3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
DIUSIR


__ADS_3

Kecewa adalah yang terlihat di seluruh wajahnya tanpa dapat dihalangi oleh apapun.


Sejenak, tercengang ia hingga matanya menjadi kosong. Reychu yang melihatnya jadi ikut terdiam. Tak tahu kenapa, dia yang biasanya punya banyak stok kata-kata kini jadi membisu begitu melihat jelas ekspresi kecewa di wajah tampan pria itu. Hanya saja, entah bodoh atau tidak peka Reychu masih tidak sadar bagian mana yang membuat Kaisar Agung Bai menjadi begitu kecewa.


"Hei, kau baik-baik saja? A..aku tidak melakukan sesuatu yang salah bukan? Jangan diam begitu, aku bingung jadinya!" Reychu mengeluarkan beberapa kata dengan nada rendah yang canggung untuk pertama kalinya. Sampai tak tahu harus apa begitu dihadapkan pada situasi tak terduga ini.


Karena masih membisu, Kaisar Agung Bai hanya bisa mengangkat tubuh Reychu dari pangkuannya untuk dipindahkan ke sisinya. Tanpa sepatah katapun ia bangkit dan berjalan dengan gontai ke arah jendela berada.


Reychu hanya bisa melihatnya pergi, tapi tidak melakukan apapun untuk mencegahnya.


Reychu masih tidak tahu apa yang membuat pria itu menjadi seperti ini.


"Dia kenapa?!" sampai sempat bergumam dua kata itu dengan entengnya.


Sedang Kaisar Agung Bai kini sudah terjebak dalam pikirannya sendiri.


Dalam kekecewaan dan kesedihannya kala tahu kalau Reychu adalah seorang janda tak lebih hanya untuk mengeluh dengan hati yang kacau.


"Dia janda! Dia janda! Janda! Janda! Astaga! Dia janda! Reychu ku janda! Bagaimana bisa ini begitu tidak adil!" hatinya terus melontarkan kata-kata itu dengan frustrasi.


Berkacak pinggang sambil mendongakkan kepala, Kaisar Agung Bai melanjutkan keluhan hatinya.


Namun, alih-alih sedih dengan status jandanya Reychu. Kaisar Agung Bai lebih seperti ini...


"Berapa kali mereka melewati malam panjang bersama selama masih terikat?! Seberapa bahagianya laki-laki itu saat menjadi yang pertama bagi Reychu ku?! Bagian tubuh mana yang paling disukai laki-laki itu?! Apa saja yang mereka lalu selama ini?! Bagaimana cara mereka memanjakan satu sama lain?! Lalu, apa yang membuat laki-laki itu menceraikan Reychu ku?! Tidak mungkin karena Reychu tidak menggairahkan lagi bukan?! Aku bahkan nyaris tak bisa menahan diri tiap kali berdekatan dengannya! Apa karena mulutnya yang luar biasa itu?! Tidak mungkin! Mulutnya itu selalu jujur meski hampir tidak menyenangkan untuk didengar! Jadi, mustahil kalau hanya masalah caranya berbicara! Sial, aku tidak bisa membayangkan semua itu dengan benar! Ini terlalu mengguncang kewarasan ku! Tolong, meski tidak benar... Katakan padaku kalau Reychu bukan seorang janda. Dia gadis! Dia gadis perawan! Ya Dewa!"


Dia hanyut dalam pikiran kacaunya sendiri meninggalkan Reychu yang sudah terungguk-ungguk menahan kantuk sebelum akhirnya ia jatuh tertidur dan membiarkan Kaisar Agung Bai dengan kesibukannya sendiri.



Di perjalanan keluar sesaat setelah keluar dari paviliun Kristal.


Rayan dan Ruobin berjalan di belakang Shin Mo Lan. Membuat pria itu tidak nyaman. Tidak nyaman bukan dalam arti tidak suka, ketidaknyamanan itu dikarenakan sosok Rayan yang imut begitu mengganggu pertahanan diri Shin Mo Lan.


Dia sudah sekuat tenaga bertahan sejauh ini. Belum lagi, keadaan kedua sahabatnya yang aneh. Dia belum menuntut mereka untuk memberitahukan apa yang sebenarnya tengah terjadi pada keduanya.


Sedang Rayan di belakang saling melempar telepati dengan Ruobin.


"Sudah, berhentilah! Apa yang ingin kau lakukan dengan membuntutinya?" seru Ruobin tak habis pikir, melihat sahabat manusianya berseri-seri menatap sosok tampan didepannya.


Dia memang sudah menebak suatu kemungkinan. Hanya tinggal menunggu konfirmasi dari si pelaku.


Mendelik tak senang kearah Ruobin. "Kau sendiri, apa yang kau lakukan dengan membuntuti ku?"


"Wah. Jadi, sekarang aku dicampakkan setelah kau menemukan yang baru. Astaga, ini pertama kali bagiku di permainkan seperti ini. Selama ini aku yang lebih sering melakukannya pada orang lain. Kau hebat Rayan." dengusnya protes.


