatas ranjang rumah sakit itu.


Siapa lagi kalau bukan Ryura.


Senyum itu cukup untuk meyakinkan dia kalau gadis itu adalah Ryura-nya, istrinya. Sebab, tak ada yang akan tersenyum sebegitu manis dan tulusnya padanya selain istrinya.


"Sayang!" pekik Ye Zi Xian tertahan sambil membawa tubuhnya berhambur ke pelukan Ryura yang tanpa diduga membuka kedua tangannya sebagai isyarat agar segera dipeluk.


Kebahagiaan Ye Zi Xian tak bisa diucapkan dalam kata-kata lagi. Saat ini yang ia tahu, ia teramat bahagia sampai menitikkan air mata.


Dan air mata itu hanya Ryura yang bisa melihatnya.


Ryura sendiri dapat merasakan eratnya pelukan suaminya sampai-sampai mereka berdua bisa menyatu nantinya. Dia juga bisa merasakan ceruk lehernya basah yang menandakan suaminya menangis bahagia mengetahui kembalinya dia. Seketika Ryura jadi teringat kejadian di restoran mall tempo hari. Di mana dia sempat bertemu dengan Ye Zi Xian tapi tak mengenalinya karena dia sadar itu harus jadi waktu sebelum dia mengalami perjalanan melintas waktu.


"Xian..." panggil Ryura dengan suaranya yang parau akibat kering sehabis bangun dari tidurnya yang lama, namun masih terdengar lembut hingga menyentuh hati Ye Zi Xian.


Perasaan Ye Zi Xian kian membuncah saat mendengar panggilan yang hanya Ryura berikan padanya. Tapi, dia masih agak terganggu oleh nadanya yang serak kering.


Melepas pelukan mereka, Ye Zi Xian bertanya dengan perhatian penuh. "Kau belum minum?" pertanyaan itu hanya dibalas dengan kedipan mata oleh Ryura yang lebih asik menikmati sikap Ye Zi Xian yang suka memanjakannya.


"Tunggu, biar aku ambilkan. Jangan sampai kau melukai tenggorokan mu karena tidak dibasahi segera setelah siuman." dengan sigap Ye Zi Xian mengambil air hangat dari dispenser yang tersedia dalam kamar tersebut.


Kembali mendekati Ryura dengan segelas air hangat ditangannya, tanpa membiarkan Ryura memegang gelasnya. Ye Zi Xian sendiri yang memberinya minum. Hal itu membuat sudut bibir Ryura kembali ditarik keatas.


Dia merasa kehampaan hatinya mulai terisi oleh Ye Zi Xian lebih dari sebelumnya.


Glek... Glek... Glek...


"Sudah lebih baik?" Ryura mengangguk sebagai jawaban.


Mengembalikan gelas air itu ke tempatnya, Ye Zi Xian siap untuk menikmati momen berharga ini berdua dengan Ryura-nya.


Tanpa ragu pria itu naik keatas ranjang rumah sakit dan duduk dihadapan Ryura dengan agak memepet usai menyingkirkan selimut yang menurutnya mengganggu itu.


Ye Zi Xian benar-benar menempel pada Ryura tanpa ragu.


Sampai repot-repot membuka dan mengangkat kedua kaki Ryura agar menindih kedua pahanya. Hingga posisi Ryura setengah duduk dipangkuan Ye Zi Xian dengan agak intim. Ryura tak mengeluarkan suara sedikitpun dan hanya membiarkan pria didepannya melakukan apa yang ingin ia lakukan.


Persis seperti anak kecil yang membiarkan orangtuanya memakaikan anaknya baju.


Sikapnya mirip seperti bagaimana Ryura membiarkan Ye Zi Xian melakukan apapun padanya di zaman kuno dulu.


Setelahnya, Ye Zi Xian memeluk kembali tubuh Ryura penuh perasaan. Ryura pun tak kalah menikmati pelukan hangat penuh cinta dari pria yang menjadi suaminya di zaman kuno sambil sesekali mengelus rambut putih panjangnya.


"Kau memanjangkan rambut mu?" jarang Ryura mau berbasa-basi dan itu kian menumbuhkan lebih banyak bunga di hati Ye Zi Xian.


Sembari mengeratkan pelukannya bak anak kecil yang ingin dimanjakan, Ye Zi Xian berdeham sebagai jawaban. "Aku memanjangkannya agar memudahkan mu mengenaliku. Kalau kau tidak suka aku bisa memotongnya."

