3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
KEMBALI LAGI (?)


__ADS_3

Lenguhan terdengar di telinga Shin Mo Lan dari sosok yang ada didekatnya. Segera, ia melihat dan memastikan kalau yang didengarnya tidaklah salah.


Tapi nyatanya, lenguhan itu tak hanya Shin Mo Lan saja yang mendengarnya kedua sahabatnya juga.


Lenguhan yang didengar mereka berasal dari 3Ry. Ketiga gadis itu tiba-tiba kembali tersadar dengan suhu tubuh yang sebelumnya dingin kini menghangat lagi.


Tanpa sadar para pria menghela nafas lega. Rasanya seperti ada jeratan simpul yang terlepas di hati mereka.


"Apa yang terjadi?" tanya Rayan dengan suara lirih nan serak. Ia masih linglung pada apa yang sedang menimpanya, sembari membiasakan diri pada cahaya yang masuk kedalam penglihatannya.


"Kau kembali..." helaan nafas lega dihembuskan oleh Shin Mo Lan begitu melihat kedua mata Rayan mengerjap dan perlahan terbuka. "Aku sangat khawatir..." sambungnya dengan nada lirih.


Tak bisa dibayangkan bagaimana perasaannya saat ini setelah di hantam dengan rasa sakit kehilangan beberapa waktu lalu.


Tak hanya dirinya, kedua sahabatnya pun demikian.


Di sisi Kaisar Agung Bai.


Pria itu masih mendekap erat tubuh Reychu tanpa niat sedikitpun untuk melepasnya. Rasa kehilangannya tadi masih beradu dengan rasa tak percayanya. Dia tetap kukuh kalau Reychu masih hidup.


Dan lihatlah... Itu benar.


"Ukh... Lepas. Aku tidak bisa bernafas." seru Reychu dengan suara kecil dan tertahan.


Mendengar ada suara dari tubuh dalam dekapannya itu, Kaisar Agung Bai segera mengurai pelukannya untuk memberi ruang bagi Reychu agar dapat bernafas dengan nyaman. Sekalian, dia juga ingin memastikan kalau apa yang didengarnya seperti apa yang diharapkannya.


"Akhirnya. Kau sadar juga. Kau membuatku takut." kata Kaisar Agung Bai dengan raut wajah lega dan hati yang kembali ringan setelah sebelumnya terasa seperti di remas dan di lilit ikatan yang amat kencang hingga rasanya sakit sekali. Matanya bahkan sampai berkaca-kaca.


"Jangan lagi... Jangan seperti ini lagi..." lirihnya ditelinga Reychu yang tanpa sadar ikut terhanyut dalam kesedihan pria yang memeluknya lagi ini.


Sampai-sampai, air matanya tak dapat di bendung lagi dan akhirnya luruh jua.


Sedang disisi Ye Zi Xian. Tak berbeda jauh dari yang lainnya.


Begitu Ryura sadar, pria itu tak henti-hentinya melayangkan kecupan manis di seluruh wajah pujaan hatinya seraya bersyukur dari dalam hati, karena masih memberikan pria itu kesempatan untuk bersama dengan Ryura lagi.


Walau jelas, kematian sesaat 3Ry tadi adalah perpisahan tersingkat yang terjadi pada mereka.


Ryura yang mendapatkan kecupan itu hanya diam membiarkan, sementara pikirannya mencerna apa yang baru saja terjadi pada dia dan kedua sahabatnya.


Ketiga pria itu belum berniat untuk menanyakan apa yang terjadi kepada kekasih mereka. Lebih memilih menikmati momen penuh rasa syukur karena ternyata gadis-gadis mereka tidak benar-benar pergi meninggalkan mereka.


Tak lama kabar itu juga sampai ke telinga para siluman dan dua bawahan para sang penguasa.


Mereka pun turut merasa senang dan lega. Meskipun tanda tanya besar masih bersemayam di pikiran mereka mengenai apa yang menimpa 3Ry.


