
Dihari yang sama, selepas kepergian tiga pria tersohor itu meninggalkan istri-istri mereka guna mengikuti perjamuan sesuai undangan, tamu yang lain pun satu persatu mulai berdatangan.
Waktu bergulir, usai para tamu perjamuan mengkonfirmasi kamar mereka masing-masing yang akan mereka gunakan untuk menginap selama beberapa hari ke depan, kini mereka semua termasuk 3Ry di pandu untuk berkumpul di ballroom hotel tersebut.
Dapat dilihat bila seluruh perempuan sosialita di ibukota berkumpul di sana. Ada yang saling sapa dengan gembira, ada yang saling sindir, ada pula yang saling pamer, dan masih ada banyak macam kelakuan mereka disana. Sementara 3Ry diam di satu sisi menyaksikan semua itu dengan tatapan jengah.
"Sungguh tidak berguna." celetuk Reychu tanpa mengecilkan ataupun membesarkan suaranya. Tapi, untungnya orang-orang itu terlalu sibuk untuk mendengar celetukan itu. Kalau tidak, sudah dipastikan mereka akan menyerbu Reychu.
"Aku suka pesta. Tapi, aku lebih suka kalau tamunya pria semua." timpal Rayan yang artinya berkumpul dengan kaum sejenis terlalu merepotkan.
"Kau akan di pasung oleh tabib mu." kata Reychu seolah-olah tak paham arti kata sahabatnya.
"Jangan pura-pura tak tahu, Reychu!" mata Rayan melotot memperingati agar Reychu tak mencari masalah disaat seperti ini.
"Baiklah, baiklah." lalu, Reychu kembali memandang lautan perempuan di ballroom dengan tatapan mengamati. Dia seperti tengah mencari sesuatu.
Tiba-tiba suara seorang perempuan menggema melalui mikrofon.
"Halo, semuanya. Selamat malam dan selamat datang kembali di agenda tahunan kita yaitu PERJAMUAN BUNGA KOTA... Dengan saya, Lu Xi yang akan menjadi pembawa acara selama perjamuan berlangsung..." nada formal, tertata, dan elegan terdengar.
Tepuk tangan yang meriah para undangan berikan. Mereka bersikap elegan saat ini dan penuh tata krama yang biasanya orang-orang elit pelajari.
Alhasil, penampakan tersebut tampak seperti pesta sosialita abad pertengahan. Dimana semua orang bersikap elegan guna unjuk diri.
Hanya Reychu yang bersandar malas di salah satu pilar yang ada di ballroom, Rayan berdiri tegap seraya bersedekap dada, dan Ryura yang berdiri diam tanpa pose apapun.
__ADS_1
Beruntungnya ketiganya berdiri agak kebelakang hingga sikap bebas mereka tidak terlalu di sorot.
Pembawa acara bernama Lu Xi itu tersenyum melihat antusiasme para kaum hawa sosialita yang berkumpul didepannya saat ini. Antusiasme yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebagai pembawa acara yang sudah mengambil alih selama 3 tahun berturut-turut, agaknya dia tak lagi seantusias saat pertama kali dipilih oleh penyelenggara perjamuan untuk menjadi pembawa acara.
Maklum, berhubung dia bukan dari kalangan atas tapi sudah menjadi presenter kelas atas. Melihat kemeriahan dunia sosialita di awal-awal rasanya hebat sekali, tapi begitu dirasakan untuk kesempatan-kesempatan berikutnya. Rasanya tak semeriah diawal. Bahkan, untuk Rakjat jelata sepertinya yang lebih suka kemeriahan sederhana yang tanpa aturan, perjamuan semacam ini amat sangat melelahkan tak hanya jasmani namun juga rohani.
Dengan mendapatkan kesempatan menjadi pembawa acara di perjamuan yang dianggap luar biasa oleh para perempuan kelas atas sedikit banyaknya telah membuka matanya kalau dunia orang kaya tak seindah yang dibayangkan.
Tentu bagi orang miskin sepertinya.
"Malam ini akan menjadi malam pembukaan bagi kita semua untuk menyambut perjamuan yang selalu diadakan dengan luar biasa. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, akan selalu ada hiburan untuk merelaksasikan hati dan pikiran kita semua sebelum inti dari perjamuan ini di langsungkan. Anda sekalian pasti sudah sangat tidak sabar untuk segera memulai kompetisi perjamuan ini. Akan tetapi, sebelum itu, mari anda sekalian untuk menikmati malam pembukaan di malam hari ini agar pikiran anda sekalian segar hingga siap untuk memulai kompetisi di keesokan harinya. Malam ini juga, akan ada beberapa penyanyi dan penari terkenal yang akan menghibur anda semua... Maka, dari itu inilah saatnya... Saya resmikan Perjamuan Bunga Kota tahun ini dimulai!!!"
