3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
CINTA TERLARANG


__ADS_3

Hari berlalu begitu saja.


Saat matahari mulai merangkak naik ke sekitar pukul 10 pagi, beberapa gerbong Kerajaan Es memasuki Kediaman Ye dengan mulus namun masih sukses mengejutkan para penghuni lantaran datang tanpa berita.


Meskipun demikian, penyambutan tetap dilakukan.


Hanya saja, Ye Xiao Nan tanpa menunggu yang lainnya segera bergegas menuju ruang kerja sang kakek usai bertanya tentang keberadaan keluarganya. Tak ada yang tahu apa yang dipikirkannya, yang pasti saat ini ia ingin segera menemui keluarganya guna meminta konfirmasi atas kabar yang diterimanya.


Disisi lain, ia juga perlu memperhatikan sesuatu.


Baru saja ia tiba di depan pintu ruang kerja Tetua Ye, suara familiar yang memekik marah terdengar dari dalam. Hal itu membuat Ye Xiao Nan menghentikan langkahnya dan tidak langsung masuk.


"APA YANG KAU BICARAKAN INI?!"


Dia berdiri didepan pintu dan mulai mengamati situasi yang sedang terjadi didalam.


Dia memasang pendengarannya untuk mencari tahu apa yang diperdebatkan oleh sang kakek dengan lawan bicaranya.


"Ye Zi Xian, kau harus tahu konsekuensi dari merusak nama baik keluarga ini!" tajam sang Kakek, jelas tak lagi terlihat ramah seperti sebelumnya begitu ia mendengar fakta yang tak akan pernah terlintas barang setitik pun dibenaknya, tiba-tiba keluar dari mulut pemimpin klan Ye dan Sekte Salju Perak generasi saat ini.


Pria tua itu saat ini terlihat jauh berbeda dari yang pernah dilihat 3Ry di awal pertemuan mereka.


Pagi yang cerah ini sama sekali tak sesuai dengan suasana didalam ruang kerja Tetua Ye. Dingin, mencekam, tegang, dan sesak adalah apa yang menyelimuti ruangan tersebut. Tapi, itu masih tidak berarti apa-apa bagi Ye Zi Xian selain tahu kalau sang kakek marah atas apa yang baru saja ia katakan.


Dia juga tak ingin ini terjadi, tapi semuanya tetap terjadi hingga seperti ini. Maka, yang perlu ia lakukan adalah membersihkannya.


"Kakek Tetua, kau jelas tahu aku tidak pernah berurusan dengan hal-hal semacam ini. Jadi, melakukan kebohongan seperti ini... Hanya membuang-buang waktuku!" Ye Zi Xian menjawab tak kalah tajam namun masih tetap terjaga kesopanannya.


Dia masih ingat siapa yang duduk didepannya.


"Jadi, bagaimana bisa kau menyimpulkan masalah ini kedalam alasan mengerikan itu? Aku tidak buta untuk melihat selama ini kalau dia tidak bertindak tak wajar selama ia merawat mu! Apa dia berani menjadi gila di Kediaman Ye-ku dengan hal menjijikkan itu?!" amarah Tetua Ye masih belum bisa dikendalikan. Itu artinya dia sudah membangkitkan perasaan marahnya.


"Dia manusia. Tak heran jika dia bisa mengalami perubahan dan melakukannya." jawab Ye Zi Xian tenang.


"TIDAK MASUK AKAL!" teriak Tetua Ye dengan kemarahan yang kian meningkat. Itu juga didasari oleh beberapa alasan.


Pertama, perasaan tak percayanya pada apa yang baru saja didengarnya dari sang cucu. Kedua, perasaan jijiknya pada hal yang baru saja dikatakan mengenai kebenarannya oleh sang cucu. Ketiga, kemurkaan karena mendapati hal mengerikan ini terjadi di keluarga Ye-nya.


Ini sudah cukup membuat dia marah besar.