Jelas kalau mereka merasa kejadian ini aneh. Karena, memikirkan tentang bagaimana bisa ketiga gadis itu jatuh tak sadarkan diri secara bersamaan. Padahal kondisi mereka sebelumnya tampak baik-baik saja. Itu menjadi pertanyaan tersendiri yang perlu untuk di pastikan.


Takut-takut hal serupa terjadi lagi di kemudian hari.


__ADS_1


Malam kian larut. Kesunyian tak bisa di bendung, belum lagi kabut dingin yang turun menyelimuti daratan hingga menyulitkan siapapun untuk melihat sekitar.


Di sebuah tebing batu nan tinggi di luar Akademi Zhilli. Tampak tiga sosok gadis berdiri menghadap ke selatan dari atas sana dengan ditemani kesunyian dan angin malam serta kabut lebat yang luar biasa dingin rasanya.


Mereka tentu tak lain adalah 3Ry.


Meskipun dingin, mereka punya cara untuk menghangatkan diri.


Ryura yang memang tidak bisa merasakan apapun -atau belum bisa- termasuk dinginnya malam hari ini. Sedang Rayan dan Reychu yang menggunakan pil penghangat tubuh untuk menangkal hawa dingin di malam ini.


Pil yang tentunya racikan Rayan.


Sebelumnya, ditengah-tengah tidur dua gadis tersebut di dalam pelukan kekasih masing-masing. Tiba-tiba, Ryura membangunkan mereka dan mengajak mereka pergi secara sembunyi-sembunyi.


Bukan pergi meninggalkan para pria. Tetapi, pergi untuk meluruskan masalah yang terjadi sebelumnya.


Mereka bisa menebak kalau ini adalah sesuatu yang penting. Karena seorang Ryura tak akan mengajak berunding kalau sesuatu itu tidak penting.


Disinilah mereka berada saat ini untuk membahas mengenai apa yang beberapa saat lalu terjadi menimpa mereka.


"Kau pasti tahu sesuatu mengenai hal ini 'kan Ryura?" seru Rayan memulai percakapan. Menanyakan perihal kejadian aneh yang menimpa ketiganya.


"Hm." Yang ditanya hanya berdeham tanpa mengalihkan pandangannya dari cakrawala.


"Kenapa kau tidak mengatakannya pada kami dari awal?" kini giliran Reychu yang bertanya. Dia pun sama bingung juga penasarannya seperti Rayan.


"Aku perlu memastikan sesuatu." jawab Ryura singkat dan datar. Dia tak bergeming diposisinya.


Pasalnya, setelah dia sadar dia segera memeriksakan tubuh yang dihuninya untuk mencaritahu apa yang menjadi alasan ia tumbang tiba-tiba tanpa tanda-tanda.


Reychu mengangguk membenarkan. Ia setuju dengan apa yang Rayan katakan.


"Yang Rayan katakan, ada benarnya. Jadi, katakanlah!" desak Reychu sedikit tak sabar.


Hening sejenak. Kedua sahabat itu menunggu dengan setia Ryura agar menjelaskan permasalahan kali ini. Mereka tentu tak ingin sampai masalah ini menjadi bencana dikemudian hari kalau seandainya terjadi lagi.


"Ada kemungkinan kita akan kembali lagi." tandas Ryura yang seketika membuat Reychu dan Rayan tertegun sejenak untuk mencerna apa maksud dari perkataannya itu.


Sampai Reychu berujar dengan nada kagetnya. "Masa depan! Maksudmu, kita memiliki kesempatan untuk kembali ke masa depan?" Ryura mengangguk membenarkan.


"Astaga! Aku tidak pernah menduga hal ini." syoknya dengan perasaan campur aduk.


Bagaimana tidak campur aduk. Apa yang sudah ia alami di dunia kuno ini telah meninggalkan kesan tersendiri yang tak akan pernah bisa ia lupakan. Meskipun ia merasa senang bisa kembali pulang ke dunia modern, tapi ada rasa berat juga untuk meninggalkan dunia kuno ini.


