
Hari-hari menuju Perjamuan Bunga Kota berjalan dengan damai. Baik itu dari sisi 3Ry maupun Jiang bersaudara, Melany Gong, dan pihak perjamuan sendiri.
Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Tentunya, kesibukan 3Ry dan lawannya adalah kesibukan dalam mempersiapkan diri untuk aksi mereka di Perjamuan nanti.
Jiang Wanxi dan Melany Gong sudah membahasnya usai telpon tempo hari. Mereka janjian bertemu hanya khusus untuk membahas rencana mereka untuk menyingkirkan Reychu dan Rayan.
Mereka optimis akan menang dengan mengandalkan pengalaman mereka dalam perjamuan itu dan kemampuan yang sudah mereka asah sejak kecil karena umumnya orang terpandang memiliki jadwal belajar ekstra selain pelajaran umum yang di pelajari semua kalangan.
Mereka yakin apa yang mereka pelajari sejak kecil akan bisa mereka gunakan untuk menjatuhkan 3Ry di Perjamuan nanti.
Kepercayaan diri ini, bila didengar oleh Reychu akan membuat gadis itu tertawa terbahak-bahak sampai jungkir balik dan mengalami keram perut. Saking dirasa betapa konyolnya itu.
Bukan sombong, baik Reychu maupun dua sahabatnya. Mereka memiliki kemampuan yang tidak diketahui orang lain, yang mana kemampuan itu mereka miliki bukan sekedar untuk alat bersaing tapi juga untuk bertahan hidup sebelum bertemu ketiga bangsawan tampan itu yang kini menjadi penopang hidup mereka.
Jadi, sudah pasti Reychu akan meledek kedua wanita arogan itu karena terlalu punya wajah untuk mengangkat tinggi diri mereka sendiri tanpa berpikir kemungkinan mereka akan dihempaskan oleh 3Ry nantinya.
Para wanita dari kalangan satu persatu berangkat ke lokasi perjamuan diadakan. Mereka pergi dengan barang bawaan mereka masing-masing, mengingat perjamuan diadakan selama beberapa hari yang artinya para wanita sosialita akan menginap di tempat yang sudah penyelenggara sediakan.
Tentunya bukan sembarang tempat. Bagaimanapun, yang akan hadir adalah kaum elit.
Hal yang sama juga harus dilakukan oleh 3Ry.
Dari sisi Ryura.
Sebuah helikopter berwarna putih mendarat di tempat pendaratan khusus yang ada di atap salah satu hotel mewah di luar kota. Hotel yang di miliki resort yang akan menjadi tempat para wanita sosialita menginap.
Kota yang akan menjadi tujuan berikutnya untuk diselenggarakannya perjamuan. Tepatnya, di salah satu resort terbaik dan termewah di kota itu.
__ADS_1
Begitu helikopter mendarat sempurna, dimana dari jauh pemandangan itu disaksikan banyak pasang mata yang menatap iri serta kagum.
Tak perlu ditanyakan lagi siapa yang datang menggunakan helikopter tersebut. Dengan melihat logo RYUXIAN KINGDOM yang terdapat di badan helikopter, cukup untuk membantu mereka menebak siapa pemiliknya.
Dan lihatlah saat salah satu pasangan fenomenal turun dari capung besi tersebut.
Ye Huan turun lebih dulu. Setelah tuksedo berwarna abu-abu dengan kemeja hitam didalamnya dan dasi putih bermotif samar melekat sempurna ditubuh atletisnya, ditambah rambut putih panjangnya yang hanya dijepit di kedua sisinya berkibar terbawa angin yang diakibatkan oleh baling-baling helikopter menambah kadar ketampanannya yang terasa tidak nyata.
Saat ini Ye Huan tengah menyodorkan tangannya ke dalam pintu helikopter, dimana sesaat kemudian tangan lain yang lembut nan indah menyambut bentangan tangan Ye Huan dan kemudian turunlah Ryura dengan dress hitamnya yang bergaya klasik.
Kerah sabrina, lengan tiga perempat model biasa, dengan panjang dibawah lutut, di padukan dengan sepatu boots yang hanya menutupi mata kaki dan bertumit setinggi 5 cm.
Ryura tak membawa tas atau apapun ditangannya sebab Ye Huan -suaminya- sudah menyediakan pelayan disisinya untuk mengurus kebutuhan Ryura yang lain. Hal ini dilakukan sebagaimana kebiasaan masa kuno sebelumnya dimana kebiasaan itu masih belum bisa dihilangkan meskipun Ye Zi Xian sudah tinggal lama di zaman modern. Di samping itu, karena besarnya cinta Ye Zi Xian pada sang istri -Ryura- yang membuatnya lebih memilih menambah pekerja untuk melayani istri tercintanya daripada membiarkan sang istri sibuk dengan hal-hal demikian.
