3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
YU RAYAN MONICA


__ADS_3


Senyum merekah terukir jelas di bibir gadis berparas imut nan menggemaskan itu. Pipi chubby nya tampak menggembung saat ia menarik senyum indahnya hingga membuat matanya nyaris menghilang. Sesaat kemudian ia menoleh ke sosok yang berada di sampingnya. Sesosok pria tampan dengan topeng yang di tenggerkan di puncak kepalanya karena si gadis sudah tahu rupa wajahnya membuatnya tak perlu menutup-nutupi hal itu lagi.


Melihat si menggemaskan tersenyum tak ayal membuat si tampan pun turut tersenyum.


"Lihat aku berhasil membuatnya... Hahaha!" seru Rayan riang sambil memegang semangkuk cairan kental berwarna hijau gelap dan berbau menyengat itu. Ia senang karena pada akhirnya keahliannya bisa ia terapkan di jaman kuno ini. Membuatnya tak bisa berhenti mengucapkan terimakasih pada pria tampan di sampingnya, teman barunya yang masih memberinya tanda tanya akan siapa dirinya sebenarnya.


"Hahaha... Kau begitu senang, ya?! Jangan sungkan. Aku senang berteman denganmu walaupun di awal pertemuan kita sedikit menegangkan. Jadi, jangan berterimakasih lagi." balasnya turut senang. Rayan pun hanya mengangguk menanggapi.


"Ah... Aku jadi penasaran kenapa kau membawakan ku bahan-bahan herbal ini? Kau baik sekali..." tanya Rayan saat merasa bingung dan memuji kemudian.


Dengan masih tersenyum pria yang entah bagaimana bisa muncul di dalam gubuk jeraminya tanpa suara itu menjawab. "Bukankah saat aku mengantar mu pulang, kau bercerita tentang kesukaan mu dalam hal medis?! Kau juga menyinggung soal racun. Aku tak sengaja melihat ekspresi wajah mu seperti menunjukkan rasa penasaran yang tinggi. Seolah-olah kau ingin mencoba bereksperimen dengan itu." jedanya. "Hal itu membuatku berpikir. Tak ada salahnya aku membawa beberapa bahan herbal yang menurut ku bisa menjadi obat juga bisa menjadi racun tergantung dari bagaimana kau meraciknya. Aku tidak tahu dari mana rasa percaya itu untuk mu, sampai-sampai aku berani membawanya padamu. Padahal besar kemungkinan kau akan dalam bahaya bila tak tahu cara membuatnya. Tapi, tak kusangka..."


Menyunggingkan senyum lebarnya. "Kau mampu! Sungguh luar biasa! Padahal ini sulit kau tahu?! Apalagi kau masih muda!" pujinya bangga. Tak menyangka akan bertemu bahkan berteman dengan seorang yang ahli di bidang itu dan masih muda pula.


Sungguh jenius!


"Hahaha... Terimakasih pujiannya, tampan!" senangnya di puji, di balas senyum tersipu.


Rayan terkekeh di dalam hati. "Hihihi... Tak tahu saja dia... Padahal aku sudah hampir kepala tiga. Jelas saja aku sudah ahli. Aku sudah jadi senior kalau kau ingin tahu... Tapi, sudahlah itu juga sudah lalu. Huh!" intonasinya melemah lesu di akhir. Membuatnya teringat akan kehidupan masa lalu nya di jaman modern.


"Rayan, kau melamun?" tanya pria tampan bertopeng itu saat melihat teman barunya tak merespon panggilan nya.


"Hah. Haha... Eugh... Kurasa aku hanya sudah lelah saja. Kau tahulah..." alibi Rayan menjawab sedikit tergagap.


"Ya benar. Sejak tadi aku melihat kau tidak juga berhenti di perbudak, sungguh mengesalkan saja. Padahal aku bisa memberi mereka pelajaran kalau kau mau..." jengkel pria itu geram saat mengingat bagaimana Rayan di perlakukan dari kejauhan.