"Oh, ayolah... Kau tetap bagian dari hidup ku, Bin-bin sayang. Hanya saja, aku baru menemukan cinta ku. Saat ini aku sedang memastikan kalau yang kurasakan benar-benar cinta. Kalau kau menggangguku, bagaimana aku tahu apa yang sebenarnya sedang aku rasakan saat ini." jelas Rayan pada akhirnya lantaran tak tega dengan sahabat silumannya ini.


Ruobin segera menembak tatapan bangga saat tebakannya benar.


"Lalu, bagaimana caramu memastikannya. Jangan konyol! Dengan mengikutinya, kau hanya akan di cap murahan oleh orang lain. Ingat, kita sedang berada di Kediaman Zhilli Shin. Keluarga pria itu ada disini. Sedikit kau membuat kesalahan, maka habislah kau." kata Ruobin mengingatkan.


Saat itulah Rayan tersadar kembali kalau dia sedang berada di wilayah orang lain.


"Jadi, aku tidak bisa memastikan perasaan itu sekarang?" tanya Rayan mengeluh lesu mengetahui betapa kecilnya peluang yang dia punya.


"Bukan tidak bisa. Tapi, paling tidak kau harus punya sesuatu yang bisa membuat mu menghabiskan banyak waktu bersama dengan dia." terang Ruobin memberi saran.


"Sesuatu? Semacam topik yang bisa di bahas berdua, begitu?"

__ADS_1


"Ya, semacam itu. Seperti kau yang suka obat-obatan. Dia juga berada di bidang yang sama. Kalau kau punya sesuatu untuk dibahas mengenai hal itu, kurasa itu adalah awal yang bagus untuk memulai!" tambah Ruobin dengan mudahnya.


"Jadi, begitu... Aku benar-benar buta soal ini." aku Rayan tentang betapa tidak tahu-menahunya Rayan soal asmara.


"Aku tahu. Kau hanya mengagumi keindahan selama ini. Jadi, ketampanan pria hanya bisa membuat mu kagum dengan memandanginya. Kau belum pernah menemukan ketampanan pria yang langsung menghujam hatimu. Jadi, itu masih bisa dimaklumi." tutur Ruobin begitu bijak dan pengertian.


"Aaa... Bin-bin sayang, kau yang terbaik!" secara tidak sadar Rayan memeluk lengan Ruobin saking senangnya.


Dia tidak menyadari atau tepatnya keduanya tidak menyadari, kalau sebenarnya tepat saat Rayan memeluk lengan Ruobin dengan wajah sumringah, Shin Mo Lan berbalik untuk meminta mereka berhenti mengikutinya.


Sayang sekali, belum juga ia akan berkata-kata, apa yang dilihatnya saat ini seketika membungkam mulutnya dan membuatnya menelan kembali ucapannya.


Tak tahu kenapa, ada yang panas di dalam sana.


Dia juga merasa tak senang saat Rayan begitu dekat dengan pria lain. Tapi, dia masih tak tahu mengenai 'mengapa itu bisa terjadi?'. Shin Mo Lan hanya bisa berusaha mengenyahkan semua keanehan itu.


Tapi, meski begitu tetap saja. Tubuhnya tak bisa di ajak bekerja sama.


"Ehem!"


Dehaman tajam menyentak keduanya. Segera, Rayan dan Ruobin menoleh kepada suara tersebut.


Seketika, wajah datar yang tak dapat dijelaskan bagaimana ekspresinya terpampang didepan mata keduanya.


"Eh!" sadar Rayan langsung melepas pelukannya dan mencoba bersikap biasa. Sebisa mungkin, dia menampilkan senyum terbaiknya.


Tapi, akhirnya canggung karena pihak lain tetap datar.


Tak tahu saja dia, seberapa keras Shin Mo Lan menahan dirinya sendiri dari godaan Rayan yang sebenarnya tidak ada itu.


Ruobin yang biasanya peka bahkan menjadi tidak berguna sama sekali. Tampaknya, yang lain begitu mahir menutupi perasaannya.


Shin Mo Lan sendiri sempat tertegun saat mulutnya tanpa kendali memulai percakapan mereka lebih dulu. Niatan awal untuk mengusir mereka terbang entah kemana.


Dia bahkan menjual nama Kaisar Agung Bai tanpa sepengetahuan si empunya nama.


Disaat Shin Mo Lan menggerutu dalam hati karena tindakannya, Rayan justru menyambut dengan antusias perkenalan itu.


"Ya, perkenalkan juga. Nama saya Rayan Mo. Saya tidak memiliki keluarga, sama seperti kedua sahabat saya. Kamilah keluarga satu sama lain. Jadi, 'Mo' bukanlah marga." dengan senyum sumringah Rayan mengatakan kebenaran itu.


Tak sedikitpun merasa risih kala mengungkapkan siapa dirinya. Karena menurut Rayan, kejujuran diawal akan memberinya kelancaran di kemudian hari.