"Kakek Tetua, aku mungkin tidak paham pada awalnya. Tapi, kini aku bisa melihat semua itu. Dari awal dia sudah jelas memiliki hal ini dalam dirinya yang ditujukan kepada ku. Jika tidak, sebagai seorang perempuan, dia tidak akan begitu damai kala memasuki kediaman ini sebagai seorang Selir." jedanya sebelum kembali melanjutkan. Ye Zi Xian mengatakan itu atas pemikiran yang matang serta itu juga yang dapat menjadi alasan kuat untuk meyakinkan kakeknya dari sekian banyak alasan yang bisa di ambil.


Kembali melanjutkan. "Meskipun dia tidak memiliki rasa cinta pada ayah, normal bagi perempuan untuk merasakan ketidaknyamanan dalam hatinya. Dia menikah tanpa cinta dan harus diposisikan sebagai selir juga, belum lagi dia harus mengambil peran seorang ibu begitu dia memasuki kediaman. Jelas aneh kalau dia masih baik-baik saja."


"Lantas, keberanian darimana hingga kau bisa menarik kesimpulan seperti itu? Tidak ada yang aneh dengan itu!" tampaknya sang kakek masih tidak bisa menggunakan pikirannya untuk mencapai masalah ini.


Dia menggunakan pemikiran laki-laki sepenuhnya, tentu tidak akan bisa memahami hal ini. Bukan karena dia berdiri untuk membela istri keponakannya.


Sebelum Ye Zi Xian menjawab, suara datar lain datang dari belakang menggantikannya menjawab.


"Yang dikatakan Xian gege benar."

__ADS_1


Kedua pria disana segera menoleh untuk melihat siapa yang berani menyela pembicaraan keduanya.


Langsung saja, keduanya menemukan Ye Xiao Nan yang berjalan tenang kearah mereka usai melangkah masuk tanpa permisi.


Itu terbilang berani. Sayangnya, Ye Xiao Nan sendiri sedang tidak ingin melakukan hal-hal yang merepotkan sebab dia saat ini sangat ingin bergegas bergabung setelah meyakinkan diri bahwa kedua kerabatnya di dalam ruangan sedang membicarakan sesuatu mengenai apa yang dia pikirkan juga.


Karena itu, disinilah dia...


"Xiao Nan? Kau sudah kembali..." seru Tetua Ye dengan amarah yang agak mereda.


Keningnya sedikit mengerut kala menegur sang cucu akan sopan santun dengan nada lebih lembut dari beberapa saat lalu. "Xiao Nan, kau tidak mungkin lupa tata Krama mu hanya karena keluar untuk beberapa waktu 'kan?"


Yang ditegur segera membungkuk hormat dengan tangan mengatup keatas (sebagaimana hormatnya orang China tempo dulu)


"Salam Kakek Tetua dan Xian gege! Ye Xiao Nan telah kembali." salamnya dengan penuh hormat.


Mata Tetua Ye hanya bisa menyipit melihatnya dan tidak lagi meneruskan omelannya yang singkat itu, sebab saat ini ada yang lebih penting.


"Baik! Aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi! Kau paham?!" tegasnya.


"Gadis ini mengerti!" jawab Ye Xiao Nan lugas.


Saat dirasa tak ada lagi yang perlu di katakan untuk Ye Xiao Nan, Ye Zi Xian segera angkat bicara kala benaknya memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh sang adik.


"Xiao Nan, apa yang kau maksud dengan perkataan ku benar, padahal kau tidak tahu apapun tentang masalah ini?" tanya Ye Zi Xian serius. Ia merasa kalau adiknya memiliki sesuatu yang tidak diketahui siapapun dan itu berkaitan dengan masalah yang terjadi saat ini.


Wajahnya tetap tenang, tapi tentunya tenang yang masih dapat dilihat sinar kehidupannya. Wajah tenang yang sama sekali berbeda dengan wajah tenangnya Ryura.


Kedua pria berbeda generasi didepannya memberinya tatapan ingin tahu dan bingung.