__ADS_1


Tanpa menghentikan kegiatan tangannya yang mengelus, Ryura menjawab dengan nada lembutnya yang langka. "Tidak perlu. Aku suka rambutmu yang panjang. Kau terlihat berbeda." senyum sumringah bak habis di panah asmara, Ye Zi Xian bahagia bukan main mendengarnya.


Ini membuatnya merasa istimewa dihati istrinya.


Sementara diluar, Reychu terlihat menyandarkan punggungnya ke jendela menghadap kamar inapnya dengan lesu dan malas. Sampai entah berapa kali Reychu menghela nafas suntuknya.


Karena kelesuan nya dia sampai tak menyadari kalau ada seseorang yang bergerak cepat kearahnya dan langsung menyambar tubuhnya untuk diangkat dalam pelukan membuat kakinya meninggalkan lantai koridor rumah sakit. Baru Reychu sadar dari keterkejutannya sambil menunduk untuk melihat siapa yang berani memeluknya sembarangan.


Tetapi, malah sesuatu berwarna merah muncul dimatanya.


"Rambut merah!" dia tahu siapa yang berani memeluknya begitu erat dengan beraninya ditambah warna merah familiar didepan matanya ini.


Ya, Bai Gikwang sudah tiba, namun saking bahagianya dia sampai tak bisa berkata-kata, apalagi untuk menjawab panggilan Reychu yang khas itu. Dadanya sudah sesak duluan oleh kejutan ini.


Jadi, dia ingin menenangkannya lebih dulu.


Merasakan pelukan erat ditubuhnya, dapat Reychu rasakan apa yang dirasakan oleh pria ini melalui pelukannya. Senyum manusiawi muncul di bibir Reychu yang sarat akan kebahagiaan yang ikut tertular.


Dengan pasti, ditakubnya wajah Bai Liam yang ditempati oleh jiwanya Bai Gikwang untuk dibawa berhadapan dengannya yang digendong tinggi oleh Bai Gikwang.


Setelah keduanya saling bertatapan yang mengalirkan cinta satu sama lain, Reychu berkata. "Kupikir aku tak akan melihat mu lagi..." mengelus pipi Bai Gikwang penuh perasaan. "Wajah ini benar-benar asing, tapi akrab disaat bersamaan..." suasananya hanyut dalam keharmonisan sampai Bai Gikwang tak bisa menahan senyum di bibirnya mendengar perkataan Reychu yang manis.


Namun, tidak untuk di bait berikutnya...


"Ini membuat ku merasa memacari 2 pria sekaligus. Hahahaha..." tawa Reychu pecah seketika sampai kepalanya mendongak saking tak kuasa menahan tawanya.


Entah, apa maksud Reychu melakukan hal itu.


Wajah Bai Gikwang sendiri tak tahu sudah seperti apa. Yang pasti, dia juga tak percaya dengan apa yang kekasihnya ucapkan.


Dengan gemas Bai Gikwang berujar. "Dasar kau, ya...! Masih sempat mengatakan hal seperti itu disaat-saat seperti ini. Tidakkah kau membiarkan aku menikmati momen haru ini sedikit lebih lama, sayang..." tekannya pada panggilan sayang saking gemasnya dia.


Tapi, Reychu memang begitu. Usai tertawa dan mendengar protesan kekasihnya, Reychu malah menggoda Bai Gikwang.


Mengedipkan sebelah matanya genit menyontek gaya Rayan, dia berkata. "Masuk, yuk! Kita nikmati momen haru ini didalam!" wajah Bai Gikwang merah seketika, tapi tak ada tanda-tanda menolak apalagi malu.


Hey, Reychu kekasihnya yang sebentar lagi akan dia ikat dalam ikatan pernikahan. Apa lagi yang perlu dipikirkan?


"Baik. Siapa yang menolak!" seru Bai Gikwang sebagai balasan dan segera berbalik sambil masih menggendong Reychu tanpa masalah kemudian keduanya masuk ke kamar inap yang Reychu tempati.


Sampai disini, tak ada dari ketiganya yang berniat keluar. Mereka asik dengan menghabiskan waktu bersama setelah lama berpisah.


Momen ini benar-benar membuktikan apa artinya dunia milik berdua...


(Hey, penulis ini jomblo! tidakkah kalian mengasihani ku!😤)



up lagi up lagi up lagi.


semoga kalian makin puas dengan cerita yang Thor buat.


haruskah kita menamatkan nya setelah ini?


oops. jangan lupa dukung terus author Le ya...

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2