
Sebelum matahari benar-benar menunjukkan dirinya, suara keributan sudah terdengar di taman istana. Sekelompok orang yang didominasi oleh pelayan dan penjaga berkumpul dengan kengerian dalam hati mereka seraya menatap pohon tua besar yang ada di taman istana itu.
Sesosok tubuh manusia yang tidak bernyawa tergantung disana dengan luka yang terbuka dan berlumuran darah, bahkan beberapa tetes ternyata sempat mengotori tanah dibawahnya. Akan tetapi yang paling menjadi fokus semua orang bukanlah pada mayatnya, melainkan pada selembar kertas jaman dulu yang digantung di lehernya.
Ada sepenggal kalimat yang membuat semua orang mulai menduga-duga alasan mayat tersebut digantung di pohon itu.
"Permainan mu ini terlalu biasa. Sama sekali tidak menantang! Aku tidak puas!"
Kalimat yang kala dibaca terasa arogan dan sombong membuat orang-orang yang menyaksikannya dilanda kengerian hingga seluruh rambut ditubuh mereka bangun. Tak lupa bertanya-tanya dalam hati, siapa yang begitu kejam hingga sampai seperti ini?
Ini adalah yang pertama terjadi. Kalaupun ada kabar pembunuhan, itu tak pernah dipertontonkan seperti ini. Semua orang sudah mulai menebak-nebak siapa pelakunya.
Hingga topik panas pun terjadi.
Menyingkir sejenak dari kerumunan itu, Reychu dari agak jauh mengangguk puas melihatnya.
Ternyata, inilah yang menjadi idenya. Sosok yang digantung di pohon itu adalah penyusup tadi malam. Reychu menggunakan cara ini tak lain adalah agar lawannya yang masih terus bersembunyi dapat melihatnya dan tahu bahwa dia harus lebih bekerja keras untuk dapat menyingkirkannya.
Walau dia masih belum tahu siapa sebenarnya orang itu.
"Sayang!" sebuah suara yang jantan yang sarat akan kecemasan terdengar dari belakangnya hingga membuatnya menoleh untuk melihat.
Dia tahu milik siapa suara itu...
"Pagi...!" sapa Reychu begitu santainya, berbanding terbalik dengan suasana didepan sana yang riuh.
Bahkan belum ada yang berniat menurunkan tubuh mayat itu guna menyingkirkannya. Sepertinya, pihak istana masih membutuhkannya untuk penyelidikan.
Pemilik suara yang tak lain adalah Kaisar Agung Bai berjalan mendekat sampai berhenti disebelah Reychu, memandang sejenak kearah keributan tersebut sebelum berbalik menatap seksama pada sosok kekasihnya.
"Itu perbuatan mu kan? Apa yang terjadi?" tanya Kaisar Agung Bai meski dia sudah punya tebakan yakin untuk pertanyaan pertama. Namun, yang kedua ia butuh penjelasan. Bukan untuk menuduh kekasihnya membuat kekacauan yang lebih parah di istananya. Akan tetapi, itu karena dia mencemaskan sang kekasih.
Dia tahu, Reychu tak akan melukai siapapun bila tak ada yang datang padanya.
Mendengar pertanyaan itu, Reychu mengedikan bahunya acuh dan menjawab. "Itu memang aku. Tapi, akupun tak tahu. Hanya saja, tampaknya seseorang sudah tak sabar untuk membunuhku sampai-sampai dia mendatangkan seseorang semalam untuk melenyapkan ku." terangnya.
"Apa! Coba ku lihat!" Kaisar Agung Bai cukup terkejut mendengarnya hingga kecemasannya semakin meningkat. Segera diperiksanya tubuh Reychu secara keseluruhan tanpa peduli soal kesopanan antara laki-laki dan perempuan.
Beruntung, keduanya tidak berada ditempat yang mencolok hingga mudah dilihat.
"Aku tidak apa-apa. Itu masih belum cukup untuk melukai ku. Tenang saja." ujar Reychu menenangkan seraya menepuk pundak kekar Kaisar Agung Bai.
"Fyuu... Syukurlah kau tidak terluka. Aku tidak ingin sampai itu terjadi. Jangan khawatir, aku sudah memerintahkan Reychan untuk menyelidiki ini. Tak akan aku biarkan seseorang mengusik milikku." tegasnya pria berambut merah itu yang berhasil menarik tatapan tak biasa dari Reychu.
Cara mata indah itu memandangnya mampu menggetarkan hati sang Kaisar Agung Bai dan membawanya keluar dari kecemasannya.
"Kenapa melihat ku begitu?"