"Jadi, begitu... Baiklah." masih saja datar saat mengatakan itu.


Di permukaan, dia benar-benar tampak acuh tak acuh. Tak tahu saja, Rayan tak peduli itu. Dia sudah terlanjur suka, jadi mau bagaimana lagi.


Hanya saja yang satunya masih gengsi mengakui perasaannya.


"Lalu..." tidak diteruskan, tapi tatapan Shin Mo Lan jatuh pada Ruobin.


Sadar tidak sadar, Ruobin seperti sedang di tembaki dengan sesuatu yang tak kasat mata langsung ke tubuhnya. Membuat siluman itu merasa tidak nyaman.


"Oh ya, kenalkan juga. Ini Ruobin, Sahabatku." Rayan masih tak melihat, ada awan gelap tak terlihat di sekitar Shin Mo Lan ketika membayangkan sahabat bisa menjadi begitu dekat hingga mampu membuat orang salah paham.


"Salam kenal!" singkat saja dari Ruobin.


Entahlah kenapa, dia tak nyaman didekat Shin Mo Lan tanpa alasan yang jelas.


Yang dia tahu, pria itu tampaknya tidak menyukainya.

__ADS_1


Kurang dari satu menit tak berbicara, kini Rayan yang menjadi orang pertama memulai percakapan.


Sekaligus, memecahkan situasi canggung yang tak enak di rasakan itu.


"Kalau begitu, Tuan Shin. Apakah anda punya waktu luang saat ini. Saya memiliki sesuatu untuk dibahas dengan anda. Ini mengenai alkimia. Tentu, kalau anda tidak keberatan." senyum manis itu begitu menyilaukan di mata Shin Mo Lan, dipadu dengan caranya meminta pada Shin Mo Lan. Itu terdengar manja.


Tak tahu bagaimana mengatakannya. Yang pasti Shin Mo Lan menyukai nada itu diucapkan padanya.


"Tidak masalah. Kebetulan saya memiliki waktu luang saat ini."


Baik, ada kesempatan untuk berduaan. Maka, mengapa harus dilewatkan. Begitu pikir Shin Mo Lan.


Krak!


Sepertinya dia melupakan sesuatu.


Bisa-bisanya dia berkata begitu, saat jelas-jelas ada yang menunggunya di ruang kerja sampai rasanya dia akan berjamur ditempatnya berdiri.


Sambil menggerutu, pria di ruang kerja itu mulai mengomel untuk Tuannya.


"Kemana perginya Tuan Muda Shin? kenapa lama sekali! Kaki ku benar-benar sudah mati rasa karena terlalu lama berdiri. Sial!"


Menoleh kearah pintu untuk kesekian kalinya.


"Apa yang begitu penting dari pada pekerjaan saat ini?" lanjutnya mengomel.



Jangan lupakan yang satu ini.


Furby berbicara melalui telepati, tapi tidak dengan yang lain.


"Apa yang terjadi padamu? Kau tampak kusut!" tanya Furby pada Chi-chi yang dengan lesu berjongkok di sampingnya.


Mengangkat kepalanya tak berdaya, wajah memerah menahan tangis terpampang didepan mata Furby.


"Furby... Hiks... Aku tak bisa berada di samping Reychu karena pria itu. Bagaimana ini..." keluhnya seolah-olah hanya dia yang merasakannya.


"Cih! Kau pikir bagaimana dengan ku? Kau tidak lihat, aku disini dari begitu aku tiba. Aku belum bisa merubah wujud ku untuk saat ini karena suatu alasan. Hasilnya, aku harus menelan kepahitan karena tidak bisa berada disisi Ryura. Jadi, berhenti mengeluh. Aku tidak akan iba padamu!" balas Furby garang.


Suasana hatinya yang mulai membaik, menjadi buruk lagi kala diingatkan dengan fakta pahit itu.


Saat sedang curhat-curhatan mengenai nasib mereka, dari depan muncul Ruobin secara tiba-tiba.


Sepertinya, dia menggunakan teleportasi saat mendatangi mereka.


"Kau juga. kenapa?" ketus Furby menanyakannya, meski ia juga sudah bisa menebaknya.


"Jangan tanya itu padaku. Aku masih kesal! Huh!" air muka Ruobin benar-benar tak sedap dipandang.


Menatap kedua siluman didepannya Ruobin mulai mengadu.


"Kalian tahu, apa?! Pria asing itu berhasil membuat Rayan mengusirku hanya agar bisa berbincang berdua. Sungguh sial, bukan? Aku tak bisa tidak kesal karenanya!" omel Ruobin tak terima lantaran diusir pergi oleh sahabat manusianya.


"Haih... Kita senasib!" kata Furby dan Chi-chi bersamaan.


Mereka tidak menyadari, kalau saat ini ketiganya benar-benar terlihat seperti sekumpulan siluman yang bersekutu.


__ADS_1


__ADS_2