"CK. Kau ini. Sudahlah. Tenang saja. Aku punya rencana. Nanti kalau aku butuh bantuanmu. Aku akan memanggilmu." terang Rayan seranya membagi cairan kental itu kedalam dua botol kecil.


"Apa?! Kalau kau butuh bantuanku katamu?! Tidak bisa..." ujarnya tak terima, Rayan menoleh mendengarnya. "Kau harus mengikutsertakan aku apapun alasannya. Aku tidak ingin ketinggalan momen menyenangkan saat sedang menjaili orang lain." alisnya naik-turun dengan smirk di bibirnya.


Puk!

__ADS_1


Rayan menepuk lengan kekar pria itu dengan kepalan tangannya sedikit kuat sampai si empunya meringis kecil. "Dasar ternyata kau juga suka yang seperti itu, ya...?!" kekehnya.


Pria itu tertawa renyah mengiyakan perkataan Rayan.


Sampai akhirnya obrolan malam itu harus di akhiri.


"Baiklah. Sudah saatnya kau istirahat. Aku akan pergi karena malam semakin larut. Tidak mungkin aku terus disini atau kau akan kekurangan waktu tidur mu." pria itu bangkit dari duduknya lalu menepuk-nepuk ringan bagian bokongnya dimana debu jerami melekat di sana saat ia duduk sebelumnya. Mata Rayan hanya mengikuti gerak-geriknya.


"Eum... Aku tidak menampik hal itu." jedanya lalu tangannya terulur keatas, mengarah ke pria yang berdiri di sampingnya sambil memegang salah satu botol kecil tadi. "Ini. Ambil untuk mu! Aku membagi dua hasilnya." jelasnya.


"Eh... Astaga! Padahal aku sengaja membawa untuk mu." jujur pria itu.


"Eumm. Terserah apa katamu. Tapi kataku. Satu botol ini untuk mu, maka ini untuk mu. Jangan menolaknya..." nada paksa di awal namun memelas manja di akhir seraya mengedip-edipkan matanya bak anak kucing yang memelas.


"Ya ampun. Kau ini!" kesalnya lantaran merasa tak berdaya saat di hadapkan dengan wajah teman barunya ini, padahal di luar sana tidak bisa semudah itu. "Baiklah, aku ambil. Dasar!" katanya menyerah sambil menyambar botol kecil itu hingga berpindah tangan kepadanya, hal itu justru membuat Rayan terkekeh menang. "Ya sudah kalau begitu. Aku pergi. Selamat malam dan selamat beristirahat, Yu Rayan!" pamitnya seraya melambaikan tangannya namun tak beranjak dari tempatnya.


Rayan sempat mengernyit bingung di buatnya namun semua itu malah menjadi tanda tanya besar saat ia berkedip sekali teman barunya justru telah menghilang dari hadapannya.


Takut?! Jelas tidak. Dulu ia sudah terbiasa dengan sosok Ryura yang datang dan pergi tanpa suara secara tiba-tiba. Namun kali ini tampak lebih mistis. Bukannya bingung Rayan malah penasaran tentang bagaimana cara melakukannya.


Detik berikutnya bibir mungilnya tersenyum lembut dengan tatapan menerawang. "Jadi teringat Ryura. Huh. Reychu juga. Bagaimana kabar mereka, ya?!" tanya Rayan lebih kepada dirinya sendiri.


Kemudian di rebahkannya tubuh milik Yu Rayan ke atas tumpukan jerami. Walau tak nyaman namun inilah yang ada. Tapi, meskipun begitu Rayan telah berjanji bahwa suatu hari nanti. Ia akan membuat tubuh barunya ini tidur nyenyak di kasur yang lebih empuk dan nyaman. Kalau perlu dengan di temani pria tampan a.k.a suami. Kikikiki...