Reychu menggeleng lembut. "Hanya berpikir. Seperti inikah rasanya dilindungi oleh seorang pria?! Ternyata, rasanya tidak buruk." senyumnya diakhir kalimat benar-benar bak panah asmara yang menghujam jantung Kaisar Agung Bai tanpa aba-aba.
Deg!
Itu sukses memacu detaknya untuk menjadi tidak normal. Tapi, pria itu menyukainya.
Ditariknya lembut Reychu untuk masuk kedalam pelukannya, di elus rambutnya sayang sambil menumpu dagunya dipuncak kepala sang kekasih. Membiarkan Reychu bersandar pada dada bidangnya yang hanya diperuntukkan bagi Reychu darinya.
Suasana mesra segera tercipta.
__ADS_1
"Ini belum seberapa. Aku akan membuatmu merasakan ketergantungan padaku hingga kau lebih suka saat menyusahkan ku daripada melakukannya sendiri." Reychu tertawa renyah mendengarnya seraya balas mengeratkan pelukannya.
"Hahaha... Kau tidak akan sanggup menanggung hal itu kalau sampai terjadi."
"Sanggup! Percaya padaku. Melakukan sesuatu yang disenangi jauh lebih mudah daripada melakukan sesuatu tanpa minat sama sekali." tuturnya dan Reychu hanya mengangguk saja.
"Iya, iya, iya... Lakukan yang ingin kau lakukan." mendongak guna memandang wajah tampan prianya yang dibalas sama. "Aku akan menerimanya dengan sukacita."
Kaisar Agung Bai terkekeh menggoda. "Jadi, kalau aku ingin bertindak kasar padamu, kau juga akan menerimanya dengan sukacita?"
Tanpa diduga, Reychu mengangguk membenarkan. "Hmm... Itu termasuk. Tapi, bersiaplah kau akan mati ditangan sahabatku setelahnya untuk menyusul ku. Hahaha..." Kaisar Agung Bai ikut tertawa bersamanya. Keduanya bertingkah seperti lupa apa yang tengah terjadi didepan sana.
Bila dipandangi layaknya lukisan, akan terasa aneh. Suasana bahagia sepasang kekasih yang berlatarbelakang dukacita mengerikan.
Sepertinya itu hanya akan terjadi pada mereka yang gila. Tampaknya juga, kegilaan Reychu perlahan tapi pasti menular kepada Kaisar Agung Bai.
"Reychu sayang." panggil Kaisar Agung Bai beberapa saat usai tertawa.
Reychu hanya berdehem menyahutnya. Keduanya masih dalam posisi berpelukan.
"Pindahlah ke Paviliun Putih." ujarnya yang sukses membuat Reychu mendongak guna menatapnya.
"Paviliun Putih? Buat apa?"
"Disini tidak aman. Paviliun Putih dekat dengan paviliun ku. Itu akan aman untuk mu." jelas Kaisar Agung Bai.
"Haha... Jangan bercanda. Apa kata orang nanti bila aku tiba-tiba tinggal disana. Kau mau musuhku bertambah? Itu paviliun khusus untuk permaisuri mu." Reychu menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan penuturan kekasihnya.
"Kau takut musuhmu bertambah? Sulit dipercaya. Bilang saja kau hanya tak ingin dekat denganku kan?" nadanya terdengar agak tak senang menerima penolakan dari kekasihnya. Padahal, Reychu tahu dia hanya tak ingin kekasihnya kenapa-kenapa.
Mendapati Kaisar Agung Bai kembali dalam suasana hati yang buruk, Reychu mengelus punggungnya dari depan. Sebab, masih asik berpelukan.
"Itu karena, bila aku tinggal disana musuhku tidak akan berani datang. Tempat itu terlalu dekat dengan tempatmu. Aku hanya akan mengalami hari-hari tenang disana. Itu tidak menyenangkan sama sekali. Tapi, bila aku tetap disini... Aku memiliki kesempatan untuk bermain dengan mereka yang tidak sayang nyawa." jelasnya.
Kening pria tampan berambut panjang merah itu mengerut. "Itu berbahaya, kau tahu?"
"He'em... Tapi, mau bagaimana lagi kalau disitulah letak kesenangannya. Jadi, biarkan aku tetap ditempat ku sekarang. Dan aku janji semuanya akan tetap baik-baik saja. Hm..." bujuk Reychu yang dia sendiri tidak tahu mengapa harus melakukan ini. Dia hanya tahu, kekasihnya butuh ditenangkan.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Kaisar Agung Bai mengizinkannya seperti yang Reychu inginkan.
"Baiklah. Selama kau selalu baik-baik saja. Aku mengizinkannya." lugas sang kekasih.
