3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
LEMBAH BERDARAH 2


__ADS_3

Siluet yang menjadi titik fokus semua orang mulai semakin terlihat, saat asap dan debu menipis dari pandangan. Yang pertama kali dilihat oleh orang-orang adalah sosoknya hingga mereka lupa akan A-Shi yang masih terduduk di tanah tepat dibelakang sosok itu.


Sampai suara Ye Zi Xian menggema di keheningan itu.


"Ryura!" suaranya tidak besar ataupun kecil, tapi karena suasananya hening suaranya menjadi terdengar jelas ditelinga.


Melihat sosoknya yang tak terlihat sejak kemarin, tak ayal membangkitkan perasaan rindu di hati Ye Zi Xian. Bila ia tidak ingat sedang dalam keadaan apa saat ini, sudah dipastikan dia akan menyerbu kearah Ryura dan memeluk gadisnya kemudian menolak untuk melepaskan.


Dia sungguh merindukannya.


Semua orang yang mendengar pemimpin mereka menyebutkan nama sosok yang saat ini mereka lihat dengan ekspresi tercengang segera tersadar. Entah siapa yang berceletuk, yang pasti saat itulah mereka tahu kalau sosok itu adalah calon Nyonya Ye masa depan mereka.


"CALON NYONYA YE MASA DEPAN!"


Mata mereka semua terbelalak seketika.


Jika, yang lainnya menatap Ryura dengan kaget bercampur tak percaya bahwa sosok yang membuat mereka penasaran selama ini akan menjadi dia. Maka, berbeda dengan tatapan terkejut Meng Pei Yun yang bercampur kebencian dan kecemburuan. Kini tatapan itu tak disembunyikan lagi. Apalagi, setelah melihat tatapan rindu di mata Ye Zi Xian untuk Ryura.


Dia cemburu luar biasa.


Dan Ryura membalasnya dengan tatapan kosong khas miliknya yang disadari atau tidak sempat berkilat dengan cahaya haus darah.


Dimana ada keadaan yang menegangkan, maka pasti ada celah bagi pengganggu untuk masuk.


Sebagaimana yang terjadi ditengah-tengah kilatan permusuhan antara Ryura dan Meng Pei Yun saat ini, dari samping seruan tak penting terdengar memecahkan ketegangan.


"Ehem... MOHON MENYINGKIR! BERI RUANG UNTUK CALON NYONYA KALIAN BERAKSI! KARENA, SEBENTAR LAGI AKAN ADA PERTUNJUKAN YANG LUAR BIASA! TAPI, SEBELUM ITU MOHON BAYAR TERLEBIH DAHULU. CUKUP BERIKAN PADAKU 1 TAEL PERAK PERORANG!" sembur Reychu tak masuk akal juga tak tahu malu.


Rayan disebelahnya tak tahan untuk tidak menggeplak pundak Reychu kuat guna menyadarkan gadis itu agar sadar dimana dia berada saat ini.


PLAK!


"Diam, bod*h! Berhentilah mempermalukan dirimu sendiri dan aku! Mau di taruh dimana wajahku kalau harus selalu kau permalukan!" gereget Rayan berbicara dengan gigi terkatup.


Sambil mengelus pundaknya yang kena pukul, Reychu malah dengan santainya menjawab. "Mudah. Aku akan membantu menghilangkan wajahmu. Kau tinggal beritahu aku, kau mau metode apa. Aku kuliti, aku siram air keras, atau aku tambal pakai kulit binatang? Aku bisa melakukan semua itu. Jangan khawatir..." cerocosan tak berguna Reychu masih akan terus berlangsung kalau saja Rayan tidak membekap mulutnya agar berhenti bersuara. Segera, dia mengedarkan pandangannya untuk meminta maaf.


"Mohon maaf atas gangguan ini. Silakan dilanjutkan." katanya sambil tersenyum manis nan menenangkan, tapi dia masih berbisik mengancam kepada Reychu tepat di telinganya. "Berhenti kataku! Kalau tidak. Akan aku cabut pita suara mu!"


Reychu hanya memutar bola matanya tak terpengaruh, tapi masih menurut untuk tetap diam.


Tak jauh dari sana, ternyata Kaisar Agung Bai terkekeh geli melihat kekasihnya melakukan kekonyolan seperti itu disaat suasana sedang panas-panasnya. Sementara, Shin Mo Lan hanya menggelengkan kepalanya tak tahu harus berkomentar apa atas perilaku kekasih sahabatnya itu.