Terlebih setelah hadir seseorang yang sulit untuk ia lepaskan sekarang.


Perasaan itu tak hanya dirasakan oleh Reychu saja. Ternyata, Rayan bahkan Ryura pun turut merasakannya.


"Apa itu artinya... Cepat atau lambat, kita akan kembali ke masa depan?" tanya Rayan perlahan lantaran masih dalam suasana hati yang terkejut.


Ryura lagi-lagi berdeham membenarkan.

__ADS_1


"Apa kita perlu mengatakan ini pada mereka? Emm. Kupikir, harus ada yang tahu mengenai kondisi kita. Akan sangat merepotkan kalau sampai hal ini terjadi lagi. Bisa-bisa, kali berikutnya kita akan benar-benar di makamkan!" kata Reychu menanyakan solusi dari masalah mereka.


"Hm. Itu masuk akal." angguk Rayan menyetujui solusi yang Reychu berikan.


"Biar aku atasi itu." ujar Ryura menanggapinya.


Hening sejenak.


"Ini... Kabar baik bukan?" tanya Reychu dengan keraguan seraya berdiri menghadap cakrawala di ufuk selatan tepat di sebelah Ryura.


Nadanya terdengar berat dan agak terasa keraguan didalamnya. Di sela-sela itu wajah Kaisar Agung Bai terbayang dibenaknya.


"Huff... Kuharap begitu." jawab Rayan di sisi lain Ryura dengan nada yang sama.


Setelahnya, mereka hanya di isi dengan keheningan sebelum akhirnya kembali ke tempat mereka tidur sebelumnya.



Dunia modern...


Sebuah ruangan yang luas dengan perabotan lengkap untuk sebuah ruang kerja mewah tampaknya tengah di huni oleh tiga orang pria yang sedang duduk di sofa dengan jarak terpisah dan menghadap dinding ruang tranparan yang menyuguhkan langsung pemandangan malam sebuah kota metropolitan.


Ketiga pria itu tak dapat di lihat dengan jelas sosok rupanya lantaran pencahayaan yang minim.


Entah mengapa mereka bergelap-gelapan.


Didalam sana hanya memiliki sedikit pencahayaan, dimana banyak cahaya yang didominasi dari luar dinding kaca transparan tersebut.


Ketiganya tengah menikmati segelas anggur merah ditangan mereka masing-masing.


Tidak ada kecanggungan diantara mereka meski mereka lebih banyak diam dengan disibukkan oleh pemikiran masing-masing. Namun, ada kalanya ketiganya bertukar kata.


Seperti saat ini...


"Bagaimana kondisi mereka?" tanya pria pertama yang duduk di sofa tunggal disisi kiri seraya memandangi pantulan cahaya dari gelas berkaki ditangannya.


"Ada kemajuan." tukas pria kedua yang duduk di sofa tunggal disisi kanan. Meski samar, tapi sepertinya pria itu sempat menyunggingkan senyum manis usai mengeluarkan kalimatnya. Baru kemudian ditutupi dengan dia yang menenggak sedikit anggur merah di gelasnya.


"Itu artinya mereka akan kembali, benarkan?" ujar pria terakhir yang duduk di sofa panjang tepat ditengahnya dalam posisi merentangkan tangan kirinya di sandaran sofa dan tangan satunya memegang gelas anggur bertumpu diatas pahanya yang menindih kaki dibawahnya.


Posisinya elegan juga arogan. Cukup mendominasi. Tak berbeda jauh dengan dua lainnya.


"Semoga seperti yang kau katakan." tandas pria kedua yang duduk di sisi kanan.


Mereka kembali diam dalam keheningan yang tenang sambil menikmati pemandangan kota dari dinding transparan didepan mereka. Meski kata menikmati tampaknya tidak cocok disandingkan dengan perasaan hampa mereka saat ini.


Kalian pasti tahu siapa yang tengah mereka bicarakan...



__ADS_1


(pinterest)


__ADS_2