Seperti itulah pemikiran seorang Rayan Monica yang tak jauh dari yang namanya pria tampan. Hal itu sudah ada sejak ia masih kecil.


Dulu ia sudah tinggal di panti asuhan 'PELUKAN KASIH' yang kata ibu panti di sana bahwa ia sudah tinggal sejak masih bayi merah. Di temukan di dekat tempat pembuangan sampah kota dan di pungut oleh pemulung yang kemudian di bawanya ke panti tersebut.


Singkat cerita, karena panti asuhan pertamanya lebih di dominasi oleh anak laki-laki membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Apalagi dulu anak laki-laki masihlah imut-imut dan tampannya anak kecil. Dia yang walau masih kecil namun daya pikirnya sudah sedikit lebih maju sehingga ia sudah bisa mengukur mana yang tampan, sedikit tampan, kurang tampan, hingga tidak tampan sama sekali. Oleh sebab itulah, ia jadi pengagum pria tampan. Di panti asuhan itu pun ia cenderung bermanja-manja dengan anak laki-laki di sana dari pada berubah menjadi tomboy. Sampai pada akhirnya panti asuhan tempatnya bernaung terancam di gusur.


Tak lama kemudian tibalah ia dan yang lainnya di panti asuhan 'TANDA CINTA' yang mana juga menjadi tempat pertemuan pertamanya dengan Ryura dan Reychu. Tapi meskipun begitu Rayan tak lupa dengan kebiasaannya yang suka muncul di tengah-tengah anak laki-laki tampan di sana walau untuk sekedar duduk memandangi. Namun sejak dia tinggal di tempat yang baru itu, ia menjadi tak sebebas dulu. Karena sejak saat itu sahabat barunya -Reychu- sering kali menyeretnya keluar dari kerumunan bocah-bocah tampan di panti 'TANDA CINTA' dan berakhir berkumpul bertiga dengan Reychu dan Ryura.


Kata Reychu. "Anak perempuan tidak boleh bermain dengan anak laki-laki. Kalau tidak, jenis kelamin nya akan berubah!" entah dari mana pemikiran itu.

__ADS_1


Meskipun demikian, ia tetap senang karena mereka adalah sahabat perempuan pertamanya yang tak peduli dengan seberapa centil nya dia dengan yang namanya laki-laki, apalagi tampan.


Hingga sampailah di 27 tahun bersahabatan mereka dengan lika-liku serta suka-duka yang selalu di lewati bersama bahkan sampai berakhir konyol di dunia entah masa keberapa silam dan terjebak di tubuh gadis yang terlahir di luar nikah.


Sungguh malangnya!!!


Pemilik tubuh mungil nan cantik ini bernama Yu Rayan. Seorang anak haram dari keluarga Yu. Sepengetahuan Yu Rayan yang asli. Ia lahir dari rahim seorang ibu berstatus pelayan yang dulunya bekerja di kediaman Yu.


Menurut ingatan yang ada, ibu Yu Rayan adalah sosok gadis muda yang sama mungil dan imut serta cantik sepertinya. Entah benar atau tidak, dari yang ia dengar hasil dari menguping percakapan para pelayan lainnya yang dulu pernah dekat dengan ibunya saat Yu Rayan berusaha 6 tahunan.


Mereka bercerita bahwa ibu Yu Rayan pernah menceritakan kegelisahannya saat ia mulai bekerja sebagai pelayan yang melayani tuan muda kedua Yu dalam hal mandi dan sarapan. Dari sinilah fakta sebenarnya yang terjadi namun tidak di ungkapkan dan itu karena perbedaan kasta yang amat jauh. Itu benar adanya karena ada saksi mata, yaitu teman seperjuangan ibu Yu Rayan yang juga bertugas melayani tuan muda kedua Yu.


Faktanya, ayah Yu Rayan yang bernama Yu Ran Yuan menaruh hati pada pelayannya sendiri karena fisiknya yang sedap di pandang mata dan lain dari yang lain. Awalnya hanya curi-curi pandang tapi lama kelamaan makin gencar mendekati saat istrinya tidak ada bersama nya.