Setelahnya, semuanya pun kembali ke keadaan menegangkan sebelumnya.


Tak ada dari Meng Pei Yun ataupun Ryura yang terpengaruh oleh perilaku aneh Reychu, sebab mereka secara tidak langsung sedang mengibarkan bendera perang. Terutama Meng Pei Yun terhadap Ryura yang dianggapnya sebagai orang ketiga di antara dia dan Ye Zi Xian.


"Akhirnya yang di nanti-nanti datang juga!" lantang Meng Pei Yun penuh kebencian tanpa mengalihkan pandangannya dari Ryura. "Ini dia. PASTI KAU! KAU YANG MENGHASUT PELAYAN KU UNTUK MENGATAKAN SEMUA OMONG KOSONG INI KAN? KAU PASTI YANG MEMBAYARNYA UNTUK MEMFITNAH KU! ITU KAU! HARUS KAU! DASAR MENJIJIKKAN! KAU BERANI BERKONFRONTASI UNTUK MELAWANKU! DASAR JAL*NG!" semua mata memandang Meng Pei Yun yang mengamuk seraya menunjuk-nunjuk Ryura dengan mata yang seolah berkata 'dia mulai gila!'.


Tak ada yang buta disana sehingga tidak tahu siapa yang sebenarnya menjadi tersangka. Tapi, apa yang sedang dilakukan Meng Pei Yun saat ini? Memaksa orang lain mengakui hal yang tidak dilakukannya dibawah hidung para saksi?


Lelucon macam apa ini?

__ADS_1


Nyatanya, Meng Pei Yun sudah tak bisa berpikir jernih lagi. Dia hanya tahu kalau Ryura masih menjadi musuhnya dan dia harus menyingkirkannya bagaimanapun caranya.


Sedang, Ryura tidak berkata apapun dan hanya memandangnya saja. Menanggapi hal itu, kemarahan Meng Pei Yun yang sudah lepas kendali semakin menjadi.


"Kau harus mati! Aku tidak akan melepaskan mu dan membiarkan mu menang! Tidak akan!" nadanya rendah kala mengatakan itu dan terdengar mengerikan.


"Siapa yang memberimu izin untuk menyentuhnya? Apa kau sudah ingin cepat mati?!" suara dingin nan menusuk Ye Zi Xian terdengar dari arah belakang Meng Pei Yun begitu mendengar kalimat tak mengenakkan untuk didengar itu, yang sukses membuat tubuhnya membeku dan meremang ngeri.


Entah sebatas mana toleransi kesadarannya. Yang pasti, saat ini Meng Pei Yun berbalik guna menghadap Ye Zi Xian dan mulai berbicara melantur tidak jelas yang membuat siapapun bergidik mendengarnya. Jangan lupakan raut wajahnya yang sudah memelas meminta belas kasihan bak wanita murahan yang menggoda pria orang lain. Matanya berkaca-kaca yang justru mendatangkan rasa jijik bagi yang melihatnya.


Bahkan Keluarga Meng juga menampilkan ekspresi seribu persen tak percaya diwajah mereka kala melihat kegilaan yang Meng Pei Yun tampilkan.


Mereka jadi bertanya-tanya, apakah dia benar-benar kerabat mereka?


"Zi Xian... Apa yang kau bicarakan? Aku ibumu. Aku satu-satunya wanita yang dekat denganmu. Aku memiliki mata untuk menilai kalau dia tidak cocok untuk mu. Kalau kau ingin mencari pasangan, kau harus mengatakannya padaku. Aku bisa memberikan mu pasangan yang tepat. Paling tidak, dia harus seperti aku yang bisa memberikan segalanya padamu. Dia itu gadis aneh. Lihat dia, sejak tadi tidak berbicara. Apa dia bisu? Wajahnya tidak berekspresi, apa yang bisa dilihat dari itu semua. Aku... Aku lebih pantas! Aku memiliki cinta yang besar untuk mu!"


Reychu disisi lain langsung angkat suara dengan rasa jijik yang tidak ditutup-tutupi.


"Wow. Dari mana datangnya makhluk ini?! Hei, wanita! Kau sudah tidak punya malu ya? Bagaimana bisa kau membandingkan dirimu dengan Ryura-ku. Kau bahkan tak sebanding dengan kotoran kuku Ryura. Dapat darimana kepercayaan dirimu itu?!"