Lantas, Ye Xiao Nan menambahkan. "Dia memiliki cinta untuk Gege, bukan?"


Pernyataan dalam bentuk pertanyaan yang jelas bernadakan ketegasan menyentak kedua pria disana tanpa ampun sampai mata keduanya terbelalak. Tak terpikirkan oleh mereka, kalau Ye Xiao Nan akan mengetahui hal ini jauh lebih awal dari mereka.


"Kau juga mengetahuinya?" tanya Ye Zi Xian tak menyangka.


"Benar." memandang dua wajah didepannya secara bergantian. "Aku tahu jauh sebelum kalian."


Keheningan menyelimuti ketiganya saat kebenaran yang sebenarnya mulai terkuak. Tetua Ye yang masih tak percaya beberapa saat lalu kini mulai tak bisa diam. Nafasnya kian menderu karena marah. Tak terpikirkan olehnya, wanita yang dinikahi oleh keponakannya akan menjadi wanita menjijikkan karena jatuh cinta pada anak tirinya sendiri.


Ini juga yang membuka pikirannya pada alasan sebenarnya dibalik masalah yang terjadi belakangan ini. Tak bisa lebih jelas lagi bahwa ini semua adalah pekerjaan istri keponakannya itu. Tapi, dia masih ingin memastikan lebih lagi agar keputusan yang diambilnya setelah ini tidak menimbulkan masalah berkelanjutan.


"Ceritakan!" tuntut sang kakek tak ingin lagi berbasa-basi.


Tentu, dengan senang hati Ye Xiao Nan menceritakannya. Bukankah dengan ini akan sedikit lebih membantu sang kakak lepas dari masalah yang entah apa itu, pikirnya.


"Baiklah, kakek. Xiao Nan akan menceritakannya." jedanya. "Sebelum Xiao Nan mencapai usia kedewasaan, keanehan Selir Meng sudah terlihat. Sejak dia masuk ke keluarga Ye sebagai selir ayah. Xiao Nan tahu, dia lebih menyukai Gege daripada aku. Tapi, tak pernah terpikirkan oleh ku kalau kesukaannya itu akan berkembang lebih jauh..."


Sebagai seorang anak, tentu saja pasti akan mendambakan yang namanya kasih sayang dari kedua orang tuanya, Ye Xiao Nan tidak terkecuali. Walaupun dia dalam kepribadian yang pendiam dan tidak begitu suka bergaul, dia masih memiliki hati yang mengharap cinta keluarga.


Baik Ye Zi Xian maupun Ye Xiao Nan, mereka jelas tahu kalau kedua orang tuanya bukanlah pasangan yang akan diam di rumah.

__ADS_1


Ayah mereka jelas akan menjadi orang yang sibuk disebabkan oleh latar belakangnya sebagai anggota keluarga Ye yang juga berkecimpung didalam sekte. Apalagi, sejak kakek kandung kakak beradik Ye meninggal dunia, sang ayah menggantinya.


Menikah dengan sang ibu yang juga berasal dari keluarga ahli beladiri dengan latar belakang keluarga menteri pertahanan kerajaan Lembah Beku, membuat ibu mereka terlahir sebagai perempuan tangguh yang tidak feminim sama sekali.


Keduanya jatuh cinta pada pandangan pertama dan memilih menikah beberapa waktu setelahnya tanpa harus menunggu bertahun-tahun lamanya.


Hampir sampai setahun pernikahan, pasangan penuh cinta itu melahirkan Ye Zi Xian. Walaupun demikian, mereka mencoba untuk mengurusnya sebab Ye Zi Xian kecil adalah buah cinta pertama mereka yang harus mereka perlakukan dengan baik.


Ayah dan ibu Ye mengambil waktu cuti untuk jangka waktu yang lama demi memenuhi tugas sebagai orang tua pertama mereka. Tapi, meskipun begitu mereka masih kesulitan.


Lima tahun kemudian, ibu Ye melahirkan Ye Xiao Nan dan seperti sebelumnya. Demi keadilan serta keseimbangan kasih sayang, kedua orang tuanya merawat Ye Xiao Nan juga untuk beberapa tahun kedepan.