Ibu Yu Rayan yang takut pun selalu berusaha menghindar. Sikap itu di ketahui oleh Ran Yuan sehingga ia melakukan sesuatu untuk menahan gadis itu. Ia bertanya banyak hal tentang sikap ibu Yu Rayan yang selalu menghindari nya dan berujung pada ungkapan perasaannya yang tidak seharusnya ada.


Mungkin jika itu terjadi di masa modern, semua akan sah-sah saja. Tapi tidak untuk masa lampau dengan tekanan kasta yang berlebih.


Terkejut? Tentu, tapi ibu Yu Rayan yang memang tak memiliki perasaan apapun memilih berontak. Tapi ternyata hal itu justru membuat sang tuan marah hingga akhirnya memaksakan kehendaknya pada gadis tersebut. Parahnya itu tak terjadi sekali.


Setelah kejadian itu, ibu Yu Rayan kabur dan menghilang dalam kurun waktu 2 Minggu namun sialnya dapat di temukan oleh Ran Yuan. Ayah Yu Rayan yang di landa rindu dan amarah karena tak terima oleh penolakan tersebut, karena itu pula ia mulai melakukan nya lagi. Paginya ibu Yu Rayan kembali menghilang. Ran Yuan tak bisa terima itu dan bersumpah akan mengikatnya bila ia menemukan kembali pelayannya yang sudah membuatnya jatuh hati. Ia bahkan sampai melupakan istrinya.


Penangkapan kedua kalinya, Ran Yuan benar-benar mengikat dan mengurung pelayannya itu di sebuah rumah tua di pinggir desa kecil dimana Ran Yuan menemukannya. Hal yang sama terulang kembali. Ibu Yu Rayan tak tahu bagaimana lagi harus menangisi nasibnya.


Dan pada akhirnya Yu Rayan hadir dalam rahimnya. Ran Yuan tak pernah sebahagia itu saat di kabarkan akan memiliki anak. Mungkin karena kali ini ia menggunakan hati untuk mencintai seorang wanita hingga nekat bertindak lebih. Bila Ran Yuan bahagia atas kabar tersebut namun tidak dengan ibu Yu Rayan. Tapi dia tidak menyalahkan kehadiran Yu Rayan di rahimnya hanya menyayangkan cara ia hadir di dalam sana.


Sebagai seorang wanita yang pada saatnya akan merasakan menjadi seorang ibu membuatnya bersedih. Ia sedih membayangkan nasib anaknya bila terlahir nanti.


Singkat cerita, saat hari lahir akan tiba. Ibu Yu Rayan mengirimkan surat kepada teman dekatnya yang sama-sama pelayan di kediaman Yu dan menceritakan semuanya, termasuk keinginan nya untuk menyerahkan putrinya -Yu Rayan- kepada ayahnya -Yu Ran Yuan- dan meminta temannya menjaganya sementara ia akan pergi juga menghilang dari semuanya. Ia beralasan tak bisa memenuhi kebutuhan hidup anaknya.


Yu Ran Yuan yang mendapati kenyataan tersebut tak bisa membendung perasaan menyesal nya. Dengan Yu Rayan dalam gendongan dan kekacauan yang terjadi saat bayi mungil itu tiba di kediaman Yu benar-benar mengguncang ketenangan di sana.


Dan hal itu berlangsung hingga sekarang, dimana Yu Rayan di perbudak tanpa ampun dan sang ayah yang di ancam untuk tidak memberikan sedikit pun perhatian nya pada putri tercinta dari wanita tercintanya. Apa boleh buat, ia hanya bisa diam.

__ADS_1


Sampai Yu Rayan mati pun tak ada yang berubah. Tapi tidak untuk selanjutnya. Karena kini Yu Rayan a.k.a Rayan Monica lah yang bertindak.



__ADS_2