PROK... PROK... PROK...!!!
"Sebagaimana yang telah kita lewati di agenda-agenda sebelumnya, malam ini pun kami selaku penyelenggara perjamuan siap memuaskan anda semua, Nona-nona dan Nyonya-nyonya yang hadir sebagai tamu undangan perjamuan istimewa kita. Maka dari itu, saya ucapkan... Selamat menikmati!"
Setelahnya, acara berlangsung tanpa menggunakan pembawa acara lagi. Karena malam ini khusus hanya berisi hiburan.
Sebagian ada yang menari dan bernyanyi mengikuti artis yang menghibur mereka di atas panggung. Ada pula yang membentuk kelompok untuk saling bercengkrama yang entah apa isinya sebab mereka terkadang tertawa dan serius. Ada juga yang menikmati hidangan yang telah disiapkan, makan dan minum sembari mengobrol.
3Ry melakukan yang terakhir.
Ketiganya menempati satu meja bundar yang berisi 5 kursi. Diatasnya sudah dihiasi bunga dan lilin aroma. Saat ini di depan mereka sudah ada sepiring makanan yang tengah mereka santap. Reychu dengan sepiring beef steak, Rayan dengan sepiring cake dengan krim dan taburan toping dari potongan beberapa buah, dan Ryura sepiring pasta.
Mereka makan sambil mengobrol.
__ADS_1
"Penyelenggara benar-benar tahu bagaimana memanjakan lidah para perempuan kaya itu. Lihat! Ini seperti yang dibuat koki di rumahku." tutur Reychu yang membicarakan tentang koki pribadinya di mansion Bai Gikwang yang tak lain adalah koki profesional yang sudah memegang beberapa penghargaan.
Jika tersebar, orang lain akan mengatakan betapa sia-sianya koki tersebut hanya memasak untuk mengenyangkan dua majikan.
"Itu sudah tentu harus dilakukan. Kau pikir berapa banyak yang perempuan-perempuan itu keluarkan agar semuanya sempurna. Jadi, nikmati saja. Lagipula bukan kita yang mengeluarkan uangnya." maksud Rayan, makan saja sepuasnya berhubung gratis tanpa dipungut biaya.
Ryura di samping mereka hanya diam dan terus makan dengan khidmat hingga tiba-tiba gerakannya terhenti lalu mengatakan sesuatu sebelum lanjut makan lagi.
"Mereka datang."
"Oh!" Reychu dan Rayan kompak tertegun.
Reychu lebih dulu mengedarkan pandangannya hingga matanya mendapati 2 orang perempuan berpakaian indah yang menonjolkan sisi aristokrat keduanya hingga membuat keduanya terlihat bermartabat. Penampilan tersebut sangat tidak serasi dengan niat buruk dalam hati mereka. Dua orang yang tak lain adalah Jiang Wanxi dan Melany Gong tengah berjalan menuju meja mereka.
Rayan ikut melihat kearah yang sama, lalu mendengar Reychu berkata. "Mereka benar-benar terlihat seperti pelakor bermartabat."
"Julukan itu bagus sekali. Sampai rasanya aku akan muntah karena jijik. Pelakor bermartabat?! Yang benar saja. Jika, ada sebutan seperti itu tak akan ada pandangan buruk tentang yang namanya pelakor. Kau harus buat sebutan lain untuk mereka." timpal Rayan jijik dengan julukan yang Reychu buat untuk dua perempuan yang gatal menginginkan pria orang lain.
"Hmm..." kemudian Reychu benar-benar memikirkannya sembari terus menatap dua perempuan yang tak berpindah haluan. "Bagaimana dengan penipu tak tahu malu? Mereka menipu semua orang yang melihatnya hingga orang lain melihat mereka dengan sanjungan tanpa tahu kalau mereka tak lebih dari kotoran yang mendambakan menempel di tempat yang bersih. Bagaimana dengan itu?"
Berpikir sejenak sebelum setuju sambil mengangguk. "Ya, yang ini lebih baik. Aku jadi membayangkan keduanya benar-benar kotoran yang sangat ingin di injak oleh sepatu berkilau pasangan kita agar bisa menempel..." lalu, keduanya tertawa saat imajinasi mereka terkoneksi dengan baik.
Ryura di sisi lain masih menikmati makanannya. Dia tak peduli selama tak ada yang mengusiknya. Kedua sahabatnya pun dia abaikan dan biarkan keduanya bersenang-senang, dia cukup sebagai cadangan. Terlalu malas untuk sibuk.
__ADS_1