Reychu berterimakasih dan keduanya kembali bermesraan.
Kemesraan itu membuat keduanya tak sadar bila ada yang memperhatikan mereka dari jauh dengan tatapan marah, benci, dan cemburu. Tatapannya menghunus Reychu yang berada dalam pelukan Kaisar Agung Bai seperti siap untuk menelannya hidup-hidup.
"Apa yang mereka lakukan?" nadanya tak suka.
"..."
"Tidak bisakah dilakukan nanti saja! Mereka membuat ku ingin melakukannya juga...!" rengeknya.
"..." lainnya tetap diam.
"Kau tidak berniat mengatakan apapun?" tanyanya terkesan menegur.
__ADS_1
Yang ditanya tetap diam.
"Huh! Aku merasa bicara dengan patung! Huhuhu..." tiba-tiba tersentak kaget. "Lihat! Apa yang dia lakukan?" tunjuknya kearah yang disebut 'dia'.
"..." melihat hal yang sama entah sejak kapan.
"Apa kita harus melakukan sesuatu?"
Barulah satunya menjawab. "Belum saatnya."
Mengangguk patuh. "Mengerti."
BRAK!
Suara menggebrak meja terdengar menggema di ruangan itu. Seorang gadis cantik sebagai pelaku gebrakan tampak memiliki wajah yang sudah merah padam dengan dada naik-turun seperti menahan amarah yang tak kuat ia bendung.
"Apa-apaan mereka?! AAARRGGHH... Menjijikkan!" amuknya marah besar.
Beberapa pelayan yang berada disekitarnya hanya bisa menunduk takut dan diam tanpa melakukan apapun.
Mengangkat wajahnya dan langsung melayangkan tatapan tajamnya kepada pelayan kepercayaannya.
"AKU YANG SEHARUSNYA DISANA, BENARKAN? AKU YANG SEHARUSNYA DIPELUK! AKU YANG SEHARUSNYA DI PERLAKUKAN SEPERTI ITU! IYA 'KAN? KATAKAN!" gadis itu berteriak tanpa mempedulikan perilakunya.
Kendali dirinya lepas begitu saja.
Sang pelayan yang berpihak setuju dengan patuh tanpa bantahan. "Benar, Nona. Memang sudah seharusnya anda yang ada disana. Gadis itu sama sekali tidak cocok!"
Mendengar perkataan yang ingin ia dengar, gadis itu mengangguk puas. "Bagus! Memang hanya aku yang pantas. Tapi... Parasit itu benar-benar sulit untuk disingkirkan. Aku harus mencari cara lain untuk menyingkirkannya!" lanjutnya seraya mulai berpikir keras.
Emosinya kelihatan sudah mulai mereda namun tidak dengan kinerja otaknya yang berpikir keras untuk menemukan cara agar dapat melawan gadis yang tak lain adalah Reychu.
Dia harus bisa menyingkirkan Reychu atau peluangnya untuk bisa menjadi permaisuri akan musnah.
Gadis yang marah ini bukan orang lain selain Lu Xiu Chi. Keponakan kesayangan Kaisar Agung Bai sebelumnya.
"J*lang itu...! Aku tak akan membiarkan dia dapat bersama Yang Mulia. Yang Mulia Kaisar Agung Bai hanya milikku!" desisnya jahat dengan sorot mata yang penuh dengan kekejaman.
Walau sebenarnya, kekejamannya masih belum bisa menandingi kekejaman 3Ry.
Atmosfer di istana sulit untuk dijabarkan. Ada suasana mencekam akibat jasad yang digantung tiba-tiba disana entah apa maksudnya. Ada suasana hangat yang manis disudut lain seolah tak ada hubungannya dengan suasana sebelumnya. Ada suasana tegang juga disisi lainnya yang tampaknya berkaitan dengan suasana sebelumnya.
Semua itu tak lepas dari dua pasang mata yang mengawasi dalam bayang-bayang.
"Ini benar-benar seru! Bagaimana menurut mu?"
"Hm."
"Tapi, ini agak mengganjal..." katanya merasa ada yang salah, tapi tak tahu apa itu.
"Keadaannya tidak seharusnya begini. Benarkan?" dia menoleh untuk meminta pendapat yang dilihat hanyalah kekosongan. "Kemana dia? Pergi lagi?! CK" balik menghadap kedepan. "Sudahlah. Bukan pertama kalinya juga. Tapi, aku penasaran dengan yang ingin ia lakukan. Kira-kira kemana dia?" penasarannya.
Masih belum tahu siapa pemilik dua pasang mata itu. Yang pasti mereka disana untuk seseorang...
__ADS_1
๐