Kaisar Agung Bai nyaris akan bertepuk tangan mendengar apa yang dikatakan kekasihnya. Dia tak bisa tidak salut, wanitanya memang pemberani. Dia jadi makin cinta.


"Diam kau! Kau dan dia sama saja! Kalian orang-orang hina menjijikkan yang murahan dan tidak tahu malu! Kalian menjebakku dan menghasut pelayan ku agar mengatakan hal-hal yang tidak benar! Kalian benar-benar tidak tahu diri!" ucap Meng Pei Yun mengeluarkan semua hinaan yang sudah tertumpuk didalam hatinya untuk 3Ry.


A-Shi yang melihatnya dibalik Ryura merasa tak kuat menahan air matanya lagi. Dia yang paling jelas akan apa yang sebenarnya terjadi. Lantas, mengapa junjungannya masih ingin membenarkan diri disaat sudah tak ada jalan keluar. A-Shi tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri karena gagal memenuhi amanah mendiang ibu kandung Meng Pei Yun.


"Nyonya..." lirihnya yang hanya dapat didengar sendiri dengan berlinang air mata sedihnya.


"Sudah selesai?" dua kata itu ditujukan untuk Meng Pei Yun yang menggila.


Mendengar itu, Meng Pei Yun jelas tak terima. "Sudah? Hah! Dalam mimpi mu! Ini hanya akan berakhir setelah aku melenyapkan mu!" tekadnya dengan sorot mata tajam penuh permusuhan.


Ryura membalasnya dengan tak peduli. "Maka, lakukanlah." yang mengejutkan adalah kala senyum miring nan menawan ditarik tipis namun masih terlihat oleh banyaknya pasang mata lainnya yang membuat orang-orang terdekatnya terkejut.


Tentu, orang-orang yang baru melihatnya hari ini tidak tahu seberapa langkanya emosi, ekspresi, atau apapun yang dimiliki Ryura. Kini, kesempatan langka itu muncul siapa yang mau melewatkannya.


"Jangan biarkan aku membunuh mu lebih dulu." lanjutnya yang membuat semua orang memiliki firasat yang tak bisa dijelaskan.


Meng Pei Yun hanya mendengus sombong seperti dia sudah sangat yakin kalau kemenangan ada ditangannya.


A-Shi menggelengkan kepalanya berharap junjungannya mau menarik kembali niatnya. Hal ini membuatnya mengingat apa yang terjadi malam itu.


Malam yang sama saat Ryura menyerang sekelompok orang dari organisasi pembunuh bayaran.


Flashback on...


Malam itu, A-Shi baru saja meninggalkan kamar Nyonya Selir Meng Pei Yun untuk kembali ke kamarnya. Siapa yang menduga kalau setibanya di kamar, dia malah memiliki tamu yang tak diundang.


Gadis berambut lebih pendek menyapanya lebih dulu dengan nada santai yang membuatnya canggung dan kaku. Merasa tak terbiasa mendengar nada non formal tersebut. Tapi, masih mendengarnya.


"Hai, pelayan setia wanita itu." Reychu melambaikan tangannya dengan sok akrab tanpa memikirkan apakah ada yang salah dengan kata-katanya.

__ADS_1


Sementara, Rayan hanya tersenyum lembut seolah kedatangan tak diundang mereka bukanlah apa-apa.


"Mari duduk, bibi pelayan. Kita memiliki sesuatu untuk dibicarakan. Tidak nyaman membuat kmai menunggu, kan?" dia berkata tanpa meninggalkan senyum manisnya.


A-Shi sendiri tak tahu harus berbuat dan berkata apa melihat keluesan kedua gadis itu saat memperlakukan diri mereka ditempat orang lain tanpa sungkan.


Tapi, A-Shi tahu bahwa kedudukannya masih dibawah mereka maka dia pun mengesampingkan ketidaknyamanannya dan duduk diantara keduanya untuk mengetahui apa tujuan mereka datang tanpa diundang ke kamarnya larut malam begini.


Belum sempat A-Shi mengeluarkan suara untuk bertanya, salah satu dari gadis itu sudah lebih dulu bersuara langsung ke inti pembicaraan yang dimaksud.


"Namamu, A-Shi bukan? Kau harus yang paling dekat dan yang paling tahu orang seperti apa Nyonya mu itu. Maka, dengarkan aku! Nyonya mu tidak boleh memiliki perasaan cinta untuk putra sambungnya sendiri. Itu tidak dibenarkan!" kata Rayan langsung tanpa basa-basi.