Tapi, mereka tak lagi bisa mengurus kakak beradik Ye kala masalah eksternal terjadi. Sebagai anggota keluarga Ye yang juga berposisi sebagai bagian dalam mengomando prajurit tempur Kekaisaran Utara, mereka tak bisa memilih untuk menolak.


Dari sanalah keputusan untuk memiliki selir muncul. Dengan pertimbangan yang matang, pasangan suami-istri itu memilih jalan tersebut hanya demi anak-anak.


Dari sekian banyak gadis kala itu, Meng Pei Yun adalah yang terpilih.


Perempuan itu sudah menunjukkan kasih sayangnya pada Ye Zi Xian bahkan sebelum keputusan mengangkatnya sebagai Selir terjadi. Dari sanalah alasan dia terpilih.


Semuanya masih normal dan baik-baik saja, untuk beberapa tahun kemudian. Sampai saat Ye Zi Xian mencapai kedewasaan dan dia juga tumbuh menjadi pria luar biasa tampan, gagah dan nyaris tanpa cacat. Belum lagi saat dimana dia mulai ditunjuk sebagai pemimpin klan karena menjadi yang terpilih oleh pedang pusaka.


Pesonanya tidak main-main.


Sayangnya, hal itu malah menimbulkan cinta terlarang dihati Meng Pei Yun.


Ye Xiao Nan sudah melihat gelagat aneh itu sebelum dia mencapai usia kedewasaan, tapi saat itu dia belum sepenuhnya memahami apa itu. Keanehan tersebut semakin mencurigakan sebab Ye Xiao Nan sama sekali tidak merasakan bahaya, tapi lebih kepada sesuatu yang menegaskan padanya bahwa bukan bahaya yang mengharuskan pertumpahan darah, melainkan sesuatu yang lain.


Itulah yang menjadikan Ye Xiao Nan gagal paham. Dia belum memiliki pemahaman mengenai cinta.


Begitu dia menginjak usia dewasa -14/15 tahun- dari sanalah dia mulai sedikit demi sedikit memahami keanehan macam apa yang diderita oleh Meng Pei Yun. Apalagi dia sudah belajar banyak dari orang-orang disekitarnya.


Namun, kala itu dia tak bisa berbuat apa-apa. Selain karena hutang kasih sayang yang wanita itu berikan padanya walau tak sebesar kasih sayangnya pada sang kakak, alasan lain juga karena Ye Xiao Nan tak memiliki cara untuk membuktikan hal tersebut.


Karenanya, dia bungkam selama ini.


Siapa yang menduga kalau hal itu akan keluar kepermukaan begitu sang kakak menemukan pasangan takdir dari pedang pusaka Keluarga Ye.


Serangkaian cerita Ye Xiao Nan ungkapkan tanpa terlewat sedikitpun, hingga membuat kedua pria disana akhirnya tak bisa tidak percaya. Terlebih mereka sudah sangat paham dimana posisi masalah ini harus ditempatkan.


"Hu..h... Aku tak pernah berpikir akan ada hal semacam itu." gumam Tetua Ye sembari memijat pelipisnya seolah beban berat tiba-tiba dipaksa untuk dipikulnya.


Terdiam sejenak sebelum akhirnya angkat bicara. "Berarti sudah tidak ada alasan untuk tidak menjatuhkan hukuman padanya, bukan?" Ye Zi Xian terdengar tidak sabar, suaranya begitu dingin seakan mampu membekukan apapun olehnya.


Menarik nafas dalam-dalam, Tetua Ye akhirnya membuat keputusan. "Atur solusinya dengan sebaik mungkin, hingga tak ada celah untuk apapun yang mungkin terjadi." titahnya jelas.


Mengangguk paham. "Dimengerti, Kakek Tetua."


Begitulah perundingan mereka berakhir.


__ADS_1


๐Ÿ˜˜


__ADS_2