Setelah keduanya menginjakkan kaki ke tanah, disusul pelayan yang di tugaskan menurunkan barang bawaan yang dibutuhkan Nyonya mereka, lalu berdiri menunggu sepasang majikan itu berpamitan.
"Tidak perlu menginap." ada nada merajuk didalamnya, saat kedua insan itu berdiri berdekatan.
Melihat senyum langka sang istri malah semakin membuat Ye Zi Xian enggan melepas istrinya menginap di tempat lain. Maunya dirumah mereka saja agar Ye Zi Xian bebas menempel pada sang istri seperti yang selama ini dia lakukan.
"Sayang... Sebenarnya, perjamuan seperti ini tidak berguna. Jadi, tak masalah bila tak hadir. Mau berubah pikiran?" Ye Zi Xian mencoba membujuk Ryura dan bila pihak penyelenggara perjamuan mendengarnya mereka akan muntah darah lantaran tersinggung.
Ryura menjawab tanpa menghilangkan senyum di bibirnya. "Ada yang harus diselesaikan disini. Pulanglah dan tunggu aku. Hm..."
Ye Zi Xian menghembuskan nafasnya berat. "Baiklah..." dipeluknya Ryura erat-erat, seolah-olah mereka akan berpisah untuk waktu yang lama. "Aku pasti akan merindukanmu. Beberapa malam aku akan tidur sendirian. Tidak bisa memelukmu. Aku pasti tidak akan bisa tidur nyenyak seperti sebelumnya. Apa aku ikut menginap disini saja?" seolah mendapatkan ide brilian, wajah Ye Zi Xian berseri.
Tetapi, itu hanya sementara sebab sang istri segera memberikan peringatan untuk larangan.
"Xian..."
__ADS_1
"Baik, baik... Aku akan bertahan sampai kau pulang." Ye Zi Xian mengalah dan kembali memeluk Ryura dan enggan melepaskannya.
Sampai suara milik seseorang yang selalu mengambil kesempatan untuk mengganggu menghancurkan momen mesranya.
"Ya, ampun. Apa yang dilakukan pria tua ini? Ryu, apa parasit ini enggan melepas mu? Astaga..."
Perasaan melankolis Ye Zi Xian hilang sudah. Diapun melepas pelukannya untuk melihat si biang kerok yang mengganggu momen mesranya untuk yang terakhir sebelum ditinggal selama beberapa hari.
Kalian pasti bisa menebaknya.
Yang menebak Reychu, seratus untuk kalian.
Siapa lagi kalau bukan dia.
Saat ini Reychu datang bersama Bai Gikwang menggunakan mobil golf 4 kursi. Ternyata pasangan itu sudah tiba sehari sebelumnya. Bai Gikwang menemani Reychu menginap sembari bermain di resort tersebut. Tujuan Bai Gikwang adalah untuk memastikan bila resort tersebut benar-benar terbaik untuk mempercayakan calon istrinya menginap disana.
Bila ditanya, kenapa tidak meminta anak buahnya memeriksa? Maka, jawaban Bai Gikwang adalah agar sekalian simulasi bulan madu sebelum bulan madu yang sesungguhnya.
Krik... Krik... Krik...
Oke, lanjut.
Dengan wajah datar yang sarat akan kekesalan, Ye Zi Xian berujar. "Yang Mulia, tolong perhatikan calon permaisuri anda. Saya masih memikirkan anda sehingga saya tidak melakukan apapun padanya. Tapi, jangan salahkan saya bila kesabaran saya habis. Calon istri anda benar-benar menyebalkan!" kalimat terakhir diucapkan dengan gigi tertutup.
Bai Gikwang yang di ajak bicara malah terkekeh merasa lucu dan berkata. "Maaf Tuan Muda Ye, calon istri saya masih muda. Tolong maafkan dia atas kelabilannya." lalu pasangan aneh itu saling memandang dan di detik kemudian keduanya tertawa seolah baru saja mendengar sesuatu yang lucu.
Wajah Ye Zi Xian yang sudah datar semakin datar dengan sedikit kejengkelan tercetak diwajahnya. Sedang Ryura diam dalam tenang seperti biasanya.
"Tampaknya aku mengerti mengapa istri Shin Mo Lan sering dilanda kekesalan bila berhadapan dengan dia. Sekarang, mantan kaisar pun jadi ikut-ikutan gila. Bersyukur dia tidak lagi menjadi kaisar..." tutur Ye Zi Xian penuh arti sambil menatap sejoli yang tertawa bahagia diatas kekesalan seseorang.
__ADS_1
Benar-benar pemandangan yang baru. Wajar saja, selama ini intensitas pertemuan kedua pasangan itu jarang sehingga untuk mendapatkan momen seperti ini pun bisa dianggap tergantung keberuntungan. Hehe...