Hal itu sempat membuat A-Shi terkejut bukan main. Sama sekali tidak menyangka kalau rahasia yang disembunyikan junjungannya bisa dengan mudah diketahui oleh orang asing seperti gadis-gadis dihadapannya saat ini.


Lagi, belum juga A-Shi menjawab suara lain menyelanya.


"Pria berambut putih itu sudah menjadi milik sahabat kami. Orang yang tidak berkepentingan diharap menyingkir dengan kesadaran diri atau konsekuensinya tak akan bisa dengan mudah ditanggung." gamblang Reychu.


"Oleh karena itu, saat pengadilan nanti dibuka. Kau harus maju menjadi saksi atas kejahatan tuan mu." sambung Rayan yang langsung menyentak A-Shi hingga matanya terbelalak menatap wajah cantik gadis-gadis itu dengan tak percaya.


Apa yang mereka maksudkan?


Ingin dia mengkhianati junjungannya?


Bagaimana bisa?


Seolah tahu apa yang dipikirkan, Rayan melanjutkan. "Menurut apa yang ku ketahui. Mendiang ibu kandung Meng Pei Yun adalah seorang wanita berbudi luhur dengan hati yang baik, bijaksana, berwibawa, berwawasan luas, dan masih banyak hal baiknya lagi. Ibu seperti itu, harus menginginkan anaknya bisa menjadi orang yang sama baiknya walau tidak harus persis seperti ibunya. Jadi, bila kau memilih tutup mata dari masalah ini. Bukankah itu akan mengecewakan bagi Nyonya terdahulu mu? Pikirkan baik-baik."


A-Shi terbelalak kaget mendengarnya. Tak menyangka kalau pendatang yang ditargetkan oleh junjungannya benar-benar bukan orang yang bisa diremehkan.


Rayan mengatakan itu juga bukan karena dia mengetahui pesan terakhir dari mendiang ibu kandung Meng Pei Yun. Melainkan, itu adalah hal umum yang sudah pasti akan dilakukan seluruh orang tua untuk masa depan anak-anaknya.


Alhasil, Rayan hanya mengatakan apa yang menjadi hal umum itu. Siapa tahu kalau ternyata semuanya bisa saling berhubungan.


"Kupikir, aku masih perlu mengingatkan mu satu hal. Kedatangan kami kemari sama sekali bukan rencana kami. Tuan Ye menemukan takdirnya yang tak lain adalah sahabat kami. Sebagai orang yang sudah tumbuh bersama sejak kecil, kami hanya ingin menjadi saksi untuk hari bahagianya." mengangkat bahunya acuh. "Siapa yang tahu kalau hal menggelikan seperti ini akan terjadi."


Sambung Reychu dengan nada menyebalkan. "Juga, Ryura bukanlah orang yang memiliki belas kasih ketika dia sudah merasa ketenangannya di usik. Dia tidak memiliki kesabaran sebesar itu. Kau harus tahu betapa menjengkelkannya Nyonya mu saat dia dengan percaya dirinya begitu yakin untuk menyingkirkan sahabatku. Kau harus menyadarkan wanita itu agar tidak mati sia-sia ditangan Ryura. Atau aku akan menjadi orang pertama yang bersorak begitu nafas terakhirnya berhembus. Hehehe..." kekehnya ala psikopat gila dan itu sukses membuat A-Shi bergidik ngeri.


Dia sebenarnya jelas bukan orang yang tidak mampu melawan, tapi entah mengapa aura dua gadis didepannya seperti memberitahunya kalau keduanya bukan sembarang gadis cantik yang terlihat polos.


Bukankah orang-orang yang ada di Kediaman Ye dan Sekte Salju Perak belum pernah melihat aksi berdarah 3Ry?


Siapa yang tahu apa yang bis dilakukan oleh mereka?


Usai mengatakan itu, tanpa menunggu persetujuan A-Shi kedua gadis itu segera beranjak pergi meninggalkan A-Shi dengan segala pemikirannya.


3Ry sudah mencari tahu orang seperti apa A-Shi itu. Jadi, tak akan ragu untuk meninggalkannya seperti itu tanpa ancaman. Rayan sendiri yakin, kalau A-Shi tahu apa yang terbaik untuk tuannya.


Flashback off...


__ADS_1


sabar-sabar ☺️☺️☺️


__ADS_2